Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
My Work My Healing


__ADS_3

9 tahun kemudian...


Seorang gadis ayu dengan jilbab warna pink sedang terlihat begitu serius membaca beberapa berkas riwayat hasil pemeriksaan pasien-pasiennya di ruang kerjanya. Wajahnya yang putih bersih menampakkan aura bersahaja, anggun dan tegas. Di pipi kirinya ada sebuah lesung pipit yang nampak begitu manis menghiasi wajahnya meskipun dia hanya menelan ludah. Apalagi jika tersenyum. Manis!!!


Meski tubuhnya terasa lelah, tapi baginya profesionalitas dalam bekerja adalah salah satu ibadah terbaik. Apalagi ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Tidak boleh ada yang terlewatkan dari pengamatannya.


Bekerja membuatnya terhindar dan hal-hal yang sia-sia. Bahkan sekedar memikirkan sesuatu yang sia-sia sekalipun dia sudah tidak punya waktu. Dia tidak ingin membuat dirinya memiliki waktu untuk meratapi luka hatinya di masa lalu. Luka yang berusaha disembunyikannya dibalik senyum manisnya itu. Apalagi sampai membuat luka baru, tidak! Tidak lagi, dia hanya ingin bahagia dengan caranya sendiri.


Hari ini dia ada janji dengan Alya, salah satu atau tepatnya satu-satunya orang yang dia ijinkan masuk ke dalam hidupnya menjadi sahabat, rekannya sesama dokter. Hanya saja Alya adalah dokter obgyn. Kedekatan mereka mulai terjalin dikarenakan nama panggilan mereka yang hampir mirip. Karena seringnya mereka salah paham, orang manggil Aya, yang jawab malah Alya dan begitupun sebaliknya hingga mereka dekat. Dari yang awalnya hanya saling melempar senyum saatbbertemu lalu tidak sengaja bertemu di kantin Rumah Sakit. Akhirnya jadi teman makan siang lalu naik tingkat jadi teman jalan-jalan ke mall dan akhirnya sesekali Alya menginap di apartemen Aya. Begitupun dengan Aya, iya juga kadang-kadang menginap di rumah Alya berama kedua orang tuanya.


Alya yang periang, ceplas ceplos dan cerewet seperti satu sisi koin yang melengkapi sifat Aya yang pendiam dan tertutup. Tetapi justru itu yang menjadi daya tarik tersendiri dari sosok seorang Alya yang membuat Aya tertarik berteman dekat dengannya.


"Serius amat sih, jeng." Tanpa mengetuk pintu ruang kerja Aya, tiba-tiba Alya masuk nyelonong dengan suara cemprengnya meletakkan bokongnya tepat di kursi depan meja kerja Aya.


"Gila lo, gue kira kunti cantik darimana tiba-tiba duduk di depan gue." Canda Aya yang matanya masih tetap fokus pada tumpukan berkas dan beberapa foto rontgen di atas mejanya.

__ADS_1


Alya berdiri dari tempat duduknya, sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan mendekati Aya yang terhalang meja kemudian meletakkan satu telapak tangannya di jidatnya sendiri. "Gak panas. Suhu normal. Lo abis keselek tulang buaya yah sampe ngomong gue cantik?" Tanya Alya menampakkan air muka serius.


"Apaan sih. Ayo jalan!" Aya merapikan mejanya yang sedikit berantakan, ia mengambil poselnya lalu menarik tasnya berjalan mendahului Alya keluar dari ruang kerjanya.


Sebenarnya, Aya tidak begitu suka dengan suasana keramaian mall. Dia juga sangat lelah karena bekerja di tiga Rumah Sakit berbeda membuatnya sangat sibuk. Tapi dia sangat menikmatinya. Bersahabat dengan Alya baginya sudah cukup merepotkan. Cukup Alya, Aya tidak mau lagi menambahnya dengan kadar kedekatan seperti Alya. Alya yang cerewet dengan cerita jatuh cinta dan patah hatinya. Alya yang seperti punya banyak energi kalau sudah ketemu mall sering membuat Aya kewalahan menemaninya tawaf di dalam mall.


