
Hari ini hari minggu, berarti sekarang adalah hari minggu ke-dua Aya berada di Puncak. Arga dan Lala juga masih setia menemani Aya di sini. Beberapa hari di sini, Arga tidak bisa kemana-mana dikarenakan hujan deras yang terus mengguyur Puncak sepanjang hari. Berbeda dengan hari ini, cuaca sangat cerah, matahari bersinar begitu terik masih sejak keluar dari peraduannya.
Awalnya Arga berfikir, Aya akan meminta pulang hari ini, namun sampai pagi ini ia belum melihat ada pergerakan beres-beres pakaian oleh Aya. Arga tidak ingin menyinggung masalah kepulangan ke Jakarta, terserah Aya saja kalau memang masih ingin berlama-lama di sini.
Arga ingin mengajak Aya jalan-jalan menyusuri perkebunan teh milik keluarganya, namun Aya menolak karena penasaran ingin menginjakkan kaki di pasar pagi. Arga ingin menahan, tapi Aya ngotot ingin pergi bersama bu Minah. Arga pun mengalah dan memilih ikut bersama pak Toto mengelilingi perkebunan.
Arga sudah lama tidak ke sini, terakhir saat Lala masih umur tiga tahun, sementara Arga berumur dua belas tahun. Saat itu liburan panjang dari sekolah, keluarga mereka memutuskan liburan ke Indonesia sekalian mengunjungi opa omanya.
*****
Aya begitu bersemangat menyusuri pasar Cisarua, ia bersama bu Minah dan Lala tadi diantar oleh Miko salah satu anak bu Minah yang masih kelas tiga SMA. Aneka sayuran segar dan buah begitu menggugah selera belanja Aya. Kalau biasanya perempuan akan kalap belanja ketika melihat barang-barang fashion, Aya malah kalap belanja sayur dan buah.
Bu Minah tidak habis fikir melihat kelakuan Aya, padahal di rumah masih banyak sayur dan buah dari kebun yang dipetik langsung olehnya. Tapi bu Minah segan menegur. Miko sudah kewalahan memegang semua kantong belanjaan Aya. Tidak ketinggalan bu Minah dan Aya.
"Kakak dokter, ini masih mau belanja atau udahan?" Miko pura-pura bertanya berharap Aya peka.
"Kakak belum mengelilingi seisi pasar, kita jalan lagi yah." Jawab Aya tanpa rasa berdosa.
"Kakak Ipar, demi Tuhan, Lala udah capek. Ini belanjaan kakak ipar bisa gak muat di bagasi mobil." Protes Lala.
Aya menghentikan langkahnya, melihat satu-satu ke arah Miko, Lala dan bu Minah. Akhirnya Aya sadar, enam pasang tangan di depannya sudah kelebihan beban semuanya. Aya tersenyum kecut, betapa ia telah merepotkan dengan belanjaannya.
"Ya udah, kita ke mobil aja dulu bawa belanjaan ini, habis itu kita cari makan. Lapar, tadi kita belum sempat sarapan." Ucap Aya kemudian.
Akhirnya mereka berjalan ke tempat mobil terparkir. Setelah semua barang dimasukkan ke bagasi, Miko mengajak mereka mencari sarapan di tempat favoritnya yang tidak jauh dari pasar.
*****
Arga dan pak Toto masih berkeliling mengelilingi perkebunan teh di wilayah gunung Mas, tentu saja Arga tidak akan mengelilingi keseluruhannya, mengingat luas perkebunan milik keluarganya ada ratusan hektar, mereka juga memiliki pabrik teh sendiri di sana.
__ADS_1
Setelah lelah berkeliling, Arga putuskan pergi ke pabrik teh. Selama ini, pabrik tersebut dikelola oleh saudara jauh mereka yang cukup terpercaya. Ayah Hutama sendiri mempunyai perusahaan eksportir sayur dan buah organik. Dan lahan pertaniannya ada di Lembang, oleh karena itu ayah Hutama menyerahkan kepemimpinan perusahaan pengolahan tehnya kepada orang lain karena merasa kesulitan mengurus semuanya. Perusahaan ini adalah peninggalan opanya.
Arga yang diharap keluarganya melanjutkan perusahaan teh ini malah sibuk membangun perusahaannya sendiri. Namun maksud kedatangan Arga ke sini tentu saja ingin melihat secara dekat bagaimana tata kelolanya. Arga sadar, suatu saat nanti dia yang akan terjun langsung mengelola semuanya.
Tak terasa, temaram kini sudah berganti gelap. Suasana malam membuat denyut nadi kehidupan di kawasan Puncak ini tampak melemah. Yang terlihat hanya para penjaga Villa yang masih terus menjajakan penginapannya untuk mencari pelanggan.
