
Jakarta.
Semenjak ditinggal Arga ke Korea, Bara dan Fira bagai sepasang sepatu yang saling melengkapi. Kemana-mana selalu berdua, Bara lebih memilih Fira dibanding yang lain untuk menjadi sekertarisnya selama semua urusan kantor dia yang handle. Mungkin karena mereka sudah lama bekerjasama mengurus pak Bintang lalu kemudian dilanjutkan oleh Arga. Fira sendiri sudah sangat hafal tabiat Bara, lalu menurut Bara, Fira sudah menguasai semua pekerjaannya jadi tidak perlu repot-repot mengajarinya lagi.
Malam ini mereka berdua menghadiri undangan resepsi pernikahan anak dari salah satu klien penting Arga.
Bara tampak takjub dengan penampilan Fira, hingga Fira sudah duduk manis di dalam mobil, Bara masih memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan Fira.
Fira melambai-lambaikan tangannya di wajah Bara, namun Bara tak bergeming.
"Woi... pak Bara lihat hantu yah?" Fira menjentikkan satu jarinya di pelipis Bara membuat Bara meringis karena merasa lumayan perih di keningnya.
"Eh..i..itu.. apa? Kenapa? Kamu, apa yang kamu lakukan?" Bara gelagapan, awalnya saja. Setelah itu dia kembali dalam mode sangarnya. Ia mengelus pelipisnya.
"Bapak sih, dari tadi saya duduk di sini, tapi bapaknya kayak orang kesambet gitu. Jangan bilang bapak lagi mengagumi kecantikan saya?"
Bara tidak menanggapi, ia lalu menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya ke tempat acara yang dituju.
Sesampainya di sana, Bara terus menggandeng tangan Fira posesif. Bara tidak mengizinkan Fira jauh-jauh darinya.
"Kamu jangan pernah jauh-jauh dari aku, jaga perilakumu dan jangan genit!" Ucap Bara mengingatkan.
Fira merasa tidak terima, sejak kapan dirinya genit. "Maksud bapak apa ngomong begitu?" Tanya Fira pelan namun dengan nada tidak suka.
Bara menghiraukan Fira, ia malah semakin menarik Fira agar lebih rapat dengannya. Fira seperti anak kecil yang mengekori ibunya kesana-kemari.
Setelah melewati acara yang panjang menurut Fira karena di sana Bara harus menyapa begitu banyak orang yang merupakan kolega bisnis perusahaan tempatnya bekerja. Fira memberi pijatan-pijatan kecil ke kakinya saat Bara pergi mengambil makanan untuknya. Kakinya terasa pegal, menyesal rasanya pakai sepatu hak tinggi.
"Kaki kamu kenapa?" Tanya Bara tiba-tiba mengagetkannya.
"Gak kok pak, hanya pegal sedikit." Jawab Fira sedikit meringis.
"Ya sudah, makan dulu. Setelah ini kita pulang."
Bara betul-betul memenuhi ucapannya, setelah selesai makan, Bara langsung membawa Fira pulang ke apartemennya.
Fira langsung melepas sepatunya lalu berjalan tanpa alas kaki menuju ke lift. Bara mengikutinya dari belakang. Fira sudah terbiasa diantar Bara sampai ke pintu unitnya setiap kali Bara yang mengantarnya pulang.
Saat Fira sudah membuka pintunya, Bara langsung nyelonong masuk tanpa permisi. Fira bengong melihatnya.
"Ngapain bapak masuk ke sini. Pulang sana!" Usir Fira pada Bara yang sekarang duduk santai di sofa.
"Duduk dulu, aku mau ngomong sesuatu." Perintah Bara yang sukses membuat Fira mengomel di dalam hati.
Fira mengambil tempat duduk agak jauh dari Bara, ia dengan angkuhnya melipat kedua tangannya di dada.
"Udah..mau ngomong apa?"
Bara tersenyum melihat tingkah Fira yang menurutnya lucu dan menggemaskan. Lagi-lagi Fira dibuat bengong, untuk pertama kalinya ia bisa melihat senyum Bara yang begitu manis.
"Tunggu dulu, sejak kapan kanebo kering ini bisa punya senyum yang manis begini?" Tanya Fira dalam hati.
"Ayo kita menikah!" Ucap Bara tegas.
