Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Urusan Hati


__ADS_3

Arga berangkat ke kantor dengan hati yang berat. Ia sudah terbiasa melihat wajah Aya seminggu lebih ini. Tapi pagi ini ia terbangun tanpa Aya di sisinya. Memandang wajah teduh Aya sebelum tidur dan mendapati wajah itu lagi saat ia membuka mata sudah menjadi kebiasaan yang mengandung candu baginya.


Tak ada semangat, konsentrasinya buyar, yang ada di kepalanya hanya Aya.. Aya dan Aya lagi. Arga menyugar wajahnya. Ia bangkit berjalan ke sisi jendela, mamandangi kesibukan kendaraan di kota Jakarta dari atas lantai 10 kantornya.


Arga meraih ponselnya dari saku celananya, mencoba video call Aya. Setelah beberapa kali berdering akhirnya dijawab. Tapi yang muncul di layarnya malah wajah Alya.


"Aya mana?"


"Gak usah pasang wajah khawatir gitu. Aya cuman mandi, bukan lagi jalan-jalan ke pluto." Ucap Alya usil.


Arga hanya menggeleng melihat Alya yang tersenyum licik kepadanya.


"Noh, orangnya udah selesai." Alya mengarahkan layar ponsel ke Aya. "Ya, laki lo!"


Aya yang hanya menggunakan handuk kecil menutupi tubuhnya dengan rambut di gulung ke atas menampakkan bahu dan leher putih mulusnya buru-buru mengambil selimut menutupinya.


"Yaaaa... kok ditutup? ini laki lo, bukan laki gue. Kasihan laki lo mesti puasa panjang karena nungguin lo."


"Sialan lo Al," Aya melempar kain jilbab menutupi ponselnya di tangan Alya lalu buru-buru mengambil pakaian gantinya dan langsung memakainya. Alya tertawa terbahak-bahak melihat kepanikan Aya.


"Mas Arga yang sabar yah." Ucap Alya yang merasa geli membayangkan bagaimana kondisi Arga sekarang setelah melihat istrinya tadi sekilas dengan hanya dibalut handuk kecil.


Arga semakin frustasi, wajahnya merah padam, niatnya video call untuk mengurangi sedikit kerinduannya pada Aya, namun sekarang malah membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Ada sesuatu yang bangkit di dalam tubuhnya menginginkan Aya sekarang juga berada di dekatnya.


Setelah berpakaian, Aya segera mengambil ponselnya dari tangan Alya. Alya pun mengerti dan segera keluar dari kamar Aya.


"Phone servis juga bisa kok Ya kalau kamu tidak tau!" Ucap Alya menggoda dan langsung menutup pintu.


Aya melempar bantal ke Alya namun hanya mengenai pintu karena sudah keburu ditutup Alya.


"Assalamu'alaikum mas," sapanya membawa layar ponsel menghadap ke wajahnya.


"Wa'alaikum salam. Ya.. mas kangen!" Ucap Arga memelas masih dengan wajah memerahnya.


"Mas sakit?" Tanya Aya menyelidik melihat wajah memerah Arga.

__ADS_1


"Iya, mas sakit. Sakit malarindu sama Aya!" Ucap Arga manja dengan puppy eyes-nya dan senyum paling manis yang ia miliki.


Demi apapun, Aya paling sebal sama Arga kalau diajak ngomong bawaannya gombal begini terus.


"Sudah deh mas, malas banget tau kalau mas begini sama Aya." Seketika Arga terdiam, menundukkkan matanya ke ujung sepatunya, ia merasa hati Aya memang sulit ia jangkau. Hatinya semakin kacau.


Lama mereka terdiam, tak ada satu pun dari mereka yang mau membuka suara. Arga masih dengan posisi yang sama, jika tadi hanya pandangannya yang ia tundukkan ke bawah, sekarang wajahnya pun sudah sempurna menunduk yang hanya menyisakan sedikit jidat dan kepalanya untuk di lihat Aya.


Aya mendesah panjang, ia bingung dengan sikap Arga yang tadi ceria sekarang menunduk terus tanpa berniat mengangkat wajahnya melihatnya.


"Kalau mas gak ada yang mau diomongin lagi, Aya tutup yah!"


Arga mengangkat wajahnya menatap layar ponselnya.


"Baik!" Jawab Arga lemah. Dan benar saja sambungan telepon langsung diputus oleh Aya.


Arga mengembalikan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia menyandarkan kedua tangannya pada dinding kaca, matanya menatap kosong pada kesibukan kendaraan kota Jakarta yang berlalu lalang memadati segala ruas jalan.


Hatinya menangis, matanya terasa panas. Begini banget rasanya jatuh cinta, sakit iya, bahagia juga ia. Tapi kalau sakit seperti ini, rasanya dunia sudah runtuh.


"Aya, mas gak akan menyerah. Kamu sudah berani mengambil hati mas, jadi kamu harus tanggung jawab." Monolog Arga pada cincin kawinnya.


Arga kembali duduk di kursi kebesarannya. Ia sudah membulatkan tekad untuk berusaha keras mendapatkan hati Aya dan dia tidak akan membiarkan Aya menghancurkan hatinya.


