Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Kejujuran Alya


__ADS_3

Suasana menjadi hening, matahari mulai meninggi membuat cahayanya terasa menusuk pori-pori. Mereka bertiga masih betah berada di gazebo, tak ada percakapan. Hanya suara semilir angin dan lambaian pepohonan yang membentuk nada indah tersendiri mengisi keheningan.


"Ya, masuk yuk. Ini mataharinya udah panas." Ajak Alya yang mulai merasa kepanasan.


"Kalian duluan aja, jam segini bagus buat sunbathing." Ucap Aya tanpa menoleh ke mereka.


Akhirnya Alya dan Fira memilih pergi masuk ke Villa sementara Aya masih ingin berlama-lama di gazebo. Tiba-tiba ia teringat Arga. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyumnya. Entah kenapa ada sedikit harapan di hatinya, berandai-andai, andai Arga ada di sini bersamanya, mungkin ia akan terus digoda Arga dengan gombalan recehnya namun selalu berhasil membuat Aya salah tingkah.


"Dia ngapain yah sekarang?" Gumam Aya yang masih bisa ia dengar dengan telinganya sendiri.


*****


Malam menjelang menggantikan siang, pemandangan sore ini begitu indah, senja berwarna merah saga dengan panorama asri dari trekking dan tea walking yang begitu memanjakan mata.


Aya masih ingin berlama-lama memiliki keindahan ini, namun suara adzan telah memanggil-manggil untuk segera disambut. Ia meninggalkan balkon kamarnya, menutup pintu, menyalakan lampu kemudian menutup semua jendela dan tirainya. Aya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan akan ia lanjutkan dengan sholat maghrib. Setelah sholat, ia mengambil sebuah Al-Qur'an di atas nakas sisi tempat tidurnya. Sekitar 30 menit lamanya ia hanyut dalam kalam ilahi, membacanya ayat per ayat berikut terjemahannya. Hatinya bergetar ketika mendapati sebuah ayat yang begitu mencubit akal sehatnya.


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)


Ah, betapa ia selama ini telah menghabiskan 1/3 hidupnya hanya untuk membenci ayahnya. Namun lihat apa yang telah dilakukan ayahnya untuknya!!! Aya merasa malu, merasa kecil, merasa hina, egonya telah membawa dirinya pada penderitaan yang tidak berkesudahan. Air matanya kini menganak sungai, ia terisak di atas sajadahnya.


"Yaa Allah.. ampuni hamba! Ampuni ketidaktahuanku, bantu hamba melepaskan semua perasaan yang membebani ini.. Yaa Allah, hanya kepadaMu hamba meminta, sungguh Engkau maha pemaaf dan maha mengabulkan doa." Ucap Aya menengadahkan kedua tangannya ke atas masih dengan isak tangis yang tak bisa dibendungnya.


Tok tok tok


"Ya, lo di dalam?" Terdengar suara Alya memanggilnya dari balik pintu.


Aya buru-buru menghapus air matanya, menetralkan suasana hatinya lalu beranjak membuka pintu kamarnya. Tanpa menunggu Alya masuk kamar, Aya langsung berbalik merapikan alat sholatnya.


Alya duduk di tepi ranjang memperhatikan gerak gerik Aya, ia bisa melihat mata sembab dan wajah memerah khas orang sehabis menangis masih menggantung di wajah Aya.


"Lo habis nangis?"


Aya menggeleng, ia meletakkan lipatan mukenahnya di atas nakas kemudian ditimpa Al-Qur'an di atasnya. Aya mengambil posisi duduk bersisian dengan Alya. Aya menatap ke atas langit-langit kamar, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya keluar melalui mulut.


"Al, gue kangen ayah dan ibu." Aya tertunduk, air matanya kembali mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


Alya mendekat kemudian memeluk Aya dari samping. Ia mengelus lembut pundak Aya, tidak menanggapi apalagi berniat memberi nasehat panjang. Karena terkadang sebuah pelukan sudah bisa mewakili semua kata.


"Gue takut Al, takut tidak bisa lepas dari bayang-bayang kejadian itu."


"Lo berhak sembuh Ya," Alya mengurai pelukannya dan menatap dalam ke manik mata Aya.


"Lo berhak sembuh, lo harus percaya bahwa dibalik kejadian itu ada hikmah besar yang bisa lo ambil. Di sini lo belajar kuat, belajar mandiri, dan kelak pengalaman ini justru akan membuatmu menjadi pribadi yang lebih peka. Lo bisa mengira-ngira perasaan orang lain dan lo tau bagaimana harus bersikap kepada orang lain, terutama kepada suami lo dan anak-anak lo kelak. Lo berhak bahagia, Ya. Dan bahagia atau tidaknya lo, lo sendiri yang tentuin." Alya menghela nafasnya.


"Ya, lo masih minum obat lo gak dalam sebulan atau seminggu terakhir ini?"


Aya memicingkan matanya pada Alya, sejenak berfikir lalu menggeleng. Ia berusaha mengingat-ingat kapan terakhir ia mengkonsumsi obatnya. Ah, iya..saat ayahnya meninggal. Sepertinya itulah terakhir kali ia meminum obatnya karena sejak itu Aya sudah tidak pernah lagi kembali ke apartemennya selain di hari pertemuannya dengan om Dino.


"Kalo boleh gue tau, sejak kapan lo gak minum obat lo lagi?" Tanya Alya penasaran, karena ini adalah sebuah kabar baik mengingat tekanan-tekanan yang didapatkan Aya dalam waktu sebulanan ini cukup membuat Alya mengkhawatirkan keadaan Aya.


" Seingatku, terakhir pas gue sehabis pingsan waktu tau ayah dirawat di Rumah Sakit."


