
"Aku mencintaimu karena segenap alam semesta bersatu membantuku menemukanmu."
- Paulo Coelho -
*****
Aya menatap sendu semua hidangan di atas meja. Air matanya sudah menganak sungai, perasaan rindu menghantam seluruh kewarasannya. Usahanya membenci dan melupakan Arga malah membuatnya tenggelam dalam kegelapan jiwanya.
Di saat-saat seperti ini, barulah terasa betapa berartinya kehadiran Arga selama ini. Gombalan-gombalan recehnya yang selalu sukses membuat Aya ketar-ketir sendiri meredakan getaran-getaran yang dihasilkannya, selalu ada gelenyar hangat yang memabukkan saat Arga menyentuhnya.
Baru sekarang Aya menyadari kalau kehadiran Arga sudah memberi efek luar biasa di dalam hidupnya.
Aya menyusut air matanya, ia meraih ponselnya lalu mencari nomor kontak Arga di sana, berkali-kali ia coba menelponnya namun nomor Arga tidak bisa dihubungi. Aya mulai merasa khawatir.
"Bara!" Ia teringat Bara kemudian menelponnya, namun panggilannya tidak juga diangkat.
Terdengar suara pintu terbuka, lalu beberapa saat kemudian Fira muncul.
"Bu boss, pak Arga nitip salam buat bu boss."
"Mas Arga sekarang dimana, Fir?"
"Anu bu boss, pak Arga sudah terbang ke Korea."
"Apa?" Aya kaget mengapa Arga pergi begitu saja tanpa pamit padanya. Apa sebegitu tidak berharganya dia dimata Arga?
"Pak Arga minta maaf, ada urusan urgent gak bisa ditinggal. Pak Arga nitip bu boss sama gue, bu boss harus baik-baik saja di sini, kalau tidak nyawa gue taruhannya." Ujar Fira membesar-besarkan ancaman pak Arga tadi.
Hati Aya mencelos, ia bingung harus bagaimana menghadapi situasinya saat ini. Ia baru menyadari, betapa hampanya hidup tak memiliki sandaran, sementara hatinya lemah tak tau harus mengadu pada siapa.
Ia melirik jam di tangannya, jam 11 malam, mungkin masih bisa mendapatkan penerbangan terakhir.
"Fir, pesankan aku tiket menyusul mas Arga!"
__ADS_1
"Tapi-"
"Pesan sekarang juga!" Tegas Aya tak ingin dibantah.
Fira jadi serba salah, karirnya ada di tangan pasangan suami istri aneh itu. Iya, aneh! Menurut Fira mereka adalah pasangan suami istri yang aneh, saling cinta tapi kok kelihatan rumit. Si Aya ngambek terus, si pak Arga panik terus tiap kali istrinya dalam mode seperti ini. Padahal apa susahnya duduk bersama, bicarakan dengan baik-baik. Kan katanya tidak ada masalah yang tidak bisa selesai di atas ranjang?
"Kalo lo mau, besok malam jam 10an baru bisa terbang." Ujar Fira setelah sekian detik memainkan kedua jempolnya di atas layar ponsel pintarnya.
"Apa gak ada penerbangan pagi atau siang gitu?"
"Gak ada, itu yang paling cepat, lainnya jam 12 malam jadi tiba pagi sekitar jam 5 di sana. Kalo gue sih sarannya berangkat jam 12 malam aja, atau sekalian gak usah ke sana, gue takut dihukum pak boss karena dia udah nitip lo ke gue."
Pletak..
Tak pelak sendok makan pun melayang ke arah Fira namun hanya mental di dekat ujung kakinya.
"Gue gak mau tau, pokoknya gue harus ngejar mas Arga secepatnya!" Aya tidak ingin lagi didebat apalagi dibantah. Sorot matanya menunjukkan ketegasan dan keinginan yang kuat.
"Oke..oke.. lo tenang aja, nanti gue atur, tapi.. just for your information; sesampainya di Seol, lo udah gak akan bisa langsung ketemu pak Arga karena besok sore dia akan bertolak ke kota Geoje."
"Tunggu aku cek dulu.." lagi-lagi tangan Fira bergerak lincah di atas layar ponsel pintarnya.
"Mmmm.. maaf Ya, kalo liat dari aplikasi Tralala gak ada." Ujar Fira sambil menunjukkan layar ponselnya ke Aya.
