Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Masih Butuh Waktu


__ADS_3

Kebahagiaan yang dirasakan Arga saat ini sungguh luar biasa, rasanya tidak ada padanan kata yang mampu menggambarkan suasana hatinya. Kebahagiaan ini membuatnya tidak bisa menghilangkan senyum di bibirnya. Rasa-rasanya ia sudah gila karena terlalu bahagia.


Aya ingin belajar menerimanya! Cukup, baginya itu sudah sangat cukup untuk saat ini. Ia tidak ingin serakah ingin memiliki cinta Aya seutuhnya secepat mungkin. Tidak masalah jika harus berjuang lebih keras lagi, karena suatu saat semua pengalaman tersebut akan ia jadikan pengingat, agar ketika hatinya mulai dihinggapi rasa jenuh, ia akan mengambil kepingan-kepingan kenangan ini untuk ia jadikan cambuk baginya untuk selalu memberi yang terbaik untuk keluarganya kelak.


Arga melajukan motor sport-nya ke kantor Blue Marine, setibanya di sana ia disambut dengan wajah heran para karyawannya.


"Pak Arga datang memberi senyum kepada setiap yang ditemuinya. Pemandangan langka bukan?"


"Iya, sepertinya ada kabar baik."


"Dapat mega project mungkin?"


"Atau lagi jatuh cinta???"


Para karyawan perempuan yang sibuk bergossip seketika membolakkan matanya, sepertinya alasan yang paling masuk akal adalah pak Arga sedang jatuh cinta, sudah berkali-kali mendapatkan proyek besar, namun mimik wajah dan gesture tubuhnya tidak pernah menunjukkan semangat dan kebahagiaan seperti sekarang ini.


"Who is the lucky girl, guys???"


Mereka membubarkan diri setelah satu persatu dari mereka menyadari perubahan sikap pak Arga hari ini. Para penggemar rahasia di Blue Marine sepertinya mulai saat ini akan tiarap.


*****


Tepat pukul 5 sore, Aya dan Alya bertolak ke mall yang dekat dari Rumah Sakit, Alya mengajak Aya untuk perawatan ke salon. Katanya untuk persiapan 'buka segel'. Tidak mudah bagi Alya meyakinkan Aya untuk ikut dengannya ke salon. Aya merasa tidak memerlukan perawatan ini itu hanya untuk menyenangkan Arga. Kalau memang Arga cinta, harusnya dia bisa terima Aya apa adanya. Tapi menurut Alya gak bisa gitu juga. Perempuan harus bisa merawat dirinya sendiri, bukan hanya untuk menyenangkan suami, tapi lebih pada bentuk penghargaan kepada diri sendiri. Self esteem kalau kata Alya.


Dan seperti biasanya, Aya akan selalu luluh oleh retorika Alya. Sebenarnya Aya tau ini hanya modus Alya saja, tapi tidak apa-apa juga. Sesekali memanjakan diri sendiri di salon rasanya tidak masalah. Namanya juga sekali-kali, kalau berkali-kali juga tidak apa-apa, lumayan ada alasan untuk membuka segel kartu-kartu ajaibnya.


Sesampainya di salon, Aya benar-benar merasa ditodong. Rupanya Alya memesan paket perawatan lengkap untuk Aya, termasuk perawatan ratus. Aya fikir paling perawatan rambut, wajah dan pedi medi cure, ternyata plus ratus and spa. Ingin rasanya ia kabur meninggalkan Alya sendiri di sana. Tau begini Aya akan lebih memilih tawaran Arga buat makan malam berdua tadi daripada mengikuti kemauan Alya.


*****


Arga sudah gelisah menunggu Aya pulang. Sudah jam 8 malam namun ponselnya disita Alya, otomatis Arga tidak bisa berkomunikasi dengan Aya. Kalau biasanya ia selalu pulang ke rumah mendapati Aya sudah tertidur, sekarang ia pulang cepat tetapi tidak ada Aya di sana.

__ADS_1


Demi membunuh waktu, Arga memilih menghabiskan waktunya di ruang kerja ayahnya. Sudah 1 jam ia membaca dokumen di sana namun tetap saja belum ada tanda-tanda kepulangan Aya. Karena merasa mengantuk, tidak sengaja Arga tertidur di sana.


Aya tiba di rumah setelah jam 10 malam. Suasana rumah sangat sepi, hanya ada mbo Ani yang menunggunya kalau-kalau Aya belum makan malam.


Aya masuk ke kamarnya namun tidak menemukan Arga di sana, ia fikir mungkin Arga belum pulang. Salahnya tadi tidak bertanya ke mbo Ani. Tapi sekarang ia merasa cukup lelah setelah seharian di luar.


