
Arga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia melirik Aya yang nampak serius memandangi suasana jalanan lewat kaca jendela di sisi kirinya. Sejak meninggalkan rumah, mereka hanya diam. Entah mengapa suasana terasa begitu canggung.
Aya meminta diturunkan di depan UGD, begitu mobil sudah berhenti, Aya ingin membuka pintu mobil, namun langsung dikunci Arga.
Aya membalik tubuhnya menatap Arga dengan tatapan penuh tanya.
Arga malah memberikan tangan kanannya ke Aya.
"Salim tangan suami dulu dong." Ucap Arga sambil mengerlingkan mata kanannya.
Aya meraih tangan Arga, ia tempelkan di dahinya lalu cepat-cepat dilepaskan. Namun saat kembali ingin membuka pintu, pintunya masih dikunci Arga.
"Apa lagi sih mas?" Aya mulai kesal karena saat ini ia sedang buru-buru hendak menghadap dulu ke pimpinan Rumah Sakit sebelum memulai pekerjaannya.
Arga menujuk pipi kirinya sambil memonyongkan bibirnya. "Cium dulu!"
Tak ingin berdebat Aya langsung mendekatkan bibirnya ke pipi Arga. Namun tangan Arga begitu cepat menahan tengkuk Aya.
"Mulai sekarang, kita akan melakukan ini setiap pergi dan pulang kerja, setiap hari!" Bisik Arga. Ia kemudian melonggarkan tangannya yang menahan tengkuk Aya berubah menjadi elusan cepat seperti mengacak-acak rambut Aya yang ditutupi jilbab merah marunnya.
"Ih..mas, jangan digituin jilbabnya. Rusak ini..." Aya memperbaiki posisi jilbabnya yang ia rasa sudah dirusak Arga.
"Gak kok sayang, kamu udah cantik banget dengan jilbab ini." Arga mengembangkan senyumnya karena Aya memang nampak sangat manis saat ini.
"Udah ah, Aya kerja dulu. Hati-hati di jalan. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, my wife." Balas Arga yang sepertinya sudah tidak di dengar Aya karena ia langsung menutup pintu saat keluar dari mobil.
Arga senyum-senyum sendiri sepanjang perjalanannya ke kantor. Ia tidak menyangka akan sebahagia ini hanya dengan mengantar istrinya ke kantor.
Sesampainya di kantor, Arga masih belum bisa menghilangkan rona bahagianya dari wajah tampannya. Jika selama ini Arga hanya menjawab sapaan karyawannya dengan anggukan kecil, sekarang ia tambahkan dengan senyum manisnya yang sangat menawan.
Viona klepek-klepek. Entah mimpi apa dia semalam hingga pagi ini dihadiahi senyum manis pimpinan tertinggi perusahaan ini. Padahal segala cara sudah Viona lakukan demi menarik perhatian pak Arga, namun usahanya mental tak membuahkan hasil.
"Senyumnyaaaa....bikin hati adek meleleh." Ucap Viona penuh kekaguman sampai ia lupa kalau dari tadi ia masih mangap padahal pak Arga sendiri sudah menghilang dari balik pintu lift.
__ADS_1
Sebuah lembaran kertas melayang menampar mulutnya. "Mingkem woiiii, kemasukan kapal selam baru tau rasa." Vita rekannya sesama resepsionis mengingatkan.
"Ah lo, Vit! Merusak kesenangan orang aja."
"Ingat, Vie. Itu laki orang, tuh si pak Bara masih available!"
"Haaa... si muka kaku itu? Amit-amit cabang bayi. Gantengan pak Arga kemana-mana dibanding pak Bara yang gak ada manis-manisnya itu!" Viona merasa kesal ditegur Vita.
"Iya, tapi kan pak Arga udah punya istri, anak pemilik perusahaan ini lagi. Dengar-dengar orangnya cantik, dokter pula. Mau dilihat dari sudut manapun, jelaslah lo kalah dalam segalanya."
Viona tak bisa lagi membantah perkataan Vita, siapalah dirinya yang hanya seorang resepsionis dibanding anak pemilik perusahaan ini. Baru saja ia merasakan hatinya berbunga-bunga, namun sekita bunganya dibuat layu oleh Vita.
*****
Aya berjalan ke ruang pimpinan Rumah Sakit, ia ingin membicarakan beberapa hal dengan beliau. Aya termasuk dokter berprestasi dan berdedikasi tinggi, sehingga hampir semua rekan sesama dokter dan seluruh staf di Rumah Sakit mengenalinya, termasuk para petinggi dan pemilik Rumah Sakit.
