
"Cantik, secantik kamu." Imbuhnya.
Lagi-lagi wajah Aya memerah. Entah kenapa setiap Arga menggodanya, ia selalu tersipu malu. Padahal bukan Arga satu-satunya laki-laki di dunia ini yang pernah mengatakan dirinya cantik.
Semua terasa berbeda jika itu diucapkan Arga, ucapan Arga seolah mempunyai efek tersendiri yang mampu mempengaruhi jiwa dan perasaan Aya.
"Gombal! Udah ah, sekarang itu pintu yang dipikirin, bagaimana cara bukanya?" Aya berusaha mengalihkan perhatian Arga.
"Tenang aja.." ucap Arga santai sambil memasukkan tangannya ke laci.
"Tadaaaaa... kuncinya!" Ucap Arga sambil menunjukkan kunci di tangannya.
"Mas Argaaaaa... jadi dari semalam mas ngerjain aku?" Aya bangkit dari kursi lalu memukul sembarang dan betubi-tubi ke tubuh Arga.
Arga tertawa keras membuat Aya semakin semangat memukulinya hingga tanpa sadar mereka sudah sampai di atas kasur. Arga menangkap kedua tangan Aya lalu membawa tubuh Aya di bawahnya. Ia mengunci tangan dan kaki Aya. Nafas mereka saling memburu. Pandangan mata mereka saling mengunci. Perlahan tapi pasti Arga semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Aya. Aya spontan menutup matanya.
Tok tok tok..
Suara ketukan pintu mengembalikan kesadaran mereka. Aya mendorong Arga hingga terjatuh ke lantai.
Bukannya prihatin, Aya malah tertawa keras demi melihat Arga nyungsep ke lantai.
*****
Satu minggu berlalu, tak ada perkembangan yang cukup signifikan dalam hubungan Arga dan Aya. Meskipun mereka tidur di kamar yang sama dan di atas kasur yang sama, namun hampir tak ada komunikasi berarti yang mereka lakukan.
Arga sangat-sangat sibuk mengurusi pekerjaannya. Meskipun ada Bara yang membantunya di perusahaan mendiang mertuanya dan ada Yudha di perusahaannya sendiri, namun tetap saja pekerjaannya menumpuk.
__ADS_1
Semenjak kematian ayah mertuanya sudah diketahui publik, Arga sangat disibukkan untuk menjaga kestabilan internal perusahaan. Ia dan Bara mencium ada pergerakan beberapa orang dalam perusahaan yang ingin mengkudeta posisinya sebagai pimpinan tertinggi di perusahaan.
Ditambah pekerjaannya di Blue Marine yang saat ini sedang menunggu pengumuman award dari pihak Woodside Energy. Tidak mudah ikut dalam proyek ini, Arga mengerahkan 60 tim terbaiknya untuk menyelesaikan semua gambar desain selama 5 bulan terakhir ini. Besar harapannya agar kali ini perusahaannya terpilih.
Arga belum bisa berbuat banyak untuk rumah tangganya saat ini. Ia berharap urusan di perusahaan mendiang mertuanya bisa segera terurai agar bebannya berkurang dan ketika ia mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan yang urgent kepada asisten maupun para kepala devisi, para direksi di perusahaan tidak ada lagi yang mengganggu keputusan Arga.
Arga tidak mau kehidupan rumah tangganya berjalan seperti seminggu ini. Ia berangkat pagi-pagi ke kantor, sebelum ke kantor waktunya bersama Aya hanya pas sholat subuh. Setelah sholat subuh, ia siap-siap sementara Aya menyiapkan sarapan untuknya. Apalagi setelah Aya mendapatkan tamu bulanannya, ia baru bangun saat Arga di kamar mandi. Setelah itu seharian bahkan sampai tengah malam Arga habiskan waktunya di kantor. Pulang ke rumah, ia mendapati Aya sudah tertidur pulas. Sungguh, bukan rumah tangga seperti ini yang ingin dibangun Arga.
Arga menginginkan rumah tangga yang hangat, suami istri punya banyak waktu bersama, apalagi saat sudah punya anak, Arga ingin waktunya lebih banyak dihabiskan bersama keluarganya dibanding dengan pekerjaan.