Arga mulai menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya. Ia tidak boleh membiarkan suasana hatinya mempengaruhi pekerjaannya. Bukankah dia ingin segalanya cepat selesai agar ia bisa fokus menyelasaikan urusan hatinya dengan Aya???


*****


Saat ini Aya, Fira dan Alya sedang bercengkrama di gazebo samping bangunan villa. Di sana mereka sibuk melempar pelet untuk ikan-ikan di bawah kolam. Suasana begitu hangat. Sudah lama sekali mereka bertiga tidak berkumpul seperti sekarang. Sebenarnya Alya dan Fira ingin main ke kebun teh, tapi Aya masih ingin di rumah saja dulu.


Fira hanya lebih banyak menjadi pendengar cerita Aya dan Alya. Memang selama ini begitulah hubungan mereka. Antara Fira dan Aya, Fira merasa Aya memberi jarak padanya. Tapi Fira tidak peduli, selain karena mendapat tugas langsung dari ayah Aya untuk mengawasinya dari dekat, jauh sebelum ia mengetahui bahwa Aya adalah anak pimpinan perusahaan tempatnya bekerja, ia memang lebih senang mempunyai teman berkepribadian seperti Aya.


Aya tidak merepotkan sebagai tetangga unitnya, tidak ribet, tidak ribut, tidak sewot, bukan sombong juga, mungkin terkesan cuek dan tidak peduli sekitar, tapi ia selalu bersikap ramah pada orang yang menyapanya. Buat Fira, kepribadian Aya itu menyenangkan, berteman tapi tidak mengikat, bertetangga tapi tidak memberatkan tetangganya.


Kan sudah biasa tuh, punya teman dan tetangga rasa penjajah. Kadang seenaknya mengambil barang kita karena merasa sudah dekat atau kadang minta tolong tidak pakai kira-kira. Padahal setiap orang punya kehidupan sendiri-sendiri. Sedekat apapun sebuah hubungan persahabatan, tetap saja ia punya batas, ada jaraknya. Ada sisi kehidupan setiap orang yang tidak bisa dibagikan kepada siapapun, termasuk teman dekat.

__ADS_1


Karena satu-satunya teman yang akan selalu ada di dalam kehidupan kita hanyalah pasangan kita sendiri, suami atau istri.


Teman, sahabat.. semua akan pergi, silih berganti. Entah karena dipisahkan jarak, entah karena waktu entah karena apapun yang menciptakan jarak dan waktu itu sendiri, lalu berakhir seperti orang asing.


Pernah Fira baca dalam sebuah novel religi yang dibacanya, di sana dikutip dari kitab tafsir ibnu katsir, "tidak ada persahabatan yang lebih besar diantara dua ruh dibandingkan persahabatan diantara pasangan suami istri."


Kalimat itu selalu terngiang di alam fikiran Fira, makanya ia merasa satu frekuensi dengan Aya dan Alya. Yaaa.. meskipun Alya dan Aya kelihatan sangat dekat, tapi Fira tidak masalah.


"Woi...bengong aja lo anak kecil." Tegur Alya membuyarkan lamunan Fira. Memang umur Fira yang paling muda diantara mereka, baru 28 tahun. Tapi mereka sepakat tidak ada yang merasa paling tua atau paling muda sehingga  ada yang merasa harus dihormati.


"Apa sih? Ngagetin aja?" Protes Fira memanyunkan bibirnya.


"Memangnya lagi ngelamunin apa sih Fir, tadi itu gue udah panggil-panggil lo loh beberapa kali."  Tanya Aya.


"Mikirin mas Bara kali!" Celetuk Alya tanpa merasa berdosa.


"Isshhh.. kurang kerjaan apa gue sampe rela ngelamunin si kanebo kering itu?" Jawab Fira sewot. Alya dan Aya tertawa keras mendengar julukan Bara.


"Kanebo kering." Alya mengulangi kata kanebo kering lalu kembali tertawa.


"Gue sumpahin lo jatuh cinta sama mas Bara biar nangis bombay lo Fir!" Sambung Alya lagi.


"Amit-amit." Ucap Fira mengambil satu potong semangka lalu ia pakai menyumpal mulut Alya yang tidak bisa berhenti tertawa.


Sekarang giliran Aya yang tertawa melihat wajah Alya yang cemberut karena kelakuan Fira.


"Makanya doanya tuh yang baik-baik." Ucap Aya mengingatkan.


"Iya, iya.. gue doakan kalian berdua segera jatuh cinta biar bisa kayak gue yang setiap hari jatuh cinta sama si ayang Alif." Ucap Alya sambil memeluk dirinya sendiri seolah-olah Alif sekarang sedang ia peluk.


Aya dan Fira geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd Alya.


"Udah ah, sekarang gue mau ngomong satu-satu sama kalian berdua. Harus jujur, jangan ada yang ditutup-tutupi. Pokoknya kalian harus menjawab semua pertanyaan gue. Awas saja kalau kalian ngeles." Ucap Aya tiba-tiba membuat suasana menjadi hening dan sedikit horor.


"Sekarang mulai dari kamu, Fir!" Lanjut Aya memandang tajam ke arah Fira.

__ADS_1


×××××


__ADS_2