Fira yang masih belum sempurna sadar dari keterpukauannya melihat senyum Bara, sekarang seperti mendengar kata-kata yang agak asing di telinganya.
"Apa katanya? Ayo menikah?" Fira masih sibuk dalam keterbengongannya.
"Hei.. kamu dengar tidak aku ngomong apa?" Bara berusaha mengingatkan Fira yang karena sejak dari tadi hanya kelihatan bengong.
"Iya, i..iya... kenapa? Bapak ngomong apa tadi?" Fira gelagapan, ia ingin memperjelas tadi yang dia dengar itu apa. Takutnya telinganya sudah tidak normal karena terlalu keseringan sama Bara.
"Aku ulangi sekali lagi. Ayo kita menikah!!!" Ucap Bara mantap.
__ADS_1
"Ha... bapak gak lagi mabok kan?" Tanya Fira heran yang dijawab gelengan kepala oleh Bara.
"Bagaimana? Kamu mau kan?"
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Fira ogah nikah sama kanebo kering seperti bapak. Bisa gersang dunia saya kalo hidup sama bapak."
"Jadi.. saya ditolak?"
"Iya, bapak saya tolak!"
"Kenapa?"
"Kok bapak gak paham-paham juga sih?"
"Memang gak paham. Saya kenapa memangnya?"
Fira menghela nafas kasar. Ini si kanebo kering kok jadi oon gini???
"Bapak fikir saya ini anak kucing yatim piatu yang bisa bapak ajak kawin begitu saja?" Ucap Fira kesal.
"Ya sudah, kasi tau saya bagaimana caranya melamar kamu biar kamu terima." Ucap Bara polos.
Fira memutar matanya jengah.
"Bapak pulang deh sekarang, noh pintunya di sana!" Usir Fira sambil menunjuk pintu keluar.
"Saya tidak akan pergi dari sini sebelum kamu terima lamaran saya!"
"Ha.. kok bapak maksa sih?" Fira mulai emosi.
"Saya tidak menerima penolakan dari kamu." Bara mendekat ke sofa tempat duduk Fira.
Bara terus mendekat, sangat dekat hingga Bara mencondongkan tubuhnya ke bawah seperti hendak memgurung Fira. Fira menutup matanya dan menenggelamkan wajahnya dibalik kedua lengannya yang bersilangan.
"Hanya serangga." Ucap Bara menunjukka seekor serangga warna orange ke Fira.
Fira bernafas lega, ia fikir Bara ingin macam-macam padanya.
Bara masih berlutut di depan Fira, ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru muda yang diikat pita berwarna pink muda.
"Fir, menikahlah denganku. Ini sudah lama saya beli, tapi baru sekarang saya punya keberanian melamar kamu." Ucap Bara penuh ketulusan.
"Sejak kapan?" Tanya Fira penasaran.
"Sejak pertama kali pak Bintang memintaku melatih kamu. Kamu tidak tau betapa deg-degannya aku setiap kali memberi kamu latihan tembak dan latihan bela diri. Aku takut tidak bisa menahan diri."
"Tapi kenapa sikap bapak selalu cuek dan acuh sama saya selama ini?"
"Supaya kamu benci sama saya, biar saya tau diri!"
"Nah, itu tau. Saya benci sama bapak."
"Sekarang saya berubah fikiran, saya mau kamu juga suka sama saya!"
"Gak bisa gitu dong. Kalau bapak suka sama saya, itu hak bapak. Tapi bapak harus ingat, saya juga punya hak untuk tidak suka sama bapak. Saya tidak suka bapak. Titik!" Fira mencoba memperjelasnya lagi.
"Bukankah sudah saya katakan kalau kamu tidak punya hak untuk menolak?"
"Aturan dari mana? Bapak itu bukan siapa-siapa saya. Orang tua saya saja gak bisa maksa saya."
__ADS_1
"Saya tau kalau kamu sedang lari dari perjodohan, sekarang pilihan kamu hanya ada dua. Pilih saya atau kamu nikah jadi istri ke-3 kakek-kakek pilihan orang tuamu itu?"
Fira tersentak kaget, darimana kanebo kering ini tau masalahnya.
"Sekarang pilihan ada di tangan kamu, saya hanya ingin menolong kamu. Urusan kamu suka atau tidak suka sama saya, itu hak kamu. Tapi kalau kita sudah menikah nanti, kamu sudah tidak punya pilihan lain selain jatuh cinta sama saya." Bara kembali ke tempat duduknya semula kemudian menyilangkan kakinya di sana.
