Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Laki-Laki Kaku


__ADS_3

Cup..


"Jangan manyun gitu, mas jadi suka!" Ucap Arga setelah mencuri kecupan singkat di bibir Aya.


"Mas.. Aya mau pulang! Aku gak suka mas suka curi-curi cium aku seperti ini." Aya benar-benar kesal saat ini.


"Maaf.. maaf! Makan yuk, cacing-cacing di perut mas sudah pada demo minta dikasi makan." Arga mengalihkan perhatian Aya, ia tidak mau Aya terus marah padanya.


Aya mengambil kotak makanan yang tadi dibawanya lalu membukanya untuk Arga.


Arga diam saja tidak menyentuh makanan yang sudah disiapkan Aya.


"Katanya lapar, kok gak dimakan?"


"Suapin!" Ucap Arga manja.


Aya memutar bola matanya jengah, satu lagi yang Aya baru tau, Arga juga bisa manja seperti anak kecil seperti ini.


Aya menyerah dan akhirnya ia menyuapi Arga, Arga kemudian mengambil sendok dari tangan Aya lalu menyuapi Aya. Awalnya Aya menolak, tapi Arga memaksa.


Tok tok tok..


"Permisi pak." Fira muncul dari balik pintu dengan membawa beberapa map yang ia letakkan di meja Arga.


Kehadiran Fira tidak dihiraukan Arga dan terus menyuapi Aya. Fira yang melihat kegiatan romantis temannya dan bosnya itu tidak bisa menahan diri untuk berkomentar.


"Romantisnyaaa.. bu boss menang banyak nih." Ledek Fira pada Aya.


"Fira!"


"Iya bu boss!"


"Kamu pasti tau kan kalau perusahaan ini milikku?"

__ADS_1


"Tau banget bu boss!" Ucap Fira mulai khawatir melihat muka Aya mulai memerah. Entah karena malu atau karena marah.


"Sekarang keluar atau kamu aku pecat!" Ancam Aya.


Tanpa berkata apa lagi, Fira segera melipir keluar dan menutup pintu. Ia tegang, baru kali ini Aya beucap dengan nada mengancam padanya karena selama ia mengenal Aya, sekalipun ia tidak pernah melihat muka kesal Aya.


Setelah Fira keluar, Arga dan Aya tetap melanjutkan makan siangnya dalam diam. Aya mengakhiri makannya terlebih dahulu, ia sudah merasa kenyang karena tadi di rumah ia sudah makan sedikit saat menyediakan bekal untuk Arga.


"Toilet di mana, mas?" Tanya Aya hendak pergi membersihkan tangannya.


"Itu!" Arga menunjuk sebuah pintu tak jauh dari meja kerjanya.


Aya bangkit dan menuju ke sana. Saat membuka pintu, ternyata ia masuk ke sebuah kamar yang cukup besar menurutnya.


"Ini kamar ayah, dulu beliau lebih banyak menghabiskan waktunya di sini daripada pulang ke rumah." Ucap Arga yang tiba-tiba sudah berada di belakang Aya.


Aya mendekati nakas di sisi tempat tidur, matanya tertarik melihat sebuah frame foto berisi fotonya dan kedua orang tuanya di sana. Foto itu diambil saat kelulusannya di SMA. Tidak terasa air matanya menetes.


"Udah.. jangan nangis lagi. Beliau sekarang udah tenang di sana." Ucap Arga menenangkan Aya dengan mengelus-elus pundak Aya dari belakang.


Tangis Aya malah pecah, Arga membawa Aya ke dalam pelukannya. Cukup lama ia menangis sesegukan di dalam pelukan Arga. Saat mulai merasa tenang, Aya masuk ke kamar mandi menyelesaikan niat awalnya tadi mencari kamar mandi.


Karena sudah memasuki waktu dhuhur, Aya dan Arga sholat dhuhur berjamaah di kamar ayahnya. Aya tidak pernah lupa membawa alat sholat di dalam tas tangannya. Arga malah meminta Aya meninggalkan alat sholatnya itu di sini saja kalau-kalau besok-besok Aya datang lagi ke kantor.


Sebenarnya Aya ingin langsung pulang setelah menyampaikan tujuannya datang menemui Arga di kantor. Namun Arga menahannya, Arga meminta Aya istirahat saja dulu di kamar dan menunggunya selesai bekerja. Arga ingin mengajak Aya makan malam di luar bersamanya.


