
"Aya sayang mas Arga."
Namun kalimat itu hanya sampai di kerongkongan Aya, ia tidak mampu melewati garis batasnya menjadi suara pengakuan. Hatinya masih bimbang. Perasaan sayang itu tumbuh begitu saja seiring kebersamaannya.
Terlalu banyak kenyataan pahit yang Aya alami dalam hidup. Namun, haruskah ia menerimanya sebagai takdir yang tidak mampu untuk diubah? Atau berjuang mengubah takdir itu dan mendapati bahwa persimpangan jalan di depan terlalu berliku seperti labirin yang belum terlihat ujungnya?
Perasaan ragu lebih banyak mendominasi fikirannya, ini bukan tentang Arga, semua ini hanya tentang dirinya. Perasaan takut masih saja terus menghantuinya. Ketakutan yang mengikutinya melebihi bayangannya sendiri yang akan menghilang ketika sudah tidak ada cahaya, ketakutan itu mengikutinya hingga ke alam mimpi. Ini sangat menggelisahkan jiwanya.
Namun, tak bisa Aya pungkiri, kehadiran Arga mampu mengubah banyak hal dalam hidupnya. Ketulusan yang begitu menyentuh, kesabaran yang tanpa ujung batas dan pelukan hangatnya yang menenangkan. Semua itu menciptakan kegilaan baru di dalam hidupnya.
Aya kini berdiri di sebuah persimpangan, antara takut dan sayang yang memberi jarak. Jarak yang terkadang terasa jauh bagai bintang di langit tinggi, namun adakalanya terasa begitu dekat.
Takdir telah tertulis, kehidupan rumah tangga kedua orang tuanya berujung nestapa. Lalu mampukah ia menulis takdir rumah tangganya sendiri dengan awal dan akhir yang bahagia?
Tak ada yang bisa mengintip rahasia takdirnya di masa depan, sementara yang telah berlalu sudah menjadi nasib yang sudah tertakdir. Jika nasib kita hari ini luka, maka kita bisa memilih sembuh atau tetap terluka. Jika nasib kita bahagia, maka kita bisa berusaha mempertahankannya atau melepasnya karena kurangnya rasa syukur.
Seharusnya semua bisa kita atur, kita bisa merekayasa masa depan sendiri dengan takdir baik dan mengikhlaskan hal-hal yang tidak kita sukai. Hidup itu sederhana, bahagia itu sederhana, hanya saja kita sendiri yang membuatnya rumit. Sehingga kita gagal melangkah menuju gerbang kebahagiaan yang seharusnya bisa diraih.
*****
Hari ini tepat sebulan Aya tidak bekerja di Rumah Sakit. Ia memutuskan akan kembali bekerja, sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan membuatnya mati gaya. Di rumah ia sama sekali tidak diizinkan menyentuh pekerjaan oleh ibu mertuanya.
__ADS_1
Kecuali masak!
Kata ibu mertuanya, memasak untuk keluarga adalah tugas yang tidak boleh dilupakan oleh seorang istri dan ibu, sesibuk apapun, seorang perempuan harus bisa meluangkan waktunya untuk memasak. Bonding antar keluarga akan sangat terasa lewat makanan dari tangan seorang ibu. Anak-anak senang, suami akan lebih senang lagi. Apalagi, makanan yang dimasak oleh seorang ibu akan terasa lebih nikmat, karena dimasak dengan sepenuh hati dan cinta. Ada doa-doa dan harapan yang dipanjatkan di sepanjang waktunya menyiapkan makanan. Bandingkan jika itu dimasak oleh ART atau beli di luar. Tidak mungkin mereka menyebut satu-satu nama anggota keluarga kita agar memperoleh kebaikan dari makanan yang mereka masak. Bahkan boleh jadi tidak ada nama Allah yang mereka sebut saat memulai aktivitas memasaknya.
