Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Mendadak Ijab Kabul


__ADS_3

Hutama dan Andini juga ikut pamit pulang tidak lama setelah Bara keluar. Mereka hendak mempersiapkan beberapa hal sebelum prosesi ijab kabul ba'da isya nanti.


Meskipun acaranya dadakan dan mempelai perempuannya belum mereka kenal, tapi Andini ingin memberi mahar terbaik untuk menantunya itu. Ini adalah tradisi keluarganya menyambut orang baru yang akan masuk ke dalam keluarga besar mereka, terutama menantu perempuan.


Andini ingat betul bagaimana keluarga besar Hutama memuliakan dirinya sebagai perempuan. Bukan masalah besar kecilnya mahar, bukan juga tentang mempersulit atau mempermudah mahar, ini tentang kesungguhan dan nilai hidup yang dipegang. Apakah harta lebih dicintainya daripada wanitanya?


Lakukan semampunya, berikan apa yang bisa diberikan sebagai bentuk awal penghargaan tertinggi untuk perempuan yang akan dijadikan istri dan ibu dari anak-anaknya.


Kelak Andini ingin menunjukkan kepada menantunya itu bahwa niat mereka tulus menjadikannya anggota baru di dalam keluarganya meskipun pernikahan ini pernikahan yang tidak normal seperti pernikahan-pernikahan yang seharusnya. Pernikahan itu bukan mainan, ia adalah janji yang kuat yang mampu menggetarkan langit.


Sementara Arga yang tidak tau jika sebentar lagi status jomblo hampir permanennya akan segera berakhir beberapa jam ke depan masih tinggal menunggui pak Bintang yang mulai tertidur pulas. Ia mengisi waktunya dengan memeriksa beberapa berkas pekerjaannya melalui email.


Sebenarnya tadinya Arga berencana kembali ke kantor setelah urusan kedua orang tuanya dan pak Bintang selesai, namun semuanya diluar kendalinya. Pak Bintang tiba-tiba terkena serangan jantung yang membuatnya harus menunda beberapa urusannya di kantor.


Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib. Pak Bintang meminta Arga membantunya mengambil wudhu dan akan ikut sholat berjamaah. Karena kondisinya yang masih lemah, Arga meminta pak Bintang untuk bertayammum dan sholatnya nanti cukup dengan berbaring saja.


Seusiai sholat, pak Bintang mengajak Arga berbicara serius tentang beberapa hal, terutama berbagai hal yang menyangkut masalah perusahaannya.


"Apa kamu tidak penasaran ingin melihat putri bapak?" Tanya pak Bintang pada Arga.


Arga tersenyum canggung, "kalau dibilang penasaran, tentu saja saya penasaran, pak".

__ADS_1


"Mulai sekarang panggil bapak, Ayah". Arga hanya mengangguki permintaan tersebut.


"Ayah minta maaf, untuk saat ini ayah belum bisa mempertemukan kalian. Dia membenci ayah, dia tidak akan mau menemui ayah dan tentu saja dia tidak akan mau menikah dengan siapapun, siapapun itu." Pak Bintang tak bisa menyembunyikan raut kesedihan yang mendalam di wajahnya.


"Dia trauma dengan pernikahan, dia takut menjalin hubungan yang lebih jauh dengan laki-laki. Dia fikir semua laki-laki kejam seperti ayahnya ini." Pak Bintang menghela nafasnya.


"Karena itulah ayah memutuskan menikahkan kalian, dia tidak tau rencana ini. Bahkan mungkin dia tidak pernah tau apakah ayahnya masih hidup atau tidak. Dia tidak tau dan tidak pernah mau tau." Imbuhnya.


"Ini sama saja ayah menjebaknya dalam pernikahan ini." Arga tidak tahan lagi mengeluarkan pendapatnya.


Pak Bintang tersenyum licik. "Betul sekali. Orang tua pengecut ini tidak akan pernah mampu menampakkan wajah padanya, apalagi memintanya menikah. Ayahlah sumber traumanya. Tapi jika ayah tidak bertindak, mungkin sampai mati pun dia tidak akan pernah menikah." jelasnya.


"Kenapa jadi begini, apakah aku sudah salah mengambil keputusan?" Batin Arga.


"Kenapa? Apa dengan modal wajah tampan dan otak cerdasmu itu kamu merasa tidak percaya diri bisa menaklukkannya?" Tanya pak Bintang menyentil ego Arga.


*****


Tidak lama setelah sholat Isya, terdengar ketukan pintu dan terlihat Bara masuk bersama seorang laki-laki berpenampilan seperti ustadz. Disusul oleh ayah dan ibu Arga yang membawa serta Alya dan kedua orang tuanya ikut ke Rumah Sakit dan juga dokter yang merawat pak Bintang selama ini.


"Bagaimana Bara, apa dokumen-dokumennya sudah siap?" Tatanya Hutama pada Bara.

__ADS_1


"Sudah pak, penghulunya juga sudah tiba."


Arga tercengang. "Apa-apaan ini, mengapa secepat ini?" Batin Arga.


Hutama memandang putranya yang terlihat pucat. "Baik, penghulu sudah siap, dokumen-dokumennya sudah siap, mahar siap dan saksi-saksi siap. Mari kita mulai ijab kabulnya segera".


Arga berlalu ke kamar mandi mengambil wudhu, ia berusaha menenangkan dirinya. Bagaimana pun ini adalah momen sakral dan akan menjadi momen sekali seumur hidupnya. Meskipun dalam pelaksanaannya ada yang kurang, namun Arga ingin prosesi ini mendapatkan keberkahan. Ia meminta waktu untuk sholat sunnah 2 rakaat terlebih dahulu.


Semua yang hadir di ruangan itu kelihatan cukup tegang. Mereka tau bahwa ini pernikahan sepihak yang dilakukan oleh sang Ayah perempuan dengan Arga sebagai mempelai laki-lakinya.


Kini Arga dan pak Bintang mengambil posisi duduk saling berhadapan dan berjabat tangan. Arga menyambut ungkapan pak Bintang dengan lantang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Ayana Khaira Bahari binti Bintang Bahari dengan mas kawin tersebut dibayar tunai karena Allah."


Sah


Sah


Sah


×××××

__ADS_1


__ADS_2