
Arga mengambil kursi di depan Aya. Mereka kini duduk berhadap-hadapan.
"Ada beberapa hal yang ingin mas sampaikan ke kamu, tapi sebelumnya mas minta ke kamu, apapun yang ada di fikiran kamu saat ini, mas mohon, jangan pernah minta cerai sama mas, karena sampai kapan pun dan apa pun yang terjadi, mas tidak akan pernah menceraikan kamu."
Aya tertunduk, ia tidak berani menatap wajah Arga apalagi menyela kalimat Arga.
"Yang pertama yang harus kamu tau, mas menerima pernikahan kita sejak dari awal meskipun waktu itu mas belum tau mas menikah sama siapa, tapi mas melakukannya karena mas memang mau melakukannya. Mas bisa saja menolak saat itu, tapi entah kenapa ada dorongan kuat dari lubuk hati mas untuk menerimanya saat itu juga. Mungkin awalnya ada sedikit perasaan terpaksa, tapi saat itu mas kembali berfikir, mungkin inilah cara terbaik dari Allah memilihkan jodoh untuk mas. Dan mas sangat bahagia saat Alya bilang bahwa itu adalah kamu. Gadis yang tempo hari merawat kakiku dengan telaten." Alya mengangkat wajahnya menatap ke dalam manik mata Arga. Ia bisa lihat keteguhan yang sangat meyakinkan di sana.
"Yang kedua, mas menikah niatnya untuk beribadah karena Allah, mas mau menjaga diri dari perbuatan zina, mas ingin mendapatkan teman untuk menua bersama. Mas tidak main-main dengan pernikahan kita, tidak pernah sekalipun terlintas di fikiran mas untuk meninggalkan kamu atau membiarkan kamu pergi. Tidak, tidak sama sekali! Jadi, seperti yang mas bilang di awal tadi, jangan pernah berfikir untuk cerai dari mas karena itu tidak akan mungkin terjadi." Arga diam sejenak, menjeda kalimatnya dengan memandang wajah Aya yang meskipun pandangannya tertunduk namun ia bisa melihat matanya mulai mengeluarkan cairan bening di sana.
Arga menyeret sedikit kursinya ke depan agar posisinya lebih dekat dengan Aya. Ia mengambil kedua tangan Aya lalu menggenggamnya. Aya mengangkat pandangannya menatap Arga. Air matanya semakin tak terbendung. Arga menyekanya dengan jempolnya secara bergantian.
"Satu lagi yang harus kamu tau... dengarkan baik-baik karena kata-kata ini belum pernah mas ucapkan kepada siapapun dan mungkin ke depannya kamu akan jarang-jarang mendengarnya.." Arga menatap dalam ke mata Aya, Aya pun membalas tatapan Arga.
"I LOVE YOU, aku sayang kamu Ayana Khaira Bahari Binti Bintang Bahari." Ucap Arga penuh keyakinan.
Deghhh... jantung Aya berdetak kencang, darahnya berdesir dari ujung kaki hingga kepala, ia membuang pandangannya ke arah lain. Wajahnya sudah memerah, entah kenapa ia merasa malu saat ini, padahal yang seharusnya merasa malu sekarang adalah Arga karena dia yang terlebih dahulu mengungkapkan perasaannya.
Arga tersenyum melihat reaksi Aya yang nampak malu-malu.
"By the way, mas gak terima penolakan. Dan karena kamu diam jadi mas anggap kamu terima cinta mas." Ucap Arga menggoda Aya.
"Gak bisa gitu dong, mas!" Protes Aya keras.
"Mas kan udah bilang, mas gak menerima penolakan, itu artinya kamu harus terima cinta mas. Berarti sekarang kita udah jadian." Seloroh Arga cuek.
"Mana ada jadian caranya seperti ini? Lagian aku gak pernah bilang kok klo aku cinta sama mas." Ucap Aya cemberut.
__ADS_1
"Lah.. itu barusan Aya bilang cinta sama mas?"
"Arrrrggghhhh.. ngomong sama mas gini amat yah, pusing tau."
"Udah, jangan cemberut lagi dong. Masa belum semenit jadian udah merajuk?"
