
"Mas mau ngapain?"
"Menurut kamu?" Arga memperpendek jarak mereka.
Aya mundur beberapa langkah hingga kakinya mentok di tempat tidur membuatnya jatuh terduduk di sana. Arga semakin memperpendek jarak mereka dengan sedikit membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan Aya.
"Mas Arga..." Spontan Aya meletakkan kedua tangannya di dada bidang Arga menahan Arga agar tidak mendekat lebih dekat lagi.
"Iya sayang."
Deg.. Blush.. Aya membuang mukanya ke arah lain, tidak mampu menatap mata Arga dengan posisi sedekat ini.
Arga mengurung Aya. Satu tangan Arga kini menopang tubuhnya di kepala ranjang. Satu tangannya yang bebas ia pakai menangkup dagu Aya agar menghadap wajahnya. Nafasnya terasa berat meniup wajah Aya.
"Kenapa diam? Apa kamu sudah tidak penasaran dengan apa yang mas mau lakuin ke kamu?"
"Mas Arga jangan coba-coba macam-macam sama Aya yah, atau Aya teriak!" Acam Aya. Sejujurnya, detak jantung Aya saat ini sudah tidak bisa lagi dikondisikan. Posisi mereka terlalu intim. Sebagai perempuan dewasa, tentu saja Aya mengerti apa yang biasa dilakukan pasangan suami istri saat hanya berduaan seperti ini.
"Teriak saja. Memangnya apa yang difikirkan oleh otak cerdasmu itu? Hmmm?" Tanya Arga memancing dengan senyum smirknya.
"Aku gak mikir apa-apa kok!" Jawab Aya gelagapan.
"Yakin?"
Aya hanya mengangguk berusaha menoleh ke arah lain tapi tangan Arga tidak mau melepaskan dagunya. Merasa marah dan frustasi dengan perlakuan Arga. Aya memberanikan dirinya menatap tajam ke mata Arga.
Tatapan mereka kini saling mengunci, Arga semakin mendekatkan wajahnya. Aya bisa merasakan detak jantung Arga berdetak sangat cepat dari tangannya yang masih bersandar sedari tadi di dada Arga.
Cup...
Arga menempelkan bibirnya di bibir Aya. Mata Aya membulat. Merasa tidak ditolak, Arga mulai menggerakkan kedua bibirnya menjepit bibir bawah Aya. Aya membatu, ia sadar Arga mencium bibirnya, namun seperti terhipnotis, ada dorongan lain di dirinya yang merasa penasaran ingin mengenal perasaan aneh yang kini menyelimuti hati dan fikirannya. Cukup lama Arga bermain dengan bibir atas dan bibir bawah Aya. Aya tidak menolak, tapi tidak juga membalasnya.
Arga melepaskan pagutannya, tangannya yang tadi berada di dagu Aya ia gunakan mengelus lembut bibir Aya.
Bugghhhh...
Tiba-tiba Aya menemukan kesadarannya, spontan ia mendorong keras tubuh Arga hingga terjungkal ke lantai.
__ADS_1
"Mas Arga!!! Mas Arga kok jahat sih, itu ciuman pertama Aya tau. Kok diambil?"
Arga yang mengelus-elus pant*tnya karena masih merasa sakit tertawa penuh kemenangan demi mendengar keluhan Aya.
"Apa? Mas jahat? Kamu tidak nolak kok, malah kamu menikmatinya juga kan, ayo ngaku aja!" Ledek Arga.
"Lagian itu juga ciuman pertama mas kok, jadi kita impas." Imbuhnya lagi sambil naik ke atas ranjang ingin mengambil posisi tidur. Namun sejenak ia menyadari sesuatu.
"Kamu mau tidur di sisi mana? Kanan apa kiri, dekat tembok apa sisi sini?" Tanya Arga sambil menepuk-nepuk kasur di sisi luar tempat Aya duduk sekarang.
"Siapa juga yang mau tidur sama mas? Aya gak mau." Ucap Aya geram.
"Kenapa? Bukankah kita sudah menikah? Kita udah halal Ya kalau kamu lupa!"
"Mas...plissss.. Aya mohon. Aya benar-benar belum siap berbagi tempat tidur sama mas. Aya benar-benar minta tolong mas ngertiin Aya." Ucap Aya memohon.
Arga terdiam, ia menarik nafasnya kasar.
