
Jakarta
Aya menghempaskan tubuhnya ke atas kasur di kamarnya, kamarnya dan Arga tepatnya. Entah kenapa dia begitu merindukan suasana di dalam ruangan ini. Aroma khas tubuh Arga masih terasa menguar dari seprei kasur, padahal seminggu ini tidak ditempatinya, tapi Aya menyukainya, ini sudah seperti candu baginya. Desain kamar yang sangat laki tapi Aya juga menyukainya. Warna putih mendominasi dinding kamar, kemudian dipadukan dengan warna hitam di satu sisinya tempat dimana buku-buku berjajar rapi di sana, Aya menaksir jejeran buku di sana tidak akan kurang dari 1.000 buku. Menandakan bahwa sang pemilik kamar memiliki wawasan pengetahuan yang luas dan bisa jadi temannya tidak lebih banyak dari jumlah buku yang dimilikinya.
Who knows? Dengan jumlah buku sebanyak ini, bisa dipastikan waktu yang ia butuhkan untuk melahap buku-buku tersebut tidaklah sedikit, uniknya, buku-buku yang belum dibaca diletakkan di satu bagian khusus, ketahuan bahwa buku-bukunya sebagian besar sudah dibacanya dan itu tinggal beberapa buku yang masih tersegel dalam plastiknya.
Tidak terasa, Aya pun tertidur, mungkin karena terlalu lelah, tiga hari merawat Arga yang manjanya luar biasa sampai tadi sepanjang perjalanan Arga tertidur dengan kepalanya di atas paha Aya.
Arga sendiri masih sibuk berdiskusi dengan Yudha dan Bara yang sebelumnya menjemput mereka di Puncak. Seminggu meninggalkan kantor membuat Yudha dan Bara cukup kerepotan dan sekarang menemui Arga untuk urusan beberapa dokumen yang harus ditanda tangani langsung oleh Arga.
*****
Arga masuk ke kamar, tubuhnya masih terasa kurang fit. Ia mendapati Aya sedang tertidur pulas dengan posisi tengkurap. Senyumnya mengembang sempurna, perasaan hangat mengaliri hatinya, ia sangat bahagia melihat tidur istrinya yang begitu damai.
Arga memilih masuk ke kamar mandi, tak ingin mengganggu istrinya, ia ingin membersihkan tubuhnya. Badannya terasa sangat lengket. Sebentar lagi masuk waktu dhuhur, ia pun juga sudah merasa cukup lapar.
Arga menuju dapur dan mendapati ibunya dan Lala di sana sedang menikmati makan siangnya.
"Aya mana?" Tanya ibunya.
"Masih tidur, biarin aja dulu, sepertinya dia masih capek." Jawab Arga menarik kursi untuk dirinya.
"Ada yang bahagia banget kayaknya, udah dikasih jatah yah?" Tanya ibunya lagi yang salah faham dengan jawaban Arga. Dikiranya Aya capek karena sudah diapa-apain Arga.
"Ibu udah gak sabar nimang cucu!"
Arga tersedat air yang baru saja diminumnya, wajahnya memerah, antara malu dan karena tersedat.
"Pelan-pelas, mas! Ditanya gitu aja udah tegang gimana." Cibir Lala.
"Ibu sama Lala, apa-apaan sih. Arga sama Aya itu masih dalam proses, proses perkenalan."
"Wow.. ini udah mau empat bulan nikah tapi masih dalam tahap perkenalan???" Lala tidak habis fikir melihat progres kisah cinta kakak tercintanya ini.
"Kamu ini laki-laki normal apa bukan?" Ibunya sekarang ikut meragukannya.
Arga memutar matanya jengah, ia mendesah kasar.
__ADS_1
"Arga ini laki-laki normal, tapi Aya masih butuh waktu, bu! Arga gak mungkin paksa dia. Aya itu bukan anak kecil, dia pasti punya pertimbangan sendiri." Bela Arga.
"Yang sabar yah, mas. Kencangkan perjuanganmu!" Ucap Lala menyemangati.
"Ibu hanya berharap, kalian hidup rukun, saling menyayangi dan segera diberi momongan. Ibu sama Ayah sudah tua, sudah waktunya menimang cucu." Harap ibunya mengiba pada Arga.
"Iya bu, aamiin. Terima kasih untuk segalanya. Jangan pernah lupa doakan kami." Arga terharu, sedikit rasa bersalah menghimpit di dadanya. Ia tidak tau bagaimana cara cepat menaklukkan Aya.
Sementara di satu sudut ruang, Aya mendengar hampir semua percakapan mereka. Pelan-pelan Aya berbalik arah kembali ke kamar. Ia tidak ingin ada yang mengetahui kehadirannya di sana.
