
Pagi menyapa, mengganti malam yang ramai karena disirami hujan dari sejak sore hari. Aya memilih ke balkon kamarnya menikmati secangkir teh hijau ditemani singkong rebus yang masih hangat. Aya mengetatkan jaket yang dipakainya, hujan sisa semalam semakin menambah dinginnya udara puncak saat pagi hari. Matanya memandang jauh ke perkebunan teh yang masih diselimuti kabut.
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?
Mungkin ini yang dinamakan sepotong firdaus yang dititipkan Allah di salah satu titik di bumi ini. Udara segar yang menenangkan, pemandangan indah yang menyejukkan, suasana hening yang menentramkan jiwa, sungguh luar biasa ciptaan Allah.
Tak ada yang sia-sia dari apa yang telah diciptakan Allah di dunia ini. Aya benar-benar ingin meraup sebanyak-banyaknya kebahagiaan dan ketentraman yang ia peroleh di sini. Luar biasa perasaannya saat ini, perasaan ringan, lepas, bebas tanpa beban.
Ini sungguh melegakan.
*****
Aya dan bu Minah sedang sibuk di dapur, Aya membuat cup cake sementara bu Minah memasak untuk makan siang mereka. Aya merasa sedikit kesepian karena sebelumnya ada Alya dan Fira menemaninya, tapi tadi pagi-pagi sekali mereka pulang ke Jakarta setelah sehari sebelumnya Alif datang menjemput Alya.
Aya cukup terhibur dengan celoteh bu Minah yang menceritakan masa kecil Arga yang sempat beberapa kali dibawa orang tuanya liburan ke sini.
"Den Arga itu orangnya pendiam, Non. Mukanya datar kayak tripleks kata anak ibu. Dia paling tidak suka diganggu kalo lagi membaca, kalau sudah membaca, dia bisa lupa sekitarnya. Seperti orang punya dunianya sendiri gitu, non." Cerita bu Minah cukup membuat Aya penasaran untuk mendengar kelanjutannya. Tapi satu kalimat diantaranya tidak ia setujui. Arga pendiam? Sepertinya bu Minah salah, yang Aya lihat selama ini Arga selalu cerewet di depannya. Muka tripleks? Iya juga sih.
"Pernah sekali, non Lala sampai kecebur di kolam ikan tapi den Arga yang bersamanya sama sekali tidak menyadarinya saking seriusnya baca buku." Ucap bu Minah serius. Aya membulatkan matanya kaget.
"Jadi, Lala gimana bu?" Tanya Aya.
"Pak Hutama langsung nyebur pas dengar suara non Lala nangis, beruntung pak Hutama sigap, meskipun beliau mendengar suara sesuatu jatuh ke kolam, tapi beliau sama sekali tdk kefikiran kalo itu non Lala karena fikirnya di sana ada den Arga yang jaga. Tapi mendengar suara non Lala, pak Hutama segera mengambil non Lala dari kolam." Bu minah meletakkan pisau yang dipegangnya lalu membawa dirinya duduk di dekat Aya.
"Makanya, den Arga sayang banget sama non Lala. Den Arga saat itu merasa bersalah banget. Mereka hampir kehilangan Lala karena kelalaiannya. Den Arga sampai harus dibawa ke dokter karena berbulan-bulan dia hanya diam terus seperti orang ketakutan. Non Aya jangan bilang-bilang yah kalo ibu ada cerita ini ke non." Bu Minah baru menyadari kesalahan mulutnya yang menceritakan peristiwa itu padahal tak ada lagi yang berani membahas kejadian tersebut.
Aya cukup tercengang mengetahui kenyataan yang baru didengarnya saat ini. Ia tidak menyangka kalau Arga punya masa lalu yang sempat membuatnya trauma.
__ADS_1
Meskipun Lala baik-baik saja hingga detik ini, tapi Aya yakin, tekanan yang dilalui Arga pasti sangat besar, mengingat kesalahan ada pada dirinya. Membenci diri sendiri! Aya tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya ketika harus membenci diri sendiri.
Ia yang pernah membenci ayahnya saja setiap kali mengingatnya membuat dadanya sesak dan kepalanya sakit hingga terkadang sampai kehilangan kesadaran. Bagaimana dengan Arga?
Aya tidak bisa mengira-ngira perasaan Arga. Jika Arga selalu terlihat kuat saat ini, mungkin pengalaman itulah yang membuatnya kuat. Terkadang, pengalaman menyakitkan membuat seseorang menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
"Non, kuenya sepertinya udah mateng!" Seketika Aya tersadar dari lamunannya mendengar bu Minah memanggilnya mengingatkan cup cake yang masih dipanggangnya di dalam oven.
