
Suara ketukan pintu kamarnya membangunkan Arga, ia melirik jamnya, belum jam 4 pagi. Suara ketukan pintu semakin intens.
"Arga.. Arga.. bangun nak!" Panggil ibunya dari balik pintu.
Arga buru-buru bangun membuka pintunya, khawatir terjadi sesuatu yang membuat ibunya membangunkannya sepagi ini.
"Ceklek" suara pintu terbuka.
"Iya bu, ada apa?"
"Ayo siap-siap, temani ayahmu sholat subuh di Mesjid." Jarak rumah mereka kurang lebih 750 meter ke Mesjid, makanya saat ingin menunaikan sholat subuh berjamaah di Mesjid, ayahnya akan meminta Arga mengantarkannya dengan naik motor, saat pulang maka ayahnya akan memilih jalan kaki, sekalian olahraga katanya.
"Arga siap-siap dulu." Ucap Arga menutup kembali kamarnya lalu masuk ke kamar mandi.
Arga kini memakai pakaian kokonya dengan menggunakan sarung sebagai bawahannya. Ia mengeluarkan motor matic dari garasi yang biasa dipakai art di rumahnya untuk ke pasar.
Setelah sholat subuh, mereka masih memilih bertahan di Mesjid. Kebetulan pagi ini ada jadwal kultum. Nampak ustadz Satria sudah siap membawakan materi kultumnya.
Para jamaah yang masih bertahan di mesjid mengambil posisi duduk berkumpul dekat ke arah ustadz.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh." Sapa ustadz Satria.
Kemudian dijawab serentak dengan lantang oleh para jamaah. Ustadz Satria kemudian memanjatkan sholawat dan salam kepada Nabi dan ucapan syukurnya kepada Allah. Kemudian ia masuk ke materinya.
"Baik, jamaah sekalian. Kali ini, tema kultum kita adalah tentang RUMAH TANGGA, KELEMBUTAN YANG MENYENANGKAN."
"Jadi, idealnya bapak ibu sekalian, interaksi antar suami isteri itu harus dilumuri dengan kelembutan, baik dalam komunikasi, sikap dan perilaku. Suami isteri harus membiasakan diri membubuhi ucapannya dengan magic words atau kata-kata ajaib yang melunakkan hati. Jika suami disediakan makanan oleh isteri ucapkanlah terima kasih. Jika isteri melihat suaminya tidak senang, segera ucapkanlah maaf. Kata magic words yang perlu sering disediakan selain terima kasih dan maaf adalah silakan, permisi, tolong, dan semisalnya. Jangan menggunakan magic words ketika pengantin baru saja, tapi juga pengantin lama perlu sering mengucapkannya, baik ketika ketemu tatap muka maupun lewat komunikasi jarak jauh.
Selain itu, kurangi komunikasi yang ujungnya menggunakan tanda seru, apa itu? Perintah. Sebaliknya, perbanyak kalimat berita atau pertanyaan untuk menghaluskan cara komunikasi suami isteri. Hal ini mungkin terasa sulit bagi suami atau isteri yang berasal dari suku tertentu yang terbiasa bersuara keras, namun jika dibiasakan insya Allah cara komunikasi kita bisa berubah lebih lembut.
Kelembutan adalah watak dari ajaran Islam. Rasulullah saw adalah orang yang paling lembut kepada orang lain, apalagi terhadap isteri-isterinya. "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya" (Qs. 3:159).
Suatu ketika beliau pernah pulang kemalaman dan istrinya Aisyah ra tidak mendengar suaminya mengetuk pintu. Setelah tiga kali Rasulullah saw mengetuk pintu dan memberi salam, beliau dengan ringan tidur di teras rumahnya tanpa rasa kesal berlebihan. Beliau maklum mungkin isterinya kelelahan setelah seharian mengurus rumah. Tidak ada kemarahan yang ditunjukkan oleh beliau saw.
