Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Kembali ke Rutinitas


__ADS_3

Hari ini Aya mulai masuk bekerja. Ia tidak sengaja ketemu Alya di parkiran. Setelah memarkirkan mobilnya, ia berjalan mendekati Alya yang menunggunya untuk berjalan bersama masuk ke gedung Rumah Sakit.


"Lo sm mas Gagah abis dari mana sih? Dicariin emaknya tau." Cecar Alya.


"Assalamu'alaikum dulu kek," protes Aya.


"Assalamu'alaikum, kakak ipar cantik," balas Alya menggoda Aya.


"Lo ngomong apaan sih, Al?"


"Salamnya dijawab dulu, kakak ipar," ucap Alya dengan penuh penekanan pada kata "kakak ipar".


"Wa'alaikum salam warahmatullaahi wabarakatuh, adik ipar! Puas?"


"Ha ha ha" Alya tertawa memegang perutnya merasa puas berhasil mengerjai Aya sepagi ini.


Karena penasaran, Alya malah ikut Aya ke ruangannya, padahal mereka beda gedung.


Sesampainya di ruangan Aya, Alya duduk di kursi depan meja kerja Aya. "Lo utang penjelasan ke gue. Kalian kemana setelah dari Bandara?"


"Ke apartemen lah, mau kemana lagi coba?" Jawabnya santai.


"Terus, kenapa mas Gagah gak ada kabarnya, elo juga?" Alya masih belum puas dengan jawaban Aya.

__ADS_1


Aya memperbaiki posisi duduknya, "khhmmm.. jadi gini. Semalam kan nyampe apartemen udah larut banget tuh. Mas Arga udah ngantuk banget juga, udah gak kuat buat nyetir pulang ke rumahnya. Akhirnya dia nginap di apartemen." Jelasnya.


Alya melongo, ini sungguh tidak masuk akal, tidak mungkin seorang Ayana Khaira Bahari menyelundupkan seorang pria dewasa di apartemennya. "haaa.. serius?"


"Ih..dibilangin gak percaya," kesal Aya.


"Gak, maksudnya kalian tidur bareng gitu?" Tanya Alya ragu.


"Astghfirullah.. gak mungkin lah, Al. Emang gue cewek apaan? Mas Arga memang tidur di apartemenku, tapi gue tidurnya di Unit Fira." Alya akhirnya mengangguk mengerti, dia juga cukup mengenal dekat Fira tetangga unit Aya itu. Biasanya kalau Aya belum pulang kerja dan Alya main ke apartemennya, kalau Fira ada, Alya akan memilih menunggu Aya di unit Fira.


"Ughhh.. kirain kalian bobo-bobo enak, fikiranku udah travelling kemana-mana tadi," Alya nyengir merasa bersalah dengan isi otak mesumnya.


"Memang lah yah, orang klo udah nikah jadinya mesum semua. Apa-apa dihubungkan ke itu." Aya menggeleng.


"Semua akan mesum pada waktunya, Ya. Makanya nikah dulu biar tau rasanya bagaimana."


Bukan Alya namanya kalau peduli dengan kemarahan Aya saat ini. Aya tidak akan pernah benar-benar marah padanya. Paling itu hanya gertak sambal tanpa cabe dari Aya karena sudah tidak tahan digdain Alya terus. Apalagi masalah omongin pernikahan. Dan memang Alya selalu sengaja membahas kata nikah dengan Aya, bukan untuk apa, tapi itu adalah bagian dari terapi terselubung yang dilakukannya untuk Aya.


Sama seperti usahanya menjodoh-jodohkan Aya dengan Arga, itu juga adalah bagian dari usahanya membiasakan Aya mendengar kata nikah dan nama laki-laki yang berpotensi untuk dia jadikan suami.


Dulu, saat masih berpacaran dengan Alif. Hampir setiap kali Alif mengajaknya jalan-jalan atau makan di luar, Aya pasti di bawanya serta. Selain karena tidak ingin terlalu sering berduaan dengan Alif, itu juga adalah salah satu bagian dari usahanya mengakrabkan Aya dengan seorang laki-laki lain.


Dan sepertinya itu cukup berhasil sejauh ini. Bersama Alif, Aya tidak merasa canggung bercanda dengannya. Tapi itu kalau ada Alya di sana. Awal-awal kebersamaan mereka dulu, pernah suatu kali Alya sengaja meninggalkan mereka berdua ke toilet, menurut informasi dari Alif, Aya tiba-tiba jadi sedikit kaku dan pendiam. Namun lama kelamaan, Aya sudah bisa menghilangkan kecanggungannya meskipun itu bukan dengan Alif.

__ADS_1


*****


Hari ini Arga akan berkantor di perusahaan ayah mertuanya, Bintang Bahari. Meeting tentang hasil pertemuannya dengan pihak Geoje Shipyard sudah menantinya untuk disampaikan kepada para Direksi perusahaan.


Sebelum meeting dimulai, Arga menyempatkan diri ke ruang kerja ayah mertuanya. Di sana ada ayah mertuanya beserta asistennya Bara sudah menunggunya. Arga menyalami dua tangan mertuanya, lalu mereka memilih duduk di sofa agar lebih santai.


"Bagaimana kesehatan Ayah?" Tanya Arga membuka percakapan.


"Alhamdulillah, nak. Ayah merasa baik-baik saja." Jawabnya dengan seulas senyum ikut di bibirnya. "Bagaimana dengan pekerjaan kamu?" Tanyanya kemudian.


"Alhamdulillah, yah. Sejauh ini semuanya berjalan lancar. Termasuk urusan mendekati putri bapak." jawab Arga sedikit bergurau.


Pak Bintang dan Bara tersenyum lebar mendengar gurauan Arga.


"Mantap! Pepet terus, bro. Jangan kasi kendor." kata Bara menyemangati Arga.


Mereka bertiga tertawa, pak Bintang berkali-kali menggelengkan kepalanya mendengar gurauan Arga dan Bara.


Terdengar ketukan pintu, lalu muncul sekertaris pak Bintang dari balik pintu. "Pak, 10 menit lagi meeting-nya dimulai."


"Baik, sebentar lagi kami ke ruang meeting. Oh yah, Fira.. tolong kamu antarkan pak Arga ke sana terlebih dahulu, nanti bapak menyusul bersama Bara." Fira menggeser sedikit tubuhnya menjauh dari pintu mempersilahkan Arga keluar dari ruangan pak Bintang menuju ke ruang meeting.


Setelah memaparkan hasil pertemuannya dengan pihak Geoje kepada pihak direksi perusahaan milik mertuanya itu, Arga bergegas keluar karena dia juga harus datang ke perusahaannya sendiri. Ke depannya, mungkin dia akan berkantor di perusahaan ayah mertuanya saat pagi hari, dan setelah makan siang akan berkantor di perusahaannya sendiri. Dan sepertinya dia juga butuh dua asisten pribadi.Satu di Perusahaannya sendiri dan satunya lagi di perusahaan mertuanya.

__ADS_1


Repot memang, tapi dia adalah orang yang sangat menjunjung profesionalitas dalam bekerja.


×××××


__ADS_2