Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Kedatangan Tamu


__ADS_3

❝Dunia ini ibarat bayangan. Kalau kau berusaha menangkapnya, ia akan lari. Tapi kalau kau membelakanginya, ia tak punya pilihan selain mengikutimu.❞


- Ibnu Qayyim Al Jauziyyah -


*****


ㅤㅤ


Hari ini Bara dan Fira menjemput kedatangan Arga dan Aya di Bandara setelah mereka bulan madu dadakan selama seminggu di Korea. Ini sebuah kabar gembira untuk keluarga besar Hutama. Karenanya ibu Andini telah menyiapkan acara penyambutan kecil-kecilan untuk Arga dan Aya di rumah.


Saat naik ke atas mobil, Aya sudah merasa ada hawa berbeda melihat Bara dan Fira menjemputnya, biasanya Fira mana mau ikut Bara jika itu bukan urusan kantor dan juga karena terpaksa. Namun melihat wajah mereka seolah biasa saja dan tidak menunjukkan aroma permusuhan, ini cukup mengherankan buat Aya. Tapi karena lelah, Aya memilih diam dan melanjutkan tidurnya di pundak Arga.


"Bu boss, kalo mau mesra-mesraan, nanti aja kalo udah nyampe rumah. Kasihan gue dong yang masih jomblo!" Ujar Fira seketika merasa gerah melihat dari spion depan kelakuan Aya yang terus ngedusel masuk ke dalam pelukan Arga.


"Iri bilang!" Kesal Aya.


"Memangnya kamu masih jomblo, Fir? Yang minggu depan mau nikah itu siapa?" Tanya Arga sok polos. Sebelumnya Bara memang sudah kasi tau Arga mengenai rencananya bersama Fira.


Wajah Fira memerah, ia belum siap ketahuan Aya. Pasti bakal kena bully sampai tujuh turunan sm Aya dan Alya kalau mereka tau.


"Apa..apa mas? Siapa yang mau nikah?" Tanya Aya penasaran, ia sekarang lupa dengan rasa lelahnya.


"Tanya saja ke dua orang yang ada di depan kamu?" Jawab Arga santai.


"Maksudnya?" Aya mulai menemukan benang merahnya. "Maksudnya Fira sama si kanebo kering gitu?"


"Sayang!" Arga tidak senang mendengar Aya menyebut Bara kanebo kering.


"Eh, maaf. Maaf mas Bara. Maksudnya mas Bara sama Fira mau nikah?" Tanya Aya melihat ke Bara dan Fira bergantian.


"Iya nona, kami mohon doa restunya." Ucap Bara menjawab pertanyaan Aya karena Fira sekarang berubah jadi kalem.


"Wah wah wah.. emang kalo jodoh yah, ha ha ha." Aya tertawa bahagia. "Makanya Fir, benci itu secukupnya saja, soalnya jarak benci sama cinta itu tipis banget, lebih tipis dari bulu hidung mas Bara." Aya kembali tertawa. Bara refleks ngupil mengecek bulu-bulu hidungnya sementara Fira sedari tadi sudah tidak bisa berkutik. Ia tau bakal kena bully terus sampai waktu yang belum ditentukan. Ia sudah ikhlas.


"Udah deh sayang, katanya tadi capek banget!" Arga berusaha mengalihkan Aya, kasihan melihat Fira dan Bara sudah tidak nyaman diledekin Aya terus.


Akhirnya sampai juga di rumah.


Saat Arga membuka pintu rumah untuk Aya, tiba-tiba suara gaduh menyambut mereka.


"Welcome home semuanya!!!" Sambut Lala, Alya, ibu Andini, ayah Hutama dan ada Alif juga.

__ADS_1


Mereka kemudian saling menyapa dengan penuh kehangatan. Aya sangat terharu mendapatkan perhatian begitu besar dari sahabat dan keluarga suaminya.


"Terima kasih." Ucap Aya dengan seulas senyum namun matanya tidak bisa menahan lelehan air mata yang terus mengucur di pipinya.


"You deserve it, beb." Ucap Alya memeluk erat Aya.


"Udahan acara meweknya, ini ibu ada masak apa nih? Lapar!" Ucap Arga sambil menuju ke ruang makan.


Akhirnya semua mengikuti Arga ke sana dan meja sudah dipenuhi dengan berbagai jenis makanan yang sudah tertata rapi.


