
Assalamu'Alaikum Wr.Wb.
Hai readers, Gimana kabarnya semua? Sehat-sehat aja kan? Jangan sakit-sakit yah. Soalnya sakit itu sepi dan menyakitkan.
Ini bukan update, author hanya pengen menyapa readers yang sudah banyak mensupport novel perdana author ini sehingga menjadi pelucut untuk diri ini dalam terus berkarya.
Author pengen kenalin novel baru Author, ceritanya nyambung dari novel ini.
Judulnya, "Rekayasa Perasaan"
Di bawah Author bocorin bagian Prolog-nya.
Jangan Lupa mampir yah.
Thanks😘🤗
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Azka: "Jangan salah faham. Saya menikahi kamu karena terpaksa. Saya tidak bisa melawan keinginan bunda."
Dea : "Saya mengerti! Maaf jika sekali lagi saya menjadi parasit dalam hidup bapak. Tapi bapak tidak usah khawatir, kali ini saya tidak akan menjadi beban buat bapak. Anggap saja saya tidak ada. Bapak tidak punya kewajiban menafkahi saya, lahir dan batin. Bapak tidak perlu merasa terikat dengan pernikahan ini. Jika bapak ingin menikah lagi, silahkan melakukannya, tanpa persetujuan saya pun, silahkan. Setelah kondisi bunda membaik, saya pastikan akan pergi jauh dari kehidupan bapak bahkan untuk sebuah kebetulan pun tidak akan pernah memiliki celah untuk saya muncul di hadapan bapak."
Azka: "Baguslah kalau begitu, saya pegang kata--katamu. Saya sudah tidak sabar melihatmu menghilang tanpa jejak dari hidupku!"
*****
Azka melangkah pergi, meninggalkan Dea dengan mata memanas dan hati yang tak kalah panasnya. Gemuruh perasaan tak berdaya menghantamnya sekali lagi. Laki-laki itu, laki-laki yang dulu diidolakannya sewaktu kecil, sekali lagi mengucapkan kalimat menyakitkan, merontokkan segala sendi-sendi jiwanya.
Dea melangkah masuk ke kamar, ia mengunci pintu dan jendela. Sekarang yang terdengar hanya desauan mesin pendingin ruangan dan gemericik air dari balik pintu kamar mandi. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, Dea sudah merasa terlalu lelah. Lelah hati dan fikiran, fisiknya juga, habis Isya tadi dia resmi menjadi istri Azka, anak sahabat orang tuanya, tetangga masa kecilnya, GM tempatnya bekerja dan sekaligus laki-laki yang sangat membencinya.
Semua terjadi begitu saja, Dea yang datang bertamu mengunjungi bunda Aya yang sedang sakit, sekarang malah terjebak dalam pernikahan bersama putranya.
__ADS_1
Dea tidak bisa berbuat apa-apa, ia mengingat pesan kedua orang tuanya sebelum meninggal di Rumah Sakit dalam kecelakaan 6 bulan silam untuk selalu menurut pada keluarga om Arga dan bunda Aya.
Bergitupun dengan Azka, titah bundanya seperti suara Tuhan, tak bisa ia bantah.
Bagaimana perasaan Dea?
Tidak jauh beda dengan Azka, Dea pun sudah hampir melupakannya. Bedanya, Dea tidak ingin membenci siapapun.
Dea mengambil sebuah bantal kepala kemudian memindahkannya ke atas karpet tebal yang terhampar di space sisa antara jendela dengan tempat tidur. Tidak begitu luas, hanya sekitar 1 meter, namun itu sudah cukup untuk Dea. Sebenarnya ada sigle sofa di dalam kamar, namun itu tidak akan cukup untuk panjang badan Dea saat tidur. Lagian jika memilih tidur di bawah, setidaknya Azka tidak akan melihatnya begitupun dengan dirinya.
Azka keluar dari kamar mandi dan tidak menemukan Dea. Ia fikir Dea masih di balkon. Cepat-cepat ia kenakan pakaiannya, emosinya sudah sampai diubun-ubun, namun saat hendak membuka pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon, tidak sengaja matanya menangkap keberadaan Dea dengan nafas yang terdengar berat namun teratur.
"Cih..dasar keras kepala." Azka berdecih melihat Dea yang memilih tidur di karpet.
Azka merangkak naik ke tempat tidur, sebelum membaringkan tubuhnya yang lelah, diam-diam ia sempatkan melirik sebentar wajah Dea. Di sana masih tampak wajah sembab milik Dea. Azka tidak mau peduli, ia baringkan tubuhnya telentang, memandang langit-langit kamar yang ditrmani temaram lampu tidur. Hingga ia pun terlelap memasuki ruang peristirahatan bagi jiwa-jiwa yang lelah.
__ADS_1
Biarkan malam yang memelukmu, agar esok saat kau terbangun, kau bisa melupakan sedikit kepenatan hidupmu, digantikan oleh hari baru yang menyambutmu dengan tenang.
*****