Beliau juga biasa memanggil istri-istrinya dengan panggilan kesukaan dan panggilan yang indah. Seperti "Yaa.. Humaira" untuk memanggil Aisyah. Memanggil dengan panggilan kesayangan kepada suami atau isteri kita merupakan sunnah rasul yang perlu ditiru olah suami isteri di jaman sekarang. Panggillah isteri atau suami kita dengan panggilan yang disukainya dan hanya kita yang memanggil pasangan dengan panggilan tersebut, sehingga terasa kemesraan dan makna khususnya. Jangan dengan panggilan yang terlalu umum dan pasaran, seperti mas, say, honey, ummi, abi atau yang semisalnya, sehingga menjadi tidak spesial dan istimewa.
Kalau bisa di dalam keluarga ada kode etik untuk tidak saling teriak, mengucapkan umpatan kasar, apalagi sampai melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Memang KDRT bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia merupakan proses panjangnya dari seringnya suami isteri berkata dan berperilaku kasar kepada pasangannya. Yang kemudian dibalas dengan yang lebih kasar oleh pasangannya. Demikian terus berkulminasi sampai akhirnya terjadi KDRT.
Perlu juga dipahami bahwa kadar kekasaran yang dilakukan oleh suami atau isteri kepada pasangannya tidak sama dengan kekasaran yang diterima oleh suami atau isteri dari orang di luar rumah. Kadar sakit hatinya lebih tinggi jika dilakukan oleh suami atau isteri kepada pasangannya daripada dilakukan oleh orang lain. Sebab orang yang paling potensial menyakitkan hati kita justru adalah orang yang paling kita cintai, yaitu suami, isteri atau anak-anak kita. Oleh sebab itu, berhati-hatilah berkata-kata dan berperilaku terhadap pasangan dan anak kiya. Luka akibat kekasaran yang dilakukan pasangan sembuhnya lebih lama daripada luka akibat kekasaran yang dilakukan oleh orang di luar rumah.
__ADS_1
Semoga keluarga kita adalah keluarga yang interaksinya selalu mengutamakan kelembutan dan kasih sayang."
"Aamiin." Suara jamaah serempak mengaminkan doa ustadz Satria.
Kultum yang dibawakan ustadz Satria kali ini berasa daging semua buat Arga. Ia benar-bemar merasa tercerahkan dan mendapatkan pandangan yang lebih baik bagaimana menyikapi Aya ke depannya.
Meskipun Arga belum mendapatkan ide untuk magic wordnya buat Aya, tapi setidaknya ia akan berusaha menjadi laki-laki yang penuh kelembutan dan sebisa mungkin tidak pernah menunjukkan kemarahannya di depan Aya nantinya. Begitupun dengan anak-anaknya kelak. Ia tidak ingin anak istrinya mengingatnya sebagai pribadi yang kasar dan pemarah. Tegas, tentu saja ia akan sangat tegas, tapi tegas yang berbeda dengan marah.
Arga segera pulang ke rumah, meninggalkan ayahnya yang masih ingin bertegur sapa dengan para jamaah lainnya. Arga ingin siap-siap, pagi ini ia akan mengantar Lala menyusul Aya di Puncak.
Jantungnya berdegup kencang membayangkan pertemuannya dengan Aya nanti. Semoga saja ia tidak diusir Aya. Kalau sampai diusir, sia-sia sudah usahanya lembur siang dan malam hanya demi membereskan beberapa pekerjaannya agar ia bisa mengambil cuti selama beberapa hari ke depan.
Arga sampai memaksa Lala pulang ke Indonesia secepatnya agar ia mempunyai alasan yang cukup kuat untuk bertemu Aya. semoga saja Aya tidak curiga. Arga sungguh tidak tahan ingin bertemu Aya.
Rasanya ia sudah seperti orang gila, apa memang jatuh cinta untuk pertama kalinya terasa segila ini? Apa semua orang yang pernah jatuh cinta juga merasa gila, atau hanya dirinya saja yang merasa seperti itu???
×××××
Note: isi kultum diambil dari sebuah artikel tulisan dari ustadz Satria Hadi Lubis.
__ADS_1