
Di ruang tamu, Fira sedang duduk manis menunggu Aya dan Alya turun dari kamar. Di sana juga ada Bara dan Alif suami Alya. Bara dan Alif akan mengantarkan mereka ke Puncak. Arga sendiri tidak diijinkan ikut. Aya benar-benar ingin selama di puncak Arga tidak menampakkan batang hidungnya, dan itu lebih baik kalau dimulai dengan tidak ikut mengantarkan mereka.
Fira yang awalnya merasa santai kayak di pantai, tiba-tiba susah bernafas karena kehadiran Bara di ruang yang sama dengannya. Bertahun-tahun bekerja sebagai sekertaris pak Bintang, sudah bisa dipastikan interaksi mereka sudah tak terbilang lagi setiap harinya. Namun interaksi mereka tidak pernah lebih dari urusan pekerjaan, Bara selalu bersikap dingin padanya. Kadang Fira merasa tidak nyaman, entah kesalahan apa yang pernah dibuatnya sampai-sampai Bara selalu menatap tajam padanya. Apalagi saat Fira bertegur sapa dan ramah pada rekan laki-laki di kantor, Bara selalu menunjukkan tatapan meremehkannya pada Fira, seolah-oleh Fira adalah perempuan murahan.
Padahal Fira merasa selama ini sikapnya biasa-biasa saja, pakaiannya sopan, nada bicaranya tidak mendayu-dayu, dan kalau urusan beramah-ramah pada lawan bicaranya, bagi Fira memang harus seperti itu. Dia tidak pernah menggoda laki-laki, kalau ada laki-laki yang menggodanya lalu ia tanggapi dengan tetap bersikap ramah, sebenarnya itu adalah cara Fira untuk menghindar. Cukup Fira menyampaikan pesannya lewat gesture tubuhnya dengan menarik diri memberi jarak, tapi berbicara dengan baik tetap penting.
Fira memang cantik, body goal banget, ditambah lagi dengan pembawaannya yang supel dan humble, semakin menambah kecantikannya. Repot sih memang jadi orang cantik. Orang-orang gagal cantik mungkin melihatnya bahwa kebanyakan dunia lebih ramah pada orang cantik, ya tidak salah juga, tetapi tidak sepenuhnya benar juga. Menjadi orang cantik repot dan terkadang horor, horor karena dikejar-kejar sama laki-laki. Entah itu karena memang cinta atau bisa jadi hanya karena terobsesi.
Justru orang cantik harus punya insting yang kuat, bagaimana membedakan siapa yang tulus mendekatinya dan siapa yang mendekatinya hanya karena kecantikan.
Makanya, setiap kali Fira, Aya dan Alya jalan ke mall, bisa dipastikan semua mata akan tertuju pada mereka.
Pernah kejadian, saat mereka sedang menunggu jemputan sopir Alya di depan mall, seorang laki-laki pengendara motor nabrak pagar pembatas karena saking terpesonanya melihat mereka. Memang mata lelaki paling susah dikondisikan saat melihat perempuan cantik, apalagi yang tidak bisa menjaga pandangannya, salah-salah kayak kejadian tadi, matanya tidak bisa berkedip lihat cewek cakep sampe lupa lagi bawa motor, kan sampah banget!
Berbeda dengan laki-laki bak kanebo kering di dekatnya ini, rasa-rasanya Fira tidak pernah melihatnya menunjukkan ketertarikan pada perempuan.
"Fira kurang cantik apa coba?
Kurang cantik dan seksi apa si Viona sang resepsionis di kantor sampai tidak dilirik oleh Bara?
Atau jangan-jangan... jangan-jangan si kanebo kering ini laki-laki bengkok?"
Fira bergidik sendiri, "Na'udzubillah min zalik, amit-amit ya Allah."
__ADS_1
Fira sibuk sendiri berperang dengan fikirannya, hingga akhirnya Aya dan Alya muncul, menyusul Arga dan kedua orang tuanya. Fira dan Bara berdiri menyapa mereka penuh hormat.
"Pagi om, tante.. pagi pak Arga." Sapa Fira menyalami tangan om Hutama dan tante Andini kemudian membungkukkan sedikit badannya pada Arga.
