
Hari ini Aya berencana mengunjungi apartemennya. Sejak kematian ayahnya, ia belum pernah kembali ke apartemennya. Rencananya dia juga ingin mendatangi rumah mendiang ayahnya. Ia ingin melihat-lihat di sana.
Saat turun ke ruang makan, ternyata di sana semua sudah berkumpul. Ada Bara di sana yang ia tau asisten pribadi ayahnya. Ada juga seorang laki-laki muda yang baru pertama dilihatnya di rumah ini.
"Selamat pagi, maaf telat." Ucap Aya merasa bersalah karena semua menunggunya untuk sarapan bersama.
"Pagi, nona." Ucap Bara dan lelaki satunya lagi bersamaan sambil berdiri menyambutnya.
"Gak papa kok sayang, kami juga baru aja di sini," ucap ibu Andini menenangkan.
"Ayo duduk," ucap ayah Hutama kemudian yang melihat Aya masih berdiri seperti orang kebingungan. Aya duduk di sisi kanan Arga karena tinggal di situ saja kursi yang kosong. Setelah Aya duduk, Bara dan lelaki satunya lagi baru duduk kembali. Sebenarnya Aya bingung melihat pemandangan seperti itu tapi dia memilih mengabaikannya.
Arga hanya diam saja sejak dari tadi, tapi pandangannya tidak pernah lepas dari Aya. Pagi ini Aya nampak segar dan cantik. Ya.. Aya sangat cantik dalam balutan busana yang dipakainya.
Saat Aya menyendok nasi ke dalam piringnya, dengan santainya Arga mengangkat piringnya juga untuk diisi, sebenarnya Aya merasa geram, tapi dia tetap menyendokkan nasi ke piring Arga. Tidak cukup sampai di situ, Arga masih meminta Aya mengambilkan ayam goreng dan salad sayur ke dalam piringnya. Padahal posisi ayam goreng lebih dekat dengan Arga membuat Aya harus berdiri dari tempat duduknya dan berjalan di belakang Arga. Karena sudah kepalang tanggung melayani Arga, Aya pun mengambilkannya segelas kopi dan segelas air minum. Sepertinya Aya sudah hafal kebiasaan Arga minum kopi pagi-pagi.
"Thanks wife." Ucap Arga berbisik setelah Aya duduk di kursiya.
Seketika rona muka Aya memerah, ia merasa malu karena ia tau meskipun Arga mengucapkannya dengan berbisik tapi semua orang disana pasti masih bisa mendengarnya. Namun, Aya bisa sedikit bernafas lega, setidaknya semua orang di sana pura-pura tidak dengar ucapan Arga tadi. Lama-lama Aya ingin membuat perhitungan sama Arga kalau begini terus. Bercandanya sudah keterlaluan.
Setelah sarapan, Arga dan Bara serta Yudha asistennya dari Blue Marine langsung menuju ke ruang keluarga. Sementara Aya membantu ibu Andini merapikan sisa makanan di meja makan.
"Bu, hari ini Aya mau ke apartemen. Udah lama gak ke sana." Ucap Aya meminta ijin.
"Iya, gak papa tapi nanti pulang ke sini lagi yah. Ibu belum bisa ijinkan kamu tinggal di luar sendiri."
"Iya bu, Aya janji nanti balik lagi." Ucapnya sambil mencium punggung tangan ibu Andini dan tak lupa memberikannya ciuman di pipi kiri kanannya.
Saat hendak keluar, ia melewati Arga dan lainnya di ruang tamu.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Arga menghentikan langkah Aya.
"Eh..mas..aku mau ke apartemen dulu sebentar."
"Tunggu sebentar, ada beberapa hal yang ingin Bara bicarakan ke kamu. Oh yah, kenalkan ini Yudha, asistenku di kantor. Besok-besok kalau kamu ada perlu trus ponselku tidak bisa kamu hubungi, kamu bisa hubungi Yudha saja atau sama Bara juga bisa."
"Siapa juga yang mau hubungi kamu?" Sewot aaya tapi hanya diucapkan dalam hati.
Yudha berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya kepada istri atasannya itu. Sebelumnya Arga sudah memberi tahu Yudha statusnya yang sudah menikah tapi belum di publish bahkan istrinya sendiri juga belum tau. Yudha merasa aneh, tapi setelah dijelaskan Arga, ia akhirnya mengerti. Kebetulan Yudha adalah junior Arga saat kuliah dulu di Surabaya. Jadi mereka sudah cukup lama saling mengenal hingga akhirnya diangkat sebagai asisten Arga di kantornya mengingat kesibukan Arga di perusahaan mertuanya yang cukup menyita waktu.
