Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Kejujuran Fira


__ADS_3

"Sekarang mulai dari kamu, Fir!"


Fira menelan kasar salivanya, kali ini ia sudah tidak bisa berkutik, ia sadar suatu saat Aya akan menanyakan semuanya. Tapi ditodong seperti ini membuat nyalinya ciut juga. Apalagi tatapan mata Aya saat ini menyorot tajam kepadanya.


"Oke, sekarang lo mau tau apa dari gue?" Tanya Fira menantang.


"Semuanya!" Jawab Aya singkat.


"Iya, semuanya yang bagaimana? Tanyakan saja nanti aku jawab."


Aya menatap malas pada Fira yang masih seolah ingin bermain teka teki dengannya.


"Oke, sekarang gue tanya, lo kenal ayah gue sebelum apa sesudah lo jadi tetangga unit gue?" Tanya Aya menyelidik.


"Gue pindah ke apartemen sejak hari pertama gue diterima bekerja di perusahaan ayah lo. Karena gue keterima jadi sekertaris beliau ya otomatis lebih duluan kenal ayah lo daripada lo sendiri. Tapi waktu itu gue belum kenal lo. Seingat gue yah, mungkin sekitar dua bulan tinggal di sana baru kita sempat kenalan. Lo sibuk, gue juga sibuk waktu itu. Dan lo ingat sendirikan setelah itu baru kita mulai saling menyapa dan sesekali saling memberi makanan. Pak Bintang sendiri memberi gue misi buat mengawasi lo enam bulan setelah gue bekerja di perusahaan beliau. Beliau melalui pak Bara melakukan observasi ke gue terlebih dahulu. Apa gue tulus berteman sama lo atau gue ada maksud tertentu. Asal lo tau aja, semua orang yang ada di sekitar lo udah diselidiki oleh pak Bintang-"


"Berarti gue juga dong?" Tanya Alya menjeda kalimat Fira.


"Iya, termasuk lo. Beruntung lo anak tante Mita, ponakan om Hutama alias ponakan dari sahabat ibunya Aya, makanya lo langsung lulus sensor." Ucap Fira menjawab rasa penasaran Alya.


"Lo pernah gak Ya merasa ada beberapa orang yang sebelumnya berusaha mendekati lo tapi tiba-tiba hilang kabar begitu saja?" Aya tampak berfikir mencoba mengingat-ingatnya.


"Harusnya lo sadar, itu si dokter terkeren di Rumah Sakit tempat lo bekerja yang coba dekatin lo langsung dimutasi ke pelosok karena tidak lolos uji kelayakan sama pak Bintang. Pokoknya semua orang yang ada di sekitar lo sudah melalui observasi lengkap, tidak ada yang terlewatkan. Bahkan beberapa dokter dan petinggi-petinggi di Rumah Sakit tau kalau lo anak pak Bintang, dan mereka-mereka ini tak luput dari tugas melindungi lo."


"Wow..aku gak percaya segitunya ayah mengawasiku?" Ucap Aya menanggapi cerita panjang dari Fira. Ia tersenyum kecut mendengar semua kenyataan ini.


"Lo jangan menyalahkan beliau, beliau sangat menyayangi lo, namun beliau sadar diri, beliau telah mengambil hal yang paling lo sayangi di dunia ini, masalahnya hal itu juga yang paling beliau sayangi. Beliau sangat menyesal Ya, demi Allah.. gue berani bersumpah atas nama Allah, gue jadi saksinya bagaimana beliau menyesali semuanya, gue bisa melihat bagaimana merindunya beliau sama lo. Tapi lagi-lagi beliau tidak pernah punya keberanian untuk datang menemui lo. Dan satu hal lagi, beliau tidak ingin orang lain tau bahwa lo anak satu-satunya masih hidup. Beliau sudah merekayasa kematian ibu lo sebagai sebuah kecelakaan dan lo ikut dalam kecelakaan tersebut."


"Bagaimana bisa? Saat itu gue ada di sana saat ibuku dimakamkan." Tanya Aya tidak percaya.

__ADS_1


"The power of money, Ya!" Ucap Fira sambil mengedikkan bahunya.


"Luar biasa." Celetuk Alya geleng-geleng kepala.


"Jangan lupakan bahwa ayah kamu adalah salah satu orang terkaya di Negeri ini, Ya!"


"Gue gak tau dan gue malas tau hal itu." Ucap Aya tidak tertarik.


"Tapi.. ditugasin atau tanpa ditugasin pak Bintang, lo anak beliau atau bukan, gue tulus berteman sama lo. Gue senang mengenal kalian berdua. Waktu pertama kali kalian ajakin gue ikut jalan-jalan ke mall, jujur, gue bahagia banget. Gue udah disibukkan dengan segala urusan kantor, rasanya hidup gue stuck di situ-situ saja. Berputar-putar di situ saja, tapi kalian mau merangkul gue, mengenalkan gue pada hal-hal baik, dan menjadikan gue juga menjadi pribadi yang lebih baik. Terima kasih, gue benar-benar tulus berterima kasih sama kalian berdua." Ucap Fira dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


Aya dan Alya menghambur memeluk Fira, mereka berangkulan seolah tidak ingin saling melepaskan satu sama lain.


"Kita juga senang sama lo kok Fir, mayan ada objek bullyan." Ujar Alya bercanda.


