Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Kamar ini lagi


__ADS_3

Bara tidak melajukan mobilnya ke arah apartemen Aya maupun ke Rumah mendiang ayahnya. Sebelumnya dia dan Arga sudah sepakat untuk sementata Aya akan tinggal di rumah orang tua Arga. Ini demi menjaga kestabilan kondisi psikis Aya. Apalagi Arga adalah suaminya, Aya sepenuhnya berada dalam tanggung jawabnya.


Hampir 1 jam perjalanan, mereka sampai di kediaman orang tua Arga, ternyata tidur Aya masih sangat nyenyak, suara dengkuran halus yang keluar dari bibirnya seperti melodi tersendiri bagi Arga.


Arga mengangkat pelan tubuh Aya dan menggendongnya menuju kamarnya. Setelah sampai di kamarnya, ia meletakkan Aya di atas kasur lalu menarik selimut hingga ke perutnya. Pelan-pelan Arga membuka jilbab Aya agar tidurnya tidak terganggu. Arga merapikan anak rambut di dahi dan telinganya, sebuah kecupan lembut ia berikan di keningnya.


Arga tidak mau memusingkan respon Aya nanti setelah bangun dan tersadar berada di dalam kamarnya. Apalagi dengan kondisi jilbabnya sudah dibuka. Arga bisa beralibi bahwa ibunya yang melakukannya, pasti Aya percaya.


Setelah itu Arga bergegas turun menemui Bara yang sudah menunggunya di ruang tamu. Ternyata di sana juga sudah ada Fira ikut menunggunya.


"Bagaimana keadaan Aya, pak?" Tanya Fira mengkhawatirkan keadaan Aya.


"Dia masih tidur. Bagaimana perkembangan kantor? Apa semuanya terkendali?" Arga balik bertanya setelah menjawab singkat pertanyaan Fira.


"So far, masih terkendali pak. Semua berjalan seperti biasa". Jawab Fira meyakinkan.


"Saya sudah memantau dari orang-orang kepercayaan kita, semua urusan kantor masih aman terkendali meskipun kabar kematian pak Bintang sudah diketahui khalayak." Ucap Bara menambahkan. Saat membahas pekerjaan dengan Arga maka Bara memang selalu bersikap formal di hadapan Arga.


"Baik, kalian pulanglah istirahat dulu. Kalau ada hal penting dan mendesak jangan ragu menghubungi saya. Oh yah.. untuk urusan Aya, jika ada yang menanyakannya, bilang saja kalian tidak tau. Oke!" Titah Arga yang kemudian diangguki keduanya.


"Baik pak, klo begitu saya permisi. Salam buat Aya." Pamit Fira.


Bara juga ikut berdiri, ia dan Arga berangkulan sesaat. Arga menepuk-nepuk pundak Bara.


"Jangan menyalahkan dirimu, semuanya sudah menjadi kehendak Allah." Bisiknya pada Bara lalu melepas rangkulannya.

__ADS_1


Bara mengangguk lalu pamit menyusul Fira yang sudah lebih dulu keluar rumah. Saat mobil Bara keluar dari kediaman Arga, dia mendapati Fira berdiri di sisi jalan seolah menunggu sesuatu.


Bara menghentikan mobilnya dan membuka pintu mobil tepat di hadapan Fira.


"Ayok naik."


Fira berfikir sejenak, mau menolak tapi butuh. Tidak menolak tapi ia merasa akan membeku di dalam mobil jika itu bersama Bara. Pria dingin yang sekalipun tidak pernah membahas urusan lain selain pekerjaan dengannya setelah hampir 7 tahun Fira menjadi sekretaris pak Bintang di kantor. Luar biasa bukan?


Akhirnya Fira ikut tumpangan Bara ke apartemennya, dalam sunyi, sepi, dingin, kaku dan entah apalagi kata yang bisa mewakili suasana horor di dalam mobil Bara itu.


*****


Aya membuka matanya yang masih berat. Ia melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 5. Ia merasa sedikit kebingungan, ini jam 5 sore apa jam 5 pagi. Ia lalu tersadar bahwa ia bangun bukan di dalam kamar apartemennya.


