
Aya terbangun dari tidurnya, jam di poselnya menunjukkan pukul 3 dini hari. Ia kebelet pipis dan juga kerongkongannya terasa kering, haus. Setelah menyelesaikan hajatnya, ia melangkah turun ke dapur. Ia mengambil sebuah gelas lalu mengisinya air dari dispenser. Ia menarik sebuah kursi lalu duduk dan meminum airnya sampai tandas.
Kondisi ruangan tamu yang minim pencahayaan membuat Aya tidak menyadari keberadaan Arga di sana. Arga sengaja bangun lebih awal untuk menyelesaikan pekerjaannya, saat ia mendengar bunyi air ke dalam gelas dari arah dapur. Ia pikir itu Lala.
"La, sekalian dong buat kakak. Kopi juga yah, please! Kalau ada makanan, sekalian yah. Kakak lapar, sejak kemarin siang belum makan. Bikin mie telur juga gak papa." Pinta Arga sedikit berteriak dari ruang tamu.
Deg..
Aya sangat kaget. Ia sama sekali tidak menyangka ada Arga di situ. Lagi-lagi dia harus berolahraga jantung sepagi ini.
"Bagaimana ini, apa langsung kabur aja kali yah?" Tanya Aya dalam hati. "Tapi kasihan juga anak orang kelaparan." Sisi malaikatnya yang dominan menahannya untuk tetap tinggal di dapur menyiapkan makanan untuk Arga.
Akhirnya Aya mengambil dua buah gelas baru lalu mengisinya dengan air minum satunya lagi buat bikin kopi. Masih ada sisa masakannya tadi siang, tinggal dipanaskan dalam microwave. 5 menit kemudian makanannya siap. "Selesai!"
Aya mengatur nafasnya, menguatkan dirinya bertemu Arga. Tidak mungkin ia terus menghindar apalagi tinggal di bawah satu atap begini. Rencananya Aya akan meletakkan nampan berisi makanan, air minum dan kopi ini di meja ruang tamu lalu ia akan bergegas naik ke kamar.
Dengan langkah pasti, ia membawa nampan itu menuju tempat Arga berada. Aya sangat gugup. Tanpa bersuara, ia meletakkan nampan itu di atas meja.
"Terima kasih adek cantik." ucap Arga tersenyum lebar sembari mengangkat wajahnya dari layar laptop.
Kaget! Iya.
Aya buru-buru ingin kabur, tapi gerakan tangan Arga lebih cepat meraih tangan Aya.
"Tunggu, jangan pergi dulu, aku mau bicara."
__ADS_1
"Lepas!" Aya menghempaskan tangan Arga tapi tangan Arga terlalu kuat memegangnya.
Dengan posisi tubuh mereka yang hampir menempel akibat tarikan Arga tadi, Irama jantung keduanya bertalu-talu. Seharusnya mereka bisa saling mendengar detak jantung mereka.
"Duduk dulu baru aku lepas." Bujuk Arga.
Aya menyerah, ia mengikuti perintah Arga untuk duduk di sofa. Arga melepas genggamannya lalu mengambil tempat duduk di sisi Aya.
"Cepat ngomong, aku masih ngantuk."
"Aku minta maaf." ucap Arga tulus.
"Iya, diterima." Ucap Aya.
"Sama-sama. Udah ngomongnya?" Tanya Aya datar.
"Aku.. aku kesini untuk urusan kerja bukan menguntit kamu." Ingin rasanya Arga menelan lidahnya bulat-bulat karena ucapan bodohnya itu.
Alya menatapnya malas. Dia mau datang atau tidak, Aya juga tidak peduli.
"Ma..maksud aku, karena kita sudah terlanjur ketemu di sini jadi aku benar-benar minta maaf. Mungkin kamu berfikir aku laki-laki brengsek yang lari dari tanggung jawab. Tapi waktu itu aku memang harus kembali ke Australia." Arga menjelaskan alasannya tidak langsung meminta maaf setelah kejadian itu.
"Tante Andini sudah kasi aku jadi gak usah dibahas lagi."
"Baik, sebagai bentuk permintaan maafku, aku ingin ajak kamu jalan-jalan klo urusanku nanti sudah selesai. Kalo kamu menolak aku anggap kamu belum memaafkan aku." Arga bernafas lega karena berhasil menyampaikan keinginannya. Namun ia juga was-was takut Aya menolak.
__ADS_1
"Itu.. klo itu.. nanti.. nanti kita lihat." Ucap Aya terbata-bata. Jelas dia sangat gugup saat ini.
"Aya, kamu sudah gak marah kan sama aku?" Arga mencoba mencari bahan pembicaraan.
Alya menghela nafasnya. "Gak kok, mas. Hanya saja aku masih tidak nyaman klo ketemu sama mas. Kejadian-kejadian itu benar-benar memalukan." Ucap Aya sambil menunduk, tangannya meremas-remas ujung piyama tidurnya.
Ingin rasanya Arga berteriak hore, Aya memanggilnya "MAS". Itu terdengar sangat indah.
"Ya udah, kita nikah aja klo gitu" ucap Arga santai.
Mata Aya melotot, "mas udah gila ya?"
"Iya, mas udah gila karena kamu." Arga menatap Aya penuh arti.
"Apaan sih, mas GJ banget." Aya segera berdiri setengah berlari naik ke kamarnya.
"Nanti malam aku jemput kamu." Teriak Arga. Aya sudah tidak peduli lagi dengan teriakan Arga.
Aya menutup pintu kamarnya. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu dengan memegang dadanya. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus, jantungnya seperti hendak melompat dari tempatnya. Aya tidak mengerti, setiap kali bertemu Arga, dia selalu dibuat jantungan olehnya. Entah perasaan apa, tapi yang dia tau, ini pertama kalinya ia merasakan perasaan seperti itu. Hanya pada Arga. Ada debar-debar halus menyerangnya saat mendengar nama Arga disebut. Seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya setiap kali Arga menghodanya.
Arga pun tak kalah gugupnya dengan Aya, hanya saja, sebagai lelaki, gengsi dong kalau sampai ketahuan Aya. Saat ini pun dia sedang memegang dadanya, menikmati debarannya. Arga sudah membulatkan tekad untuk mendekati Alya secara intens, ia kepikiran kata-kata Lala, jangan sampai Aya kecantol laki-laki lain, bisa runtuh dunia Arga kalau sampai itu kejadian.
Arga bergidik ngeri. Tidak boleh, itu tidak boleh terjadi. Aya adalah istrinya, selamanya akan seperti itu.
×××××
__ADS_1