Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Maaf


__ADS_3

"Ayah..."


Aya terbangun dengan memanggil ayahnya. Nafasnya tersengal, keringat bercucuran membasahi wajahnya. Entah apa yang membuatnya berteriak memanggil ayahnya.


Tanpa sadar sebuah tangan digenggamnya sedari tadi. Ia melihat ke sekelilingnya, tentu saja ini salah satu ruangan di Rumah Sakit. Pandangannya berhenti saat bertemu tatap dengan Arga, ada Arga di sampingya.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar." Ucap Arga lega.


"Mas... Ayah?" Bibir Aya kelu, rasa takut menyelimuti hatinya. Ia berharap masih memiliki waktu untuk bertemu ayahnya.


"Apa kamu ingin menemui beliau?"


Air mata Aya meluruh membasahi pipinya, Aya mengangguk. "Aku mau ketemu Ayah, mas. Bawa aku menemuinya." Pintanya kemudian.


Arga berdiri dari tempat duduknya lalu tanpa permisi menggendong Aya dalam pangkuannya. Aya berusaha menolak namun Arga tidak peduli dengan gerakan penolakan Aya.


Arga tau kondisi fisik dan fikiran Aya saat ini sedang tidak stabil, dia hanya ingin memastikan istrinya itu akan selalu baik-baik saja bersamanya.


Tidak jauh dari ruangan tempat Aya berbaring saat pingsan, ia kini dibawa Arga memasuki ruang ICU. Arga menurunkan Aya dari gendongannya tepat di sisi ayahnya.


Aya diam mematung, hanya air mata dan suara tangis tertahan di kerongkongannya. Rasanya begitu sunyi, hanya suara alat monitor hemodinamik dan saturasi yang terus bersahutan.


Arga menyentuh pundak Aya dari belakang. Berusaha memberinya semangat dan kekuatan.


Aya mengusap air matanya, "Aa.. Ayah.." ucapnya lirih membuka suara.


"Ini Aya, Ayah." Aya mengambil satu tangan ayahnya, menggenggamnya lalu mengecup punggung tangannya. Ia mendekat ke wajah ayahnya.

__ADS_1


"Ayah, bangun." Bisik Aya ke telinga ayahnya.


"Ayo bangun ayah. Ayah mau Aya memaafkan ayah bukan? Kalau begitu ayah harus bangun dulu. Aya tidak akan pernah memaafkan ayah kalau ayah tidak mau bangun."


Seketika Aya merasa tangan ayahnya yang di dalam genggamannya sedikit bergerak.


"Ayaaahhh.. bangun. Ini Aya."


"Ayaaa.." ucap ayahnya lemah, suaranya sangat pelan hampir tak terdengar. Air matanya mengalir meskipun matanya masih tertutup rapat.


"Ayaaa" Panggil ayahnya lagi.


"Iya ayah, ini Aya sekarang ada di sini. Bangun ayah!!!" Aya berusaha mengembalikan kesadaran ayahnya.


Mata ayahnya kini perlahan mulai terbuka, Aya menghambur memeluk ayahnya, masih dengan sesegukan tangisnya yang sedari tadi tak bisa ia bendung.


"Ayah..."


"Aya juga sayang ayah, Aya sudah memaafkan ayah. Sekarang ayah harus sembuh."


Seorang dokter dan perawat datang disusul masuk oleh Bara setelah sebelumnya dipanggil Arga saat melihat ayah Aya sadar. Dokter  memeriksa ayahnya dengan seksama. Dokter itu memandang Aya lalu menggeleng dan menepuk bahu Aya.


"Ikhlaskan ayahmu, nak. Bantu beliau melalui sakratul mautnya dengan tenang!" Ucap dokter itu kepada Aya.


Tangis Aya semakin pecah.. ia mengusap air matanya lalu membisikkan dua kalimat syahadat di telinga ayahnya. Aya terus membisikkan kalimat tauhid hingga bunyi monitor terakhir menyadarkannya.


"Innalillaahi wa inna ilaihi raajiiun." Ucap mereka serentak.

__ADS_1


"Ayah.." Ucapnya tanpa suara, hanya gerak bibir yang kelu. Hati Aya seketika terasa begitu perih. Ternyata rasa sakit kehilangan ayahnya sama saja dengan rasa sakitnya saat kehilangan ibunya dulu. Bahkan sekarang ini malah terasa lebih sakit.


"Ayah..jangan pergi dulu. Aku mohon!" Suaranya lirih hampir tak terdengar. Ia meletakkan kepalanya di atas dada ayahnya.


Arga yang tidak tahan melihatnya menarik tubuh Aya ke dalam pelukannya yang sedari tadi diam membeku melihat kepergian ayahnya untuk selamanya. Tangis Aya akhirnya pecah. Arga terus menenangkan Aya tak peduli kemejanya kini sudah basah karena air mata dan ingus Aya.


Sementara Bara memilih keluar dari ruangan itu. Ia merasa butuh waktu untuk menenangkan dirinya saat ini. Rasa bersalahnya begitu besar. Andai waktu bisa diputar balik, Bara hanya mau meminta waktu dimundurkan 2 detik saja saat di lampu merah sore tadi. Karena 2 Detik itu sudah sangat cukup membuat mobil yang dikendarainya tidak bertemu dengan truck yang menabraknya.


*****


Ayah dan ibu Arga akhirnya tiba di Rumah Sakit, mereka terlambat datang karena mereka sedang berada di luar kota. Mendengar kabar kecelakaan ayah Aya, mereka langsung bergegas menuju ke Bandara dan setelah mendarat di Jakarta, mereka langsung ke Rumah Sakit.


Aya berlari masuk ke pelukan Andini. Tangisnya kembali pecah.


"Tante.. ayah sudah pergi. Sekarang Aya tidak punya siapa-siapa lagi."


"Kamu punya tante sayang. Kamu punya kami semua di sini." Ucap tante Andini tulus dan penuh kasih sayang. Om Hutama ikut memeluk mereka berdua.


"kamu tidak sendiri nak, kami adalah orang tua kamu juga." imbuh om Hutama.


"Aya..." Alya datang mengambil Aya dari pelukan tantenya ke dalam pelukannya.


Tak ada kata-kata, biarkan pelukan yang mewakili semua kata yang mungkin bisa diucapkan. Tidak semua perasaan bisa digambarkan dengan kata-kata. Namun terkadang sebuah pelukan sudah mewakili semua perasaan dan kata-kata yang pernah ada di dunia ini.


Bahwa semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati.


Bahwa tidak semua yang bersalah pasti mempunyai kesempatan untuk meminta maaf, maka selagi masih ada kesempatan. Maka minta maaflah dan jadilah seorang yang pemaaf. Jangan terlalu lama menyimpan luka dan benci di hatimu, karena itu hanya akan menghambatmu meraih kebahagiaanmu.

__ADS_1


×××××


__ADS_2