Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Kejutan Mengejutkan


__ADS_3

Sudah 30 menit Aya menunggu Arga menjemputnya di apartemen. Namun Arga belum juga datang. Aya mengirim pesan ke om Dino mengabarkan kalau posisinya saat ini sekitar 1 jam lagi sampai di cafe tempatnya janjian. Jarak apartemennya ke cafe depan rumah sakit tempatnya bekerja cukup dekat, paling berkendara 20 menit juga sampai. Kalau macet bisa kurang dari 1 jam sampai di sana.


Aya memang tidak menyebutkan dimana ia tinggal saat om Dino menanyakannya waktu ditelpon tadi pagi. Ia belum tau apa motif om Dino ingin menemuinya. Jika apa yang dikatakan Arga tentang om Dino itu benar, maka tidak tertutup kemungkinan om Dino pun punya maksud jahat kepadanya. Ia tidak ingin menuduh, tapi waspada itu penting.


Yang namanya manusia, kita tidak boleh menaruh kepercayaan 100% kepadanya. Bahkan kepada diri sendiri pun tetap harus kita simpankan sedikit ruang untuk rasa curiga. Karena tidak ada manusia yang luput dari berbuat kesalahan, tidak ada manusia yang fikirannya hanya dipenuhi kebaikan, tidak ada manusia yang jalannya lurus-lurus saja, tidak ada manusia yang tidak tergoda dengan dunia. Hanya saja, setiap manusia sudah dibekali otak, hati, akal dan perasaan. Tinggal memilih, apakah condong pada kebaikan atau malah memilih jalan yang salah.


"Karena itu, kalian jangan menganggap diri kalian suci dari kesalahan." Begitulah yang tersurat dalam salah satu ayat di dalam Al-Qur'an.


Suara ketukan dari luar membuyarkan lamunan Aya. Ia bergegas membuka pintu dan di sana sudah ada Arga berdiri membelakangi pintu. Tanpa menyapa apalagi mengajak Arga masuk ke unitnya, Aya langsung keluar dan mengunci pintunya.


"Kamu udah siap?" Tanya Arga.


"Iya, InsyaaAllah.." Jawab Aya lalu melangkah duluan ke arah lift. Sementara Arga mengekor di belakangnya tanpa berkata apa-apa lagi.


Saat di perjalanan, Aya dan Arga sama-sama memilih diam, hanya suara hembusan AC mobil yang mengiringi perjalanan mereka. Arga melirik Aya yang sedari tadi menatap ke depan padahal mobil sedang berhenti di lampu merah.


"Mikirin apa?" Tanya Arga memecah keheningan.


"Gak, aku hanya keingat Ayah, beliau kecelakaan di sini. Saya hanya gak kebayang apa yang dirasakan ayah saat itu." Jawab Aya dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan sedih lagi, kita doakan saja semoga dilapangkan kuburan beliau dan diampuni segala kesalahan-kesalahannya. Hmmm..." Arga mencoba menasehati Aya, ia tidak mau melijat Aya larut dalam kesedihan.


Aya menarik nafas panjang dan membuangnya lewat mulut. Ia berusaha menekan tangisnya yang sudah terasa menghimpit dadanya. Ia melirik ke arah jendela di sampingnya, ia merapatkan kedua bibirnya, memaksa matanya tak lagi mengeluarkan air mata.


Arga menjalankan mobilnya saat lampu hijau menyala, lagi-lagi mereka hanya diam hingga Arga memasuki area parkiran mobil cafe yang ditujunya.


Saat Arga hendak keluar, Aya menahannya. "Mas tunggu di sini saja atau ambil meja lain saja di dalam, saya rasa om Dino akan merasa tidak nyaman kalo mas ikut sama saya di sana."


Arga tampak berfikir, "baiklah, kamu duluan saja masuknya. Nanti aku nyusul." Ucap Arga kembali memperbaiki posisi duduknya di dalam mobil.


Memasuki cafe, mata Aya menyapu isi di dalam ruangan tersebut. Ia berjalan ke salah satu sudut cafe dimana Om Dino sudah menunggu di sana sambil memainkan ponselnya.


"Assalamu'alaikum, om. Maaf telat." Ucap Aya menyapa omnya dan yang disapa baru mengangkat wajahnya setelah mendengar suara Aya.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam. Duduk, ayo. Om juga baru tiba kok. Bagaimana kabar kamu?" Jawab om Dino mempersilahkan Aya mengambil kursi di depannya.


"Alhamdulillah, baik om." Jawab Aya dengan senyum yang sedikit dipaksakan. "Bagaimana kabar tante Dina dan adek-adek, Om?" Aya mencoba basa basi menanyakan kabar istri omnya itu dan anak-anaknya dan merasa tidak enak karena sudah lupa nama-nama mereka.


"Baik juga, Alhamdulillah mereka sehat semua. Si bungsu sekarang sudah tamat SMA, sebentar lagi ambil kuliah di London." Tampak wajah om Dino berbinar menceritakan si bungsunya.


"Alhamdulillah, hebat bisa kuliah ke luar negeri." Sebenarnya Aya sudah merasa bosan dengan basa basi seperti ini. Aya akhirnya diam tak lagi berminat melanjutkan basa basinya.


Ekkhhmm..Ekkhhmmm


Om Dino berdehem, sepertinya ia sedang menyusun kata-kata yang hendak disampaikan ke Aya.


