
Sebulan telah berlalu dengan cepat berarti pernikahan Aya dan Arga sudah berjalan lebih 2 bulan. Bintang Bahari, ayah Ayana Khaira Bahari sekaligus mertua Arga Pramudya Hutama itu nampak puas dengan hasil kerja menantunya. Selain cerdas, Arga termasuk orang yang sangat teliti, visioner dan pekerja keras. Mungkin karena usianya juga yang sudah cukup matang membuatnya memancarkan aura ketegasan dan kebijaksanaan. Tidak salah ia memilihnya menjadi suami Aya. Setelah semua ini, ia tidak perlu lagi khawatir memikirkan anak kesayangannya itu. Laki-laki terbaik telah mengambil tanggung jawab darinya.
Ia kini duduk termenung di kursi kebesarannya, dadanya terasa sesak setiap kali mengingat mendiang istrinya. Ia sungguh tidak berdaya, kehilangan orang yang paling dicintainya karena kesalahannya sendiri membuatnya sangat terpukul. Menyesal! Tentu ia sangat menyesal. Hanya saja rasa menyesal selama hampir 9 tahun terakhir itu tidak cukup membuat hatinya tenang.
Ada perasaan sakit yang menghimpit, kian hari kian membesar. Apalagi ia harus menerima kenyataan bahwa anak satu-satunya itu tidak mau lagi mengenal dirinya. Diabaikan oleh darah daging sendiri membuat luka tersendiri disamping luka kehilangan istri tercintanya.
Ini sungguh-sungguh menyesakkan.
Ia mengusap wajahnya, menghela nafas kasar. Ia mengambil gagang telpon, memencet tombol salah satu nomor extension. "Bara, antar bapak ke Rumah Sakit." Katanya lalu menutup telponnya.
Sore ini ia sudah membulatkan tekadnya untuk menemui putri semata wayangnya itu. Kerinduannya sudah membuncah memenuhi setiap rongga dadanya. Sudah cukup ia menyesali kehilangan istrinya, ia tidak ingin kembali menyesal dengan kehilangan anaknya. Meskipun ia tidak yakin bagaimana dengan reaksi Aya nantinya, tapi saat ini yang terpenting adalah menemui Aya, berdiri tepat di hadapannya, lalu meminta maaf.
Tidak mengapa jika Aya nanti akan memaki dirinya, memang itu sudah sepantasnya mengingat keaalahannya yang begitu besar. Jika ternyata Aya juga tidak mau menerima permintaan maafnya, tentu saja itu akan sangat menyakitkan. Tapi lagi-lagi itu tidak mengapa baginya. Ia hanya ingin mengakui kesalahannya di depan putrinya dan meminta maaf secara langsung.
Ia sudah siap dengan segala konsekuensinya, ia ingin memdapatkan maaf dari Aya, maka yang harus dilakukannya adalah meminta maaf. Bukannya bersembunyi seperti orang bodoh.
Bara melajukan mobilnya. Sebelumnya dia sudah mengabari Arga akan rencana atasannya itu. Tentu saja Arga sangat terkejut. Masalahnya bisa jadi hari ini statusnya akan diketahui Aya. Sementara dia belum siap untuk itu. Dia belum menyiapkan diri dan jawaban yang cukup masuk akal agar Aya tidak membencinya.
__ADS_1
Ponsel pak Bintang berdering. Tampak nama Arga dilayar memanggil.
"Halo..."
"................."
"Kamu tidak usah khawatirkan ayah. Ayah sudah siap dengan resikonya." Jawab pak Bintang.
"................"
Pak bintang menarik nafas panjang, "tidak apa-apa, ayah akan baik-baik saja." Jawabnya singkat. Ia menutup telponnya. Ia larut dalam fikirannya sendiri.
"Bapak masih bisa mundur klo ragu." Ujar Bara tidak tahan dengan keheningan di atas mobil.
Pak Bintang tersenyum, "kamu sepertinya meragukan tekadku, Bara."
Bara menggeleng, "bukan seperti itu. Hanya saja di sini saya yang tegang." Imbuhnya mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
"Sudah berapa lama kamu ikut bapak?" Tanyanya mengabaikan lelucon Bara.
Bara berfikir sebentar, "mungkin sudah 7 tahunan, pak. Kenapa?"
"Carilah perempuan baik, menikahlah. Kamu jangan hanya memikirkan bapak. Sudah waktunya kamu memikirkan dirimu sendiri." Ucapnya mengingatkan Bara.
Bara hanya tersenyum kecut mendengar petuah atasannya itu. Sampai saat ini ia memang belum memikirkan pernikahan padahal usianya sudah memasuki 35 tahun. Ia tidak ingin konsentrasinya pecah saat menikah nanti. Mana ada istri yang mau diduakan dengan pekerjaan? Sementara mendampingi pak Bintang selama 24 jam adalah visi misi hidupnya.
Terlalu banyak kebaikan pak Bintang untuk dirinya dan keluarganya. Dia yang dulu hanyalah seorang satpam di salah satu cabang perusahaan pak Bintang yang terletak di bagian timur Indonesia. Suatu ketika tanpa sengaja Bara melihat seseorang hendak mencelakai pak Bintang yang sedang berjalan masuk kantor, dengan sigap Bara menolongnya dan berhasil meringkus pelakunya. Dari sanalah titik balik kehidupan Bara. Pak Bintang membawanya ke Jakarta, memberinya tempat tinggal yang layak, pekerjaan yang layak dan tak lupa mengajarkannya banyak hal hingga ia yang awalnya hanya dijadikan supir lambat laun karena kecerdasan dan kejujurannya dia diangkat menjadi asisten pribadi.
Melewati lampu merah yang baru saja berwarna hijau, Bara melajukan mobilnya. Namun, belum sempurna mobil yang dikendarainya melewati persimpangan jalan tersebut, tiba-tiba datang sebuah truck dengan kecepatan tinggi dari arah kanan menghantam bagian sisi belakang mobil.
Kecelakaan pun tidak dapat dihindari. Mobil berputar-putar, menghantam apa saja yang ditemuinya. Bunyi dentuman keras, decitan rem dan teriakan orang-orang yang melihatnya seakan seperti gerakan slow motion. Kini hening.
Bara menemukan kesadarannya, tubuhnya terasa remuk, darah segar mengalir dari hidung dan beberapa bagian tubuhnya. Tanpa memperdulikan rasa sakitnya, ia membuka pintu mobilnya yang posisinya kini terbalik. Bara buru-buru membuka pintu belakang mobil, mencari sosok yang begitu dikaguminya. Suasana begitu kacau. Orang-orang berdatangan berkumpul mengelilingi mobil.
Bara menarik keluar tubuh pak Bintang, ia meletakkan tubuhnya, memeriksa nadinya. "Masih ada" Bara bernafas lega. Namun tubuh itu sudah berlumuran darah. Bara menggendong tubuh itu di pangkuannya, memohon kepada siapa saja yang mau menolongnya ke Rumah Sakit terdekat.
__ADS_1
×××××
Menulis part ini sungguh menyesakkan dada author 😭😭😭