Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Semanis Madu


__ADS_3

"Apapun yang menjadi takdirmu, akan mencari jalannya menemukanmu."


- Ali Bin Abi Thalib -


*****


"Suami apaan? Suami gampangan gitu?"


"Astaghfirullah.. Ya..jangan ngomong gitu dong! Sakit hati abang dengernya dek."


"Oh, jadi gue harus bilang elo suami sholeh sholeha gitu?" Aya tersenyum sumbang. "Aku baru tau, kalau suami yang bebas pelukan sama perempuan lain yang bukan mahramnya itu laki-laki sholeh."


"Mas gak mau debat. Mas minta maaf. Itu murni kecelakaan,


"Lagian, kan kamu udah maafin!"


"Gak, aku gak mau maafin kamu."


"Lah, terus ini isi puluhan pesan kamu maksudnya apa?" Arga kemudian menunjukkan layar ponselnya pada Aya.


"Aaarrggghhh.. mas Arga. Batal! Pokoknya aku mau mas hapus semua pesan-pesanku itu." Aya panik dan berusaha mengambil ponsel Arga. Namun Arga terus mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


"Aku udah baca semuanya, Ya!" Arga tertawa terbahak-bahak.


Aya terus berusaha meraih ponsel Arga, hingga posisi mereka sudah sangat dekat dengan kedua kaki Aya sudah membelit pinggang Arga, satu tangannya mengurung leher Arga lalu tangan satunya masih berusaha menggapai ponsel Arga. Aya menggantung seperti bayi koala.


Seketika Arga menegang, dada Aya menyentuh wajahnya yang hanya dilapisi kemeja tipis putihnya.


Aya yang kemudian juga menyadari posisi mereka saat ini, ikut menegang. Namun sedikit sisa kesadarannya memanfaatkan kondisi Arga untuk segera mengambil ponsel dari tangan Arga.


Saat Aya ingin turun dari tubuh Arga, kedua tangan Arga menahannya. Arga malah duduk di tepi tempat tidur dengan posisi kedua kaki Aya masih melilit di pinggang Arga dan kedua tangannya masih mengalungi leher Arga.


Mereka saling menatap jauh ke kedalaman hati masing-masing.


"Katakan, kenapa kamu menyusul mas kesini?"


Deg...


Apa katanya? Kenapa aku menyusul ke sini? Sungguh, Aya tidak punya jawaban untuk saat ini karena baru sekarang ia memikirkannya. Kenapa menyusul Arga ke sini? Kenapa tidak menunggunya pulang saja? Bukankah kata Fira mas Arga hanya 3 hari saja di sini?


Aya membuang pandangannya, ia tidak ingin bersitatap dengan Arga.


"Kenapa?" Arga kembali membuka suaranya, mengingatkan Aya agar menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Gak penting, udah, lepasin aku, katanya mau makan." Aya mengalihkan pembicaraan namun diikuti Arga, ia tidak ingin Aya kelaparan, apalagi setelah terkena hujan tadi. Arga berdiri masih dengan menggendong Aya seperti bayi koala, ia meletakkan Aya di sofa dan ia ikut duduk di samping Aya.


Aya menyeruput sesendok sop rumput laut yang asapnya masih terlihat sedikit mengepul. Ada udang bakar dan juga kepiting. Ia kemudian mengambil nasi dan beberapa lauk untuk dirinya lalu memakannya. Ia melirik Arga yang sedari tadi hanya diam memandangnya makan.


"Gak makan? Katanya tadi belum makan." Tanyanya sambil terus mengunyah makanannya.


Arga menggeleng.


Aya mendesah, ia tau maksud Arga, namun Aya memilih cuek tidak peduli. Ia terus mengunyah makanannya sampai hampir habis.


Aya frustasi sendiri, ia marah pada dirinya yang sekarang mulai luluh lagi dengan pesona Arga. Ia melepas kulit udang bakarnya lalu menyuapkan ke mulut Arga.


Arga menyambutnya dengan senyum mengembang sempurna di wajahnya.


"Terima kasih, sayang!"


Dada Aya terasa sesak, ia paling senang mendengar Arga mengucapkan itu, 'sayang'. Tapi Aya berusaha memasang wajah datar seolah tak terpengaruh oleh kata-kaya manis Arga.


Setelah menyelesaikan makannya, Aya bangkit untuk mencuci tangannya. Tanpa peduli lagi dengan apapun yang ingin dilakukan atau dikatakan Arga, Aya memilih menyalakan TV dan menikmati tontonannya di atas tempat tidur.