"Gini Ya, om ajak kamu ke sini karena ingin menanyakan perihal perusahaan-perusahaan yang ditinggalkan oleh ayah kamu," Om Dino berdehem lagi menjeda ucapannya.


"Beberapa waktu lalu om datang ke kantor ayahmu, dengar-dengar kepemimpinan perusahaan beliau serahkan kepada orang lain. Maksud om, kamu sebagai ahli warisnya tentu punya hak untuk menentukan siapa yang layak jadi pimpinan saat ini. Daripada perusahaan dipimpin oleh orang yang bukan siapa-siapa kamu, bukankah lebih baik jika itu dilakukan oleh keluarga kamu sendiri? Om bisa mengambil alih kepemimpinan itu agar keluarga kita yang tetap berkuasa di sana." Ucapnya panjang lebar.


Aya terdiam sejenak, mencoba mencerna perkataan om Dino barusan.


"Itu sudah jadi keputusan ayah, tentu ayah sudah pikirkan matang-matang dengan semua keputusannya, beliau lebih tau mana yang layak dan mana yang tidak. Kalau ayah tidak menunjuk om, berarti sudah pasti ayah merasa om memang tidak layak menggantikannya." Ucap Aya tegas.


"Jadi, menurut kamu orang itu yang lebih layak dan lebih berhak? Aku ini om kamu, adik kandung ayah kamu, akulah yang paling berhak mengambil alih semua perusahaan ayahmu." Ucap om Dino berapi-api.


"Mau siapa pun yang memimpin, Aya tidak peduli, selama ia melakukan tugasnya dengan baik, tidak masalah. Justru terkadang bekerjasama dengan keluarga lebih rentan dengan masalah, tidak profesional lah, sok berkuasalah, bahkan bisa seenaknya memakai fasilitas perusahaan seperti kepemilikan pribadi. Kalau seperti itu, bukankah lebih baik orang lain? Kalau saya tidak suka performanya, tinggal dipecat. Case closed! Tapi kalau keluarga?"


"Oh, jadi maksud kamu om tidak profesional, tidak perform, tidak ....?"


"Menurut om?" Aya memotong ucapan om Dino.


"Tadi sudah Aya katakan, tidak mungkin ayah memilih orang lain jika ayah merasa om layak untuk itu."


"Kamu mana tau urusan ayahmu? Tau apa kamu tentang orang yang ditunjuk ayahmu itu? Bisa jadi orang itulah yang sengaja mengatur kecelakaan ayah kamu saat itu karena ingin mengambil alih perusahaan-perusahaan ayahmu." Ucap om Dino sengit terkesan meremehkan Aya.


Aya cukup tercengan dengan ucapan om Dino. "Apakah kecelakaan ayahnya memang sudah diatur, lalu siapa pelakunya?" Pertanyaan ini cukup mengganggu pikirannya saat ini.

__ADS_1


"Om jangan coba mencari kambing hitam di sini. Aya tau apa yang sudah om lakukan terhadap ibu dan ayahku dulu. Atau jangan-jangan om sendirilah penyebab kecelakaan ayah?" Ucap Aya menatap om Dino curiga.


Ha ha ha


Om Dino terbahak-bahak sampai tubuhnya terguncang. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang juga sedang berada di cafe tersebut. Ia memegang perutnya berusaha menghentikan tawanya.


"Hmmm.. kamu cukup cerdik nona cantik. Kamu harus tau, apapun bisa om lakukan untuk mendapatkan apa yang om inginkan," Ucapnya megintimidasi Aya.


Seketika wajah Aya memerah menahan amarahnya, ia cukup shock mendengar perkataan om Dino barusan. Jika benar apa yang dikatakannya, sungguh dia benar-benar ingin memghabisi nyawa lelaki tua yang ada di hadapannya ini.


"Sekarang, pilihan ada di tangan kamu," om Dino mengambil sebuah map dari dalam tasnya dan melemparnya ke hadapan Aya.


"Tanda tangani surat ini dan kamu aman." Perintah om Dino sambil melempar pulpen ke atas map tadi.


Aya menarik tubuhnya ke belakang, bersandar pada sandaran kursi lalu melipat kedua tangannya di dadanya.


"Sepertinya om salah memilih lawan, mungkin om bisa menghancurkan kehidupan ibu dan ayahku, tapi maaf om, Aya bukanlah mereka." Ucap Aya menantang. Padahal sebenarnya ia mulai merasa ketakutan, hanya saja ia berusaha menutupinya.


Seketika om Dino berdiri dari tempat duduknya lalu menarik kasar tangan Aya keluar dari cafe.


"Lepaskan dia!" Sebuah suara tegas menghentikan langkah om Dino. Om Dino melirik ke sumber suara.


"Ini bukan urusan anda, jangan coba-coba ikut campur!" Om Dino cukup kaget melihat kehadiran Arga di sana yang ia tau adalah anak Hutama dan Andini.


"Urusan Aya adalah urusan saya juga. Saya yang lebih berhak atas Aya saat ini." Ucap Arga tenang.


Tawa om Dino meledak. "Kamu hanya orang asing di sini, saya adalah om kandungnya. Saya adalah wali sah-nya." Ucap om Dino percaya diri.


"Maaf, anda salah. Saya adalah suaminya jadi hidup mati Aya adalah urusan saya sepenuhnya, bukan anda jika anda faham." Ucap Arga penuh keyakinan sambil menunjukkan buku nikahnya.


Deg...


Seketika jantung Aya berdetak kencang.

__ADS_1


"Apa? Suami?"


×××××


__ADS_2