Dari aromanya saja, sepertinya hangus. Saat membuka pintu oven, asap sudah mengepul keluar... Aya menarik talamnya keluar..
"Yaaahhhh.. hangus bu!" Ujar Aya kecewa, wajahnya ia tekuk karena mendapati semua cup cake yang dibuatnya menghitam sampai ke pinggiran atas.
"Non melamunin apa sih?" Tanya bu minah geleng kepala.
"He he he.. gak ngelamunin apa-apa kok bu." Elak Aya yang membuat dahi bu Minah mengkerut tidak percaya. Masalahnya dari tadi ia panggil-panggil Aya tapi Ayanya tidak bergeming.
"Non Aya kangen Den Arga yah?" Tanya bu Minah menyelidik. "Kalo non kangen, suruh ke sini aja. Masak pengantin baru jauhan?" Imbuhnya lagi.
Laut tidak suka dibendung, begitupun dengan manusia. Apakah dirinya saat ini sedang membendung gairah Arga yang meletup-letup itu? Atau sebenarnya ia pun sedang membendung dirinya sendiri???
Aya meninggalkan dapur menuju ke meja makan, di sana makanan sudah tersaji. Mood Aya yang hancur karena cup cake-nya yang gosong, kini kembali bergairah demi melihat makanan khas laksa bogor buatan bu Minah. Tahu kuning dan telur rebus yang ditaburi serundeng kelapa dengan kuah kuningnya sangat pas dicuaca dingin seperti ini yang sedari kemarin sore hujan dan hingga siang ini masih diguyur gerimis tipis-tipis.
Aya tersenyum, menarik satu kursi untuknya.
"Temani aku makan yah, bu!" Ucapnya menahan bu Minah yang hendak meninggalkannya.
Bu minah pun menarik satu kursi untuknya namun hanya duduk tanpa mengambil makanan untuk dirinya.
__ADS_1
"Ibu gak makan?"
"Nanti saja sama bapak." Tolaknya halus. Aya tersenyum kikuk, merasa sedikit bersalah.
"Bapak itu gak bisa makan kalo gak ditemani ibu." Lanjutnya.
Aya mengernyit, "kalau ibu gak ada gimana?"
"Tetap makan, hanya saja terpaksa, hanya biar tetap ada tenaga. Makanya ibu sama bapak gak pernah pergi jauh kalau perginya tidak sama-sama. Kalau ibu keluar rumah, gak bisa lama-lama, kepikiran bapak terus." Jawab bu Minah tersenyum.
"Ibu sama bapak macam pengantin baru aja, kayak si Alya sama Alif gitu." Ucap Aya tersenyum.
"Mungkin karena udah terbiasa sama-sama dari sekian tahun, Non. Rasanya ada yang hilang kalau seharian gak lihat bapak." Ucap bu Minah penuh arti.
"Semoga ibu dan bapak panjang umur dan tetap selalu bahagia." Ucap Aya tulus yang langsung diamini bu Minah.
Fikiran Aya menerawang jauh, "apa ia nanti akan seperti ini juga dengan Arga saat tua nanti?" Aya menggeleng, menetralkan fikirannya yang sudah terlalu jauh memikirkan kehidupan rumah tangganya bersama Arga.
Samar-samar terdengar suara mobil masuk ke pekarangan villa. Aya dan bu Minah saling menatap sama-sama tidak tau siapa yang datang. Bu Minah beranjak ke depan, dan di sana sudah ada Lala yang menghambur masuk mencari keberadaan Aya.
"Kaka ipar! Kakak ipar mana, bu" Teriak Lala kemudian bertanya pada bu Minah yang ditemuinya.
"Ada, lagi makan. Ayo biar sekalian makan siang!" Bu Minah menggamit tangan Lala, ia begitu bahagia karena bisa melihat wajah ceria itu lagi setelah bertahun-tahun lamanya tidak pernah lagi menapakkan kakinya di sini.
"Kakak ipaaaarrrr." Aya berdiri menyambut Lala yang langsung memeluknya penuh kerinduan. Aya mengelus pundak Lala yang masih belum mau melepas pelukannya.
Namun, seketika Aya menegang. Matanya menangkap sosok yang begitu mengganggu fikirannya selama di sini berjalan mendekati mereka. Aya merasa gugup, tidak tau harus bagaimana bersikap.
__ADS_1
Beruntung Arga hanya langsung berlalu masuk ke kamar mandi dekat dapur. Aya bernafas lega, setidaknya ia punya sedikit kesempatan untuk menenangkan degup jantungnya.
×××××