Suasana begitu tenang, jauh dari kebisingan kota metropolitan yang memekik memekakkan telinga. Hanya suara jangkrik dan desau angin yang beraahut-sahutan memenuhi gendang telinga.
Gerimis mulai turun, angin darat bertiup kencang menggoyang pepohonan dan dedaunan teh yang terhampar luas. Suara angin berdesis membisik sayup-sayup di telinga. Udara dingin yang begitu menusuk membuat tubuh menggigil kedinginan.
Itulah yang dirasakan Arga saat ini yang berada di lautan dedaunan teh yang terhampar sejauh mata memandang. Ia masih sedang menunggu jemputan, di tengah perjalanan pulang ke Villa mobil yang mereka pakai mogok. Arga sangat tidak mengharapkan kejadian seperti ini.
Arga mulai kedinginan, bibirnya mulai terlihat pucat gemetaran, ia menggigil sampai terasa menusuk ke tulang. Tubuhnya yang hanya dilapisi kemeja tipis seperti hendak membeku. Tak jauh berbeda dengan pak Toto yang terus menyesap batang rokoknya demi mengusir rasa dingin.
Hujan deras kembali mengguyur. Sekitar tiga puluh menit menunggu, akhirnya Miko datang menjemput mereka. Beruntung bagi Arga, Miko sigap membawa sebuah selimut yang cukup tebal. Arga langsung membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut, namun itu tidak terlalu membantunya.
"Tok..tok..tok.."
"Mas...mas Arga!" Aya memanggilnya dari balik pintu kamar mandi. Arga merasa sudah kehabisan tenaga, persendiannya terasa tak mampu menopang tubuhnya, ia paksakan berjalan membuka pintu. Tubuh telanj*ngnya langsung menubruk tubuh Aya yang masih setia berdiri di depan pintu. Aya tidak siap menerima tubrukan tubuh Arga, ia terhuyung ke belakang lalu terjatuh dengan Arga yang berada di atasnya.
"Aduh.. mas apa-apaan sih, sakit tau." Keluh Aya gusar. Namun Arga hanya menggeleng lemah.
"Maaf!" Ucap Arga dengan suara dan bibir bergetar.
Aya baru menyadari sesuatu, tubuh Arga menggigil namun suhu tubuhnya sangat panas. Aya mendorong tubuh Arga agar bergeser dari atas tubuhnya, ia memeriksa tubuh dan jidat Arga...
"Sangat panas, irama jantungnya tidak nomal. Hipotermia!" Ucap Aya seperti berbicara pada dirinya sendiri. Aya mulai dilanda kepanikan, ia membantu Arga berdiri menuju tempat tidur kemudian menyelimutinya. Aya mengambil handuk lalu mengeringkan tubuh Arga. Setelah itu ia memakaikan pakaian, kaos kaki, penutup kepala dan mengalungkan kain lembut di lehernya.
Aya mematikan AC, membongkar lemari mencari-cari persediaan selimut lain, setelah ketemu kembali ia pakai menutupi tubuh Arga. Arga mulai mengigau, menahan langkah Aya yang ingin keluar mengambil wadah untuk mengompresnya.
__ADS_1
"Lala.. mas minta maaf! Mas sayang Lala. Mas janji bakal jagain Lala terus. Mas minta maaf, La." Racaunya gemetar.
"Lala!"
"Lala!"
"Aya, Aya..mas sayang kamu, mas sayang kamu, Ya!" Arga masih terus meracau. Aya terkesiap mendengar racauan Arga.
Ia kembali memeriksa denyut jantung Arga juga memantau pernafasannya. Aya meraih ponselnya meminta Lala segera datang ke kamarnya, setelah itu ia menelpon bu Minah menyiapkan minuman hangat untuk Arga.
Lala buru-buru menghampiri mereka, ia duduk di sisi Arga. Ia memijit-mijit lengan Arga.
"Jangan dipijit, La. Mas Arga kena hipotermia, gerakan kuat dan berlebihan bisa memicu henti jantung." Tegur Aya ikut duduk di sisi Arga. Ia melihat tubuh Arga mulai mengeluarkan bulir-bulir keringat, bibirnya sudah tidak sepucat tadi.
Lala menarik tangannya, ia bingung harus melakukan apa.
"Mas.. mas Arga. Ini Lala."
"Lala." Arga merespon menyebut nama Lala terbata-bata.
Bu Minah muncul dari balik pintu membawa secangkir minuman jahe panas. Aya mengambilnya lalu meminumkan sedikit demi sedikit dengan menggunakan sendok.
Pakaian Arga mulai basah karena keringat, tanpa ragu Aya kembali menggantinya dengan telaten. Arga yang kesadarannya sudah berangsur-angsur kembali pulih malah tegang karena pertemuan kulit di antara mereka.
Aya yang menyadari ketegangan Arga, memicingkan matanya tidak mengerti.
"Mas masih sakit?"
×××××
__ADS_1