Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Mas Gagah Keseleo


__ADS_3

Sreeeettttt


Braaakkkkkkkk


Sayup-sayup terdengar suara rem berdecit diikuti suara hantaman keras datang dari arah jalanan depan rumah. Hampir semua orang menghambur keluar mendekati asal suara penyebab kepanikan seisi rumah itu.


Terlihat Arga berjalan pincang, menyeret satu kakinya yang terluka.


"Argaaaaaaa" teriak ibu Andini panik. Ia berlari menghampiri putranya itu.


"Mas Gagah." Teriak Alya tak kalah paniknya.


Keluarga yang panik segera memapah Arga yang kesakitan masuk ke rumah.


"Mana yang sakit sayang? Kamu gak kenapa-napa kan? Kok bisa jatoh sih, mas?" Ibu Andini memberondong Arga dengan beberapa pertanyaan. Punya anak satu biji, kesayangan banget, lihat kesakitan begini membuat kaki ibu Andini lemas seperti tak bertulang.


Arga meringis menahan sakit berusaha menenangkan ibunya yang dia anggap sedikit lebay. "Gak kok, bu. Gak papa kok. Sepertinya ini hanya keseleo. Tadi waktu Arga mau belok, tiba-tiba ada motor yang melaju kencang dari arah berlawanan. Kami sama-sama sudah gak bisa menghindar, akhirnya motor Arga kena hantam." Arga menarik sedikit ujung celananya, nampak pergelangan kakinya memerah. Terasa perih dan berdenyut.


Aya yang berdiri tidak jauh dari sofa tempat Arga duduk melihat sekilas ke kaki Arga. Dia menghampiri Arga yang masih meringis kesakitan. Aya berjongkok dan meraih kaki Arga. Memeriksanya dengan seksama. "Ini tidak parah, hanya terkilir saja." Aya memposisikan kedua tangannya. Lalu tanpa aba-aba.


"Krek"


"Arrrgggghhhh" Arga kaget, tidak siap dengan aksi gadis asing yang ada di depannya itu. Belum selesai keterkejutannya atas kelancangan gadis itu memegang kakinya, sekarang malah melakukan sesuatu yang dianggapnya berbahaya.


"Kamu mau mematahkan kakiku?" Tanya Arga geram.


"Coba digerakin kakinya!" perintah Aya dengan wajah datarnya tanpa peduli dengan kemarahan laki-laki itu. "Masih sakit?" tanyanya.

__ADS_1


Meskipun Arga diselimuti rasa marah bercampur rasa sakit, tapi dia tetap mengikuti perintah gadis yang tidak dikenalnya itu. Arga menggerakkan kakinya, ia menggeleng tanda kalau kakinya sudah tidak begitu sakit.


"Hebat juga ni cewek, rasa sakitnya sudah jauh berkurang, tukang urut langgananku kalah klo mau dibandingin sama dia. Cantik-cantik kok tukang urut!" batin Arga.


"Mbok Min, tolong isi air di baskom sama sekilo es batu." Kata Aya meminta asisten rumah tangga di rumah itu mengambilkannya air dan es batu.


"Iya neng". Mbok Min segera berlalu dan tidak lama kemudian dia sudah kembali dari dapur membawa air sebaskom kecil yang juga sudah diisinya dengan es batu.


Alya yang masih setia duduk berjongkok di hadapan Arga menyambut baskom yang dibawa mbok Min. Tangannya kembali meraih kaki Arga dan memasukkannya ke dalam baskom sambil memijatnya perlahan.


Sebenarnya Arga merasa bersalah sudah membentak gadis itu tadi, tapi dia cukup gengsi untuk meminta maaf. Bisa jatuh reputasinya sebagai cowok terdingin di keluarganya jika terpengaruh dengan kebaikan gadis yang menolongnya ini.


"Ini biar kakinya nanti tidak bengkak." kata Aya seolah mengerti apa yang dipikirkan laki-laki itu.


"Angkat saja kakinya keluar klo sudah tidak kuat." Imbuh Aya yang merasa geli melihat kelakuan laki-laki itu yang berusaha menahan kakinya cukup lama di dalam baskom.


Tanpa sadar Aya dan Arga memberikan respon yang sama. Menatap tajam ke arah Alya lalu memutar bola matanya jengah.


