Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Malam Melelahkan


__ADS_3

"Mas Arga..." Panggil Aya setelah beberapa waktu larut dalam keterdiaman mereka.


"Hmmm.."


"Mas belum tidur?"


"Bagaimana mas bisa tidur setelah kamu buat tegang dari tadi?" Arga menggerutu di dalam hati.


"Hmmm..." Arga menggeleng namun matanya tetap terpejam.


Aya mengangkat sedikit tubuhnya bertumpu pada salah satu sikunya, ia memandangi wajah tampan Arga dengan seksama. Tangannya yang bebas terangkat mengelus bulu-bulu halus yang mulai memenuhi dagu dan pipi Arga.


Arga membuka matanya, mengalihkan semua perhatiannya pada wajah Aya yang ada di atasnya. Tangannya mengambil tangan Aya yang sedari tadi di wajahnya, Arga menggenggamnya lalu mengecupnya berkali-kali.


"Ada apa? Heumm?"


"Mas.. aku.. aku.. itu.." Aya nampak ragu megatakannya.


Arga mengambil posisi nyaman dengan menarik sedikit tubuhnya bersandar di kepala tempat tidur. Sementara Aya duduk tegak menghadap Arga.


"Iya, katakan saja, kamu kenapa? Apa ada yang penting mau kamu bicarakan sama mas?"


"Mas..aku itu.." Aya meremas ujung piyamanya dengan kedua tangannya.


Arga tersenyum, ia ikut duduk tegak lalu menarik kedua tangan Aya ke atas pangkuannya.


"Katakan ada apa."


"Tapi mas harus janji dulu gak akan menertawakan Aya kalo Aya ngomong nanti."


Arga memberikan kedua jempolnya tanda setuju.


"Aya..Aya sudah siap!" Ucap Aya mantap.


Arga menatap Aya tidak mengerti. "Siap apa?" Sebenarnya Arga tau maksud dan arah pernyataan Aya, namun dia hanya ingin melihat Aya mengatakannya sendiri dengan baik dan benar.


"Siap itu!"


"Itu apa?"


"Itu tu.."


"Itu apa? Ngomong dong yang jelas." Arga masih pura-pura tidak memgerti.

__ADS_1


"Ih..mas kok gak ngerti-ngerti sih? Udah Ah, Aya malas kalo begini. Aya tidur aja!" Aya membaringkan tubuhnya memunggungi Arga. Ia benar-benar kesal sekarang. Niat awalnya tadi sudah bulat mau melaksanakan kewajibannya, tapi Arga malah membuatnya jengkel.


"Hei..hei.. kok malah tidur? Tanggung jawab dong, tadi udah bangunin mas kok malah ditinggal tidur?"


"Bodo!" Aya menutup kepalanya dengan selimut.


Arga ikut berbaring memeluk Aya dari belakang.


"Sayang, tanggung jawab dong, kamu udah bikin sesuatu bangun loh, dari tadi gak mau tidur-tidur ini!"


Jantung Aya berpacu dengan keringat dingin yang kembali mengucur di pelipisnya. Aya membuka selimut yang menutupi wajahnya lalu membalik badannya menghadap Arga.


"Maaf kalau Aya sudah membuat mas menunggu terlalu lama." Arga menggeleng tanda tidak setuju dengan ucapan Aya.


"Seharusnya sudah lama mas mendapatkan haknya mas. Sekali lagi Aya minta maaf." Aya mengecup singkat bibir Arga.


Senyum Arga mengembang sempurna. "Gak ada yang perlu dimaafin, sayang. Mas ngerti kok. Kamu gak lari dari mas aja udah cukup. Asalkan mas gak perlu menunggu sampai pinguin piknik ke Arab saja sih, mas siap menunggu."


Aya menggeleng mendengar candaan Arga, ia hanya diam tidak lagi menanggapinya.


"So, ini mau lanjut  ke 'itu' atau tidur?"


Akhirnya terjadilah yang seharusnya terjadi...


Bunyi alarm ponsel Aya dan Arga tak mampu mengusik tidur mereka saking lelahnya setelah aktivitas panjang yang melelahkan. Menyenangkan buat Arga namun menyakitkan buat Aya.


Bagaimana tidak, mungkin karena ini pengalaman pertama bagi mereka berdua dan keduanya bukan penikmat novel atau film dewasa, sehingga membuat mereka kesulitan melakukannya. Barulah setelah 3 jam melakukan entah berapa kali percobaan akhirnya Arga sukses menuntaskan perjuangannya. Ini momen terlucu namun paling melegakan buat Arga. Ia tidak akan pernah melupakannya dan Ayapun juga pasti tidak akan pernah melupakan setiap detail kejadian tersebut.


