Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Rindu


__ADS_3

Sudah 10 hari Arga pergi keluar negeri, selama itu juga Aya masih tinggal di rumah orang tua Arga. Banyak hal yang dilakukannya bersama tante Andini, mulai dari mengeksekusi berbagai resep masakan dan kue di dapur, belanja bersama, ke salon buat perawatan kulit dan juga tentu saja diselingi dengan sesi curhat.


Aya benar-benar merasa sangat dimanjakan oleh om Hutama dan tante Andini. Tidak, bukan om dan tante lagi, tetapi ayah dan ibu. Panggilan Aya ke mereka sudah berubah, ia pun kini memanggil mereka dengan sebutan ayah dan ibu. Cerita tentang persahabatan antara ibunya dengan kedua orang tua Arga ini memang nyata, itu bisa dirasakan sendiri oleh Aya. Jika Aya saja bisa begitu nyaman dengan mereka padahal baru kenal sekitar 3 bulan terakhir, bagaimana dengan ibunya yang sudah bertahun-tahun mengenal mereka. Aya bahagia.


Masalahnya, tidak pernah sekalipun Arga mengabarinya. Kabar buruknya, Aya menunggu kabar darinya. Mungkin itu yang dikatakan rindu, tapi Aya berusaha mengelak perasaannya dengan mengatakan pada dirinya bahwa dia hanya ingin berterima kasih pada Arga karena setelah malam itu mereka tidak pernah lagi bertemu karena Arga berangkat dini hari ke Bandara.


Aya bersyukur ada Arga di sana saat itu, hampir saja ia kehilangan kesempatan untuk melepaskan semua perasaan benci di hatinya. Sementara orang yang dibencinya begitu menyanyanginya, menyesali perbuatannya dan ingin meminta maaf.


Saat ini Aya hanya ingin menghabiskan waktu sendiri di dalam kamar, sebelumnya ia diajak ayah Hutama ikut ke acara kantor bersama istrinya malam nanti, akan tetapi ia menolaknya. Aya tidak begitu suka menghadiri acara formal seperti acara kantor, dulu waktu ibu dan ayahnya masih hidup, saat ada acara atau kegiatan di perusahaan ayahnya, sekalipun ia tidak pernah ikut, makanya hanya orang-orang tertentu saja yang mengenali wajah putri tunggal seorang Bintang Hutama itu.


Setelah sholat Isya, Aya memilah-milih buku-buku Arga, kebanyakan buku-buku tebal berbahasa inggris. Akhirnya matanya tertuju pada deretan buku yang sepertinya menarik. Ternyata itu adalah sederet buku novel, ada novel-novel hasil karya penulis Indonesia ada juga novel-novel terjemahan dan berbahasa inggris. Meskipun hampir semua buku novel itu sudah pernah dibacanya, tapi untuk novel-novel berbahasa inggris, masih ada beberapa yang belum dibaca Aya. Akhirnya, Aya memutuskan membaca novel "The Sense of an Ending" yang ditulis oleh Julian Barnes.


Setelah 1 jam lebih membaca, Aya tidak kuat lagi menahan kantuknya. Ia tertidur di kursi meja kerja Arga dengan buku masih menggantung di tangannya. Sementara kedua kakinya saling menopang di atas meja.


*****


Tepat jam 8 malam pesawat Arga mendarat di Jakarta setelah penerbangannya dari Pert, Australia. Ia sudah tidak sabar lagi ingin segera sampai di rumah dan melihat wajah wanita yang sudah lebih 3 bulan ia nikahi.


Cinta, iya Arga memang sudah jatuh cinta pada istrinya itu, jika ditanya kapan, entahlah.. mungkin saat pertemuan pertamanya saat di rumah Alya atau bisa juga saat ia mengucapkan ijab kabul. Karena baginya, perempuan yang berhak memiliki cinta dan dirinya seutuhnya adalah perempuan yang sudah ia halalkan.


Selama ini ia akan merasa bersalah pada istri masa depannya tiap kali ia melirik perempuan lain. Aneh? Tapi seperti itulah Arga, pacaran atau diam-diam menyimpan perasaan pada seorang perempuan bagi Arga sama saja berselingkuh, menyelingkuhi perempuan yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anaknya. Ia tidak ingin istrinya merasa sakit pun anak-anaknya ketika mereka mengetahui ayahnya dulu pernah memberikan hatinya untuk perempuan lain. Itu memalukan.

__ADS_1


Mungkin menurut orang lain hidup Arga tak berwarna. Tak pernah jatuh cinta saat melewati masa-masa remaja sungguh sesuatu yang memprihatinkan. Tapi seperti itulah Arga, ia mempunyai cara pandang sendiri menyikapi hubungan antara laki-laki dan perempuan. Tidak mesti berpacaran untuk membuat hidup lebih berwarna dan bersemangat. Justru dengan berpacaran kebebasan akan menjadi sangat terbatas untuk berteman lebih dekat dengan perempuan lain. Waktu yang seharusnya digunakan untuk berbaur, bergaul dan melebarkan langkah menjangkau ruang-ruang pertemanan akan hilang begitu saja saat kamu memilih menemani pacarmu sekadar makan siang atau mengantarnya ke salon, misalnya.


