
"Kamu menghabiskan banyak waktu untuk menakut-nakuti dirimu sendiri. Kamu lebih menderita karena imajinasimu daripada karena kenyataan."
- Gwendoline Smith -
*****
Aya berjalan cepat meninggalkan Arga, ia berbelok ke arah lain, bukan ke arah ruangannya. Hatinya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum melihat kejadian tadi. Ia tidak ingin melihat wajah Arga saat ini. Hatinya begitu marah, tidak bisa menerima bahwa laki-laki yang telah mengambil seluruh hidupnya itu dengan mudahnya bisa dipeluk-peluk perempuan lain.
Atau selama ini semua orang telah menipunya?
Kata mereka Arga adalah lelaki terbaik untuknya, lelaki yang selalu menjaga dirinya, kehormatan dan juga kesuciannya. Lalu yang dilihatnya tadi apa?
Aya berbelok ke gudang obat, ia cukup mengenal petugas di sana. Berusaha menahan gemuruh di hatinya, Aya memberikan senyum saat di sana ada Kinan menyapanya.
"Hei..tumben ke sini, dok? Kirain udah lupa jalan ke sini." Kinan tersenyum renyah menyambut Aya yang menghampirinya.
"Gak kemana-mana kok, hanya saja kemarin-kemarin ada urusan keluarga jadi aku ambil cuti panjang." Kilah Aya.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam tempat penyimpanan obat.
"Eh, aku liat-liat dulu yah. Kamu lanjutin kerjanya aja!" Aya berusaha ingin mengambil tempat dan waktu untuk dirinya sendiri saat ini.
"Oke, bu dokter, Kinan tinggal yah." Kinan langsung beranjak pergi karena memang ia sedang memiliki beberapa hal yang harus ia kerjakan.
Aya menuju sebuah sudut di ruang tersebut, di sana agak lapang dan jarang di datangi orang karena posisinya yang sedikit tersembunyi. Tempat ini adalah salah satu favorit Aya di Rumah Sakit saat suasana hatinya sedang tidak baik. Sebenarnya dia lebih suka berada di taman belakang Rumah Sakit saat ini, hanya saja bisa jadi Arga akan dengan mudah menemukannya di sana.
Patah hati?
Sakit hati?
Cemburu?
Entahlah, semua perasaan sakit bercampur menjadi satu. Hatinya tercabik, ia terluka oleh perasaan yang ia sendiri tidak sadari keberadaannya. Tubuhnya terkulai lemah diselimuti nelangsa yang berapi-api.
Hatinya menangis tanpa air mata, ia berteriak tanpa suara. Memendam perasaan sakit yang belum pernah ia rasakan sesakit ini.
Baru saja ia mempercayakan hidupnya kepada seorang lelaki yang disebutnya suami, baru saja ia mencoba membuka hatinya untuk diisi oleh satu nama, baru saja ia merasakan kebahagiaan yang hampir sempurna, namun entah mengapa rasanya kini berubah jadi pilu yang dilahap sepi.
__ADS_1
Cinta? Apakah ia telah jatuh cinta pada Arga?
Jika ia, mengapa rasanya justru bisa sesakit ini???
Aya menelungkupkan wajahnya di atas kedua lututnya. Kedua tangannya ia lingkarkan saling mengait pada tengkuknya. Lama ia menangis di dalam diam.
Aya mengangkat wajahnya, menyusut air matanya dengan ujung jilbabnya. Ia berusaha menguatkan hatinya, menjadikannya tegar melebihi batu karang di lautan.
Baiklah, saatnya melupakan dan tidak memikirkan Arga lagi.
Namun semua itu hanya suara hati yang tidak sejalan dengan fikirannya.
Semakin keras ia mencoba tidak memikirkan Arga, justru semakin sulit baginya berhenti memikirkannya.
*****
Arga mengelilingi setiap sudut Rumah Sakit, namun ia sama sekali tidak bisa menemukan jejaknya. Ia juga sudah meminta bantuan Alya mencarinya, namun Alya justru memintanya pulang setelah mendengar penjelasan Arga.
"Mas pulang aja dulu, berikan waktu buat Aya!" Usir Alya merasa kesal mengetahui kebodohan kakak sepupunya itu.
"Gak bisa Al, Aya hanya salah faham." Arga sangat frustasi memikirkan keadaan Aya saat ini.
"Bukan gitu, Al! Mas hanya terkejut, gak nyangka kalau Imel bakal seagresif itu. Mas terlalu sibuk dengan keterkejutan mas sampe lupa kalo ada Aya di sana." Arga meremas kepalanya kemudian menjambak rambutnya.
"Pokoknya kamu harus bantu mas temukan dia!"
"Iya, tapi mas pulang aja dulu. Dia tidak akan muncul selama mas masih di sini." Alya tau benar karakter Aya. Saat ia menghadapi masalah, maka kesunyian adalah obatnya. Karena itu ia meminta Arga pulang.
