
Arga memarkirkan motor sportnya asal di depan ruang UGD Rumah Sakit. Dia berlari masuk dan menanyakan dimana ruang perawatan pasien yang baru saja mengalami kecelakaan mobil. Setelah mendapat informasinya, dia kembali berlari menuju tempat yang dimaksud.
Arga hanya mendapati Bara seorang di sana dengan kondisi yang cukup mengenaskan.
"Ayah gimana, Bar?" Tanya Arga memegang dua pundak Arga.
Bara menggeleng lemah, "kondisinya kritis, terlalu banyak luka di tubuhnya." Jawab Bara dengan mulut bergetar.
"Arrrrgggghhhh" Arga membentur-benturkan dahinya di pintu.
Arga begitu panik setelah mendapat telpon dari seseorang yang mengaku memungut ponsel salah satu korban kecelakaan di simpang jalan dekat Rumah Sakit Harapan Kita. Ia sama sekali tidak menyangka mertuanya itu malah mengalami kecelakaan. Padahal beberapa saat sebelumnya dia masih bicara dengannya lewat telepon.
*****
Tidak sengaja Aya melihat Arga di Lobbi UGD Rumah Sakit saat hendak keluar menuju parkiran. Ia ingin mendekatinya namun Arga sudah berlalu cepat dari sana. Aya mendekati petugas di sana dan menanyakan apa yang ditanyakan pria barusan.
Mengetahui Arga sedang mencari korban kecelakaan yang baru saja dirawat di sini, Aya bimbang. Abaikan atau menyusul Arga. Akhirnya Aya memutuskan menyusul Arga. Ia cukup penasaran siapa korbannya. Bisa jadi keluarga Arga yang mungkin juga ia kenal.
Di sana terlihat Arga berdiri menyandarkan dahinya di pintu ruang operasi. Nampak seorang lagi sedang duduk menumpu kepalanya di atas lututnya. Kemeja putih yang dikenakannya dipenuhi darah segar yang belum begitu kering.
Aya mendekati Arga, menepuk pelan bahu Arga.
"Arga.." Arga melihat ke arah datangnya suara.
"Aya.." Ucapnya pelan seperti berbisik.
Tiba-tiba Arga memeluk Aya dengan sangat erat, ia menangis sesegukan di dalam pelukan Aya.
Aya yang kaget dengan reaksi Arga merasa bingung bagaimana harus menyikapinya. Akhirnya ia mengelus-elus lembut pundak Arga berusaha menenangkan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja, Ok!" Aya berusaha menghibur Arga meskipun Aya belum tau siapa yang dirawat di ruang operasi saat ini. Ia membawa Arga duduk di kursi.
Bara yang mengangkat kepalanya ketika mendengar seseorang menegur Arga nampak tercengang. "Ayana..." ucap bibirnya tanpa suara.
"Bagaimana ini??" Tanyanya di dalam hati.
Fikiran Bara berkecamuk, Tuhan seolah-olah mempermainkan kehidupan atasannya itu. Lihatlah, anak kesayangannya kini berada dekat dengannya, sangat dekat tetapi mereka sama-sama tidak tau.
Arga yang sudah mulai tenang mengurai pelukannya. Ia melirik Bara yang sedari tadi duduk dilantai dan bersandar di dinding. Pandangan mereka bertemu, mereka berkomunikasi hanya lewat tatapan.
Hampir satu jam mereka menunggu di luar kamar operasi. Luka-luka ditubuh Bara sudah diobati setelah tadi dipaksa Arga untuk mengobati lukanya terlebih dahulu.
Sebenarnya Aya penasaran, siapa yang ada di ruang Operasi itu tapi ia urungkan niatnya untuk bertanya ke Arga. Tidak etis rasanya untuk banyak bertanya dalam situasi seperti ini.
Pintu ruang Operasi terbuka, nampak seorang dokter keluar. Arga dan Bara segera menghampiri dokter disusul Aya.
"Dokter...Bagaimana keadaannya, dok?" Tanya Bara resah.
Ya..dokter itu tau bahwa laki-laki yang sedang berjuang di ruang operasi itu adalah ayah Aya. Beliau adalah salah satu dokter senior di Rumah Sakit ini dan merupakan teman dekat ayah Aya.