Seharusnya kita yang mengatur pekerjaan, bukan pekerjaan yang mengatur kita.
Aya pun tidak mempersoalkan kesibukan Arga. Ia mengerti posisi Arga saat ini yang ternyata memegang amanah besar di pundaknya. Menurutnya ini baik untuk kesehatan jantungnya, karena setiap kali berinteraksi dengan Arga, ia terus saja berolahraga jantung.
Sebenarnya, ada sedikit perasaan iba di hatinya saat melihat wajah lelah Arga yang masih nampak di muka bantalnya saat pagi hari. Sudah berkali-kali ia diminta ibu Andini membawakan bekal makan siang Arga, namun Aya selalu menolak dengan berbagai alasan.
*****
Aya cukup tegang saat memasuki lobbi perusahaan peninggalan ayahnya tersebut. Masalahnya, ini adalah pertama kali baginya menginjakkan kaki di sini. Rupanya ia sudah di tunggu Bara di lobbi dan langsung diantar ke lantai 10 tempat ruangan Arga berada.
Saat tiba di depan ruangan Arga, ternyata di sana ada Fira duduk manis di meja kerjanya. Sebelumnya Aya tidak tau kalau Fira bekerja di perusahaan ayahnya. Pantas saja saat pemakaman ayahnya, Fira datang bersama rombongan orang-orang penting di perusahaan. Aya berjalan mendekati meja Fira.
"Lo hutang penjelasan sama gue!" Fira terlonjak kaget mendapati Aya yang sudah berdiri dengan wajah sinis di hadapannya.
"He he he.. santai bu boss. Apapun buat bu boss!" Jawab Fira dengan muka memelas.
Aya sudah tidak menanggapi ucapan Fira dan langsung masuk ke ruangan Arga. Moodnya sudah rusak demi mendapati Fira di sini, sekarang malah ia melihat wajah suaminya itu dengan wajah datar seolah tidak menyadari kehadirannya karena matanya tetap menatap ke monitor yang ada di depannya.
__ADS_1
Aya menghempaskan tasnya di sofa disusul dirinya. 5 menit, 10 menit berlalu dan Arga belum menyapanya. Aya merasa bosan. Ia berdiri hendak meninggalkan Arga.
"Mau kemana?" Tanya Arga menghentikan langkahnya.
"Aku fikir di sini gak ada orang jadi aku mau pulang!" Jawab Aya kesal karena diabaikan.
"Maaf!" Arga bangkit dari tempat duduknya menghampiri Aya lalu membawanya duduk kembali di sofa.
"Aku tau mas sibuk, tapi bisa sapa dulu atau bagaimana, kalo dicuekin begini Aya juga malas, mas!" Aya benar-benar tidak bisa menahan kekesalannya. Dia tidak menyangka dibalik sikap hangat dan usil Arga selama ini, ternyata dia punya sisi dingin dan terkesan angkuh seperti ini.
"Maafin mas yah, tadi mas lagi baca dokumen-dokumen pentin, takutnya ada yang terlewat kalau mas ajak kamu ngomong. Mas janji gak akan gitu lagi sama kamu. Oke!"
"Ya udah, Aya pulang aja kalau gitu. Aya gak mau ganggu mas kerja."
"Jangan!" Ucap Arga cepat menahan Aya.
"Jangan pulang dulu, temani mas di sini. Mas masih kangen sama kamu." Tiba-tiba Arga memeluk tubuh Aya.
Tubuh Aya menegang, ia tidak siap dengan dengan apa yang dilakukan Arga padanya. Aya menggeliat ingin membebaskan diri dari pelukan Arga.
"Mas, lepas ih. Ini di kantor! Nanti ada yang lihat."
"Jadi kalau di rumah, boleh kan meluk kamu?" Tanya Arga mengurai pelukannya dan menatap Aya penuh perhatian.
"Ya gak juga lah.. enak aja.." Ucap Aya memanyunkan bibirnya.
Cup..
__ADS_1
×××××