
Aya terkejut, kakinya terasa kaku dan tak bisa digerakkan. Tubuhnya bergetar, matanya panas menahan gulungan gelombang perasaan sakit yang mendesak ingin pecah.
Arga, lelaki yang coba ia perjuangkan hingga sejauh ini, lelaki yang membuat sekumpulan rindu mengakar dari dasar palung hatinya hingga menggunung tinggi ke angkasa, lelaki itu!
Arrrggghhhh...
Lihatlah dia, betapa senyumnya tak pernah lepas saat bercengkrama dengan seorang perempuan cantik di hadapannya meskipun sudah kelihatan berumur, namun gesture tubuh Arga begitu luwes menanggapinya.
Hatinya kacau, apa mungkin dugaannya memang benar? Arga bukanlah lelaki baik-baik, Arga tidak lebih dari lelaki gampangan yang tiba-tiba dipungut ayahnya menjadi suaminya.
Sekali lagi matanya menembus ke dalam pandangan Arga, sejenak mereka sama-sama terpaku dan larut dalam fikiran masing-masing. Ketika kesadaran menghantamnya, Aya berbalik dan berlalu pergi begitu saja.
Aya berlari tak tentu arah, ia hanya terus mengikuti kemana langkah kakinya membawanya. Hatinya sudah hancur berkeping-keping. Tak ada lagi gunanya memperjuangkan Arga. Seharuanya dari awal ia tidak membiarkan dirinya masuk dalam perangkap pernikahan ini, seharusnya ia tidak membiarkan Arga masuk ke dalam hatinya jika pada akhirnya harus merasakan sakit seperti ini.
Langkah Aya berhenti di sebuah taman yang cukup sepi namun dipenuhi lampu-lampu berwarna warni. Suasananya begitu tenang, sayangnya hatinya sedang bergemuruh ingin meledakkan semua perasaannya.
Aya menangis tanpa suara, hanya air mata yang terus setia membasahi pipinya, seolah ia tidak rela membiarkan Aya larut dalam kesepian dan kesedihannya.
"Argaaaaa... kamu jahat, aku benci sama kamu!" Ucapnya bergetar. Sungguh sakit mengucapkan kata-kata itu, melebihi rasa sakitnya pada Arga saat ini.
*****
Arga yang menyadari kepergian Aya langsung ingin mengejarnya, namun sesaat langkahnya di tahan ibu Lili.
"Hei, mau kemana?"
"Maaf, bu Lili. Saya harus pergi dulu. Penting!!!"
Tanpa menunggu respon bu Lili, Arga segera melesat mengejar Aya. Ia kebingungan karena kehilangan jejak. Arga terus mondar-mandir kesana-kemari mencari keberadaan Aya. Arga yakin Aya tidak akan pergi jauh dari sini.
Setelah beberapa waktu berjalan dan berlari mencari Aya, akhirnya matanya menangkap sosok Aya sedang duduk di sebuah kursi taman. Cepat-cepat Arga mendekatinya, namun semakin dekat semakin terdengar samar olehnya rapalan kata-kata yang diucapkan Aya.
"Aya benci mas Arga, mas Arga jahat, Aya gak mau kenal dia lagi."
__ADS_1
Arga berdiri mematung di belakang Aya, perih rasanya melihat Aya seperti ini, ingin rasanya Arga segera membawanya ke dalam pelukannya, namun ia telan bulat-bulat hasratnya itu. Ia ingin memberi waktu untuk Aya menumpahkan semua kekesalannya padanya.
Gerimis mulai turun, terasa halus seperti kapas. Aya tidak peduli, biarlah gerimis ini menjadi temannya malam ini. Ia sudah terbiasa bercumbu dengan kesepian, maka biarlah gerimis kali ini ikut menemaninya.
Pelan-pelan Arga memayungkan jasnya di atas kepala Aya. Hingga gerimis itu kian menebal dan terasa basah membuat udara semakin terasa dingin. Aya tak terganggu, kalau memang harus hujan, biar saja. Biarkan hujan yang menghapus air matanya.
Aneh! Aya merasa aneh kini, ia tau bahwa gerimis mulai menebal dan sebentar lagi berubah menjadi hujan, namun mengapa kepalanya tidak basah?
Aya mengangkat kepalanya miring memandang ke atas, sebuah jas hitam memayunginya. Ia semakin membalik sedikit tubuhnya, matanya kini bertemu pandang dengan Arga.