Ayana yang merasa semua mata ketiga laki-laki yang ada di depannya itu tertuju kepadanya, Aya menunjuk ke dirinya dengan balas memandang mereka penuh tanya.
Ketiga laki-laki itu balas mengangguk.
"Tunggu.. Maksud kalian apa?" Ayana belum mengerti.
Arga meraih tangan Aya lalu menariknya ke ujung lorong. "Dengarkan aku.. dengarkan aku baik-baik. Oke!". Pinta Arga mensejajarkan tinggi badannya dengan Aya.
"Di ruang operasi itu adalah ayah kamu, Aya!" Ucap Arga.
__ADS_1
Deg.. deg..
Jantung Aya rasanya mau melompat dari tempatnya. "Apa? Ayahnya? Yang benar saja!" Batin Aya.
Aya menggeleng. "Aku sudah tidak punya ayah." Ucapnya parau.
"Astaghfirullah.. Ya.. istighfar. Dia adalah ayah kamu. Apapun kondisinya dia adalah ayah kamu Aya. Seburuk apapun dia, dia tetaplah ayah kamu."
Aya menggeleng, menepis tangan Arga yang hendak meraihnya. "Tidak, dia bukan ayahku. Aku tidak punya ayah, kamu ngerti gak?" Balas Aya meneriaki Arga lalu berlari meninggalkan Arga. Namun gerakan Arga lebih cepat meraih tangannya dan mencengkramnya kuat.
"Hei.. Aya.. dengar.. lihat aku," Aya berusaha kuat melepas cengkraman tangan Arga namun ia kalah tenaga. Ia menatap tajam Arga.
"Lepas, aku bilang lepas!! Aku tidak punya ayah!" Lirihnya pelan.
Arga menggeleng, "Aya.. plisss.. dengarkan aku dulu!" Arga menarik nafasnya kasar.
"Kamu sudah dengar penjelasan dokter tadi bukan? Tentu saja kamu lebih faham betul kondisi ayahmu saat ini. Aku di sini hanya ingin mengingatkan kamu. Aku mengingatkan kamu agar kamu tidak menyesal di kemudian hari. Aku berharap kamu tidak menyesali keputusanmu hari ini. Kamu tau Aya, sore ini ayahmu ingin datang menemuimu. Satu keinginannya, meminta maaf padamu. Dia hanya ingin melihatmu dari dekat lalu meminta maaf di hadapanmu. Sekarang beliau ada di sini dalam kondisi.. arghhh.. aku mohon Aya, temuilah ayahmu untuk terakhir kalinya." Arga kini nampak frustasi.
Aya terdiam mematung. Tatapannya kosong, fikirannya kosong. Arga berinisiatif menceritakan akar masalahnya, tentang apa yang membuat ayahnya berubah hingga akhirnya terprovokasi melakukan tindakan kasar yang berujung maut.
Arga mengeratkan genggaman tangannya, "maafkan ayahmu! Hatimu ini bukan batu. Lupakan perbuatan buruknya, bebaskan dirimu dari bayangan itu. Ingatlah sekecil apapun kebaikan yang pernah beliau lakukan untukmu. Dia memang bersalah, tapi dia sudah menyesalinya. Dia sangat menyayangi kamu, Ya!"
Air mata Aya semakin deras, ia luruh ke lantai. Ia menangis pilu, mengingat masa-masa kecilnya yang diliputi kebahagiaan bersama ibu dan ayahnya. Ayahnya yang selalu ingin tau apa yang dilakukannya, ayahnya yang selalu meluangkan waktunya bahkan rela meninggalkan pekerjaannya tiap kali Aya merengek minta diantar ke toko buku, ayahnya yang selalu memberi kado-kado aneh saat hari ulang tahunnya. Ah..semua kenangan manis itu berputar-putar di dalam ingatan Aya, hingga ingatan tentang kematian ibunya menjeda semua kenangan manis itu.
Aya merasa pusing, kepalanya sangat berat. Ia terjatuh, pingsan.
×××××
So, apa Author buat Aya masih punya kesempatan bertemu ayahnya saat masih bernyawa atau setelah tidak punya nyawa saja saat ia siuman nanti?
__ADS_1
Dughhh.. Author galau😁