Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
100 Tahun Kesunyian


__ADS_3

Masuk kerja setelah sebulan cuti rasanya hampir saja seperti saat pertama kali diterima bekerja. Banyak hal yang harus dipelajari dari awal, cek sana sini, komunikasi ke berbagai pihak dan menyesuaikan mood kembali agar bisa langsung merasakan feelnya. Atau mungkin ini hanya perasaan Aya saja dimana sekarang ia merasa harus beradaptasi dengan pekerjaannya.


Pihak manajemen Rumah Sakit sendiri menjanjikan dalam seminggu ini dokter bantu yang diminta Aya akan mulai bekerja. Aya bisa merasa lebih tenang sekarang. Sedikit kekhawatirannya bisa terselesaikan tanpa halangan berarti.


Hari ini Aya hanya akan memeriksa semua dokumen catatan riwayat pasien yang harus di dalam perawatannya ke depan. Seperti biasa, Aya sangat teliti dan detail di dalam pekerjaannya.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, rasa-rasanya Aya baru memulai pekerjaannya tapi ini sudah menunjukkan jam istirahat. Tidak ada waktu lagi untuk mengunjungi Arga di kantornya, ia mengambil ponselnya yang sejak dari pagi belum ia keluarkan dari tas tangannya.


"Assalamu'alaikum mas."


".........."


"Aya belum bisa bawa makan siang buat mas hari ini, masih banyak pekerjaan yang perlu Aya selesaikan. Gak papa kan?"


".........."


"Ya udah, aku tutup telponnya yah. Assalamu'alaikum."


Aya menutup telelponnya lalu menghembuskan nafasnya kasar. Terdengar suara Arga begitu kecewa dari balik ponselnya tadi. Aya merasa sedikit bersalah, apa memang seperti ini kehidupan berumah tangga? Saat satu pihak ada yang merasa kecewa, di pihak lain akan merasa bersalah.


Ponselnya berdering dan rupanya itu adalah video call dari Arga.


"Assalamu'alaikum."


"Wa''alaikum salam. Kamu sibuk? Gak ke kantin?"


"Gak, ini aku udah nitip pesan sama temen di sini tadi."


"Oooo..."


Lama mereka hanya diam tanpa saling bicara. Aya sendiri bingung mau ngomong apa sama Arga sementara Arga seperti menunggu Aya duluan yang membuka suara.

__ADS_1


"Mas gak makan?" Akhirnya Aya yang berinisiatif bertanya duluan.


"Oh, sebentar lagi. Pekerjaan mas juga masih tanggung."


"Oooo.." Giliran Aya yang ber-O ria. Dan lagi-lagi kembali keheningan yang menemani mereka. Aya pura-pura memeriksa dokumen di atas mejanya karena tidak ingin melakukan kontak mata dengan Arga.


"Aya.."


"Iya mas." Aya masih pura-pura tidak melihat ke layar ponselnya.


"Mas kangen!"


Kali ini kata-kata Arga sukses mengalihkan atensi Aya.


"Baru juga tadi pagi ketemu. Belum lima jam."


"Mas itu kangen terus sama Aya, bahkan saat Aya ada di dekat mas sekalipun, kangennya mas masih tetap gak habis-habis."


"Kan gombal sama istri sendiri itu dapat pahala, Ya! Kan gak mungkin mas gombalin istri orang lain."


"Coba aja nanti mas Aya buang ke kolam buaya!"


"Wow.. Aya marah? Apa ini artinya Aya mulai pintar cemburu sama mas?" Arga mengembangkan senyumnya karena berhasil membuat Aya salah tingkah.


"Gak, Aya gak cemburu. Aya hanya gak suka laki-laki kadal buaya yang suka gombal sana sini, apalagi kalo yang digombalin istri orang." Arga tertawa renyah mendengar Aya berbicara cukup panjang mengeluarkan unek-uneknya. Progress!


"Tapi mas gak gombal kok, mas memang kangen sama Aya. Mas cinta sama Aya. Mas ingatkan lagi, kali aja Aya sudah lupa."


Aya semakin grogi, rasanya mau memutus sambungan video callnya tapi itu gak sopan. Masalahnya pasti Arga saat ini merasa kegirangan karena sudah berhasil membuat Aya merah merona.


"So.. kapan Aya mau jatuh cinta sama mas?" Arga kembali bertanya.