Aya melempar tubuhnya ke atas kasur, ia membenamkan wajahnya di atas bantal, menangis sekencang-kencangnya namun tidak begitu terdengar keras karena terhalang bantal. Aya tidak tau harus bagaimana menyikapi dirinya sendiri. Ia tidak tau dengan perasaannya sendiri.
Aya merasa menjadi istri yang paling tidak tau diri, laki-laki sebaik Arga sudah ada di depannya, laki-laki yang mau bersabar menekan hawa nafs*nya hanya demi membuat Aya nyaman.
Suara pintu terbuka membuat Aya menghentikan tangisnya, tak ingin ketahuan Arga, ia pura-pura tidur.
Sebuah tangan mengelus-elus pundaknya, lalu memperbaiki anak rambut di dahinya.
"Aya, bangun! Makan dulu baru kita sholat dhuhur."
"Hmmmm.." sebenarnya Aya malas bangun tapi ia juga tidak enak dibangunkan Arga seperti ini.
Aya menggeleng membuang pandangannya ke arah lain.
Arga menangkup pipi Aya dengan kedua tangannya. Satu jari jempolnya mengusap sudut matanya.
"Kamu gak bisa bohong sama mas. Mas tau kamu habis nangis. Cerita sama mas, apa yang membuat kamu menangis? Apa mas melakukan kesalahan? Mas minta ma-"
Aya langsung menyambar bibir Arga, lupakan tentang ketakutannya, lupakan tentang harga dirinya, lupakan kata malu, lupakan semua fikiran yang menghalanginya menyambut kebahagiannya. Biarkan ia egois saat ini, biarkan ia mengecup manisnya kehidupan pernikahannya saat ini.
Arga tegang, justru sekarang ia yang tidak siap mendapati Aya bersikap agresif padanya. Ia tidak menikmati permainan bibir mereka yang terasa kaku, ia asyik berfikir mengapa Aya seperti ini?
Akhirnya Aya melepas pagutannya lalu bersembunyi di dalam pelukan Arga. Rasa malunya sudah kembali. Apalagi tadi Arga tidak membalas ciumannya.
Arga tersenyum sambil mengelus lembut rambut panjang Aya. "Kok berhenti ciumnya? Padahal mas masih pengen lama-lama dicium Aya." Arga menyeringai puas menggoda Aya.
Aya hanya menggeleng dalam pelukan Arga, malah semakin mengetatkan pelukannya. Cukup lama mereka berpelukan seperti itu, sepertinya tidak ada diantara mereka yang berniat melepaskannya.
__ADS_1
"Mas.."
"Hmmm.."
"Mas.."
"Iya, sayangnya Arga."
"Aku minta maaf."
"Untuk?" Arga akhirnya mengurai pelukan mereka. Wajah Aya tertunduk, ia malu melihat Arga.
Aya menggeleng.
"Hei..lihat mas dulu." Ucap Arga mengangkat wajah Aya dengan mendorong dagunya ke atas.
Aya tidak berani menatap mata Arga, ia terlalu malu besitatap dengannya setelah kelakuan konyolnya tadi.
"Lihat mas dong, katanya mau minta maaf, tapi kan mas gak tau Aya salah apa sama mas." Arga mencoba memancing.
Aya masih tidak kuat menahan rasa malunya, sungguh ia tidak punya muka lagi untuk bersitatap dengan Arga. Ia memilih kembali memeluk Arga.
"Uluh..uluh.. istri kesayangannya Arga udah kecanduan dipeluk suaminya. Gemesssshhh!" Arga menyeringai, ia begitu bahagia saat ini.
"Mas Arga.. Aya malu." Cicitnya.
"Malu kenapa? Sama suami sendiri kok."
"Tapi Aya tetap malu sama mas, sekarang Aya gak mau lihat mas Arga! Ma.. maksud Aya gak gitu, ma..maksud Aya.. ah..pokoknya Aya sekarang malu sama mas!" Ucap Aya cemberut namun terdengar begitu manja di telinga Arga.
"Mas senang kalau Aya begini, sering-sering aja yah!" Akhirnya tawa Arga lepas juga setelah sekian lama ia menahannya.
"Maaf!" Arga berusaha menelan tawanya, takut Aya marah padanya.
"Mas benar-benar bahagia, kamu bisa kan merasakan detak jantungku saat ini?"
Aya mengangguk, ia bisa merasakan debaran jantung Arga yang sedari tadi seperti melompat-lompat di dalam dadanya. Namun justru itu yang membuat Aya merasa nyaman di dalam pelukan Arga.
__ADS_1
"Aya sayang mas Arga!"
×××××