
"Cobalah dulu, baru cerita.
Pahamilah dulu, baru menjawab.
Pikirkan dulu, baru berkata.
Dengarkan dulu, baru beri penilaian.
Bekerjalah dulu, baru berharap."
- Socrates -
*****
Setelah sholat dhuhur, mereka berdua segera menuju ke ruang makan. Sebenarnya Arga meminta Aya istirahat saja di rumah, namun Aya bersikeras tetap masuk kerja. Aya merasa tidak enak jika absen lagi hari ini, padahal baru kemarin ia mulai bekerja setelah satu bulan cuti panjang. Tentu saja Arga mengizinkan, tetapi Arga yang akan mengantarnya.
Ibu Andini dan mbo Ani sedang sibuk di dapur menyiapkan makan siang. Ibu Andini tau kalau Arga dan Aya masih di rumah. Sebelumnya Alya sudah memberi info tadi malam saat mengantar Aya pulang ke rumah kalau kemungkinan besar Aya bakal buka segel malam ini, jadi ibu Andini dan Lala mendiamkan mereka di kamar bahkan mereka melewatkan sarapan.
Aya duduk canggung di meja makan, entah kenapa dia masih merasa malu pada Arga. Semu merah dan air muka tegang masih menggantung di wajahnya. Arga sendiri mencoba nampak biasa-biasa saja agar Aya tetap merasa nyaman ada di dekatnya.
"Ekkhhmmm." Lala tiba-tiba muncul mendekati mereka.
"Good morning kakak ipar! Good morning mas gagah!" Sapa Lala memberi ciuman kepada Arga dan Aya secara bergantian.
"Morning, La!" Jawab mereka kompak.
"Kamu gak bantu Ayah, La?" Tanya Arga merasa heran melihat Lala masih di rumah padahal setaunya Lala sudah mulai bekerja di perusahaan ayahnya.
"Gak mas, kantor ayah jauh, mana harus sering-sering ke Lembang. Aya kerja di perusahaan mas aja yah?"
"Loh, justru karena itu makanya kamu harus bantu ayah!"
"Atau Lala bantu-bantu mas di perusahaan kakak Ipar aja?"
"Boleh banget tuh, La." Ucap Aya setuju dengan ide Lala.
"Gak, bisa. Bekerjasama dengan saudara itu banyak hal yang dipertaruhkan. Jangan sampai kamu tidak profesional, mas tegur kamunya ngambek." Arga merasa tidak setuju dengan mereka berdua.
"Ya, dicoba dulu mas. Lumayan buat Lala belajar, kan mas juga yang diuntungkan nantinya kalau Lala sudah menguasai tugasnya. Kali aja tugas-tugas penting mas bisa didelegasikan ke Lala." Ucapan Aya sukses membuat Lala tersenyum riang.
Arga ikut tersenyum, ia seperti mendapatkan sebuah ide cemerlang mendengar kalimat Aya tadi.
"Iya juga yah, biar mas bisa punya banyak waktu buat kamu." Ucap Arga sambil mengerlingkan satu matanya ke Aya. Lagi-lagi Aya memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
"Apa semua laki-laki itu mesum saat sudah menikah?" Tanya Aya dalam hati.
"So, Lala keterima kan kerja di perusahaan kakak ipar?" Tanya Lala antusias.
"Tidak!"
"Iya!"
Ucap Arga dan Aya bersamaan.
"Loh, kok kakak ipar bilang tidak? Kan tadi di awal bilang iya!" Lala cemberut tidak menyangka kakak iparnya itu langsung berubah fikiran dalam sekejap.
Aya jadi merasa tidak enak, "boleh-boleh aja sih, La. Kakak gak masalah. Semua tergantung mas Arga."
Mata Lala sekarang menatap lekat kakak laki-laki kesayangannya itu dengan tatapan penuh pengharapan.
"Your wish is my command, honey!" Lagi-lagi Arga mengerlingkan kedua matanya ke Aya. Aya sudah malas menanggapi.
"Kalian kok serius banget ceritanya? Apa ada yang ibu lewatkan?" Tanya ibunya yang keluar dari dapur dengan membawa semangkuk besar sayup sop buat Aya.
"Ini buat kamu, biar tubuhnya bisa kembali fit setelah bekerja keras semalaman." Ucap ibunya menggoda. Wajah Aya lagi-lagi memerah bak kepiting rebus.