"Ya udah, lo atur aja semuanya, kalo misalnya ayah dan ibu nanyain, lo ngomong aja kalo kami berdua tiba-tiba harus terbang ke Korea jadi gak sempat pamit." Ucap Aya kemudian berlalu ke kamarnya.
*****
Arga melirik jam tangan yang melingkar elegan di tangannya. Sebentar lagi pesawatnya akan segera take off namun ponsel Aya tetap tidak bisa dihubungi. Arga benar-benar sangat frustasi saat ini, ia berusaha menenangkan dan menguatkan hatinya. Berharap setelah pekerjaan ini selesai ia bisa segera pulang menemui Aya dan memperbaiki semuanya.
Tak lama suara microphone melakukan panggilan agar penumpang tujuan Seol, segera naik ke pesawat. Dengan langkah berat Arga membawa kakinya satu persatu menuju pesawat. Hilang sudah harapannya melihat wajah dan atau sekedar mendengar suara Aya. Rasa sesak menusuk sanubarinya, namun sek8arang bukan saatnya untuk bersikap lemah. Ia harus kuat, bukankah manusia akan lebih kuat lagi ketika ia banyak bersentuhan dengan kenyataan-kenyataan yang pahit menurutnya?
Arga berusaha memejamkan matanya, namun sayangnya tidak bisa. Bayangan wajah cantik dan teduh Aya terus membayang di pelupuk matanya. Andai boleh berandai-andai, tentu saja Arga ingin Aya selalu berada di sampingnya.
__ADS_1
Memikirkan apa yang dilakukan Aya saat ini?
Sudah pulangkah ke apartemen atau ke rumah?
Apakah Aya baik-baik saja?
Adakah Aya memikirkan Arga seperti Arga memikirkannya?
Adakah rindu menggebu seperti Arga merindukannya?
Adakah cinta yang bergelora seperti gelora cinta Arga padanya?
Semua terasa samar, satu kesalahan kecil yang tanpa sengaja saja sudah punya daya rusak yang luar biasa dalam rumah tangganya. Arga bukan orang suci, ia hanya lelaki dingin yang tampan dan banyak disukai perempuan. Tapi ia tidak pernah memanfaatkan kelebihannya itu untuk bermain perempuan. Ia tidak pernah menanggapi pengakuan cinta dari perempuan-perempuan yang mendekatinya. Sikap Arga tegas, tak ada satu pun perempuan yang ia PHP. Jika ada yang merasa, maka itu hanya perasaan dia saja.
Imelda!
Gadis itu adalah tetangga mereka di kota Seoul. Saat mereka masih kecil, Ayah Imelda adalah Dubes RI untuk Korea. Namun setelah masa jabatannya berakhir, mereka tetap lebih banyak menghabiskan waktunya tinggal di Seoul daripada di Indonesia.
Dari kecil Imelda sangat mengidolakan Arga, usia mereka terpait 3 tahun. Arga hanya menganggapnya layaknya adik, tidak pernah lebih. Dan karena bagaimanapun Imelda bukanlah saudara kandungnya jadi setelah dewasa Arga memberi jarak yang sangat jelas di antara mereka.
Mungkin karena sudah terpengaruh gaya hidup di luar sehingga saat Imelda melihat Arga spontan ia langsung memeluknya. Arga sungguh menyesali keadaan itu. Apa susahnya menghindar? Mengapa ia harus bengong sehingga membuat Aya berfikir kalau Arga sangat welcome terhadap perempuan manapun yang ingin memeluknya.
Seketika Arga merasa jijik pada dirinya sendiri. Suami macam apa dirinya yang begitu mudahnya bisa dipeluk perempuan lain di depan istrinya? Apa yang difikirkan istrinya tentangnya?
Lelaki gampangan?
Lelaki murahan?
Arga mengacak-acak rambutnya frustasi, ia sudah jatuh cinta pada Aya, ia sudah menikahinya, tidak ada lagi kata mundur, tidak ada lagi kata menyesal. Pena telah diangkat, mereka dipertemukan oleh takdir dan Arga akan memegang teguh takdirnya.
Arga disambut gerimis tipis-tipis di langit Incheon International Airport, meskipun udara musim panas masih tersisa, namun di saat dini hari seperti ini, tetap saja rasa dingin menelusuk masuk menembus pori-pori hingga ke tulang-tulang.
Arga merapatkan jaketnya, di sana sudah ada sopir dari pihak Geoje Shipyard yang menunggunya. Mereka kemudian bergegas menuju Hotel yang dekat dari kantor pusat perusahaan tersebut.
__ADS_1
*****