"Saya tau, besok adalah batas akhir waktu yang diberi orang tua kamu. Dan waktu yang saya beri ke kamu adalah sekarang."
Wajah Fira memucat seketika. Ia baru ingat kalau besok adalah hari terakhir untuknya membawa calon suaminya ke rumah. Kalau tidak maka ia akan dijodohkan dengan tetangganya yang sudah punya dua istri dan banyak cucu, mana kepalanya botak, perutnya buncit, pokoknya gak ada enak-enaknya buat dipandang mata. Fira bergidik sendiri membayangkannya.
"Oke.. oke.. saya mau nikah sama pak Bara, tapi saya mau tanya beberapa hal dulu sama bapak." Jawab Fira mencoba bernegosiasi.
"Katakan!"
"Bapak masih punya orang tua?"
"Ada, ibu" jawab Bara singkat.
"Saudara?"
"Ada, 2 adik perempuan."
"Berarti yang jadi tulang punggung mereka bapak atau mereka punya penghasilan sendiri?"
"Semuanya dalam tanggung jawab saya."
"Adik-adik bapak belum menikah?"
"Sudah."
"Sudah? Semuanya?"
"Iya."
Seketika tubuh Fira lemas.
"Kamu kenapa?" Tanya Bara.
"Bisa makan ati tiap hari kalo nikah sama bapak. Bisa-bisa saya dianggap hanya orang lain yang tiba-tiba masuk ke dalam keluarga bapak yang ingin menjadi saingan mereka menghabiskan uang bapak."
"Kenapa kamu berfikir begitu?"
"Karena banyak suami yang lalai dengan tanggung jawabnya pada istrinya karena terlalu fokus memenuhi tuntutan keluarganya. Ibunya minta rumah, Ok! Saudaranya minta mobil keluaran terbaru, Ok! Istri? Dibiarin jualan online biar dia bisa ikut numpang makan gratis karena semua gajinya dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Saya gak mau rumah tanggaku dicampuri atau diintervensi oleh siapapun, baik itu mertua apalagi dengan ipar! Dan sepertinya keluarga pak Bara tidak akan mudah menerima orang lain." Jawab Fira panjang lebar.
"Tidak, saya tidak seperti itu. Saya akan berbuat adil, semua milikku adalah milik istriku. Adapun keluargaku, saya harap kamu tidak keberatan jika saya menafkahi mereka karena adalah kewajiban anak laki-laki menafkahi orang tua dan saudara perempuannya."
"Eh, kanebo kering.. adik-adikmu itu sudah pada nikah, berarti mereka itu sepenuhnya dalam tanggung jawab suami mereka masing-masing!" Fira merasa jengkel pada Bara yang ternyata punya saudara toxic.
"Iya, saya tau. Hanya saja karena selama ini kan saya masih tidak ada tanggungan lain, makanya saya ngasih ke mereka." Ucap Bara membela diri.
"Terakhir.. ibu kamu masih sehat apa sakit-sakitan?"
"Namanya orang tua."
"Oke, kalau misalnya ibu kamu sakit, apa harus saya yang rawat penuh 24 jam bagaimana?"
"Kenapa nanya begitu?"
"Ini penting buat saya, saya gak mau nanti pas saya lagi sakit atau saya benar-benar ada urusan penting atau anak-anak membutuhkan saya sementara kondisi ibumu lagi sakit, lalu saya dianggap lalai, dianggap menantu durhaka, menantu tidak ada akhlak apalagi langsung kamu talak, saya benar-benar tidak mau kejadian seperti itu." Ucap Fira.penuh penekanan.
"Kamu tenang saja, saya menikahi kamu untuk menjadi istri saya, bukan untuk jadi perawat ibu saya."
"Baiklah kalau begitu, saya setuju menikah sama bapak. Maaf kalau saya harus nanya-nanya seperti tadi. Saya hanya tidak mau terjebak di dalam pernikahan yang tidak sehat. Saya tidak akan melarang bapak berbakti kepada orang tua bapak, tapi perlu bapak ingat, saya tidak mau punya suami yang bebas disetir oleh keluarganya."
__ADS_1
"Iya, saya mengerti. Everything i own is yours!"
×××××