Aya menyalin pakaiannya memakai pakaian tidur panjang miliknya. Sebenarnya Alya tadi memberinya lingerie, tetapi mana mau Aya memakainya di depan Arga. Itu sama saja mengundang Arga untuk memangsanya bulat-bulat.


Belum lama Aya membaringkan tubuhnya, terdengar suara pintu terbuka. Aya yakin itu pasti Arga. Namun ia memilih pura-pura tidur.


Aya merasakan pergerakan Arga merangkak naik ke tempat tidur mengambil posisi di depan Aya. Arga ikut berbaring lalu mendekatkan tubuhnya memeluk Aya. Sekitar 1 menit ia hanya memandangi wajah Aya tanpa henti.


Arga memajukan wajahnya, mengambil satu kecupan singkat dari bibir Aya. Melihat Aya tidak terganggu, Arga kembali menempelkan bibirnya di ubun-ubun Aya, lalu turun di kening Aya, turun ke mata, turun ke hidung dan terakhir menempel lama di bibir Aya. Arga mencoba memperdalam ciumannya, namun seketika mata Aya membola menatapnya tajam.


Arga terkesiap, ia tersenyum kecut menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf, hehehe!"


"Kok kamu tau?" Arga balas bertanya.


"Nah, ngaku sendiri!"


"Tapi kamu juga menikmatinya bukan? Mas tau kok kalo kamu hanya pura-pura tidur selama ini." Imbuhnya lagi.


Aya jadi salah tingkah, malu ketahuan Arga. Selama ini Aya memang tau Arga selalu mengambil ciuman di bibirnya tiap dia hendak tidur, tapi Aya biarkan saja karena hanya sebatas kecupan singkat di bibir, kalaupun lebih paling hanya mengendus-endus tengkuk Aya. Masih bisa ditolerir mengingat Arga memang punya hak melakukan apa saja padanya. Anggap saja itu adalah kompensasi untuk Arga.


Aya membalik tubuhnya memunggungi Arga. "Mana ada? Memangnya mas tau bedakan kapan Aya benar-benar tidur dan kapan Aya hanya pura-pura?"


"Tau dong, aku ini suami kamu, bentar lagi bakal tau kamu dari luar sampe dalam-dalamnya."


"Ngarang!"

__ADS_1


"Aku serius, Ya. Kamu itu ngorok kalo tidur, makanya aku tau banget bedanya."


"Aaa... mas Arga!!!" Aya frustasi mengetahui satu kenyataan yang tidak pernah diduganya.


"Aya gak mau tidur lagi sama mas Arga, mas Arga jahat udah ngerjain aku selama ini." Aya bangun hendak pergi meninggalkan Arga. Namun gerakan tangan Arga menarik tubuh Aya  lebih gesit darinya. Aya terjatuh di atas tubuh Arga.


Lagi-lagi detak jantung mereka bertalu-talu dan seirama. Arga membalik posisi mereka, Aya sekarang terkurung di bawah tubuh Arga.


Tubuh Aya tegang mengeluarkan keringat dingin yang mengucur deras di dahinya padahal suhu AC di kamar mereka tadi Aya settle di suhu 20°C.


Arga menatapnya lekat dari jarak yang sangat dekat.


"Sayang!" Panggil Arga dengan suara parau.


"Iya mas." Jawab Aya kaku.


"Apa mas sudah boleh minta haknya mas sekarang?"


Aya terdiam, lama ia berfikir, bingung harus menjawab apa. Cepat atau lambat dia pasti akan melakukannya dengan Arga, suaminya. Tapi jika boleh meminta waktu, Aya masih belum siap saat ini.


Arga tersenyum, lalu ia mengecup kening Aya penuh hikmad. Arga menjatuhkan tubuhnya di sisi Aya kemudian menarik Aya ke dalam pelukannya.


"Tidurlah, ini sudah larut malam. Besok kamu kerja." Ucap Arga dengan tak henti-hentinya menciumi ubun-ubun Aya.


"Mas, ak-"


"Istirahatlah, mas tau kamu masih butuh waktu. Kamu tenang aja, stock kesabaran mas masih tebal kok." Arga buru-buru memotong kalimat Aya, ia tau Aya belum sepenuhnya siap melaksanakan kewajibannya.


Sebenarnya Aya sudah pasrah, meskipun masih ada sedikit keraguan dan ketakutan di hatinya, tapi seperti yang dikatakannya tadi siang bahwa ia akan belajar menerima Arga, mungkin dengan melaksanakan kewajibannya bisa menjadi awal baginya menerima Arga sepenuhnya.


×××××

__ADS_1


__ADS_2