"Sudah selesai membencinya? Kalau masih mau lanjut, nanti di Hotel aja." Ucap Arga dingin.
Aya berdiri lalu bergegas pergi meninggalkan Arga. Arga pun tak kalah sigapnya mengikuti Aya dari belakang kemudian ia mengangakat tubuh Aya ke pundaknya seperti mengangkat sebuah karung beras.
"Turunin!!!"
"Enggak!"
"Aku bilang turunin!!!" Bentak Aya dengan tubuh yang terus menggeliat.
"Aku benci kamu, turunin!" Arga menulikan telinganya, terserah Aya mau bilang apa. Sampai di Hotel, beberapa pasang mata memandang mereka, namun Arga tidak mau ambil pusing, ia terus membawa istrinya itu ke kamarnya.
Arga membuka pintu kamarnya kemudian menguncinya kembali, setelah itu dia langsung membawa Aya masuk kamar mandi, kemudian didudukkan di atas closet. Arga mengisi bathtup dengan air hangat, tak lupa ia menambahkan aroma terapi ke dalamnya.
Ia kemudian mengambil handuk lalu memberikannya ke Aya. Pakaian mereka sudah basah sedari tadi mengingat hujan yang mulai turun saat mereka kembali ke hotel.
"Buka pakaian kamu dan mandi!" Perintah Arga.
Arga pun dengan cueknya melepas semua pakaiannya di hadapan Aya kemudian menuju shower dan mandi di sana. Menyadari Aya tidak melakukan gerakan apa-apa dan hanya diam sejak dari tadi, Arga kemudian mendekati Aya.
"Lepas sekarang, atau aku yang melepasnya?"
Tangan Arga langsung memegang jilbab Aya dan dengan telaten membuka peniti dan beberapa jarum pentul di sana. Aya membuang mukanya. Ia muak melihat wajah Arga.
__ADS_1
"Urus saja dirimu sendiri, aku bisa urus diriku sendiri." Kembali mata Aya memanas, cairan di hidungnya sudah ikut menumpuk di langit hidungnya.
Arga tersenyum sumbang, ia kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Aya.
"Kamu itu milik aku, aku bisa lakuin apa saja yang kumau." Bisik Arga dengan bibir menempel di telinga Aya.
Aya meremang, ada ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya. Mukanya memerah merona malu, jantungnya berdetak kencang. Aya merutuki reaksi tubuhnya yang berlawanan dengan kehendak otaknya.
Tidak terasa Arga sudah membuka semua pakaian Aya lalu mengangkat tubuh Aya masuk ke dalam bathtup.
"Mandilah, jangan lama-lama. Nanti masuk angin!"
Arga kemudian melanjutkan mandinya dan setelah itu ia langsung keluar.
Aya menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam bathtup, setelah 5 detik, ia kembali memunculkan tubuhnya ke atas.
Aya tidak percaya, Arga yang bersalah padanya tapi kenapa Arga yang malah bersikap dingin padanya? Bahkan, di wajahnya tidak ada menunjukkan rasa bersalah dan menyesal.
Aya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk kecil melilit di dadanya dan sebuah handuk yang lebih kecil lagi di atas kepalanya. Arga sendiri sudah nampak fresh dengan hanya memakai kaos oblong hitam dan celana pendek selutut.
"Ini, pakai aja dulu. Aku baru minta pak Hamdan membawa barangmu ke sini." Ucap Arga memberikan kemejanya pada Aya.
Aya galau, "kemeja tipis gitu, bisa nutupin apa?" Keluh Aya dalam hatinya tapi tangannya tetap mengambil kemeja itu lalu memakainya cepat kemudian langsung masuk ke dalam selimut.
"Hei, jangan tidur dulu. Ini aku udah pesankan makanan. Kamu belum makan kan? Aku juga belum loh. Ayok kita makan." Arga mengelus-elus punggung Aya di balik selimut.
"Tunggu pak Hamdan dulu bawa pakaian aku."
"Loh, kan itu udah pakai baju aku."
"Iya, baju doang gak ada dalemannya. Sama saja bohong." Ujar Aya cemberut. Sementara Arga berusaha menahan tawanya karena berhasil membuat Aya mati kutu seperti ini.
"Gak pake apa-apa juga gak papa Ya, depan suami sendiri kok." Goda Arga. Aya membuka selimut yang menutupi wajahnya, tatapannya tajam ke arah Arga.
__ADS_1
"Suami apaan? Suami gampangan gitu?"
×××××