Ini kesempatan langka untuk Arga bisa berdua saja dengan Aya. Arga juga mau merasakan indahnya pacaran, tapi pacaran halal tentunya. Setelah usahanya cukup keras meyakinkan Aya, akhirnya Aya meng-iyakan ajakan Arga dan memilih beristirahat.


Arga sendiri melanjutkan pekerjaannya. Setelah membaca dokumen-dokumen untuk persiapan pengumuman award kontrak kerja mengenai pembangunan kapal peti kemas yang akan dibangunnya, Arga memghubungi Bara untuk menyiapkan rapat bersama dengan beberapa kepala divisi yang berkaitan.


Arga ingin memastikan bahwa angka-angka yang disebutkan di dalam proposal yang diajukan oleh 5 perusahaan yang ikut tender proyeknya tidak ada yang luput dari perhitungan mereka. Tentu saja penawaran harga yang paling rendah tidak selalu menjadi pertimbangan utama dalam memutuskan pemenang tender, begitupun sebaliknya. Kualitas yang utama, masalah harga, bisa diatur.


Bara mengetuk pintu lalu masuk menghadap Arga.

__ADS_1


"Rapatnya 30 menit lagi dimulai," ucap Bara mendudukkan bokongnya dikursi depan meja kerja Arga. Ia mengedarkan pandangannya menyapu ruang mencari seseorang tapi nihil.


"Istri lo udah pulang? Kok aku gak lihat?"


"Memangnya dia wajib laporan gitu sama lo kalo dia mau pulang?" Tanya Arga memicingkan matanya. Arga merasa tidak nyaman mendapati ada laki-laki lain selain dirinya yang menyimpan perhatian lebih pada istrinya.


"Lo cemburu?" Bara meledek Arga yang air mukanya mulai berubah.


"Ya iyalah, mana ada suami yang suka istrinya dicariin sama laki-laki lain. Makanya nikah bro, biar bisa lo bisa mengerti apa yang gue rasakan sama si Aya!" Arga mengompori Bara. Sementara yang dikompori hanya menanggapi dengan ekspresi datar.


"Oh yah, bagaimana dengan urusan om Dino? Apa dia masih berusaha mempengaruhi para direksi perusahaan?" Tanya Arga serius.


"Untuk sementara dia memilih tiarap, sepertinya ia tau kalau kita sudah mengantisipasi pergerakannya."


Arga terdiam dan berfikir sejenak bagaimana langkah selanjutnya menghadapi om Dino.


"Lo tetap awasi om Dino, jangan sampai lengah. Gue gak mau kita kecolongan." Ucap Arga lalu berjalan keluar ruangannya diikuti Bara di belakangnya.


Saat keluar dari ruangannya Arga menghampiri Fira. "Fir, si Aya lagi tidur di dalam, nanti kalau dia bangun cari aku, bilang sama dia kalau aku ada meeting sebentar dan kamu harus pastikan dia tidak pulang. Oke!"


Fira menahan nafasnya demi melihat boss barunya itu memberinya ultimatum. Dulu waktu masih sama pak Bintang, Fira menjadi salah satu sekertaris kesayangannya. Tidak pernah sekalipun ia merasa diancam.


Fira baru bisa bernafas lega saat dua laki-laki kaku itu meninggalkannya.


"Bagaimana yah hidup si Aya yang pendiam trus dapat suami kaku gitu, apa gak kesiksa lahir batin yah?" Ucap Fira pelan kepada dirinya sendiri membayangkan bagaimana kehidupan Arga dan Aya di rumah.


Fira menggeleng sendiri, ia menyadarkan dirinya untuk tidak terlalu penasaran dengan kehidupan rumah tangga teman dan bossnya itu. Bagaimana pun Fira bahagia melihat Aya mendapatkan laki-laki seperti Arga.


Meskipun Arga orangnya kaku, dingin, angkuh dan cuek, tapi ia bisa melihat kalau Arga adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Dan yang lebih membuatnya kagum dengan atasannya itu adalah bagaimana Arga menjaga sikapnya terhadap lawan jenisnya. Ia tidak pecicilan, jauh dari kesan laki-laki murahan. Jangankan menyentuh, si Viona resepsionis kantor saja yang seksi dan cantiknya kemana-mana sekalipun tidak pernah dilirik Arga.


4 jempol Fira kasi buat Arga. Like!


×××××

__ADS_1


__ADS_2