Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
I Miss You Like Crazy


__ADS_3

Arga berjalan cepat ke kamar mandi dekat dapur. Ekor matanya bisa melihat wajah tegang Aya di sana, namun Arga lebih tegang saat ini. Ia takut diusir, takut ditolak Aya. Ia tidak siap dengan segala bentuk penolakan Aya.


Berkali-kali Arga membasuh wajahnya dengan air yang cukup terasa dingin di tangannya, namun tidak bisa meredakan rasa panas yang dirasakannya pada wajahnya. Ia memandang wajahnya dari pantulan kaca di depannya. Air mukanya belum sepenuhnya normal, di sana masih tersisa raut ketegangan.


Setelah merasa tenang, Arga membuka pintu kamar mandi dan berjalan mendekati meja makan, ia mengambil tempat duduk di sisi bu Minah, tepat di depan Aya, namun dipisahkan oleh meja makan. Arga melempar senyumnya kepada Aya saat Aya melihat ke arahnya. Aya membalasnya dengan senyum canggung lalu memutus kontak mata mereka dengan berdiri mengisi mangkuk untuk Arga.


Tak ada yang berniat membuka suara, Lala serius melahap makanannya karena memang ia merasa lapar. Bu Minah pun hanya diam-diam memperhatikan interaksi pasangan pengantin yang sudah berhari-hari tidak bertemu itu namun sekarang sangat kelihatan canggung.


"Den Arga mau ibu buatkan teh hangat apa kopi?" Tanya bu Minah akhirnya berinisiatif memecah keheningan diantara denting sendok yang beradu dengan piring.


"Teh hangat aja, bu." Jawabnya berpaling melihat wajah bu Minah di sampingnya. Bu Minah segera berdiri menuju dapur, Lala juga ikut berjalan ke dapur membawa mangkuknya yang sudah kosong.


"Lala mau istirahat dulu, masih capek banget. Bye kakak ipar." Pamitnya lalu mencium pipi kiri Aya dan segera berlalu mengambil salah satu kamar di sana.


Aya sempat mau protes namun bu Minah sudah muncul dengan membawa secangkir teh diletakkan di meja dekat Arga.


"Ibu permisi dulu yah Den, Non Aya. Mungkin bapak sudah menunggu di belakang." Bu Minah langsung berjalan keluar meninggalkan mereka yang masih nampak canggung.


Aya memberanikan diri menatap Arga yang terlihat begitu lahap menghabiskan makanannya. Ada sedikit perasaan heran melihat kelakuan Arga, tidak biasanya Arga begitu pendiam padanya. Apa dirinya melakukan kesalahan sehingga sejak kedatangannya belum ada kata yang dia dapat dari Arga?


Demi sopan santun, Aya tetap memilih bertahan menemani Arga menyelesaikan makannya. Saat selesai, Arga berdiri hendak mengangkat piring kotornya untuk dibawa ke dapur.


"Mas istirahat aja di kamar, biar aku yang bereskan." Ucap Aya sigap mengambil piring kotor dari tangan Arga.


Arga melepas pegangannya pada piring saat kedua tangan Aya mengambilnya dan berjalan ke arah dapur. Arga diam mematung, menimbang-nimbang langkah selanjutnya. Akhirnya Arga memilih menghampiri Aya yag sedang cuci piring. Masih tanpa kata apapun, Arga berdiri di samping Aya membilas piring yang sudah disabuni membuat Aya terpaksa bergeser satu langkah ke samping karena tubuhnya terlalu rapat dengan Arga.


Suara air dari kran dan piring yang beradu menjadi pengisi keterdiaman mereka. Aya tidak tau bagaimana membuat Arga bicara padanya, sungguh Aya bukan tipe perempuan yang suka merengek ketika merasa diabaikan.


Prinsip Aya sederhana saja, ketika orang mendekat, Aya akan sambut. Tapi ketika orang menjauhinya, Aya tidak akan mengejarnya. Keterdiaman Arga saat ini sudah cukup membuatnya merasa dijauhi oleh Arga.


Setelah mereka selesai cuci piring, Aya beranjak meninggalkan dapur menuju kamarnya tanpa ingin peduli lagi dengan kehadiran Arga. Saat hendak menutup pintu kamarnya, ia baru sadar ada Arga menahan pintu agar tidak tertutup.

__ADS_1


Arga mendorong pintu lalu masuk ke dalam kamar, ia menggeser tubuh Aya lalu mengambil alih daun pintu dan menguncinya.


"Mas mau istirahat." Ucap Arga santai lalu melempar tubuhnya ke atas kasur.


Aya masih bengong melihat kelakuan Arga, sudah masuk ke kamarnya tanpa izin sekarang malah menguasai tempat tidurmya.