"Baik, mas pulang. Tapi kalo kamu ketemu dia, tolong kabari mas. Mas hanya ingin memastikan kalo dia baik-baik saja."
"Mas tenang aja, Aya perempuan yang kuat! Dia hanya butuh waktu menyelami perasaannya. Harusnya mas sekarang bahagia, melihat responnya seperti ini, itu artinya dia cemburu. Dan cemburu itu adalah tanda-?" Ucap Alya menunggu Arga melanjutkan kalimatnya.
"Cinta." Lanjut Arga dengan suara sedikit lemah.
Seketika Arga bangkit dengan wajah berseri bahagia. Ingin rasanya ia berteriak saking bahagianya.
"Thanks adek manis, titip Aya yah. Mas pulang sekarang!" Tanpa menunggu tanggapan Alya, Arga langsung berlalu dari sana. Saat ini Arga sedang memikirkan sesuatu untuk membuat Aya memaafkannya.
__ADS_1
Arga menuju tempat parkir dimana ia mermarkirkan mobilnya saat mengantar Aya tadi, ia bergegas pulang, bukan ke rumah orang tuanya, tetapi ke apartemen Aya.
Arga yakin Aya tidak akan pulang ke rumah dalam kondisi suasana hati terluka seperti saat ini. Aya pasti pulang ke apartemennya, mau kemana lagi.
Sesampainya di apartemen, di sana sudah ada Bara dan Fira yang menyambutnya. Arga meminta mereka berdua datang menemuinya di apartemen Aya. Selain karena Fira tau password unit Aya, ia juga ingin meminta bantuan mereka berdua menyiapkan kejutan untuk Aya.
Saat sudah memasuki unit Aya, Arga mengajak mereka duduk di sofa untuk mendiskusikan beberapa hal.
"Fir, menurut kamu kejutan apa yang cocok buat perempuan yang lagi ngambek karena cemburu?" Tanya Arga tanpa malu menceritakan masalahnya kepada mereka berdua.
Fira sedikit tercengang, "wow... Aya cemburu.. udah jatuh cinta aja ni si bu boss." Fira senyum-senyum sendiri membayangkan Aya yang bucin sama pak Arga.
"Woi, ditanya tuh, kok malah senyum-senyum sendiri?" Bara mencibir kelakuan Fira.
"Oh.. ma..maaf pak! Itu.. Saya juga gak tau pak, soalnya saya belum pernah cemburu." Ucap Fira dengan wajah polosnya.
Arga dan Bara memukul jidatnya sendiri, sepertinya Arga salah mengambil sumber referensi.
"Misal nih, kamu dan Bara udah nikah, trus ada cewek tiba-tiba datang peluk-peluk Bara, apa yang bakal kamu lakukan?" Tanya Arga memberi sebuah analogi yang ia fikir sampai di otak polos Fira.
"Wah.. gak ada ampun pak, saya bakal patah-patahkan tulangnya jadi 1.000 keping kalau berani pelukan sama cewek lain. Setelah itu saya lempar ke kandang macan." Pernyataan Fira sontak membuat Bara bergedik ngeri. Ia melonggarkan ikatan dasinya, merasa sedikit tercekat membuatnya kesulitan menelan air liurnya.
Tak berbeda dengan Arga, ia pun mendelik ngeri membayangkan Aya akan semarah itu padanya.
"Kalau Bara mau meminta maaf sama kamu, kira-kira apa yang harus Bara lakukan biar kamu gak marah lagi?" Tanya Arga lagi melanjutkan analoginya.
Fira berfikir sejenak, "kalau saya sih cukup dibelikan tas mahal limited edition keluaran terbaru gitu sih, pak." Sebuah bantal sofa melayang ke pangkuan Fira dari tangan Bara.
"Itu kamu, Nona Aya mana mau yang seperti itu?" Sela Bara kesal pada Fira.
"Kan pak Arga nanyanya sama saya pak. Lagian ngapain bapak yang nyolot? Pak Arga kan hanya berandai-andai."
"Iya, saya memang lagi berandai-andai. Tapi Aya marah sama saya itu bukan berandai-andai. Jadi harusnya kalian berdua bantu saya karena kalian berdua adalah penguntitnya sejak dulu." Sindir Arga menatap tajam ke arah Fira dan Bara secara bergantian.
"Kalau sampai Aya tidak terkesan dan saya gagal mendapatkan maafnya, gaji kalian berdua akan saya pangkas 50%!"
"Jangan dong pak, Fira bantu, pokoknya bapak tenang aja." Fira berusaha menenangkan bosnya itu yang sepertinya sudah mau gila karena istrinya sedang cemburu padanya.
__ADS_1
Bara hanya geleng-geleng kepala. Apa memang seribet ini urusan cinta dan mencintai itu???
×××××