Meskipun mereka sudah lama bersahabat, tapi menghabiskan waktu berdua saja seperti ini cukup jarang mereka lakukan. Selain karena kesibukan masing-masing yang menyita waktu, mereka berdua punya prinsip yang sama dalam memandang sebuah hubungan persahabatan.


Sahabat itu adalah teman dekat, tapi bukan berarti dimana ada kamu disitu juga pasti ada dia. Sahabat itu tidak mengikat, ia membebaskanmu bergaul dengan siapa saja. Yang terpenting hati sudah saling terpaut, saling memahami satu sama lain dan bisa menjadi tempat untuk berbagi suka duka.


Meskipun Aya pribadi yang pendiam dan tertutup, tapi dia murah senyum kepada orang-orang yang dikenalnya dan tetap berusaha bersikap ramah kepada pasien-pasiennya. Basa-basinya yang irit banget, tapi jika ada yang meminta penjelasan tentang keilmuannya, maka dia tidak akan segan menjelaskannya secara rinci dan tuntas. Makanya dia banyak disegani oleh orang-orang di sekitarnya. Dan tentu saja ada beberapa rekannya yang menaruh hati padanya. Sayangnya tidak ada satupun yang mendapat respon positif dari Aya.


Aya bukan gadis polos yang tidak bisa membedakan mana laki-laki yang tertarik padanya atau mana laki-laki yang benar-benar hanya ingin berteman dengannya, tidak lebih. Sikapnya yang dingin dan kemandiriannya seolah-olah sudah cukup menunjukkan pilihan hidupnya untuk tidak mau menggantungkan hidupnya pada sosok lelaki. Sorot mata dan gesture tubuhnya tidak pernah sekalipun menunjukkan ketertarikannya kepada pria manapun. Dan dia tidak peduli dengan pandangan mata beberapa orang di sekitarnya yang seolah-olah memandangnya dengan tatapan menghakimi. Aya kadang merasa pandangan mata itu menduhnya penyuka sesama jenis. Apa salahnya jika selama ini ia menolak semua laki-laki yang medekatinya? Apakah perempuan yang tidak pernah kelihatan menjalin kedekatan dengan laki-laki itu sudah pasti penyuka sesama jenis? Apakah perempuan yang memilih tidak berpacaran itu dosa?


Itu jugalah alasannya mengapa dia malas punya banyak teman perempuan. Terlalu banyak pembicaraan unfaedah dari kebanyakan acara kumpul-kumpul mereka. Syukur-syukur jika tidak membicarakan keburukan teman yang tidak sempat ikut gabung, umumnya sudah bukan rahasia lagi, berani tidak datang acara kumpul-kumpul berarti kamu dengan suka rela memberi panggung untuk semua teman-temanmu membicarakan segala aibmu sampai tak terisa. Begitulah kenyataannya.

__ADS_1


×××××


Saat ini Aya dan Alya sedang makan di salah satu foodcourt favorit mereka di mall.


"Jeng, mama undang lo ke rumah besok. Mama mau rayain aniversary pernikahannya yg ke 3 dekade sama papa. Lo wajib datang, kalau tidak, mama bakal gantung lo di pohon toge. Lo tenang aja, nanti menunya pake sop tulang rusuk, kali aja ketemu sama tulang punggungnya di sana. Hahaha." Alya tidak bisa menahan tawanya demi membayangkan laki-laki beruntung mana yang akan menjadikan Aya jadi tulang rusuknya. Takutnya tu laki tinggal nama dan tulangnya saja yang tersisa setelah putus asa karena cinta tak terbalasnya pada Aya.


Aya menelan cepat makanan yang sedang dia kunyah, menatap penuh selidik wajah sahabatnya itu.


"Al, tanggal nikah orang tua lo kapan?" Tanya Aya serius.


"10 mei 1991". Jawab Alya masih sambil ngunyah makanannya.


"Trus, lo lahir kapan?"


×××××

__ADS_1


__ADS_2