"Kok ibu tau? Apa kamar mas Arga gak kedap suara?" Tanyanya dalam hati.
"Ibu jangan tanya lagi, kasihan Aya, mukanya udah ngalah-ngalahin merahnya kepiting rebus." Aya fikir Arga akan membantunya keluar dari suasana memalukan ini tapi rupanya Arga malah ikut meledeknya.
"Dasar, suami gak ada akhlak." Kesal Aya tapi hanya dalam hati.
"Gimana rasanya kakak ipar? Lala penasaran!"
Pletak
Sebuah serbet melayang ke muka Lala dari tangan Arga.
"Mas apaan sih?"
"Kamu itu masih kecil. Ini pembicaraan orang dewasa."
"Umur Lala sekarang udah 22 tahun yah, tolong dicatat!"
"Udah-udah, kalian udah segede ini masih juga debat di meja makan." Ibunya menengahi.
"Sekarang Aya makan sop herbalnya, nanti keburu dingin." Imbuhnya beralih memperhatikan Aya.
__ADS_1
Aya hanya mengangguk lalu memakan sop herbalnya dalam diam.
"Aya mau ke rumah sakit yah?" Tanya ibu Andini setelah memperhatikan pakaian Aya.
"Iya, bu."
"Kok istrinya disuruh kerja sih, Ga? Kamu ini udah bikin Aya sakit gak tanggung jawab lagi." Jawaban Arga menguap di udara karena Aya sudah lebih duluan membuat alasan.
"Aya yang maksa kok, bu. Gak enak, baru kemarin masuk kerja masak hari ini gak masuk lagi..."
"Ya udah, tapi kamu jangan capek-capek dulu yah. Biar Arga junior atau Aya junior bisa segera launching!"
"Ibu gimana sih? Orang juga baru semalam bikinnya, masak mau langsung jadi?" Protes Arga, namun Aya sudah benar-benar tidak nyaman dengan pembicaraan ini.
Suara dering ponsel Lala seolah menjadi penyelamat untuk Aya. Lala pun pamit karena sudah ditunggu oleh temannya. Sementata Aya juga buru-buru menyelesaikan makannya agar bisa segera terbebas dari tema anak yang sering di dengungkan ibu mertuanya itu.
*****
Setibanya di parkiran Rumah Sakit, Arga bersikeras mengantar Aya ke ruangannya. Banyak mata memandang mereka. Bagaimana tidak? Dokter Aya yang terkenal cantik namun selalu bersikap dingin dengan lawan jenisnya tiba-tiba berjalan sambil pegangan tangan dengan seorang lelaki tampan di sisinya.
Aya dan Arga bersikap cuek dengan semua tatapan keheranan yang mereka dapatkan. Gak masalah juga sih buat Aya, mungkin ini akan menjadi jalan penyelamat dirinya dari gangguan laki-laki playboy cap kadal di rumah sakit. Karena bukan hanya dokter muda yang mengagumi kecantikan Aya, beberapa dokter yang sudah punya istri pun dengan tidak tau malunya ada yang mendekati Aya.
Saat berjalan melalui Lobby UGD, tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkah mereka.
"Mas Arga!!!" Seorang wanita cantik dengan body bak model berjalan cepat menghampiri mereka lalu dengan santainya memeluk Arga.
Arga tidak siap dengan sikap agresif dari wanita yang dikenalnya sebagai anak mantan Dubes Indonesia untuk Korea Selatan tersebut. Arga sejenak membeku di tempatnya.
Arga baru tersadar dari keterkejutannya saat Aya melepas genggaman tangannya kemudian berlalu pergi begitu saja meninggalkan Arga.
"Aya..tunggu!" Arga ingin mengejar Aya namun langkahnya tertahan tarikan tangan Imelda.
"Mas Arga mau kemana? Kok gak pernah ngasih kabar sih?"
"Maaf, Mel. Lain kali aja yah ceritanya. Istriku sedang menungguku."
Seketika wajah Imelda menunjukkan raut wajah terkejutnya, lelaki cinta pertamanya itu sudah punya istri. Oh yang benar saja!
"sejak kapan mas Arga menikah?"
"Kok gak ada kabar?" Monolog Imelda menyaksikan Arga yang perlahan menghilang dari pandanganya.
×××××
__ADS_1