Tok..tok..tok.. Aya mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk."
"Selamat pagi dokter."
Aya menarik sedikit kursi di hadapan dokter Febri lalu duduk di sana. "Alhamdulillah, baik dokter." Jawabnya dengan seulas senyum penghormatan kepada pria yang seumuran ayahnya itu.
"Saya ikut berduka cita atas meninggalnya ayah kamu, dan selamat untuk pernikahan kamu."
"Terima kasih dokter."
"Kamu jangan sungkan, ayahmu adalah salah satu sahabat saya dan juga beliau punya 10% di Rumah Sakit ini."
"Maksud dokter?" Aya berusaha meyakinkan diri dengan ucapan dokter Febri barusan.
Dokter Febri tersenyum. "Kamu jangan kaget, banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang ayahmu. Beliau adalah orang baik, hanya saja satu kesalahannya.." dokter Febri menjeda kalimatnya sejenak. "Seperti yang kamu tau, tapi itu sudah lewat. Saya harap kamu sudah memaafkan beliau. Jangan dijadikan beban, jalannya memang sudah harus seperti itu. Kamu harus sabar."
"Iya dokter. InsyaaAllah." Ada sedikit perasaan sesak di dadanya, ayahnya selalu ada di setiap langkahnya, memperhatikannya dan tidak pernah meninggalkannya.
__ADS_1
"Yaa Allah.. ampunilah segala dosa dan kesalahan ayahku, lapangkanlah kuburnya, ringankanlah siksaannya. Aamiin.." Aya tertunduk lesu, hatinya merapal doa-doa keselamatan untuk ayahnya. Matanya mulai berkabut, terasa ada yang mendesak untuk keluar diujung bola matanya.
Menyadari perubahan Aya, dokter Febri segera mengalihkan perhatiaj Aya.
"Jadi bagaimana pernikahan kamu, apa sudah ada kabar bahagianya makanya kamu ke sini?"
Aya mengangkat wajahnya dengan senyum kecut, pertanyaan itu lagi. Sound like familiar.
"Alhamdulillah, nanti akan kelihatan sendiri kok dokter kalau udah waktunya." Jawab Aya diplomatis.
Tak ingin berlama-lama di ruangan dokter Febri, akhirnya Aya menyampaikan maksudnya menemui beliau. Tentu saja Aya masih ingin terus bekerja, tapi Aya ingin meminta kelonggaran waktu dan meminta dokter bantu untuk menemani tugasnya. Ia tidak mungkin memenuhi keinginan Arga jika jadwalnya masih padat.
Permintaan Aya hanya seperti formalitas saja, mengingat statusnya kini sebagai pemilik 10% saham atas Rumah Sakit ini. Ditambah lagi, dokter Febri adalah sahabat baik ayahnya. Semua terasa mudah baginya. Mau bekerja atau tidak, pilihan ada di tangan Aya.
Aya kembali ke ruangannya dan di sana sudah ada Alya yang menunggunya.
"Hai calon mommy!" Aya menyapa Alya yang asik bermain ponsel hingga tidak menyadari kedatangan Aya.
"Hello too, calon mommy!" Balas Alya tidak ingin kalah.
"Yeee... bayi cacing maksud lo?" Protes Aya.
"Arga junior dong!"
"Ngarep!"
"Aamiin"
"Terserah!"
"Aamiin buat Arga junior. Aamiin juga buat Aya junior." Ucap Alya membuat Aya seperti cacing kepanasan.
"Whatever.. whatever.. whatever!" Aya merasa jengah, tidak dokter Febri sekarang malah Alya.
Lama-lama pertanyaan masalah anak ini sepertinya akan terus menggema di telinga Aya. Di rumah, ibu mertuanya sudah sering membahas anak meskipun caranya sangat halus. Entah siapa lagi yang nantinya ia temui dan akan menyanyakan pertanyaan yang sama dan berulang-ulang.
__ADS_1
Dulu, sebelum menikah, hampir semua orang yang berkenalan dengannya pasti menanyakan, "dokter sudah menikah belum?" Bukan hanya rekan sejawat dan para staf Rumah Sakit, para pasien pun tidak sedikit yang tingkat kekepoannya melebihi wartawan acara gossip terhangat di negeri ini. Sebenarnya ini sangat mengganggu, tapi mau diapa lagi, salah satu hal yang tidak bisa kita kontrol dalam hidup ini adalah fikiran orang pada kita. Terserah mereka bagaimana memandang kita. Itu adalah hak segala bangsa!!!
×××××