"Halo, mas Yudha." Sapa Aya balas membungkuk seperti yang dilakukan Yudha.
Aya ikut duduk di sofa menunggu Bara berbicara.
"Begini non Aya, saya di sini mau menyampaikan beberapa hal mengenai amanah dari ayah nona sebelum beliau meninggal." Ucap Bara dengan wajah tanpa ekspresi.
"Santai saja mas Bara, ngomongnya gak usah formal gitu. Panggil Aya saja." Ucapnya merasa tidak nyaman dengan cara Bara berbicara padanya.
"Kalau urusan perusahaan, saya gak ngerti, mas Bara tau sendiri kalau saya ini seorang dokter, jadi bagaimanalah mas Bara mengaturnya. Lagian saya yakin ayah pasti sudah mengatur semuanya ke tangan orang-orang yang sudah dipilihnya. Jadi, kalau mas Bara mau bicara soal pekerjaan atau apalah yang berhubungan dengan perusahaan, jujur saya tidak tau apa-apa dan juga tidak begitu tertarik. Kecuali jika ada amanah lain, misalnya ayah ingin menghibahkan beberapa asetnya atau ada hal-hal lain yang harus saya ketahui misalnya ayah punya hutang di luar atau bagaimana, ya jual ajalah perusahaannya itu biar hutangnya selesai dan beliau bisa tenang di sana." Ucap Aya panjang lebar.
"Tapi nona.."
"Sudah, tidak apa-apa Bar, nanti yang lainnya kita urus belakangan." Sela Arga menghentikan Bara, sepertinya Aya tidak begitu mengerti seperti apa besarnya perusahaan yang diwariskan ayahnya kepadanya.
Bunyi ponsel Aya mengalihkan perhatian mereka ke Aya. Aya nampak mengkerutkan keningnya melihat yang memanggil dari nomor yang tidak di kenalnya.
"Halo, assalamu'alaikum."
"........."
__ADS_1
"Oh, om Dino." Ucap Aya sambil melirik Bara. "Iya, om. Ada apa yah?" Tanya Aya kemudian.
"........."
"Oh, gitu. Om atur aja mau dimana ketemuannya."
"........"
"Siang ini saja om, ba'dha dhuhur bisa. Bagaimana kalau di cafe samping Rumah Sakit Harapan Kita?"
"........."
"Baik, om. InsyaaAllah. Nanti Aya kabari kalau udah sampe di sana. Assalamu'alaikum." Jawabnya mengakhiri panggilan teleponnya.
"Pak Dino bilang apa sama non Aya?" Tanya Bara penasaran.
"Om Dino minta ketemuan, katanya ada yang mau dia tanyakan." Ucap Aya acuh.
"Nanti aku temani kamu ketemu beliau, tunggu aku di apartemenmu. Jangan kemana-mana sebelum aku jemput." Ucap Arga tegas tidak ingin dibantah.
Aya pun hanya mengangguk pasrah, ditemani Arga menemui om Dino bukanlah ide buruk. Mengingat cerita Arga tentang masalah ibu dan ayahnya yang ternyata penyebabnya adalah om Dino sendiri. Tentu saja Aya harus hati-hati terhadap saudara ayahnya itu.
Sebenarnya Aya kefikiran mau ajak Alya saja saat ditelpon om Dino tadi, tapi berhubung Arga menawarkan diri, jadi tentu saja itu lebih baik dibanding mengajak Alya. Bagaimanapun Aya belum ada bayangan sama sekali ada hal apa gerangan yang membuat omnya itu ingin menemuinya.
Kalau diingat-ingat lagi, Aya sama sekali sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan keluarga Ayahnya sejak peristiwa kematian ibunya. Tidak ada kabar, sekalipun tidak pernah bertemu padahal mereka tinggal masih di satu kota yang sama.
Entahlah, entah Aya yang menghilang bagai di telan bumi atau mereka yang menghilang. Aya sendiri tidak pernah bersembunyi, dia hanya pergi meninggalkan ayahnya, hanya pindah tempat tinggal. Anehnya, dari 9 tahun itu, seolah ruang untuk sebuah kebetulan bertemu sama sekali tidak ada. Tidak pernah kebetulan melihat ayahnya, juga tidak pernah kebetulan melihat tante Maya ataupun om Dino. Sebenarnya ini aneh tapi saat sebelum ayahnya meninggal, Aya malah bersyukur tidak pernah kebetulan bertemu dengan mereka.
×××××
__ADS_1
Ada yang sudah sangat penasaran kapan Aya tau Arga itu adalah suaminya???