Sinar matahari yang cerah menelisik masuk diantara celah-celah tirai jendela yang tidak tertutup dengan sempurna. Arga merasakan sedikit panas di atas wajahnya dan cukup menyilaukan saat ia membuka matanya. Ia mengambil ponselnya dari nakas dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


Ia memandangi wajah tenang Aya yang masih tertidur pulas. Arga mendekatkan wajahnya lalu memberikan kecupan-kecupan ringan di seluruh wajah Aya. Aya menggeliat namun kesadarannya belum kembali. Arga kembali memberikan kecupan ringan di bahu dan lengan Aya membuat Aya akhirnya terbangun.


Seketika Aya kaget dan refleks duduk dari tidurnya. Mata Arga membola melihat pemandangan indah di hadapannya.


Aya mengikuti arah pandang Arga dan alangkah malunya ia demi mendapati dirinya saat ini.


"Mas Arga.. mesum!" Aya langsung masuk ke dalam selimut dan bersembunyi di dalamnya.


"Mesum sama istri itu dapat pahala tau, lagian ngapain juga ditutupi lagi, mas udah lihat semuanya kok."


"Tapi Aya malu." Ucap Aya dari balik selimut.


"Kok sekarang malu, tadi malam aja gak ada malu-malunya malah." Arga begitu senang menggoda Aya saat ini.

__ADS_1


"Ih.. mas Arga. Pokoknya Aya malu, gak mau lihat mas."


"Bangun yuk, ayo mandi!"


"Gak mau, Aya capek, masih ngantuk, mas aja sana yang mandi."


"Kalo kamu gak mau bangun sekarang, mas ambil jatah mas lagi loh!" Arga mencoba mengancam.


"Gak mau, mas kok maksa sih?" Aya menarik semua selimut untuk menutupi tubuhnya. Wajahnya sudah merah padam, ia benar-benar malu saat ini. Ia tidak sanggup menatap wajah Arga. Berbeda dengan Arga yang nampak biasa saja seperti orang yang urat malunya sudah tidak ada.


Aya bergerak hendak turun dari tempat tidur, namun ia merasakan sakit yang amat perih dari di bagian bawahnya.


"Awwwww..hiks hiks.. sakit!" Air mata Aya seketika tumpah merasakan rasa nyeri yang begitu menyakitkan.


"Eh, sayang.. jangan nangis. Mas.. mas minta maaf!" Arga langsung menggendong Aya ke dalam pangkuannya lalu membawanya ke kamar mandi. Arga mengisi air hangat di dalam bathtup dan menyiapkan segala keperluan mandi Aya.


Arga merawat dan melayani Aya seperti bayi, awalnya Aya menolak, namun Arga tetap kekeh mengurus Aya. Aya pasrah, badannya terasa remuk semua, ia tidak menyangka akan merasakan sakit seperti ini. Padahal katanya malam pertama itu indah, tapi ini malah menyakitkan.


Aya tersenyum sendiri mengingat aktifitas mereka semalam, kalau tadi ia menggerutu di dalam hati, sekarang setelah merasakan badannya sedikit rileks di dalam bathtup, ia tidak bisa menyembunyikan air muka bahagianya. Akhirnya ia bisa melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri.


"Kenapa senyum-senyum?" Aya gelagapan karena Arga mengetahui tingkahnya padahal saat ini Arga duduk di belakangnya sambil membersihkan rambut Aya.


"Mas, jangan tanya-tanya dulu, Aya masih malu ini."


"Nanti juga gak nalu lagi kalo udah terbiasa. Makanya kita akan sering-sering melakukannya, setiap hari, bisa berkali-kali juga mungkin!"


"Gak mau, mas aja sendiri. Capek tau, yang ada sakit malah." Protes Aya memanyunkan bibirnya.


"Katanya sih gak akan sakit lagi kalau udah yang kedua dan seterusnya."


"Mas kayak orang profesional aja!"


"Kalo kamu gak percaya, ayok kita buktikan sekarang!"


×××××


Maaf yah kalau ada yang kecewa karena tidak ada adegan 'itu-itunya'.


Gak boleh yah dan gak baik kalau dibaca sama kalian yang belum punya pasangan sah menurut agama dan negara.


Pesan author sih, buat kalian yang masih gadis.. dijaga yah kehormatan dan kesuciannya hanya untuk suami kalian kelak. Malam pertama itu kalau buat perempuan mah gak ada enak2nya, yang ada cuman dapat rasa sakitnya, dapat dosanya, dapat aibnya, masa depan rusak dan jadi beban untuk memulai hubungan baru dengan laki2 yang jadi jodohnya nnti, jadi jangan coba-coba mendekati zina yah. Okkay!!!


-big hug-

__ADS_1


__ADS_2