"Wow.. makan besar!" Antusias Arga bahagia.


"Ayo nak Bara, Fira. Jangan sungkan!" Panggil ayah Hutama yang melihat Bara dan Fira paling belakangan masuk ke ruang makan.


"Iya, jangan malu-malu. Anggap saja di rumah sendiri." Ujar ibu Andini menambahkan.


"Iya, om..tante!" Jawab Bara sementara Fira hanya mengangguk dengan senyum canggung di wajahnya.


"Wah, rajin-rajin saja honeymoon-nya mas bro, biar kita makan-makan enak terus seperti ini." Ujar Alif semangat mengambil makanan ke piringnya.


"Asal lo siap aja perut lo duluan buncit dibanding perut Alya." Semua orang tertawa hangat.


"Wah..bentar lagi Lala punya dua ponakan lucu. Asyikkkkk!" Lala begitu bahagia mendengar perut buncit di sebut.


*****


Arga dan Aya segera pamit ke kamar mereka. Mereka masih merasa sedikit lelah dan hendak istirahat. Alya dan Alif juga tidak bisa lama-lama karena kondisi Alya yang masih ngidam.


Begitupun dengan Bara dan Fira, mereka juga segera pamit pulang karena masih banyak yang harus mereka urus untuk acara pernikahannya minggu depan. Sebenarnya mereka tidak akan mengadakan acara besar, yang diundang tidak banyak, namun acaranya tetap di gelar di Hotel karena permintaan orang tua Fira yang sedikit agak rumit ditaklukkan Bara.


"Kenapa diam?" Tanya Bara saat mereka sudah di perjalanan pulang.


"Enggak kok." Jawab Fira singkat.


"Aku perhatiin dari tadi kamu diam terus. Apa saya melakukan kesalahan?"


"Enggak kok mas!"


"Apa? Tadi kamu bilang apa?" Tanya Bara yang merasa bahagia Fira mengubah panggilannya padanya.


"Enggak."

__ADS_1


"Bukan, tadi kamu ngomong apa yang terakhir?"


"Enggak kok.." Fira menjeda kalimatnya, ia baru menyadari keseleo lidah tadi. "Mas."


"Kedepannya panggil aku Mas Bara, aku suka mendengarnya!" Ucap Bara dengan sedikit nada perintah.


"Iya, iya mas Bara kanebo kering." Ucap Fira sedikit bercanda.


Bara sudah tidak mau lagi menanggapi gurauan Fira, terserah dia mau memanggilnya kanebo kering, yang penting dia senang Fira sudah tidak canggung lagi padanya dan juga sudah mulai menunjukkan perhatiannya. Bagi Bara, itu sudah cukup. Mengingat caranya memaksa Fira menikah dengannya, dia tidak mau membuat Fira tidak nyaman dengannya.


*****


Setelah membersihkan badan, Aya segera menghambur ke atas kasur.


"Kangennyaaaa... baru seminggu ditinggal udah kangen aja sama kamar ini." Ucap Aya ngedusel-dusel penciumannya di kasur dan di bantal.


"Kalau sama yang punya kamar ini, kangen gak?" Tanya Arga menghentikan kegiatannya yang tadi menyempatkan diri mengecek email di meja kerjanya.


"Enggak!" Jawab Aya cuek.


Arga merangkak naik ke atas tempat tidur lalu menindih tubuh Aya.


"Yakin nih gak kangen sama aku? Ya, udah 3 hari ini mas gak dikasih suplemen." Tanya Arga sambil mengecup ringan telinga Aya.


Tubuh Aya meremang, masih saja tubuhnya merespon sentuhan Arga dengan gelenyar halus berdesir dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.


"Ih.. mas bau. Mandi sana!"


"Mandiin!" Ucap Arga manja, namun tangannya sudah travelling kemana-mana membuat Aya berusaha keras agar mulutnya tidak mengeluarkan suara desahan.


"Mandi sendiri sana, udah gede gini kok masih minta dimandiin? Malu dikit napa."


"Ngapain malu, Ya? Semua hal yang paling eksklusif dan tersembunyi sudah kamu lihat dan eksplore semuanya loh." Ucap Arga dengan suara yang sudah mengeluarkan hawa panas.


"Mas.."


"Hmmm.."


"Mas.. aku lagi ada tamu bulanan."


Seketika tubuh Arga lemas.

__ADS_1


×××××


__ADS_2