Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Sibuk


__ADS_3

Hari-hari Arga benar-benar tersita habis oleh urusan pekerjaan. Memegang dua perusahaan sekaligus sangat menyita waktu dan energinya. Meskipun perusahaannya tidak sebesar perusahaan mertuanya, tapi saat ini pun perusahaannya sedang sibuk-sibuknya mengikuti tiga tender pembuatan gambar desain kapal dan bangunan offshore yang akan di bangun di berbagai belahan bumi ini.


Perusahaan mertuanya pun saat ini masih dalam proses Bidding untuk pembangunan kapal peti kemas yang pembuatan gambar desainnya dibuat oleh perusahaan Arga. Arga tidak ingin gegabah memilih parusahaan mana yang nantinya akan membangun kapalnya. Proyek ini proyek besar, ratusan Milyar rupiah akan digelontorkan untuk proyek ini. Semuanya harus terukur dan direncanakan dengan matang. Ia harus jeli memilih galangan kapal yang akan menjadi tempat membuat kapalnya nanti.


Selain itu, satu minggu lagi dia harus terbang ke Australia guna mempersentasikan proposal pembuatan Front-End Engineering Design (FEED) untuk project Semi-Submersible FPU (Floating Production Unit) milik perusahaan Woodside Energy yang kantornya berpusat di Pert, Australia. Kesibukan ini betul-betul membuatnya tidak bisa menjalankan aksinya mendekati sang pujaan hati.


Dia sekarang benar-benar sudah jatuh cinta pada istrinya itu. Tidak ada keraguan sedikit pun.


***


Aya menepati janjinya berkunjung ke rumah tante Andini di akhir pekan. Awalnya dia mengajak Alya menemaninya, tapi Alya tidak bisa karena sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahannya.


Rasa penasarannya akan cerita tentang ibunya mengalahkan rasa lelahnya. Saat lelah seperti ini, kadang terfikir untuk melepas pekerjaannya di dua Rumah Sakit berbeda dan fokus bekerja di satu Rumah Sakit saja, Rumah Sakit Harapan Kita, tempatnya dan Alya bekerja. Itu bukan ide yang buruk, mengingat selama 4 tahun bekerja setelah menyelesaikan dokter spesialisnya, sekalipun ia tidak pernah pergi berlibur.


Aya dan tante Andini sekarang sedang sibuk di dapur. Mereka sedang membuat kue untuk cemilan mereka sambil berbagi cerita. Kali ini Aya lebih banyak berbicara karena tante Andini terus saja bertanya akan banyak hal. Lagi-lagi perasaan hangat melingkupi hatinya, bahagia sekali rasanya, seperti ibunya datang kembali ke kehidupannya setelah 9 tahun kehilangan.


Ia sering mencuri pelukan tante Andini di sela kesibukan mereka di dapur, tante Andini pun menyambutnya dengan hangat. Mengerti pengalaman pahit yang dialami menantunya itu selama 10 tahun terakhir, terutama semenjaknibunya meninggal.

__ADS_1


Tante Andini hanya berharap, saat Aya tau kenyataannya, dia tidak akan membencinya dan juga Arga. Tante Andini sudah sangat menyayangi gadis dewasa itu.


"Aya udah punya pacar belum?" Tante Andini membuka pembicaraan mereka yang sudah duduk cantik di taman halaman belakang rumah.


Aya tersenyum canggung, "gak tante. Males."


"Kok males? Usia kamu udah sangat matang untuk menjadi istri loh, bahkan udah layak punya anak." tanya tante Andini.


Sejenak Aya berfikir, bukan hanya tante Andini yang menanyakan perihal ini, hampir semua orang yang ditemuinya selalu menanyakannya.


"Aya, tidak semua pernikahan berakhir seperti itu. Ada begitu banyak pernikahan yang berakhir bahagia. Tidak ada pernikahan tanpa ada masalah di dalamnya, tapi justru di situlah bumbu-bumbunya. Kamu harus buka mata, buka hati kamu. Berdamailah dengan masa lalu, ikhlaskanlah, lepaskan perasaan yang membebanimu selama ini," tante Andini mengelus lembut punggung Aya.


"Bahagia itu kamu sendiri yang ciptakan. Jangan pernah menyimpan sedikitpun rasa benci dan dendam di sini." Tante Andini menujuk dada Aya, "sekali-kali jangan, nak. Perasaan itu hanya akan menyiksamu, tak ada kebaikan yang bisa kamu dapatkan daripada menyimpan luka lama."


Air mata Alya menggenang, ia menangis di dalam pelukan tante Andini, "di sini sakit banget tante, sakit!" Alya memukul-mukul dadanya. Menangis tersedu, hatinya pilu.


Tante Andini menarik Aya kembali ke dalam pelukannya. Dielusnya kepala Aya dengan penuh kelembutan, "kamu harus sembuhkan rasa sakitmu itu sayang. Kamu harus bahagia. Takdir setiap orang beda-beda, dan kamu harus yakin bahwa takdir terbaik sedang menunggumu mengambilnya. Bukankah Allah itu sesuai dengan persangkaan hamba-Nya? Dimana kamu simpan persangkaan baik kamu pada Tuhanmu disaat kamu masih terus berfikir bahwa semua laki-laki di dunia ini itu bejat??? Tidak nak. Di luar sana ada banyak laki-laki baik, laki-laki hebat, laki-laki yang penuh cinta dan kelembutan, kamu hanya perlu bertemu dengan salah satu dari mereka. Tante yakin, ibumu pun ingin melihatmu bahagia, menikah dengan laki-laki yang kamu cintai dan dia pun mencintai kamu lalu memiliki anak-anak yang lucu-lucu dan sehat. Apa kamu ingin terus seperti ini? Kesepian, ketakutan sendiri tanpa ada bahu untuk bersandar!!!" Nasehat tante Andini panjang lebar, berharap itu bisa menggugah sedikit perasaannya.

__ADS_1


Aya tidak punya lagi argumen untuk melawan kata-kata tante Andini. Apa yang dikatakan tante Andini itu semuanya benar, Aya tau itu. Hanya saja tidak semudah itu menghapus semua ingatan-ingatan kesakitan yang menghantuinya sekian tahun.


Setelah sedikit tenang, tante Andini mengajak Aya bercerita hal-hal ringan saja, kadang-kadang bercanda hingga tawa mereka pecah kemana-mana.


Terdengar pagar rumah berdecit disusul suara mobil dari arah depan. Aya nampak tegang, ia belum siap ketemu Arga lagi. Bayangan kejadian di kamar Arga masih membekas, dan itu rasanya membuatnya tidak punya muka lagi untuk bertemu Arga. "Apa boleh Aya menghilang sekarang?" tanyanya dalam hati.


Tante Andini tersenyum melihat reaksi Aya, "tenang, itu paling supir ayah. Anak tante yang tampan itu lagi ke Australia, jadi kangennya ditabung dulu yah." godanya.


"Tante apaan sih, yang kangen juga siapa?" Membayangkan wajah Arga rasanya pengen muntah, sok ganteng banget.


"Hahaha.. yakin gak mau minta Arga tanggung jawab? Dia kan udah lihat tubuh tela...."


Belum selesai ucapan tante Andini, Aya sudah membekap duluan mulut tante Andini.


Wajah Aya sudah memerah seperti kepiting rebus. Dia tidak menyangka tante Andini akan membahasnya secara frontal seperti ini. Malu!!!


×××××

__ADS_1


__ADS_2