Kapal Cinta Ayana

Kapal Cinta Ayana
Gundah


__ADS_3

"Turuti kata hati nuranimu, hati nurani itu bukan perasaan, karena perasaan masih bisa mengecoh. Hati nurani itu sesuatu dalam dirimu yang bahkan tau ketika kau tidak tulus.


- Sujiwo Tejo -


*****


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, namun Fira dan Bara belum menemukan ide yang pas menurut Arga. Fira sudah lelah mencari ide via google, Bara pun tak kalah usahanya dengan memperlihatkan beberapa video di youtube, tetapi semuanya tidak ada yang menarik buat Arga.


"Ini semua hanya settingan, saya butuh yang lebih natural." Tolak Arga ketika Bara menunjukkan sebuah video, padahal video ini sudah sukses membuat seorang Bara menjadi sedikit mellow.


Perhatian Arga teralihkan ketika ponselnya berdering. Kening Arga tampak berkerut melihat nama pemanggil yang muncul di layar ponselnya.


"Hallo, pak Erik!" Jawab Arga sambil menekan tombol loadspeaker agar Bara dan Fira ikut mendengarnya.


"Ini pak, maaf..saya hanya ingin mengingatkan, nanti malam bapak ada penerbangan ke Korea untuk menghadiri prosesi first strike steel untuk proyek pembangunan kapal peti kemas kita di Geoje Shipyard, pak. Saya sudah hubungi ibu Fira dan pak Bara tapi keduanya tidak bisa saya hubungi sejak tadi." Ucap Erik ragu.


Wajah Arga terlihat gusar. Tanpa berkata apa-apa ia mematikan sambungan telponnya lalu menatap tajam ke arah Fira dan Bara.


"Kenapa kalian tidak bilang ke saya?"


"I..itu pak, anu.." Fira gagap tidak tau harus membuat alasan apa.


"Bukan salah Fira, tadi gue yang ingin menyampaikannya langsung ke lo tapi lo-nya sedang sibuk dengan urusan hatimu itu jadi akhirnya kelupaan." Jawab Bara santai, ia memilih tidak bersikap formal untuk saat ini.


"Brengsek lo, Bar!" Arga meninju udara melepaskan kekesalannya pada Bara. Sementara Bara hanya mengedikkan bahunya tak peduli.


"Ayo kita kembali ke kantor." Ajaknya pada Bara.

__ADS_1


"Kamu Fir, titip istriku. Pastikan dia baik-baik saja selama saya tinggal. Dan satu lagi, buat sesuatu yang bisa membuat hatinya terhibur." Arga dan Bara langsung keluar hendak menuju ke kantor.


Undangan dari Geoje Shipyard ini datangnya dadakan, ia baru tau sore ini sementara acaranya akan dimulai lusa. Arga butuh waktu untuk terbang ke Seoul, kemudian akan dilanjutkan perjalanan ke kota Geoje.


Fikiran Arga menjadi bercabang saat ini. Di satu sisi, dia tidak bisa meninggalkan Aya saat mereka sedang berada dalam kesalahpahaman, sementara di sisi lain ia harus bertanggung jawab dan menunjukkan sikap profesionalnya dalam memegang amanah perusahaan.


Arga tidak bisa berbuat banyak, nomornya diblokir Aya. Ia hanya bisa berharap Alya dan Fira bisa membantunya meluruskan kesalahfahaman ini. Hatinya dilanda gundah gulana, meninggalkan istri dalam keadaan sedang ada masalah seperti ini rasanya tidak etis, ada perasaan lain yang mengganjal.


Arga tidak ingin terlihat bersikap seperti laki-laki pengecut, saat menghadapi masalah dalam rumah tangganya, ia akan lari meninggalkan tanggung jawabnya, tidak peduli dengan kesakitan istrinya, tidak peduli dengan perasaan istrinya. Arga bukan laki-laki seperti itu. Arga ingin menjadi suami yang bisa dijadikan tempat bersandar oleh istrinya, bisa menjadi tempat berbagi keluh kesah, bahkan ia akan rela menjadi samsak sekalipun jika memang istrinya butuh tempat untuk melampiaskan emosinya.


Arga tidak ingin meninggalkan istrinya dalam keadaan emosi labil seperti ini, melangkah keluar rumah sebelum hati istrinya tenang dan memaafkannya sungguh sangat menggelisahkan.


