
Hari pertama di kota Seoul, itenirary mereka adalah belanja. Iya, belanja dulu, jalan-jalannya belakangan. Aneh? Bagi Aya dan Alya justru itu efektif dan efisien. Selagi tenaga masih fit, otak juga masih fresh, menyelesaikan misi belanja adalah hal utama. Biar tidak ada barang yang kelupaan atau kena skip karena udah mager akibat kelelahan. Selebihnya, nanti tinggal liat pas udah jalan-jalan. Dapat yang menarik, ambil. Kalau tidak ada yang menarik, tinggalkan.
Aya sendiri tidak akan banyak belanja, paling beli oleh-oleh untuk beberapa pegawai di Rumah Sakit sama buat mama Mita dan tante Andini.
Berbeda dengan Alya, Alif sudah meronta-ronta karena kedua tangannya dijadikan trolly barang oleh istri tercintanya. Lala yang jadi tour guide hanya bisa elus-elus dada melihat kelakuan kakak sepupu dan iparnya itu.
"Gimana, masih ada yang mau dibeli?" Tanya Lala saat mereka sedang makan di salah satu restoran halal di mall yang mereka kunjungi.
"Aku sih udah, La." jawab Aya. Tujuan utama Aya datang ke Korea adalah cuci mata, bukan cuci uang. Memangnya Aya pejabat korup sukanya cuci uang ke luar negeri???
"Masih ada sih, tapi bisa dicari pas jalan-jalan nanti. Ayang Alif gimana? Tanya Alya pada Alif yang dijawab hanya dengan gelengan oleh Alif.
"Ayang.. ha ha ha.. Ayang Alif. Biasanya juga woi gak pake nama." ledek Aya mendengar panggilan sayang Alya ke Alif.
"Sirik aja lo. Makanya nikah, jeng..nikah!" Timpal Alya sebal.
"Paan sih? Apa-apa ujung-ujungnya nyuruh nikah. Gak ada kerjaan lain lagi apa?" giliran Aya yang ngegas sebal sama Alya.
"Gue mau nyuruh lo apa lagi coba? Kan tinggal nikah doang biar lo juga bisa rasain nikmatnya honeymoon kek gue." Alya mengedipkan matanya kembali menggoda Aya.
__ADS_1
"Serah deh.." jawab Aya malas.
"Kak Alif sama kak Alya honeymoon-nya jangan libatin kakak ipar lagi yah. Kasihan!" Lala ikut komentar menunjukkan ekspresi wajah memelas.
"Emang kenapa, La" tanya Alif.
"Lala gak mau kak Arga mendadak jadi duda gara-gara kakak ipar bunuh diri karena tidak tahan sama godaan kalian" Lala pura-pura memasang wajah sedihnya.
"Ha ha ha" tawa mereka pecah. Aya pun ikut tertawa, bukan karena gurauan Lala, tapi karena dia membayangkan si Arga jadi duren, duda keren.
"Duh.. lagi-lagi Arga. Kayaknya kemana-mana nama orang itu ikut terus seperti bayangan" keluh Aya di dalam hati.
"tuh, dengerin tuh suara hati adek ipar lo, Ya." ujar Alif dengan senyum kemenangan.
Aya langsung berdiri meninggalkan mereka. Lala bergegas mengejar kakak iparnya itu. Ia takut Aya marah.
"kakak Ipar, tunggu." Lala ngos-ngosan karena harus berlari kecil untuk mensejajarkan langkahnya dengan Aya. "kakak ipar marah?" tanya Lala kemudian.
Aya menggeleng, "enggak kok La, kakak udah biasa begini sama mereka berdua kok. Klo bercandanya udah kelewatan, kakak pasti tinggal dan lihat saja nanti, mereka berdua bakal cuek bebek seperti tidak pernah terjadi apa-apa." jawab Aya panjang lebar. Dia mengerti kekhawatiran Lala padahal dia biasa saja.
__ADS_1
Setelah belanja dan makan, mereka putuskan kembali ke Hotel untuk menyimpan barang-barang belanjaan mereka. Sekalian istirahat sebentar meluruskan badan di atas kasur. Ranjang berukuran king size itu dikuasai oleh Alya, Aya dan Lala. Sementara Alif harus rela hanya kebagian sofa untuk istirahat.
"Ini yang dikatakan nikmatnya honeymoon? Lain kali kalau mau honeymoon lagi, haram bawa teman atau keluarga." keluh Alif di dalam hati.
Setelah sholat maghrib, kembali mereka meninggalkan hotel. Kali ini mereka mau berwisata kuliner. Lala membawa mereka ke tempat yang banyak menyediakan makanan seafood. Sebagai negara yang minoritas Islam, mendapatkan makanan halal cukup susah. Makanya harus benar-benar hati-hati memilih tempat makan.
Sambil menunggu pesanan makanan mereka, mereka berempat duduk-duduk santai sambil bercerita. Sesekali mereka melemparkan candaan yang kadang-kadang sampai mengocok perut mereka.
"Lala udah punya pacar belum? Kok gak diajak bareng kita-kita." Tanya Alif ke Lala.
Lala hanya tersenyum malu-malu. "Gak ada kak, mana boleh sama kak Arga. Bisa-bisa langsung dinikahin klo kedapetan pacaran sama kak Arga."
"Arga kaku banget yah, yang?" Komentarnya melirik Alya.
"Prinsip hidup tiap orang kan beda-beda, yang" timpal Alya membela Arga. "Mas Arga pernah ngomong ke aku, klo dia itu gak mau menyia-nyiakan waktunya ngurusin anak gadis orang lain yang bukan siapa-siapanya dia. Perempuan itu ribet katanya. Banyak drama, ribet ini itu. Belum lagi dosanya. Mas Arga pengennya langsung nikah. Trus katanya lagi, dia hanya ingin menyimpan hatinya untuk yang terbaik. Klo pacaran kan gak bebas ngapa-ngapain. Sampai dimana sih yang bisa dilakuin orang pacaran? Pegangan tangan aja udah dosa. Klo udah nikah kan udah gak ada batas-batasnya lagi. Halal, dapat pahala pula." Jelas Alya.
Aya cukup terkesima mendengar penjelasan Alya. Salut dengan pemikiran Arga. Meskipun Aya juga seorang perempuan, tapi dia juga merasa klo kadang-kadang perempuan itu memang ribet. Ratu drama demi mencari perhatian laki-laki. Jujur, Aya kadang mual melihat tingkah laku dari makhluk sejenisnya itu. Banyak perempuan yang malunya sudah hilang, merendahkan harga dirinya hanya demi mendapatkan perhatian laki-laki yang padahal bukan suaminya.
"Trus, selama kalian pacaran, kalian ngapain aja?" Tanya Aya menatap Alya dan Alif.
__ADS_1
Hening...
×××××