Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Mengurai Masa Lalu


__ADS_3

Setelah acara lamaran Alya selesai, keluarga Arga langsung pulang ke kediamannya. Arga terpaksa ikut di mobil orang tuanya karena kondisi kakinya yang masih terasa sedikit ngilu, motornya juga rusak di bagian setir yang bengkok akibat kecelakaan yang dialaminya.


Saat di perjalanan, Arga menyampaikan amanah dari pak Bintang kepadanya untuk mengatur pertemuan dengan kedua orang tuanya.


"Ayah, ibu.. besok ada waktu tidak?"


"Besok ayah masih cuti. Kenapa?"


"Kenal pak Bintang Bahari tidak?" Tanya Arga menatap orang tuanya bergantian.


Mendengar nama itu disebut, Hutama dan Andini saling melirik. Bagaimana mungkin mereka tidak mengenal orang tersebut.


"Kamu kenal beliau dari mana?" Tanya ibunya.


"Ditanya kok malah nanya balik sih, bu.." kesal Arga.


"Ayah dan ibu memang mengenal beliau, tapi itu sudah lama sekali. Sejak pindah ke Korea kami sudah hilang kontak dengan beliau dan keluarganya." Jawab ayahnya.


"Beliau ingin bertemu ayah dan ibu, besok bisa?"


Kedua orang tuanya mengangguk. Hutama dan Andini memang sudah lama mencari tau keberadaan Bintang dan keluarganya, hanya saja selama 3 tahun tinggal di Jakarta, mereka tidak bisa menemuinya.


*****

__ADS_1


Seperti janji Arga pada pak Bintang 2 hari yang lalu. Hari ini dia sudah membawa kedua orang tuanya ke salah satu restoran mewah dan mengambil private room di sana. Setelah masuk ke ruang yang sudah dibookingnya, hanya berselang beberapa menit pak Bintang pun tiba.


Mata pak Bintang dan ayah Hutama bersibobo cukup lama. Pak Bintang memutus tatapan mereka lalu menghambur memeluk ayah Hutama. Ia tak bisa menahan tangisnya. Tubuhnya bergetar hingga melorot dan berlutut. Ayah Hutama ikut berlutut, mencoba bersabar menunggu pak Bintang membuka mulutnya. Arga dan ibu Andini hanya berdiri mematung menyaksikan pemandangan pilu itu.


"Maafkan aku.. maaf, aku telah membunuh Farah dengan kedua tanganku sendiri." Kembali tangisnya pecah.


Bugghhh... Bugghhhh


Ayah Hutama tidak bisa menahan emosinya lalu memberikan bogem mentah ke wajah pak Bintang.


Dengan gerakan cepat Arga dan Ibu Andini memeluk ayah Hutama untuk menahannya dan menghentikan aksinya.


"Lepaskan, aku akan memberikan pelajaran kepada laki-laki sialan ini. Lepaskan, Din. Dia sudah mengambil Farah dari kita, memisahkan kita sekian puluh tahun darinya tapi apa yang dilakukannya? Brengs*k!!! Arrrggghhhh." ayah Hutama begitu frustasi. Ibu Andini begitu syok tak bisa berhenti menangis. Kenyataan ini terlalu pahit. Sahabatnya Farah sudah meninggal dan dia baru tau sekarang.


Ayah hutama memperbaiki posisi duduknya, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. Dia berusaha meredakan emosinya. Bagaimanapun Farah sudah meninggal.


"Katakan apa yang ingin kamu katakan!!!" Tegasnya.


Pak Bintang pun mengambil posisi duduk di hadapan ayah Hutama dan Ibu Andini.


"10 tahun yang lalu, aku menerima sebuah paket di kantor. Setelah kubuka, rupanya itu adalah foto-foto kamu dan Farah." Pak Bintang mengeluarkan sebuah amplop kecil dari sakunya dan meletakkannya di meja.