*****


Aya berjalan gontai menuju unitnya, ia seperti patung hidup yang berjalan ke arah lift. Sapaan dari satpam apartemennya ia abaikan. Ia masih terngiang dengan pertengkarannya dengan Alya di Rumah Sakit tadi.


Aya berjalan santai masuk ke ruangannya, ia tidak peduli dengan tatapan tajam Alya yang entah sejak kapan ada di dalam ruangan Aya.


"Dari mana lo?"


Aya mengabaikan pertanyaan Alya, ia malah sibuk mengambil beberapa dokumen di mejanya kemudian sibuk membacanya.


"Ya, lo dengerin gue gak sih?"


Aya menghembuskan nafasnya kasar, emosinya terasa ingin meledak namun ia tahan sejak dari awal melihat wajah Alya.


"Lo bisa tinggalin gue sendiri gak, Al!" Bentak Aya. "Satu lagi, mulai detik ini gue kembalikan saudara sepupu lo itu ke keluarganya. Gue gak mau berhubungan lagi sama dia!"

__ADS_1


Demi apapun di dunia ini, Alya tercengang mendengar pernyataan Aya. Ia benar-benar tidak habis fikir dengan cara Aya menghadapi masalah rumah tangganya.


"Gila lo, Ya! Baru masalah gini doang elo udah nyerah? Istighfar Ya, istighfar!!! Mana ada rumah tangga yang gak ada masalahnya? Lo aja yang mental cemen, belum apa-apa udah meledak. Kalo lo cemburu, gak suka suami lo diganggu perempuan lain, ya diambil suaminya, dirangkul, diperjuangin. Ini belum apa-apa lo udah lepas begitu saja."


"Ngapain gue perjuangin laki-laki murahan seperti dia?"


Alya geleng-geleng kepala.


"Astaghfirullah, fitnah lo, Ya! Lo udah keterlaluan sama mas Arga. Dia udah nyariin lo kemana-mana, khawatirin elo, tapi ternyata yang dikhawatirkan malah punya pemikiran sendiri yang amat dangkal. Nyesel gue pernah kenal lo, Ya."


Aya hanya acuh dengan dengan ungkapan isi hati Alya, ia benar-benar tidak ingin mendengar apapun saat ini.


"Sekarang terserah elo, gue juga malas terlibat dalam urusan rumah tangga kalian. Gue hanya mau bilang, lo saat ini sedang salah faham, mas Arga tidak pernah punya perempuan lain selain elo. Serah lo mau percaya atau tidak, pikirin baik-baik, jangan sampai lo sedang membuang hal yang paling berharga dalam hidup lo hanya karena ego dan emosi sesaat. Kalian itu sudah menikah, bukan lagi pacaran. Orang pacaran mau putus kapan saja bisa, tapi menikah, kalau mau berhenti berarti cerai, dan gue akan menjadi orang pertama yang tidak mau mengenal lo lagi jika lo cerai sama mas Arga." Alya langsung berjalan keluar dari ruangan Aya, ia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya saat ini.


Flashback off.


Aya membuka pintu unitnya, suasana gelap menyambut kedatangannya. Ia mencari sakelar lampu lalu menyalakannya, ia membuka sepatu flatshoes-nya dan melemparkannya ke sembarang arah. Aya berjalan gontai menuju kamarnya, rasanya tak ada semangat dan gairah hidup lagi. Sedikit harapan terbit di hatinya, berharap Arga ada di sini menyambutnya, menenangkannya dan memberinya pelukan-pelukan hangatnya. Sayangnya, ternyata perjuangan Arga untuk meminta maaf padanya hanya sebatas ini saja. Lalu bagaimana ia memperjuangkan Arga yang tidak mau memperjuangkannya???


Matanya menangkap sebuah postcard di atas nakas, ia mengambil dan membukanya.


"MAAF!" Sebuah kata tertulis besar di sana, ia yakin itu dari Arga. Aya berjalan ke kamar mandi, ia mendapati bathtup sudah terisi air hangat dengan permukaannya dipenuhi kelopak bunga mawar. Aroma menenangkan menguar memenuhi segala ruang kamar mandi.


Setelah hampir sejam Aya menghabjskan waktunya di kamar mandi, ia menuju ke dapur dan di sana sudah ada makanan dan cake kesukaannya.


Sebuah postcard bertuliskan "I LOVE YOU" ikut bertengger di antara makanan dan piring yang sudah tertata rapi di sana.


Mata Aya memanas, bukan ini yang diinginkannya, ia ingin Arga ada di sini, sekarang, saat ini juga!!!

__ADS_1


×××××


__ADS_2