__ADS_1


"Mas kok nanyanya aneh-aneh deh?"


"Gak, mas hanya mau tanya aja, sekedar mengingatkan Aya, kalau Aya udah cinta sama mas, jangan lupa kasi tau mas." Lagi-lagi senyum Arga mengembang, namun Aya semakin memanyunkan bibirnya, cemberut.


"Kenapa mas cinta sama Aya? Kan banyak tuh perempuan yang lebih cantik, lebih seksi, lebih muda dan lebih segala-galanya daripada Aya."


"Karena itu adalah kamu. Kalau bukan kamu mas gak akan jatuh cinta!"


"Gombal terus!" Namun kali ini Aya tidak bisa menyembunyikan senyum malu-malunya habis digombalin Arga.


"Ini bukan gombal Ya, mas itu jatuh cinta sama kamu karena itu kamu, jodohnya mas, istrinya mas. Gimana yah jelasinnya biar kamu percaya?" Arga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena semua omongan manisnya selama ini dianggap gombal oleh Aya.


"Gini aja, dalam satu titik di kehidupan kita, kita itu tidak lagi mencintai seseorang karena fisik atau karena hal-hal yang bersifat duniawi. Tapi karena merasa nyaman, merasa tertarik, merasa dunia seolah berpusat padanya sehingga yang lain sudah tidak nampak lagi. Anggap saja seperti sebuah pesona non fisik yang langsung klick di hati, tidak perlu banyak penjelasan atau defenisi apapun, pokoknya klick aja di hati. Dimana kita saling menemukan, bukan aku atau kamu yang menemukan di sini, tapi kita saling menemukan. Aku adalah tulang punggungmu dan kamu adalah tulang rusukku, mereka sendiri yang saling menemukan. Sebutlah kode ruh, ruh kita sefrekuensi jadi bisa saling mengenal sebagaimana yang sudah tertulis di kitab Lauh Mahfudz. Aku menerima semua ini sebagai takdirku, karena aku juga memutuskan menerima kamu menjadi satu-satunya perempuan yang akan menemaniku sehidup, sesurga." Betapa kalimat panjang ini amat melegakan Arga namun menyesakkan bagi Aya.


Aya menyusut air matanya, speechless! Apalagi yang bisa ia katakan untuk membantah perasaan Arga padanya?


"Hei, jangan nangis! Mas minta maaf kalau Aya merasa terpaksa menerima pernikahan ini." Aya menggeleng, bukan itu yang membuatnya menangis. Ia sekarang malah sesegukan.


"Kenapa mas bisa sesabar ini sama aku?" Tanya Aya sedikit terbata.


"Kamu pernah gak baca buku 100 Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez?" Aya mengangguk.


"Di situ beliau katakan bahwa cinta yang paling liar dan paling ngotot itu pada akhirnya hanyalah kebenaran yang sekejap, ia tidak berlangsung lama. Karena itu aku akan selalu bersabar menunggu kamu, aku tidak akan pernah lelah mengharapkan perasaanku kamu balas. Karena aku yakin, hanya kesabaran yang paling berhak mendapatkan balasan yang sempurna,"


Arga dan Aya sama-sama terdiam, hanya suara sesegukan dan ingus Aya yang saling memburu masuk ke gendang telinga.


"Udah yah, berhenti nangisnya. Kalo kamu nangis gini mas gak bisa tenang. Mas ke situ sekarang juga." Sambungan telpon langsumg diputus begitu saja oleh Arga.


Sementara Aya masih menangis sesegukan tidak bisa menahan perasaan sesak yang tiba-tiba menghimpit di dadanya. Betapa berdosanya ia telah banyak mengabaikan perasaan Arga selama ini. Meminta maaf, iya..Seharusnya Aya meminta maaf pada Arga karena telah menjadi istri yang tidak tau diri sepertinya. Meskipun yakin kalau Arga pasti akan memaafkannya, tapi tetap saja Aya harus meminta maaf dengan cara yang baik pada suaminya itu.


Urusan cinta, bukankah ia bisa ditumbuhkan belakangan seiring berjalannya waktu dan banyaknya momen-momen kebersamaan yang tercipta. Selama ia terus dipupuk, maka benih-benih cinta itu akan bertumbuh cepat melebihi dari yang difikirkan. Semoga saja!!!

__ADS_1


×××××


__ADS_2