Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Tertangkap Basah


__ADS_3

"Tante!!!"


Aya kaget, ternyata tante Andini yang datang bertamu sepagi ini. Tante Andini langsung masuk tanpa dipersilahkan terlebih dahulu. Aya masih mematung memegangi daun pintu. Buru-buru Aya menghampiri tante Andini yang sudah duduk manis di sofa ruang TV.


Belum selesai dengan keterkejutannya, Arga sudah muncul dari arah dapur, "siapa, Ya?"


Arga membelalak, ibunya!!!


"Astaghfirullah...Arga.." teriak tante Andini. "Yaa Allah, kamu ngapain di sini?" Tante Andini berdiri lalu meraih kuping Arga, dijewernya tanpa ampun.


"Awww..awww..awwww..sakit, bu. Sakit!!!" Protes Arga.


"Kamu yah, ibu khawatir tunggu kamu tapi ga muncul-muncul. Ditelpon, ga aktif. Ibu tanya Alya katanya kamu sudah pulang sama Aya. Ibu telpon Aya, sama.. ga aktif, bikin ibu jantungan, ibu takut terjadi apa-apa sama kalian berdua, kamu ngerti gak?" Jelas tante Andini marah.


Ah, Arga dan Aya baru sadar sejak semalam tak satupun dari meŕeka yang sempat periksa ponselnya. Mungkin lowbat, jadi gak merasa ada telpon yang masuk.


Aya menghampiri tante Andini lalu mengajaknya duduk kembali, "maaf tante, dari semalam Aya ga pegang ponsel. Mungkin baterainya mati."


Arga ikut duduk dan meraih tangan ibunya, "maaf" ucapnya lembut.


Menyadari tangan Arga yang terasa dingin karena basah, "Tangan kamu kok ada busa sabun begini? Aroma sabun cuci piring lagi?" Tanya tante Andini menyelidik.


Aya melotot ke Arga.


"Oh. Arga lagi cuci piring." jawabnya santai.


Tante Andini mengangguk-anggukkan kepalanya, "hmmm.. jadi kamu lagi berperan sebagai suami sholeha. Bagus, silahkan dilanjutkan!"


Tante Andini nampak berfikir.

__ADS_1


"Tunggu dulu. Kamu ngapain di sini pagi-pagi begini?" tante Andini menatap Aya dan Arga bergantian, "jangan bilang kalau kalian sudah tidur bersama dan melakukan itu?" Tanyanya curiga sambil mempertemukan dua ujung jari telunjuknya.


"Gak kok tante." sela Aya cepat. Menggeleng.


"Ibu apaan sih?" Ucap Arga bersamaan dengan Aya.


"Aya tidur di unit sebelah, mas Arga di sini." Aya menjelaskan.


"Aya gak bohong kan sama tante? Kamu yakin dia gak macam-macam sama kamu?" Tanyanya lagi.


"Aya gak bohong kok tante, sumpah." Aya mengangkat tanggannya dengan 2 jari mengacung.


"Jangan ragu minta tanggung jawab klo sampai dia apa-apain kamu" ucap tante Andini.


"Ini Arga udah lama mau tanggung jawab, dianya aja yang gak mau terima." ucap Arga mencebikkan bibirnya ke Aya lalu ia kembali berjalan ke dapur melanjutkan cucian piringnya.


"Mau kemana kamu?" Tanya tante Andini.


"Cuci piring, mau lanjutin peran suami sholeha buat Aya." Aya speechless, ibu dan anak ini kalau ngomong seperti tidak ada filternya.


Cucian piring di washtafel tadi memang cukup banyak, selain sisa peralatan masak dan piring makan berdua tadi, Aya sebelumnya menaruh semua gelas dan piring-piring lainnya di sana untuk dia cuci kembali setelah ditinggal seminggu gak kepake. Sebenarnya Arga sudah selesai, hanya saja tadi belum selesai beresin washtafel-nya.


Tante Andini masih terus menyunggingkan senyumnya demi mendengar candaan putra kesayangannya itu.


"Aya, kamu yakin gak mau nikah sama Arga? Sepertinya dia benar-benar tertarik loh sama kamu. Tante belum pernah melihat dia bersikap hangat terhadap perempuan lain selain kamu. Lagian tante juga udah terlanjur sayang sama kamu, klo jadi mantu tante, sayangnya tante ke kamu akan tante tambahin lagi deh." Ucapnya serius lalu memeluk Aya.


Aya mendesah panjang dalam pelukan tante Andini. Bingung dengan hatinya. Bohong jika dia sama sekali tidak tertarik dengan pesona Arga. Tapi untuk menikah, rasanya ia masih takut.


Tante Andini mengurai pelukannya, memegang kedua pundak Aya lalu menatap lekat ke dalam matanya, "Kenapa? Kamu masih takut, hemmm?"

__ADS_1


Aya mengambil kedua tangan tante Andini, memegangnya erat. "Kalau dibilang takut, iya Aya masih takut, tante. Tidak mudah buat Aya melupakan kejadian itu. Lagian Aya sudah nyaman seperti ini sama tante. Takutnya nanti tante malah berubah jadi mertua lampir setelah Aya jadi menantunya." Candanya ingin keluar dari pembicaraan serius ini.


"Ha ha ha... ha ha ha" Arga yang baru keluar dari dapur sempat mendengar kata-kata Aya tadi tidak sanggup menahan tawanya. "Bukan mertua lampir, Ya.. tapi jadi mertua ter the best segalaksi bimasakti," imbuhnya.


"Issshhh.. apaan sih, resek banget urusan perempuan." Aya jengkel.


"Ya udah, aku pergi. Silahkan dilanjutkan rencana perjodohannya."


"Mas Argaaaa..." sebuah bantal sofa melayang. Arga tertawa terbahak-bahak sambil berlalu masuk ke kamar Aya.


Aya dan tante Andini saling pandang. "Ini yang punya apartemen Aya apa Arga? Apa aku sudah melewatkan sesuatu?" Monolog tante Andini di dalam hati.


Sementara Aya hanya bisa nyengir ke tante Andini. Ia sendiri bingung harus bagaimana bereaksi dengan kelakuan Arga tadi.


Tidak berapa lama Arga keluar dari kamar sambil membawa ponselnya. "Ibu masih mau disini lanjutin persentase proposal perjodohannya atau mau ikut Arga pulang?"


Tante Andini segera bangkit dan meraih tasnya, "udah, ibu ikut. Aya ikut ke rumah yah, daripada kamu sendiri di sini."


"Gak tante, makasih. Lain kali aja. Aya masih sedikit lelah, pengen istirahat. Besok udah mau kerja lagi juga" tolaknya halus.


"Ok, kami pulang dulu. Kamu yang baik di sini." Aya meraih tangannya dan menciumnya, sejenak mereka berpelukan. "Tolong dipikirin lagi yang tadi tante bilang." Bisik tante Andini kemudian melepaskan pelukannya menuju pintu keluar.


Arga pun ikut berjalan disusul Aya di belakangnya. Saat Aya hendak menutup pintunya, tiba-tiba Arga menahan pintunya, Arga menunduk mensejajarkan wajahnya dengan Aya, "see you next time, future wife." ucapnya pelan dengan seringai nakalnya.


Aya langsung menutup pintunya dengan kekuatan penuh. Ia tidak peduli dengan apa yang dipikirkan tentang dirinya oleh tante Andini yang juga masih berdiri di depan pintu.


Aya menyandarkan tubuhnya di pintu. Lagi-lagi dia dibuat olahraga jantung oleh Arga.


×××××

__ADS_1


__ADS_2