Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Tidak terasa, tinggal 2 hari lagi Aya akan meninggalkan Korea dan kembali ke Indonesia. Sebelumnya dia dan Lala ke Jeju Island selama 3 hari di sana. Tentu saja tanpa Alya dan Alif. Aya sudah merasa cukup jalan-jalannya. Sekarang dia ingin banyak di rumah saja biar saat pulang nanti dia tidak kehabisan energi. Apalagi pekerjaannya pasti sudah menumpuk.


Dia sudah berjanji sama Lala akan masak makanan khas Indonesia untuk mereka hari ini. Lala sendiri sedang ke kampus, ada sedikit urusan di sana. Sebenarnya Lala sudah tidak begitu sibuk dengan kuliahnya karena sebentar lagi selesai. Dan sebagai balasan Lala untuk masakan Aya, dia akan mengajak Aya jalan-jalan keliling kota malam ini. Hanya liat-liat dari atas mobil dan mungkin sedikit berwisata kuliner lagi.


Aya memulai aktifitas memasaknya setelah mendapat kabar dari Lala kalau sebentar lagi dia akan pulang. Bahan-bahannya sudah lengkap di kulkas. Kebetulan sepulang dari Jeju kemarin mereka menyempatkan diri singgah di supermarket untuk berbelanja.


Aya dan Lala benar-benar menikmati liburan mereka. Sebenarnya mereka cukup penasaran kemana Alya dan Alif menghabiskan waktu mereka tiga hari ini. Sungguh Aya tidak ingin mendengar kalau mereka tidak kemana-mana, stay di kamar Hotel. Oh, sungguh terlalu. Jika memang maunya menghabiskan waktu berdua di kamar, kan tidak usah pergi sejauh ini. Di rumah juga bisa.


Aya mengambil ponselnya mencari nomor kontak Alya di sana. Setelah tiga kali terdengar bunyi deringan, akhirnya diangkat.


"Assalamu'alaikum, nyonya Alif."


"..............."


"Apa kabar jeng, lama tak bersua." Ledeknya pada Alya.


".............."


"Oh.. kirain kalian lagi di pulau kapuk. Ya udah, hati-hati di jalan, kirain kalian ada di Hotel. Gue lagi masak, rencananya mau undang kalian ke sini."


".............."


"Iya, Besok aja, gue tunggu yah.. bye. Assalamu'alaikum, eh..salam buat ayang bebnya." Ucapnya mengakhiri panggilannya.


*****


Tepat pukul 8 malam, pesawat Arga mendarat di kota Seoul. Dia mengambil taksi dan menuju ke rumah orang tuanya yang sekarang ditinggali adiknya, Lala. Dia sangat lelah setelah penerbangan dari Perth, Australia. Besok dia ada meeting di Samsung Town, kantor pusat Geoje Shipyard. Perusahaan tersebut adalah Galangan Kapal terbesar dengan rasio omset tertinggi di dunia. Sengaja dia meminta meeting-nya agak siang saja karena dia butuh istirahat dan mempelajari kembali berkas-berkas untuk bahan meeting-nya.


Sesampainya di rumah, ia tidak menemukan adiknya itu. Padahal ini sudah hampir jam 10 malam. Ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Rasanya dia sudah tidak punya energi untuk berjalan ke kamarnya.


Sementara itu, Lala dan Aya masih sangat asyik menikmati malam mereka di tepi sungai Cheonggyecheon. Mereka berdua berbagi cerita, lebih tepatnya Lala yang curhat. Aya merupakan pendengar yang baik, mungkin karena itulah Alya betah bersahabat dengannya.

__ADS_1


Ponsel Lala berdering, ia mengambilnya keluar dari tas tangan yang di bawanya. Ada video call.


"Kak Arga." matanya melirik ke Aya sebagai informasi kalau yang nelpon adalah kakaknya. Aya hanya menggedikkan bahunya dan mempersipahkan Lala menjawab teleponnya.


Lala menggeser tombol hijau.


"Assalamu'alaikum, kak."


"Pulang sekarang juga." Tegasnya dengan nada memerintah.


"Ini lagi tanggung kak, Lala masih pengen di luar. Kapan lagi bisa ada di luar rumah selarut ini." Tolak Lala sengit.