Saat ini Aya sedang menyiapkan pakaian kantor Arga. Celana levis navy dan kemeja putih bergaris senada menjadi pilihannya kali ini. Jangan berfikir Arga berpenampilan layaknya CEO-CEO yang ada di dalam novel-novel yang pernah kalian baca. Karena Arga akan lebih suka memakai kaos polo berkerah menjadi pakaian kerjanya. Ini karena ada meeting pagi makanya memakai kemeja, itupun ia sudah menyiapkan pakaian salin di kantor jadi nanti tinggal ganti saat meeting selesai. Arga hanya akan memakai setelan jas ketika ada pertemuan besar atau kegiatan-kegiatan yang sudah menentukan kostum yang harus dikenakan.
Setelah semua keperluan Arga sudah ia siapkan, Aya pun menyiapkan segala keperluanya untuk bekerja. Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Aya memalingkan pandangannya ke arah suara yang di dengarnya. Nampak Arga keluar hanya dengan sebuah handuk melilit di pinggangnya. Aya menundukkan pandangan dan berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.
Aya tau kalau Arga sekarang ada tepat di belakangnya, aroma wangi sabun mandinya begitu kuat di indera penciumannya.
"Pilihan kamu luar biasa, aku paling suka biru navy." Ucap Arga memuji pilihan setelan pakaian kerjanya oleh Aya.
"Terima kasih. Mas pake pakaian dulu, setelah ini ada yang mau Aya bicarakan sebentar." Tanpa menunggu tanggapan Arga, Aya langsung berjalan ke balkon memberi ruang untuk Arga memakai pakaiannya.
"Kamu mau ngomong apa?" Suara Arga mengalihkannya dari memandangi kebun kemudian membalik badannya menghadap Arga.
"Hari ini aku pengen kembali ke Rumah Sakit. Boleh?" Tanya Aya ragu, ia takut Arga tidak mengijinkannya lagi bekerja.
Arga tersenyum, "boleh, tapi ada syaratnya." Ucap Arga dengan seringai licik di wajahnya. Ia bahagia, Aya menanyai pendapatnya tentang ini, padahal Arga tidak pernah berniat memintanya berhenti bekerja. Ini adalah kesempatan untuk mengambil keuntungan.
"Kok pake syarat sih mas?" Protes Aya kesal.
__ADS_1
"Syaratnya apa? Jangan yang aneh-aneh tapi yah!" Ucapnya mengancam.
"Gak lah, mas cuman minta kamu datang ke kantor bawain makan siang setiap kali kamu sempat dan kalau aku ada waktu senggang, kamu gak boleh nolak kalau aku datangi kamu ke rumah sakit, as your husband. Okey!"
Aya berfikir sebentar kemudian ia mengangguk tanda setuju dengan syarat yang diajukan Arga.
"Udah, sekarang siap-siap gih, aku antar kamu ke Rumah Sakit." Arga menarik tangan Aya kembaki masuk ke kamar.
"Aku bisa nyetir sendiri, mas!"
"Kamu itu udah punya suami, bukan gadis single lagi. Apa bedanya kalau kamu masih harus nyetir sendiri?"
"Tapi Aya gak mau ngerepotin mas." Aya mendengus.
"Gak repot kok. Sudah cukup mas izinkan kamu bekerja, jangan sampai orang lain di luar sana berfikir kalau suami kamu ini adalah laki-laki yang tidak bertanggung jawab." Tegas Arga.
Aya menyerah, bagaimana pun ini menyangkut harga diri seorang Arga, suaminya. Seharusnya ia bersyukur Arga perhatian padanya.
Bandingkan kehidupan beberapa perempuan diluar sana, mereka harus bekerja banting tulang peras keringat untuk sekedar menyambung asap tetap mengepul di dapur, berusaha agar anak-anaknya tidak putus sekolah karena suaminya tidak peduli akan kewajiban dan tanggung jawabnya. Banyak laki-laki yang tanpa malu dan dengan sadar menikmati peran istrinya menjadi tulang punggung keluarga.
Padahal, sejatinya saat ijab kabul telah dilafazkan, maka seketika itu menjadi ikrar tentang kesanggupannya mengambil alih tanggung jawab dan peran ayah perempuan yang dinikahinya tersebut.
__ADS_1
×××××