Alif juga ikut berdiri menyalami kedua mertuanya itu.
"Hai Al, Ya..." Ucap Fira cipika cipiki dengan Alya kemudian Aya.
Bara sendiri hanya menyapa mereka lewat bahasa tubuh, tidak ada yang heran dengan sikapnya. Sepertinya semua orang sudah paham meskipun Aya dan keluarga bari memgenal Bara belum lama ini.
"Ayok, kita semua sarapan dulu." Ajak tante Andini langsung menuju ke ruang makan dan semuanya pun menyusul ke sana.
Saat di meja makan, lagi-lagi Arga menunjukkan keinginannya untuk dilayani Aya. Mau tak mau Aya melakukannya, menjadi istri yang baik untuk Arga di depan keluarganya.
"Makanya Fir, nikah! Lihat tuh mas Arga, ada Aya. Om ada tante yang melayani. Mas Alif apalagi, iya kan beb?" Alya melirik Alif di sampingnya yang langsung dijawab dengan senyuman oleh Alif.
"Nak Bara masih single kan?" Tanya tante Andini.
Uhuk..uhuk.. Bara keselek demi mendengar pertanyaan tante Andini. Fira yang ada di dekatnya refleks memberi gelasnya yang berisi air putih. Bara yang melihatnya terdiam sejenak lalu mengambil gelas lain yang ada di hadapannya.
"Dasar, kain kering kanebo. Gak ada bagus-bagusnya!" Geram Fira dalam hati merasa tengsin bantuannya ditolak mentah-mentah oleh Bara.
"Masih tante, belum kefikiran juga buat nikah." Jawab Bara sopan.
__ADS_1
"Nah, cocok dong. Fira kan juga masih single." Tante Andini menunjuk Fira dengan memajukan bibirnya ke arah Fira.
Uhuk..uhukk.. giliran Fira yang tersedat makanannya. Ia buru-buru meminum air di gelasnya sampai habis.
"What? Gila aja. Lebih baik aku gak nikah sampai tua daripada mesti kain kanebo kering macam Bara." Lagi-lagi Fira hanya bisa ngedumel dalam hati.
"Single sih single tante. Tapi yang antri di belakang ngular seperti antrian sembako. Hehehe." Celetuk Alya membuat mereka semua tertawa penuh kehangatan.
Khusus Bara, tak ada ekspresi, ia hanya sibuk menyelesaikan sarapannya.
"Kalau gak sama nak Bara, kan masih ada tuh asisten Arga yang satu lagi. Siapa namanya? Yudha yah?" Om Hutama pun ikut menimpali.
"Sama adik aku aja Fir kalau kamu udah putus asa cari jodoh, dijamin 100% ori!" Giliran Alif yang menambahkan.
Kembali tawa mereka meledak. Muka Fira sekarang sudah memerah, mimpi apa semalam hingga pagi ini ia kena bully karena jomblo. Nasib jomblo!
"Sabar yah Fir, kami gak ikutan bully lo kok." Ucap Aya menenangkan Fira yang sepertinya sudah kehilangan selera makannya.
Arga sendiri sedari tadi memilih diam, ia malas ikut mengomentari pembicaraan absurd di antara mereka. Yang Arga fikirkan hanyalah Aya yang akan meninggalkan dirinya selama seminggu sementara ia tidak dibolehkan mengantarnya. Ingin rasanya ia culik Aya saja biar gak kemana-mana. Mungkin ini yang orang sebut, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.
"Kapan Aya ngerti perasaanku? Pokoknya aku akan buat kamu jatuh cinta sama aku, Ya. Aku ingin kamu merasakan sesaknya dadamu saat jauh dari aku. Biar bucin sekalian. Biar adil. Gak seru kalau cuman aku doang yang galau. Ah, membayangkan Aya bucin sama aku rasanya sudah gak sabar lihatnya." Arga senyum-senyum sendiri membayangkan Aya bucin kepadanya.
Sementara mereka yang ada di meja makan saling menatap heran melihat kelakuan Arga yang aneh, namun semuanya memilih diam membiarkan Arga larut dengan fikirannya sendiri.
__ADS_1
×××××