"Berani melawan kakak yah sekarang. Kamu mau pulang sekarang juga atau kakak jemput paksa." Arga mulai tidak sabar.


"Wow..Lala bakal senang banget kalau kakak yang jemput. He he he." Balasnya menantang lalu melirik ke arah Aya. Ada seringai nakal di senyumnya.


Arga berusaha menekan emosinya. Ia menarik nafas kasar. "La, kakak bilang pulang sekarang yah. Gak baik anak gadis di luar jam segini, ok!" pintanya dengan suara dibuat selembut mungkin. Ia tau karakter Lala, semakin dikerasin semakin melawan.


Sementara itu, diam-diam Aya memperhatikan percakapan kakak adik itu. Ada rasa iri muncul di hatinya. Betapa beruntungnya Lala, ada kakak dan orang tuanya yang begitu peduli dan perhatian padanya.


Aya baru sadar, ternyata dia benar-benar sendiri di dunia ini. Tidak ada yang peduli dan tidak ada yang akan mencarinya saat dia terlambat pulang. Miris bukan?


"Pulang yuk, kak," ajak Lala setelah panggilan video callnya berakhir.


Selama perjalanan pulang, Lala sibuk sendiri dengan fikirannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Arga dan Aya saat bertemu nanti. Lala tau kakaknya itu sedang ada di rumah hanya dengan melihat latar waktu menerima video call tadi.


Arga terbangun saat mendengar suara mobil memasuki garasi rumah. Terdengar suara pintu terbuka. Arga segera bangkit dari tidurnya.


"Dari mana saja kamu?" Suara bariton itu menghentikan langkah Aya.


Arga belum menyadari bahwa itu Aya, bukan Lala karena pencahayaan yang kurang di ruang tamu. Lala kemudian muncul dari pintu masuk lalu menyalakan lampu.

__ADS_1


Ceklek


Arga bingung. "Lalu yang duluan masuk rumah tadi siapa?" tanyanya dalam hati. Arga melirik ke tangga.


Aya yang sempat mematung di tangga langsung berlari naik ke kamarnya. Tepatnya kamar Arga.


"La, itu siapa?" Tanya Arga penasaran.


"Istri kakak" jawab Lala setengah berbisik.


"What?" Arga masih tidak percaya.


"Wah..sepertinya kalian memang jodoh. Kakak ipar bela-belain ke sini ikut orang honeymoon demi menghindari kakak, eh malah ketemu di sini. Apa jangan-jangan kakak menguntit kakak ipar yah?" Tuduh Lala.


"Sembarangan kamu," elak Arga. "Kakak mana tau dia ada di sini. Kakak ke sini untuk urusan kerjaan. Bukan untuk yang lain". Lanjutnya.


"Kakak ipar tidur di kamar kak Arga, jangan lagi ada drama salah masuk kamar, ok!" infonya sekaligus mengingatkan.


"Iya.. iya.. kakak ngerti. Lagian orang istri sendiri kok. Salahnya dimana?"


"Salahnya kakak ipar gak tau kalau kakak itu suaminya dan parahnya lagi dia sama sekali tidak tau kalau statusnya sudah resmi jadi istri orang sejak sebulan lebih. Gimana klo tiba-tiba kecantol oppa ganteng di luar sana?" kesal Lala.


"Terus, kakak harus gimana?" Tanya Arga frustasi. Ia cukup terganggu dengan pertanyaan Lala. Aya perempuan yang cantik, tentu banyak yang menyukainya.


"Ya ngomong lah. Tinggal ngomong aja kok susah banget. Paling bibir kakak yang bonyok ditampar pake bibir sama kakak ipar." Lala menyeringai licik.


"Dengan senang hati, La. Memangnya reaksinya bakal seperti itu?"


"Menurut kakak?"


Arga menelan kasar salivanya, ia tau resiko besar yang menantinya saat Aya tau kenyataannya. Udah syukur kalau ia disuruh tidur di teras semalaman, tapi kalau tulangnya dipatah-patahkan, oh tidak. Membayangkannya membuat semua bulu-bulu di tubuhnya berdiri.

__ADS_1


×××××


__ADS_2