
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aya mulai gelisah ingin cepat-cepat pulang. Sebenarnya sejak kejadian di kamar Arga tadi, Aya sudah tidak nyaman berada di sana. Hanya saja tante Andini terus bercerita tentang kenangannya bersama mendiang ibunya. Beberapa album foto yang sudah nampak usang menemani percakapan mereka.
Arga cukup mengerti ketidaknyamanan Aya dengan kehadirannya. Meskipun dia masih ingin berlama-lama dekat dan memandangi wajah istrinya itu, tapi dia tidak boleh egois. Akhirnya Arga menenggelamkan dirinya dengan tumpukan pekerjaan kantor di kamarnya.
Lama berfikir, Aya membuka suara menyampaikan keinginannya untuk pulang ke apartemennya. Tentu saja ibu Andini menahannya, tapi Aya bersikeras ingin tetap pulang. Dia berjanji akhir pekan nanti dia akan datang lagi ke sini. Ibu Andini pun mengalah.
Ibu Andini dan ayah Hutama mengantar Aya ke depan. Aya mencium tangan pasangan suami istri itu lalu naik ke mobilnya. Aya mulai menyalakan mobilnya, tapi ada yang aneh. Mobilnya susah bergerak. Ia turun memeriksa mobilnya, "oh God, bannya kempes." Tidak tanggung-tanggung, keempat-empat bannya kempes.
Ibu Andini yang masih setia berdiri di depan pintu tersenyum penuh kemenangan. Drama ban kempes ini adalah idenya. Semua sudah dia atur sedemikian rupa. Supir ayah Hutama tadi sudah dia usir terserah mau kemana, yang penting jangan pulang dulu sebelum jam 11 malam.
"Ada apa, nak?" Tanyanya mendekati Aya.
"Ini tante, bannya kempes. Mana semuanya kempes lagi." Jawab Aya frustasi.
"Ya udah, sepertinya kamu memang harus nginap malam ini." jawabnya tersenyum.
"Gak usah tante, biar saya naik taksi aja", Aya masih bersikeras ingin pulang.
"Sebentar, kamu tunggu di sini dulu, tante panggil Arga dulu di atas." Tanpa menunggu jawaban Aya, ibu Andini melangkah cepat masuk rumah.
__ADS_1
"Tidak usah tante, saya bisa naik taksi." Jawab Aya setengah berteriak. Dia yakin tante Andini mendengar ucapannya tapi wanita itu terlalu pemaksa tentu dia tidak akan peduli dengan ucapan Aya.
Ibu Andini keluar menemui Aya disusul Arga di belakangnya.
"Tante, Aya naik taksi aja yah. Plisss." Tanpa memperdulikan kehadiran Arga, Aya merapatkan dua telapak tangannya memohon seperti seorang anak kecil merengek minta permen pada ibunya.
"No, sayang, kamu pilih. Nginap di sini atau diantar Arga?" Ibu Andini nampak tidak ingin dibantah.
Aya pasrah, daripada dia tidur di kamar Arga, lebih baik pulang diantar Arga, begitu lebih baik, toh dia bisa duduk di kursi belakang dan mendiamkan Arga sepenjang jalan, fikirnya.
Arga yang menggunakan pakaian santai dengan jaket kulit coklat menutupi kaosnya semakin menampakkan pesonanya. Aya juga perempuan normal, meskipun dia tidak ingin menjalin kedekatan dengan laki-laki manapun, tapi bukan berarti dia tidak bisa bedakan mana laki-laki tampan dan mana yang gagal tampan. Ia juga tentu saja punya rasa ketertarikan pada lawan jenisnya. Apalagi yang good looking begini.
Arga menyerahkan satu helm ke Aya. "Ayok.." ajak Arga dan berlalu mengambil motornya.
Arga melihat Aya hanya diam mematung larut dalam fikirannya sendiri, ia turun dari motornya lalu berjalan ke arah Aya mengambil helm dari tangannya lalu memakaikannya di kepala Aya.
"Sudah!" Arga mengetok helm di kepala Aya.
Aya tersadar dari lamunannya, "aku tidak mau naik motor, aku naik taksi aja." tolaknya.
__ADS_1
"Ini sudah malam, nunggu sampe kucing ubanan juga gak bakal ada taxi yang lewat sini." Arga malas berdebat, ia menarik tangan Aya mendekat ke motornya. "Mau naik sendiri atau aku angkat?"
Aya mencebikkan bibirnya, kesal dengan sifat pemaksa Arga, "anak sama emaknya sama. Sama-sama pemaksa." Kesalnya dalam hati. Ia buru-buru ikut naik ke motor, Arga pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Tak ada yang membuka suara. Aya larut dalam fikirannya sendiri, irama jantungnya seperti tak bisa lagi dia kendalikan. Ini adalah pengalaman pertamanya naik motor, dibonceng sama pria tampan pula. Pria tampan yang mungkin sudah melihat seluruh tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Aya menggeleng menepis isi kepalanya.
Sementara Arga tak henti-hentinya tersenyum sepanjang jalan. Dia sangat bahagia. Bonceng istri cantik malam-malam begini masuk dalam salah satu to do list yang akan dia lakukan setelah menikah dan kini sudah jadi kenyataan. Sayangnya, ini tidak pake dipeluk manja dari belakang oleh istrinya.
"Pegangan, nanti jatuh." Ucap Arga yang greget karena Aya hanya menaruh kedua tangannya menutupi dadanya.
Tak ingin berdebat, Aya memilih memegang jacket kulit Arga di kedua sisinya. Padahal Arga sudah berniat menarik tangan Aya untuk memeluknya andai dia masih kekeh dengan kelakuan kekanak-kanakannya itu.
Sampai di apartement, Arga ikut masuk ke lift. "Kamu ngapain ikut ke atas?" Tanya Aya curiga.
"Anterin kamu lah, bisa digantung gue di pohon tomat sama Ibu kalau sampai kamu lecet sedikit saja." Padahal itu hanya modus Arga saja yang masih pengen lama-lama berduaan sama Aya.
Tiba di depan pintu unit apartemennya, Aya membuka kuncinya. "Udah nyampe, sekarang kamu boleh pulang." Usirnya halus.
"Gak bilang terima kasih atau tawarin kopi dulu gitu?" Canda Arga disambut bunyi pintu yang ditutup cukup keras oleh Aya yang langsung kabur masuk unit apartemennya.
Arga semakin gemas, tidak sabar rasanya menunggu hari itu tiba.
__ADS_1
×××××
Semangat, Ga!!! Pepet terossss, jang kasi kendooorrrr😁