Mereka mengurai rangkulan mereka dan masih dengan suasana yang sedikit melow.


"Gue yang makasih banyak sama lo, Fir. Lo udah mau mau menerima kondisi gue yang kadang traumanya kambuh dan lo yang selalu datang menolong gue. Lo mau meminjamkan unit lo saat gue takut sendiri. Sampai kuncinya gue juga pegang."


"Sialan lo Fir, padahal gue udah terharu banget selama ini karena bisa keluar masuk unit lo berasa milik sendiri." Keluh Aya sebal.


"Tapi kenyataannya memang gitu Ya, kan tadi lo minta gue jujur. Bahkan sampai sekarang masih dibayarin sama kantor loh."


"Tapi bagaimana ceritanya sampai lo mau menerima misi ini?" Tanya Alya penasaran.


"Kalian ingat kan si manusia kanebo kering itu?" Tanya Fira mendekatkan tubuhnya ke Aya dan Alya.


"Dia ngancem gue, kalau gak mau bekerja sama, gue bakal dimutasi ke pelosok Papua sono dan akses untuk gue kembali ke kota bakal diblokir seutuhnya. Ngeri gue!" Jawab Fira bergidik.


Fira mengingat bagaimana cara Bara membawanya ke dalam sebuah ruangan tertutup, kemudian ia didudukkan di sebuah kursi kayu lalu ditinggal selama berjam-jam di ruangan tersebut. Suasananya jadi horor karena lampu dimatikan. Fira merasa seperti sedang menunggu ajalnya saat itu. Padahal saat itu Bara hanya sedang melakukan beberapa prosedur untuk Fira lalui agar bisa diangkat menjadi tim kepercayaan pak Bintang.

__ADS_1


"Setelah itu, lo diapain sama mas Bara?" Kali ini Aya yang penasaran.


"Gak diapa-apain sih, hanya dikasi pembekalan biar setrong menghadapi dunia yang penuh dengan kepalsuan ini." Jawab Fira asal.


"Isshhh.. ditanya serius kok malah bercanda." Kesal Aya.


"Memangnya lo berharap apa sama pak Bara? Udah tau orangnya gitu, kaku, dingin, tidak ada ekspresi, gue bingung tau hadapin dia lebih 7 tahun ini." Kali ini Fira mengeluh.


"Memangnya lo benar-benar gak ada perasaan gitu sama mas Bara. Gue perhatiin dia sering curi-curi pandang loh ke lo?" Tanya Alya.


"Wah, sepertinya mata lo udah gak bener Al, yang ada dia cueknya minta ampun sama gue. Heran deh gue. Klo difikir-fikir, mengingat interaksi gue sama dia yang udah bertahun-tahun, kalau memang gak jadian, minimal kita jadi sohib lah, tapi adanya, gue sering dianggap seperti gak ada. Sebel tau!" Fira betul-betul tidak habis fikir dengan perlakuan Bara padanya.


Fira tidak pernah berharap lebih pada Bara, apalagi berharap dijadikan wanita spesial untuknya, tapi yang ia harapkan perlakuan hangat sebagai sesama rekan kerja. Fira sangat faham dengan batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan, tapi sedikit berbasa basi bukanlah sebuah dosa. Ini juga yang kadang membuat Fira merasa tidak nyaman bekerja di perusahaan ayah Aya, perlakuan Bara ini cukup mengganjal di hatinya.


"Udah bawaan dari orok kali, Fir. Mungkin lo nya juga yang terkesan cuek makanya dia merasa lo gak suka sama dia. Yaa kali aja dia tipe laki-laki yang punya banyak harga diri. Kan susah banget tuh dapat cowok macam mas Bara!" Aya mencoba melihat dari sudut pandang yang lain.


"Iya juga kali, kalo mau jujur sih yah, gue memang selalu merasa lebih aman kalo sama pak Bara, gue yakin aja gitu, even gue telanjang sekalipun mungkin gue gak bakal diapa-apain sama dia." Seloroh Fira.


"Kalo itu mah laki-laki bengkok kali Fir." Ucap Aya menahan tawanya.


"So, gimana? Apa masih ada yang mau lo tanyain lagi?" Ucap Fira kembali ke topik utama.


"Gue kira udah cukup dari lo, gue hanya mau tau aja motivasi lo berada di sini. Apa murni karena pertemanan atau karena pekerjaan?"


"Intinya, lo lupain semua yang sudah terjadi, Ya. Yang lalu biarlah berlalu. Ayah dan ibu lo udah tenang di sana, sekarang tugas lo mendoakan mereka. Berhenti terjebak dengan masa lalu, karena mengingat-ingat masa lalu itu hanya seperti lo lagi membuat rencana tanpa masa depan. Untuk apa?" Nasehat Fira yang cukup mengena di hati Aya.


Aya menghembuskan nafasnya panjang, ia membawa matanya memandangi ikan-ikan yang berebutan pelet yang barusan dilemparnya masuk ke kolam.


"Membuat rencana tanpa masa depan," Aya mengulang kata-kata Fira. "Lo benar Fir, sepertinya gue memang masih sedang berada di fase itu." Ucapnya menyunggingkan senyum mencemooh dirinya sendiri. Betapa ia sudah menghabiskan bertahun-tahun waktunya hanya untuk meratapi masa lalunya.

__ADS_1


×××××


__ADS_2