"Loh, kok tidur di sini sih? Masih ada kamar kosong kok." Protes Aya sebal.


"Aku suami kamu, Ya!"


"Iya, tapi-"


"Tapi apa?" Arga cepat-cepat memotong ucapan Aya. "Bukannya senang lihat suami, ini malah diusir." Keluh Arga bergumam namun masih bisa di dengar Aya.


Aya berjalan menuju tempat tidur lalu memilih duduk di ujung bawah dekat kaki Arga.


"Maaf!" Lirihnya pelan hampir tidak kedengaran oleh Arga.


"No, this is not your fault, either mine." Ucap Arga tersenyum.


"Lucky me to have you here right now. So, jangan minta maaf lagi, oke!" Aya hanya mengangguk pelan dan menunduk, matanya kini terasa panas, sekuat tenaga menahan air matanya yang sudah mendesak tak ingin dibendung.


Arga menangkup wajah Aya dengan kedua tangannya, mata mereka saling bertemu pandang. Sial sekali, air mata Aya sudah lebih dulu menganak sungai. Entah apa yang ada di dalam fikirannya hingga air matanya jatuh begitu saja. Arga menarik Aya ke dalam pelukannya, beberapa kali Arga mencium puncak kepala Aya, menyesap aroma wangi vanilla dari shamponya di balik jilbab yang masih menutupi kepalanya.


"I miss you, i miss you like i'm gonna crazy." Bisik Arga pelan.


Deg...


Aya sekarang bingung, melepas pelukan Arga atau Arga akan melihat semu merah di wajahnya. Dan Aya tidak siap menatap mata Arga.


Atau tetap berada dalam pelukan Arga tapi Arga akan merasakan degupan jantungnya yang berdegup kencang dimana dada mereka sekarang saling menumpu.

__ADS_1


Aya memilih tetap memeluk tubuh Arga karena Arga pun sepertinya masih belum rela melepas pelukannya. Menikmati ritme degupan jantung yang saling memburu. Lagian Aya juga sangat menikmati pelukan ini, pelukan menenangkan, terasa sangat nyaman.


Sepertinya Aya baru sadar satu hal, ternyata pelukan Arga adalah tempat ternyaman yang pernah disinggahinya seumur hidupnya hingga saat ini.


Perasaan Aya sekarang tenang, berbeda dengan Arga yang semakin gelisah dengan posisi berpelukan yang sudah hampir sepuluh menit itu.


Aya mengurai pelukannya, malu-malu menatap Arga, namun setidaknya ia bisa menguasai kecanggungannya saat ini.


"Katanya mau tidur, istirahat dulu gih sana." Ucap Aya memulai pembicaraan menerbitkan senyum manis dari bibir tipis Arga.


Tak ingin merusak suasana romantis versi Arga yang dirasakannya saat ini, ia pun menurut memperbaiki bantal untuknya dan Aya.


"Ayo temani mas tidur."


"Mmm.. aku mau ke kamar Lala dulu mas."


"No, Lala masih capek. Dia baru tiba semalam dan sekarang mas ajak ke sini." Arga tidak berbohong, kenyataannya Lala memang butuh istirahat setelah perjalanan panjangnya sejak dari kemarin.


Arga menarik tangan Aya agar mendekat padanya, ia membuka jilbab Aya yang syukurnya tanpa penolakan dari yang punya.


Arga membantu Aya membaringkan tubuhnya lalu diikuti Arga. Posisi mereka sekarang saling berhadap-hadapan. Arga menatap lembut wajah Aya yang lebih memilih menutup matanya.


Setelah beberapa saat Aya membuka matanya, tepatnya menyipitkan matanya mengintip wajah Arga. Namun yang didapatinya malah tatapan dalam dan senyum manis Arga padanya.


"Mas Arga.." Aya benar-benar malu karena ketahuan mengintip. Arga tergelak, menertawakan tingkah lucu istri mungilnya itu.


Aya mencubiti lengan Arga karena menertawakannya dalam kondisi seperti ini, Arga pun akhirnya menarik tubuh Aya ke dalam pelukannya, ia mengeratkan pelukannya, sangat erat. Namun Aya bergeliat ingin melepasnya.


"Jangan bergerak, begini saja dulu! Mas masih kangen sama kamu, my wife."


Wajah Aya lagi-lagi bersemu merah, beruntung Arga tidak melihatnya karena ia sekarang sudah membenamkan wajahnya di dada kekar Arga. Menyesapi aroma tubuh yang menenangkan, aroma yang ternyata juga dirindukannya. Dan mungkin tanpa sadar ia pun juga sudah merindukan pemiliknya.

__ADS_1


×××××


__ADS_2