Aya berjalan ke jendela, memastikan apakah ini sore atau subuh mengingat suasana kamar nampak kurang cahaya karena semua tirai menutupi jendela.


Mata Aya sedikit silau setelah menarik kain gorden, di luar matahari bersinar sangat cerah meskipun jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Aya segera menuju kamar mandi setelah memastikan pintu kamar sudah dikuncinya, cepat-cepat ia bersih-bersih badannya lalu mengambil baju kaos dan celana pendek di lemari Arga.


Tidak cukup 10 menit Aya sudah selesai bersih-bersihnya lalu memakai mukenah yang ia lihat diletakkan di nakas. Aya belum sholat dhuhur dan Asar, jadi dia akan menjamak sholatnya saat ini, masih ada waktu sebelum memasuki waktu maghrib.


Ia buru-buru menyelesaikan sholatnya saat terdengar suara ketukan pintu dari luar. Tanpa melepas mukenahnya, ia berjalan ke pintu dan membukanya. Di sana muncul kepala Alya lalu di belakangnya ada tante Andini.


Alya melenggang masuk kamar dengan menarik dua buah travel bag besar di kedua tangannya.


Tunggu dulu! Sepertinya Aya tidak asing dengan dua koper itu. "Ini punya siapa, Al?" Tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Punya lo." Jawab Alya singkat seolah tidak peduli rasa penasaran Aya saat ini. Ia malah sibuk memindahkan dan menggeser pakaian Arga di lemarinya lalu memasukkan pakaian Aya ke sana.


"Untuk sekarang, tante mau kamu tinggal di sini dulu. Nanti setelah kamu sudah merasa tenang, baru boleh kembali ke apartemen atau tinggal di sini terus juga boleh, tante malah akan senang sekali."


"Tapi, tante..."


"Usssshhhh.." Tante Andini menutup mulut Aya dengan jari telunjuknya.


"Pokoknya kamu sekarang harus tinggal di sini. Tante tidak terima penolakan dari kamu. Kalau kamu ngotot mau pergi, nanti tante ikat kaki kamu." Jawabnya sedikit bergurau namun ada nada ketegasan yang tidak mau dibantah di sana.


Alya mendesah, "baiklah tante. Tapi kamarnya?" Akhirnya Aya pasrah, hanya saja dia sedikit keberatan karena tidur di kamar Arga.


"Tidak usah dipikirin, Arga juga bakal tidak di rumah sampai seminggu ke depan, atau malah bisa lebih lama lagi." Jawab tante Andini meyakinkan.


Deg.. seperti ada perasaan tidak rela di hatinya mendengar Arga akan pergi selama itu. Aya berusaha menepis perasaannya. Untuk apa peduli, bukankah dia bukan siapa-siapa Arga?


"Lo santai aja, Ya. Di sini aja dulu, jangan kemana-mana. Gue udah atur cuti lo di Rumah Sakit dan pihak sana juga udah kasi lo waktu tak terbatas untuk menenangkan diri." Sela Alya menambahkan.


"Iya, terima kasih banyak Al, tante!" Ucapnya tulus kepada Alya dan tante Andini. Alya mendekatinya lalu memeluknya, ketiga perempuan itu berangkulan.


Aya merasa bahagia memiliki sahabat seperti Alya dan juga tante Andini sang sahabat mendiang ibunya. Ia sungguh tidak tau harus bagaimana setelah ini andai tak ada orang-orang baik di sisinya. Ternyata Allah masih tetap begitu baik pada dirinya, padahal ada kalanya ia mempertanyakan takdirnya bahkan terkesan menuntut dan menyalahkan. Atau lebih tepatnya ia tidak bersyukur. Mengapa Allah begitu cepat mengambil ibunya yang disayanginya melalui tangan orang yang juga paling disayanginya di dunia ini.


Hal inilah yang menyiksa batinnya selama ini, karena membenci orang yang sangat disayangi bukanlah hal yang mudah, namun keadaan memaksanya untuk membencinya. Sakit!


×××××

__ADS_1


__ADS_2