Demi apapun di dunia ini, Arga sangat menjengkelkan. Aya berdiri hendak masuk ke kamar, matahari mulai nampak bersinar cerah pagi ini.
"Tunggu dulu, mas belum selesai ngomong!" Arga menarik tangan Aya agar tidak meninggalkannya.
"Mau ngomong apalagi sih mas, lagian ini sudah jam berapa? Mas gak kerja?" Aya sudah malas mendengar bualan tak bermutu dari Arga.
"Nanti aja kerjanya... Mas hanya mau bilang, kalau kedepannya mas melakukan kesalahan atau ada perbuatan mas yang membuat kamu tidak nyaman, aku harap kamu tidak diam saja. Tegur mas, bilang apa yang kamu tidak suka dari mas, jangan dipendam sendiri kalau ada masalahnya. Mas mau kamu bisa lebih terbuka sama mas. Sekarang kamu sudah tidak sendiri lagi, di sini ada aku suami kamu, ada ayah dan ibu yang akan selalu support kamu. Jangan merasa asing di sini, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, selama itu tidak keluar dari koridor agama, mas akan terus dukung kamu. Oke!" Ucap Arga panjang lebar membuat Aya lagi-lagi hanya tertunduk kehilangan kata.
Aya merasa kecil hati, Arga begitu baik padanya, pengertian, sementara dirinya masih tidak bisa memberikan apa yang seharusnya ia berikan kepada Arga.
Aya mengikuti Arga yang menarik tangannya masuk kamar menuju meja kerjanya. Arga mendudukkan Aya di kursi lalu Arga membuka laci meja yang paling besar.
Arga mengeluarkan sebuah bundel yang cukup besar kemudian ia serahkan ke Aya.
"Ini adalah surat-surat berharga peninggalan ayah kamu, ini beliau serahkan ke mas beberapa hari setelah aku menikahi kamu."
Aya membuka dan melihat sekilas lembaran demi lembaran di dalam bundel tersebut.
"Aku gak begitu mengerti mas, ini apa saja?" Aya seperti tidak terlalu tertarik melihatnya.
"Kamu yah, untung mas cinta sama kamu, kalau tidak, mas bawa lari saja semua ini buat diri mas sendiri." Keluh Arga.
__ADS_1
"Ambil saja, aku gak peduli."
"Aya..Aya.. mas tau kamu perempuan mandiri, tapi bagaimanapun semua ini adalah milik kamu. Hak kamu sepenuhnya." Arga menggeleng tak percaya ada perempuan yang tidak tertarik dengan harta kekayaan.
"Nah.. ada lagi." Arga mengambil sebuah kotak masih dari laci yang sama.
"Ini semua adalah kartu-kartu ajaib peninggalan ayah kamu. Dan ini," Adrga mengambil dompetnya di atas meja. Ini kartu-kartu dari aku. Yang satu ini adalah semua tabungan aku, yang satu lagi untuk nafkah kamu. Sekarang semua milik kamu." Ucap Arga sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Kartu sebanyak ini, bagaimana cara menghabiskannya?" Tanya Aya polos. Sementara Arga hanya mengedikkan bahunya.
Aya meletakkan semua kartu-kartu ajaib yang diberikan Arga tadi di atas meja.
"Ini terlalu banyak mas, aku gak bisa terima." Ucap Aya menyesal.
"No, ini semua hak kamu. Ini bukan pemberian, tapi semua ini memang milik kamu." Arga tidak menerima penolakan.
Aya mendesah pelan, ia tidak bisa lagi membuat alasan untuk menolak. Sudahlah, Aya tidak ingin berdebat dengan Arga. Nanti jatuh-jatuhnya malah mutar kemana-mana kalau ia menanggapinya lagi.
"Ya udah.. terserah mas saja." Ucap Aya pasrah.
"Siniin tangan kamu." Perintah Arga. Aya menurut memberikan dua tangannya.
"Ini.." Arga mengeluarkan cincin dari laci lainnya. "Ini cincin kawin kita." Arga meraih jari manis Aya dan memasangkan cincinnya. Arga tersenyum mengelus-elus cincin yang terpasang manis di jari Aya tersebut.
"Cantik, secantik kamu." Imbuhnya.
×××××
__ADS_1