"Lo udah sembuh, Ya. Lo udah sembuh, lo harus ingat itu, tanamkan dalam-dalam di fikiranmu, lo udah sembuh!" Ucap Alya penuh penekanan.


"Mas Arga, om dan tante adalah obat kamu. Merekalah obat kamu, Ya. Keluarga kamu!" Alya kembali menekankan kalimatnya.


"Ya, gue pengen jujur sama lo. Gue merasa beban kalo gak ngomong ini sama lo." Aya melepas pelukannya memandang penuh arti pada Alya.


"Iya, katakan saja, jujur itu baik, biar lepas semua beban yang menghimpit, biar luruh semua perasaan yang mengganjal di hati." Ucap Aya menanggapi.


"Tapi lo janji gak akan marah sama gue dan jugaaaa..."Alya menjeda kalimatnya yang dipelototi Aya agar melanjutkan kalimatnya. "Tante Andini." Gumam Alya pelan, sangat pelan hampir seperti berbisik.


"Katakan saja semuanya Al, gue gak bakal marah. Gue udah gak punya energi lagi buat marah. Apapun itu, kalian adalah orang-orang yang paling berharga di hidup gue saat ini, gue gak siap merasakan lagi kehilangan dalam waktu dekat ini, oke!" Ucap Aya meyakinkan Alya.


"Mmmm.. tentang kejadian di Hotel waktu resepsi pernikahan gue." Alya sedikit ragu melanjutkan kalimatnya. Aya mendesah..


"Maksud lo, lo mau bilang kalau lo dan ibu yang atur?" Tebak Aya dan diangguki langsung oleh Alya.


"Maaf!" Ucap Alya penuh permohonan.


Aya menggeleng. Ternyata kecurigaannya selama ini benar, malam itu ia tiba-tiba mengantuk padahal tidak biasanya Aya mengantuk jam segitu, selelah apapun Aya, Aya tidak akan mudah untuk tertidur karena traumanya selama ini membuatnya insomnia. Kecuali, kecuali saat bersama Arga, entah mengapa ia selalu merasa nyaman dan tenang saat Arga ada di dekatnya. Aya bergidik lalu berusaha buru-buru menghilangkan Arga di dalam fikirannya.

__ADS_1


"Dari awal gue udah curiga Al. Tapi-"


"Mas Arga gak terlibat Al, kami yang memaksa dia. Kalo dia gak mau tante Andini bakal bunuh diri." Ucap Alya cepat memotong kalimat Aya.


Aya kaget mendengar pengakuan Alya, apa segitunya ibu Andini memaksakan kehendaknya sama Arga.


"Luar biasa..!" Ucap Aya tersenyum kecut.


"Lo tau sendiri kan Ya, gimana gesreknya tante Andini itu. Dia itu pengen banget lo minta tanggung jawab buat dinikahi mas Arga, eh lo malah cuek bebek. Dia kecewa banget loh waktu itu. Padahal dia udah gak tahan bawa lo pulang ke rumahnya." Alya senyum-senyum sendiri mengingat reaksi tante Andini saat itu. Beliau uring-uringan sendiri karena rencananya gagal total.


Aya manggut-manggut membenarkan ucapan Alya. Dia teringat saat pertama kali bertamu ke rumah beliau, ban mobilnya kempes, tidak tanggung-tanggung, semua bannya kempes. Ia sekarang yakin kalau itu adalah hasil perbuatan beliau.


"Gue gak habis fikir Al, ibu kok tega banget ma gue?" Keluh Aya.


"Bukan tega, Ya. Beliau hanya takut lo diambil orang. Ngarepin mas Arga kelamaan Ya, orang dia ibarat masih di garis start terus, gak tau kapan majunya, malah bisa-bisa kalo bukan lo nya yang makin jauh, dianya yang mundur sebelum bertarung." Alya mencoba membela tantenya, bagi Alya cara-cara licik yang dilakukan tantenya cukup masuk akal. Malah pernah Alya mengusulkan buat ngasih mereka berdua obat perangsang, biar kelar urusannya. Beruntung otaknya masih cukup cerdas memikirkan kondisi mental Aya setelahnya, makanya tidak mereka lakukan.


"Memangnya mas Arga pernah bilang mau mundur gitu?" Aya malah penasaran tentang poin satu itu.


"Mana gue tau, Ya? Kan lo istrinya, harusnya lo yang paling tau segalanya tentang mas Arga saat ini." Kesal Alya.


Aya hanya menaikkan kedua bahunya tanda tidak tau. Ia masih ingat dengan jelas setiap kata yang Arga ucapkan saat di balkon kamar Arga. Tidak ada keraguan dalam ucapan Arga, hanya saja, lagi-lagi Aya yang masih ragu pada dirinya sendiri saat ini.


"Eh, tapi seriusan lo Ya, apa mas Arga sama sekali belum nyentuh lo?" Alya sangat penasaran sejauh mana hubungan Aya dan mas Arga saat ini.


Wajah Aya seketika berubah warna menjadi merah padam. Ia cukup malu mengingat ciuman pertamanya dengan Arga. Setiap mengingat itu, ada gelenyar aneh yang menjalari seluruh tubuhnya.


Aya menggeleng cepat, "apaan sih Al? Mana mau aku diapa-apain sama dia?"


"Yakin lo Ya? Melihat ekspresi lo sekarang ini, gue yakin lo udah jatuh cinta sama dia." Alya tersenyum penuh kemenangan merasa sasarannya kena tepat di jantung.


Aya memutar bola matanya jengah, ia merasa Alya paling sok tau. "Mana ada gue cinta sama mas Arga?" Aya berusaha mengingkari perasaannya.


"Terserah lo deh.. kalo cinta bilang Ya!" Ucap Alya beranjak keluar dari kamar Aya.


×××××

__ADS_1


__ADS_2