
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Aya terus diam. Beberapa kali Arga mencoba mengajaknya berbicara, namun Aya selalu mengangkat satu tangannya tanda meminta Arga diam. Arga pasrah, Aya memang butuh waktu untuk mencerna semua informasi mengejutkan yang baru diketahuinya hari ini.
Sesampainya di rumah, Aya buru-buru turun dari mobil dan membanting pintunya dengan keras. Ia berlari masuk rumah segera menuju kamarnya dan menguncinya.
Arga mengejarnya, mengetuk-ngetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada respon dari Aya. Sayup-sayup terdengar suara tangisan dari balik pintu. Arga menyugar wajahnya kasar, ia tidak tau harus berbuat apa saat ini.
"Aya.. buka pintunya! Ayo bicara baik-baik. Beri aku kesempatan menjelaskannya. Aku tunggu di sini."
Arga memilih duduk bersandar di pintu kamar Aya, menunggu Aya mau membuka pintunya.
Aya sendiri membenamkan wajahnya di atas bantal. Ia menangis mengeluarkan semua emosinya. Pengakuan om Dino tadi sudah cukup membuatnya shock. Lalu apalagi saat Arga datang mengaku sebagai suaminya. Maksudnya apa???
Aya tidak peduli dengan ketukan pintu dari luar. Marah? Iya..saat ini perasaan yang mendominasi perasaannya adalah marah.
Benci? Sungguh ia telah lelah membenci.
Aya duduk di sisi ranjang, memandang buku nikah yang sedari tadi dipegangnya sejak Arga menunjukkannya di cafe. Sejenak Aya berfikir, apa ia terlalu reaktif? Jangan sampai ini hanya akal-akalan Arga memgelabui om Dino.
Meneruskan rasa penasarannya, ia memberanikan diri membuka buku nikah tersebut. Mata Aya membola, ini asli! Ada nama, foto dan tanda tangannya.
Bagaimana bisa?
Aya sama sekali merasa tidak pernah menikah dengan Arga. Ia juga tidak pernah mengingat menandatangani buku nikah. Lalu siapa juga yang menikahkannya?
Aya membaca baik-baik buku tersebut, di sana tertera tanggalnya. 11 mei 2020! Ini sekitar 3 bulan yang lalu. Aya masih sulit mempercayainya. Kepalanya terasa sakit, matanya berkunang-kunang, pandangannya berputar-putar, seketika tubuhnya terjatuh ke lantai dengan tangan menyambar sebuah gelas di atas nakas.
Prang...
__ADS_1
Suara pecahan kaca mengusik pendengaran Arga yang masih setia menunggu di balik pintu. Kembali ia mengetuk pintu memanggil-manggil Aya, namun lagi-lagi tak ada respon.
Arga berlari ke tempat dimana kunci cadangan ia letakkan, butuh beberapa detik memasukkan kunci ke lubangnya karena tangannya sedikit gemetaran.
Saat membuka pintu, alangkah kagetnya Arga, ia mendapati tubuh Aya tergeletak di lantai dekat tempat tidur dengan pecahan gelas berhamburan di sekitarnya.
"Aya..."
"Aya.. hei, bangun." Tanpa peduli dengan beling di situ, Arga mengangkat kepala Aya ke pangkuannya. Ia menepuk-nepuk pipi Aya, lalu memeriksa kedua pergelangan tangan Aya.
Arga menghembuskan nafas lega.. ia sempat berfikir Aya bunuh diri karena dirinya.
Ia mengangkat tubuh Aya ke tempat tidur, mengguncang-guncang tubuhnya agar kesadarannya kembali, namun tidak berhasil.
"Astaghfirullah.. Aya..Arga, Aya kenapa?" Tanya ibu Andini khawatir. Ia dan ayah Hutama baru sampai di rumah setelah menghadiri acara kantor siang tadi.
"Aya.. Ya.. bangun nak!" Ayah Hutama mengguncang tangan Aya agar bangun tapi tetap nihil. "Telpon dokter Fariz." Perintahnya pada Arga.
Sekitar 5 menit kemudian dokter Fariz segera datang, kebetulan dokter Fariz adalah tetangga mereka dan sedang di rumah, jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumahnya.
Dokter Fariz memeriksa keadaan Aya ditemani wajah tegang Arga dan kedua orangtuanya.
Dokter Fariz tersenyum, "tidak usah khawatir, dia baik-baik saja. Dia hanya kelelahan, mungkin ada sesuatu yang mengganggu fikirannya makanya begini." Ucap dokter Fariz sambil berdiri menegakkan tubuhnya.
Mereka bertiga akhirnya bisa bernafas lega.
"Alhamduillah." Ucap ibu Andini lalu duduk di sisi ranjang mengelus-elus kepala Aya. Sementara Arga mengambil satu tangan Aya dan menggenggamnya dibawa ke pangkuannya.
__ADS_1
"Siapa?" Tanya dokter Fariz menyelidik ke ayah Hutama.
"Istri Arga," jawab ayah Hutama tenang.
Dokter Fariz mengerutkan keningnya, tapi ia memilih tidak menambah pertanyaannya walau sebenarnya ia masih penasaran kapan Arga menikah karena selama ini yang ia tau Arga belum menikah.
"Oke, saya permisi dulu. Arga, istrinya dijaga, jangan dikasi stress dulu. Namanya pengantin baru, jadi masih proses adaptasi, jangan memaksakan diri dulu." Ucap dokter Fariz tersenyum kepada Arga sementata Arga hanya diam dan mengangguki ucapan dokter barusan.
Setelah dokter Fariz meninggalkan rumah, sorot mata kedua orang tuanya tajam ke Arga.
"Katakan pada Ayah, ada apa sampe Aya seperti ini?"
"Ibu kan selalu bilang, sabar..sabar.. dekati Aya perlahan, jangan nyosor terus memaksa dia." Imbuh ibunya dengan nada ketus.
Arga menggeleng.
"Maaf Ayah, Arga minta maaf bu. Ini tidak seperti yang ada di fikiran kalian. Arga terpaksa mengatakannya. Sekarang Aya sudah tau pernikahan kami." Jawab Arga lemah.
"Apa maksud kamu?" Tanya ayahnya lagi.
"Arga tidak punya pilihan lain, om Dino memaksa Aya ikut bersamanya. Hanya dengan mengaku bahwa saya adalah suami Aya yang bisa menghentikannya." Ucap Arga.
"Dino?" Ayah Hutama dan ibu Andini saling pandang. Mereka tidak menyangka si Dino datang mengganggu kehidupan Aya.
Akhirnya Arga menceritakan kepada kedua orang tuanya tentang pertemuan Aya dan om Dino di cafe tadi siang. Arga pun menceritakan maksud om Dino menemui Aya yang ia dengar sendiri saat ia duduk di meja yang agak dekat dengan mereka saat itu.
Kabar ini cukup mengejutkan bagi ayah Hutama. Sebenarnya dia sudah tidak mau mempersoalkan fitnah Dino kepadanya bersama Farah, namun jika ini sudah menyangkut Aya, maka ia akan mengikuti permainan Dino. Ini bisa menjadi ancaman bagi kehidupan rumah tangga Arga dan Aya kelak. Ayah Hutama tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
Dino sudah menghancurkan rumah tangga Bintang dan Farah, ia tidak akan membiarkan Dino melakukan hal yang sama pada rumah tangga anaknya. Ia harus bertindak secepatnya.
×××××