Ayah Hutama meraih amplop tersebut dan membukanya. Nampak foto Hutama dan Farah berpelukan dan mencium keningnya. Ia dan istrinya saling pandang, tatapan istrinya menuntut penjelasan. Hutama sendiri sedang berusaha mengingat momen itu.

__ADS_1


Hutama meraih tangan istrinya, "Kamu ingat gak waktu ayah ada penerbangan mendadak ke Indonesia karena Opa sakit? Waktu itu kita tidak sengaja ketemu Farah di Rumah Sakit bukan?" Andini mengangguk. "Coba kamu perhatikan baik-baik foto ini! Bukankah kamu juga ada di sana?" Kembali Andini hanya mengangguk tak bisa membendung air matanya.


"Sebenarnya bukan hanya itu saja. Di awal-awal pernikahan kami, saya sudah sering mendapatkan paket foto-foto kamu dan Farah. Saya tidak tau siapa pengirimnya, tapi itu sering saya dapatkan. Meskipun hati saya sakit melihatnya, tapi saya masih bisa berdamai dengan perasaan saya karena saya memang sangat mencintai Farah. Itulah kenapa saya melarang Farah bertemu kalian dan memutus semua akses komunikasi yang memungkinkan kalian atau Farah kembali saling terhubung." Lanjut pak Bintang.


"Tapi, foto terakhir ini membuat saya tidak bisa lagi menahannya. Hidup saya hancur. Saya mabuk-mabukan, saya sering membawa jalang pulang ke rumah, mengabaikan sakit hati Farah dan putri cantik kami. Dan sejak itu Farah saya buat seperti hidup di dalam neraka." Pak Bintang tercekak, tak sanggup melanjutkan ceritanya. Ia mengusap wajahnya kasar, menjambak rambutnya, menyembunyikan wajahnya di atas meja.


Cukup lama keheningan menguasai, masing-masing larut di dalam fikirannya.


"Hingga kejadian naas itu terjadi, lagi-lagi aku tersulut emosi. Aku membunuhnya. Aku tidak hanya membunuh Farah, wanita yang paling kucintai, tapi aku juga sudah membunuh hati putri kami." Mata pak Bintang menatap kosong, air matanya terus mengalir.


Ibu Andini tak bisa menahan tangisnya, tubuhnya terguncang di dalam pelukan suaminya. Ini terlalu menyakitkan baginya. Dialah yang mengenalkan mas Bintang pada Farah, mas Bintang adalah tetangganya. Ia merasa ikut andil dalam semua penderitaan yang dilalui Farah.


"Bodohnya aku.. aku hanya mempercayai foto-foto itu tanpa pernah meminta penjelasan pada Farah atau pada kalian. Maaf!!!" Lagi-lagi tubuhnya terguncang meratapi kebodohannya.


"Setelah kejadian itu, aku baru menemui titik terangnya. Ternyata orang dibalik semua itu adalah saudaraku sendiri. Ia tidak suka melihat kesuksesanku karena merasa itu adalah pemberian orang tua kami. Padahal Farah lah yang membantuku. Kalian tentu lebih tau itu. Dia perempuan cerdas dan energik, dia yang mengangkatku tinggi. Tapi balasannya adalah fitnah keji dari keluargaku sendiri. Aku sangat menyesal." Pak Bintang menyandarkan tubuhnya di kursi, mengangkat wajahnya memandang satu-satu pada Andini dan Hutama.


"Aku minta maaf, aku menyesali semuanya".


Ayah Hutama berdiri, masih ingin menghajar pak Bintang, tapi belum sempat ia melaksanakan aksinya, tubuh pak Bintang sudah duluan roboh kehilangan kesadarannya.


"Mas Bintang..." teriak Andini.


Mereka bertiga menghambur melihat kondisi pak Bintang, akhirnya mereka melarikannya ke Rumah Sakit terdekat.

__ADS_1


×××××


__ADS_2