"Apa kamu merasa jijik sama mas? Apa mas tidak punya kesempatan sama sekali masuk ke dalam hati kamu?" Tanya Arga dengan wajah lesu, matanya sedikit memerah menahan gemuruh hatinya yang tercabik-cabik penolakan Aya.
Arga memgangkat wajahnya menatap Aya yang ternyata sedari tadi juga menatapnya. Arga melempar senyum termanisnya, ia sekarang bisa bernafas lega, Aya tidak menolaknya, Aya hanya butuh waktu.
"Oke kalau begitu, mas maafkan kamu. Tapi kamu tetap harus bertanggung jawab karena sudah sempat membuat mas merasakan patah hati kurang lebih 3 jam terakhir ini."
Kening Aya mengkerut, "kok Aya yang tanggung jawab? Seharusnya mas yang tanggung jawab karena dengan berani-beraninya menikahi Aya tanpa sepengetahuan Aya."
"Mas udah dari dulu mau tanggung jawab loh, Ya. Sini mas ingatin kamu, kejadian pertama di kamar ini waktu kamu itu," ucap Arga memberi tanda kutip dengan kode tangan pada kata itu, "mas mau tanggung jawab kok."
"Kedua, kejadian di Hotel. Ketiga ciuman pertama kamu ini, semuanya akan mas pertanggung jawabkan. Dunia akhirat kamu mas yang akan tanggung jawab. Semuanya!!!" Ucap Arga mantap.
"Oke, oke.. tidak usah dibahas semuanya juga kali mas. Sekarang mas mau keluar atau tidak? Kalau tidak, biar aku yang keluar!" Aya sudah malas melanjutkan pembicaraannya dengan Arga.
"Ya, pliisss.. gengsi dong diusir istri keluar kamar." Arga masih mencoba mencari celah agar diijinkan tetap tidur bersama Aya. "Dan mungkin kamu lupa, kunci kamarnya tadi sudah mas lempar keluar jendela!" Ucap Arga nyengir.
Aya memutar dua bola matanya jengah. Sia-sia sudah usahanya baik-baikin Arga.
"Oke, fine! Mas Arga boleh tidur di kamar ini tapi mas tidur di lantai."
__ADS_1
"Sama suami sendiri tega banget, Ya!"
"Arghhh... oke, mas tidur di ranjang tapi ada syaratnya!"
"Apa?" Tanya Arga bersemangat.
"Yang pertama, kita pakai guling pemisah, no physical contact, ok!"
"Oke, terus?"
"Yang kedua, Aya mau liburan selama 1 bulan dan mas gak boleh ganggu!"
"Nggak, syarat kedua tertolak. Terlalu lama. Seminggu boleh dan liburannya di Villa ayah yang di puncak saja terus nanti kamu harus ditemani Alya sama Fira, dan kalau perlu nanti aku panggilin Lala juga ikut."
Aya menganga dan membulatkan matanya. Benar-benar tukang pemaksa. Aya yang bikin syarat tapi ketentuannya dia yang tentukan.
"Gak bisa gitu dong mas, Aya keberatan!"
"Ya udah, kamu boleh pergi sebulan, silahkan pilih tempat yang kamu suka, semua biaya aku yang tanggung, tapi..." Arga menjeda kalimatnya.
"Tapi apa?"
Arga merangkak ke dekat Aya, "tapi... berikan hak mas sekarang juga!"
Bughhh.. sebuah bantal guling mendarat sempurna di muka Arga.
"Makan tuh guling... " ucap Aya kesal. "Mending liburan seminggu bareng orang sekampung daripada itu." Aya merinding sendiri membayangkan dirinya dan Arga, ah..sudahlah..
"Istri yang baik, gitu dong!" Ucap Arga sembari mengacak-ajak rambut Aya.
Aya menarik guling dari pelukan Arga, lalu meletakkannya tepat di tengah-tengah kasur, ia kemudian merangkak ke sisi tembok lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Arga. Akhirnya Arga pun membaringkan tubuhnya telentang.
Sebenarnya Arga masih ingin mengajak Aya bercerita, tapi ia menahan diri. Sudah syukur dia diijinkan tidur di kasur, dia tidak ingin merusak mood Aya. Jangan sampai Aya ngotot minta pintu didobrak, gagal deh tidur pertama bareng istri, eh, maksudnya yang kedua.
Padahal, masih ada kunci cadangan di dalam laci meja kerjanya. Tapi ternyata drama lempar kunci keluar jendela sukses membuatnya lebih dekat lagi dengan Aya.
×××××
__ADS_1