Terutama untuk kaum perempuan, saat ia menampakkan dirinya sudah diklaim sebagai milik seorang laki-laki yang digelari pacar, maka sesungguhnya ia sedang menutup pintu-pintu datangnya jodoh yang lebih siap untuk melamarnya dibanding pacarnya yang mungkin masih mau main-main saja.


Begitulah Arga memandang sebuah status yang bernama pacaran. Baginya, hanya pernikahanlah yang bisa membuat seseorang merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Lihatlah sekarang, betapa bahagianya ia menuju rumah hanya demi melihat wajah perempuannya itu.


Arga tiba di rumah jam 9 lewat 10 menit, saat memasuki rumah, ia hanya disambut oleh art di rumahnya, rupanya ayah dan ibunya belum kembali dari acara kantor sementara Aya sejak tadi tidak keluar kamar menurut informasi yang diterimanya dari artnya.


Setelah membersihkan diri di kamar tamu, ia menuju naik ke kamarnya yang sekarang sudah menjadi kamar Aya. Beberapa kali Arga mengetuk pintu, karena tidak ada jawaban, ia memberanikan diri memutar handle pintu, ternyata tidak dikunci, ia membukanya perlahan lalu mencondongkan kepalanya masuk kamar. Matanya tidak menemukan Aya di tempat tidur, ia menajamkan pendengarannya, tapi tidak ada suara dari dalam kamar mandi. Tunggu dulu, suara dengkuran.. ah, itu suara dengkuran Aya.


Arga masuk ke dalam kamar dan melihat Aya tengah tertidur di kursi meja kerjanya. Arga mematikan lampu belajarnya, mengambil buku di tangan Aya lalu mengangkat Aya ke dalam pangkuannya. Ia menggendong Aya menuju tempar tidur dan meletakkannya perlahan.


Tidur Aya sama sekali tak terganggu, padahal dari tadi Arga ada disana duduk di sampingnya sambil mengelus-elus kepalanya. Arga yang juga sudah sangat mengantuk dan lelah, ia akhirnya bangkit mematikan semua lampu lalu keluar dari kamar.


Aya kembali melanjutkan tidurnya. Ia tidak ingin telat bangun karena ia sekarang sudah punya kebiasaan baru menyiapkan sarapan untuk keluarga barunya itu. Aya bahagia melakukannya.


*****


Usai sholat subuh, Aya sudah sibuk di dapur. Art di sana hanya diijinkan membantunya potong-potong sayur. Kali ini Aya ingin membuat nasi goreng seafood, ayam goreng fillet goreng tepung dan salad sayur. Aya begitu bersemangat sampai tidak menyadari seseorang sejak tadi berdiri di samping kulkas memperhatikannya.


Setelah nasi gorengnya dianggap selesai, ia mematikan kompor lalu memasukkannya ke dalam wadah tempat nasi.

__ADS_1


"Morning wife."


Pletak..


"Mas Arga... kaget tau." Aya sangat kaget mendengar suara Arga menyapanya tepat selangkah di belakangnya. Tanpa sadar ia memukul lengan Arga. Apa katanya? Wife? Masih pagi udah bikin jantung Aya naik turun saja.


"Kaget napa? Kasi morning kiss kek, ini malah ditabok. Istri kurang akhlak." Jawab Arga santai.


"Mimpi aja terus sampe ayam pak Madun kawin ama ayam pak RT." Jawab Aya setengah bergurau mengingat kejadian lucu beberapa hari yang lalu antara pak Madun tetangga depan rumah dengan pak RT yang rebutan ayam di depan rumah.


"Udah gaul aja selama aku tinggal, hati-tati loh, pak Madun itu duda, nanti kamu ditembak, mau?"


"Amit-amit deh.." jawab Aya sambil berlari naik ke kamarnya. Ia hendak bersih-bersih diri dulu sebelum ikut sarapan bersama.


"Ya.. mau kemana?" Teriak Arga.


"Mau jalan-jalan ke Saturnus." Jawab Aya balas berteriak agar Arga mendengarnya karena ia sekarang sudah sampai di lantai atas.


"Kalian apaan sih, teriak-teriak seperti lagi tinggal di hutan?" Tanya ibu Andini yang tiba-tiba muncul dari depan.


"Tau bu, Aya katanya mau ke saturnus." Jawab Arga cuek dan berjalan menuju kamar tamu yang sekarang ditempatinya.

__ADS_1


×××××


__ADS_2