"Jodoh memang, kulkas sama kulkas ketemu. Berrrrrrrrrr...dinginnnnnn!" Sepertinya Alya belum mau berhenti menggoda mereka berdua. Sementara ibu Andini dan yang lainnya sepertinya ikut menikmati adegan demi adegan dan godaan absurd ala Alya.


Kapan lagi bisa melihat Arga salah tingkah, itu adalah pemandangan yang langka. Anak itu terlalu cuek dan dingin, terutama terhadap gadis-gadis yang selama ini berusaha mendekatinya.


Aya menghentikan aktifitas memijatnya di kaki Arga. Tanpa merespon godaan Alya, Aya berdiri membawa baskom berisi air es itu menuju dapur. Sebenarnya itu hanya alasannya agar bisa keluar dari suasana yang tidak mengenakkan tadi. Baru kali ini dia merasa sedikit gugup, meskipun itu adalah reaksi spontan, tapi baru kali ini ia merasa berperilaku sangat manis kepada seorang pria dewasa. Apalagi itu adalah pria yang tidak dikenalnya. Haruskah ia menyesal sekarang? Ah, siapapun akan Aya tolong jika melihat kondisi seperti tadi. Dia adalah dokter, dia harus menolong siapa saja yang membutuhkannya.


Berbeda dengan Arga, dia sendiri merasa heran dengan reaksinya. Bisa-bisanya dia membiarkan seorang perempuan menyentuhnya dan mau-mau saja mengikuti semua kata-kata perempuan tadi. Padahal selama ini, setiap kali dia sakit, dia sangat rewel dan manja. Dia paling susah mengikuti instruksi dokter yang memeriksanya.


"Udah baikan?" Tanya ayahnya.

__ADS_1


"Udah, yah. Ini hanya terkilir, nanti juga cepat sembuh." Jawabnya santai.


"Mas Gagah ada-ada saja. Orang lagi ngumpul buat happy-happy malah kejadian begini." Protes Alya.


"Hussssss.. kamu ngomong apa sih, Al. Namanya musibah, datangnya bisa kapan saja." Jawab om Adam menegur Alya.


Akhirnya mereka membubarkan diri, para lelaki berkumpul di halaman belakang menikmati kue-kue tradisional dengan kopi. Percakapan mereka tentu saja tidak jauh-jauh dari urusan pekerjaan dan bisnis.


Sementara para perempuan tetap berkumpul di ruang tamu. Suasana cukup ramai dengan berbagai cerita yang ngalor ngidul kesana kemari.


Aya ikut bergabung dengan mereka, tidak mungkin bukan dia terus bersembunyi di dapur.


Ibu Arga yang menyadari kehadiran Aya di situ memanggilnya mengambil tempat duduk tepat di sampingnya.


"Terima kasih yah nak udah nolongin Arga." Ucap ibu Andini tulus.


"Iya tante. Sama-sama. Aya kan memang spesialisasinya di situ. Alhamdulillah, bisa bantu." jawabnya diplomatis.


"Gimana tante? Alya bener kan Aya itu menantuable banget?" Alya menyombongkan sahabatnya itu.


Sebenarnya Aya sudah bebal dengan guraun Alya yang seperti itu. Dia sudah terbiasa, tapi kali ini dia cukup terganggu karena di situ ada banyak orang lain bagi Aya. Tapi seperti biasa, dia hanya akan diam membiarkan Alya ngomong semaunya. Biasa dia akan tinggal pergi, tapi karena kondisinya lagi banyak orang, dia memilih bertahan di situ. Tidak sopan rasanya ngambek di sama Alya di situasi seperti ini. Lagian dia tau kalau Alya hanya bercanda meskipun ini bercandanya sudah cukup keterlaluan.


Arga muncul dari taman belakang, ia melewati kumpulan ibu-ibu yang begitu heboh dengan sesi ngerumpinya. Ekor matanya tertuju pada Aya yang nampak akrab dengan ibunya. Tapi ia tidak peduli. Akhirnya ia terus saja melangkah ke dapur. Memang niatnya masuk rumah mau ke dapur mengambil air minum untuk dibawa lagi ke belakang.


Sebenarnya Aya juga sadar dengan kehadiran Arga yang berlalu ke dapur, tapi ia juga memilih pura-pura tidak.melihat. Untuk apa? Toh mereka memang tidak saling kenal.


×××××

__ADS_1


__ADS_2