Arga membawa keluar semua peralatan makan mereka dan ternyata di luar dia melihat pak Hamdan berjalan menyeret sebuah travel bag ke arahnya.


"Assalamu'alaikum, mas Arga!" Sapa pak Hamdan.


"Alhamdulillah, sehat mas."


"Terima kasih pak udah anterin istri saya ke sini."


"Gak masalah mas, bapak tidak mungkin membiarkan istri mas ke sini sendirian."


"Ya udah, bapak istirahat aja dulu. Besok saya hubungi kalau udah mau balik."


"Siap mas." Jawab pak Hamdan kemudian berlalu pergi.


Aya berdiri mendekati Arga saat melihat Arga membawa travel bagnya. Aya ingin mengambil alih namun tangannya ditepis Arga.


"Siniin..."


"Untuk?"


"Mau ambil bajulah, masa mau buat jadi bantal!" Sewot Aya.


"No, begini aja, mas suka, sexy!" Ucap Arga dengan kerlingan mata menggoda.

__ADS_1


Aya spontan menyilangkan kedua tangannya di dadanya. "Mesum."


"Tapi kamu suka!"


"In your dream!!!" Aya kembali menarik kopernya namun Arga langsung mengangkatnya naik ke atas bagian lemari yang paling tinggi.


"Mas apaan sih? Turunin gak!" Perintah Aya dengan berdecak pinggang.


"Enggak mau!" Balas Arga lalu mendekatkan tubuhnya ke Aya. Aya melangkah mundur beberapa langkah karena terdesak tubuh Arga.


"Mas, jangan kurang ajar yah!" Ucap Aya panik sementara ia sekarang sudah terduduk di sofa setelah mentok di sana.


"Kamu itu milik aku, aku berhak melakukan apa saja ke kamu. Masih ingat kan?" Ucap Arga di telinga Aya. Berbeda dengan di kamar mandi tadi yang terdengar seperti ancaman, sekarang malah terdengar sensual.


Tubuh Aya meremang, wajahnya memerah. Jantung Aya bertalu-talu, apa jantungnya sekarang sudah pindah ke telinga sampai detakannya begitu keras terdengar di sana?


Akhirnya Aya pasrah dan tentu saja Arga sukses mendapatkan apa yang diinginkannya, meneguk manisnya madu di dalam pernikahan. Rasa manis yang sudah menjadi candu untuknya.


*****


Pagi pun menyapa.


Aya lebih dulu terbangun, ia merasa terganggu dengan hembusan nafas yang meniup-niup ceruk lehernya. Saat membuka matanya, ia menyadari ada Arga tertidur lelap memeluknya erat. Aya memandangi wajah tampan suaminya itu, bibirnya terlihat seksi karena terbuka sedikit.


Entah mendapat dorongan dari mana, Aya mendekatkan wajahnya ke wajah Arga kemudian menempelkan bibirnya di atas bibir Arga. Agak ragu mengecupnya, namun pesonanya menariknya begitu saja untuk mengambil lebih dari keberaniannya. Setelah merasa puas, Aya melepaskan bibir Arga.


Aya ingin keluar dari kungkungan tubuh Arga, namun gerakannya membuat Arga terbangun. Senyum Arga mengembang karena wajah pertama yang dilihatnya setelah membuka mata adalah wajah istrinya.


"Morning, sayang!" Ucap Arga lalu mengecup singkat bibir Aya.


Aya hanya diam mematung, wajahnya sedikit tegang karena ia takut kelakuan mesumnya tadi ketahuan Arga.


"Kenapa? kok liatnya gitu? Apa karena aku terlalu tampan?"


"Awwww." Aya mencubit pinggang Arga membuatnya meringis kesakitan.


"Bangun, jangan mimpi terus!" Aya menggeliat membuat Arga melonggarkan pelukannya di tubuh Aya.


"Aku udah bangun kok, dari tadi malah." Jawab Arga dengan senyum menggoda.


Aya terkejut, hampir saja jantungnya melompat keluar meninggalkan tempatnya.


"Kamu gak usah kaget gitu, tenang saja rahasiamu aman sama mas." Arga lalu tertawa keras. Aya sudah kehilangan kata, kehilangan muka dan kehilangan harga diri. Sudah kepalang tanggung. Entah dapat bisikan setan apa sampai Aya langsung naik ke atas tubuh Arga lalu memulai dan memimpin pertempuran mereka pagi itu.

__ADS_1


×××××


__ADS_2