
Meeting antara PT. Bintang Bahari yang diwakili oleh Arga dengan Geoje Shipyard berlangsung lancar. Meskipun Geoje Shipyard belum fix akan terpilih menjadi tempat fabrikasi Kapal peti kemasnya nanti, tapi Arga sangat terkesan dengan fasilitas dan metode pembangunan kapal yang mereka tawarkan.
Mengapa Arga lebih memilih menggunakan jasa galangan fabrikasi kapal dari luar negeri dibandingkan dengan galangan-galangan kapal yang ada di Indonesia? Bukankah apabila memilih galangan kapal di dalam negeri maka akan berdampak baik bagi pengusaha lokal dan masyarakat umum yang tinggal di sekitar galangan?
Sebenarnya, bukannya Arga tidak mencintai produk-produk buatan dalam negeri, hanya saja kapal yang akan dibangunnya ini cukup besar dan kebutuhannya mendesak.
Ukuran panjangnya saja 400 meter dengan lebar 58,8 meter. Draftnya sendiri 32,5 meter. Ini adalah Kapal megakontainer terbesar di dunia. Fasilitas galangan kapal di Indonesia belum ada yang mumpuni untuk dijadikan tempat Fabrikasi. Geoje Shipyard mentargetkan 1 tahun konstruksi dan kapal siap dikirim. Sementara di Indonesia, kapal sebesar ini mungkin paling cepat 3 tahun pengerjaan baru bisa dikirim. Itu terlalu lama.
Arga begitu antusias dan bersemangat menyelesaikan pekerjaannya. Dia sudah tidak sabar lagi bertemu dengan Aya. Sebenarnya pihak Geoje mengajak Arga mengunjungi Yardnya/tempat fabrikasinya di Kota Geoje, tapi Arga merasa itu belum perlu.
Waktu Arga masih bekerja di Korea, meskipun bukan di Geoje Shipyard, tapi sebenarnya Arga sudah pernah datang ke perusahaan tersebut untuk melakukan interview kerjanya. Hanya saja waktu itu Arga belum diterima bekerja di sana dan akhirnya bekerja di Hyundai Heavy Industries untuk divisi Offshore Engineering.
*****
Arga tiba di rumah setelah masuk waktu maghrib. Rumah nampak sepi. Ia langsung menuju ke kamar orang tuanya, dia tidur di kamar tersebut karena kamarnya dikuasai Aya. Setelah bersih-bersih dan sholat, ia keluar dari kamar menuju ruang tamu, ia pun lalu ke dapur, tapi dia tidak menemukan siapa-siapa.
Arga mulai dilanda kecemasan. "Aduh, jangan-jangan Aya udah kabur lagi." Fikirnya.
Buru-buru ia naik ke lantai 2, diketuk-ketuknya pintu kamar Aya.
"Tok.. tok.. tok" 1 kali
__ADS_1
"Tok.. tok.. tok" 2 kali, Arga mulai gelisah.
"Tok.. tok.. tok" 3 kali. Pintu kamar terbuka. Nampak bidadari cantik dari balik pintu. Padahal Aya hanya memakai pakaian casual santai dipadukan dengan jilbab berwarna hitam dan sepatu cats.
Arga tidak akan mengajaknya makan malam romantis di restoran mewah bukan???
"Alhamdulillah." ucap Arga bersyukur. "Kirain kamu udah kabur." Arga tersenyum lega. Senyumnya manis banget, besi aja bisa meleleh melihat senyumnya, apalagi hanya hati seorang Aya.
Aya pura-pura bersikap biasa saja di depan Arga, padahal aslinya dia gemes banget melihat penampilan Arga malam ini. Kelihatan lebih muda dari umurnya, tidak seperti biasanya yang selalu berpenampilan rapi dan jarang senyum jadi terkesan dingin baget.
Apa kabar dengan Lala? Lupakan. Dengan sejuta alasan, dia berhasil kabur meninggalkan Aya sendiri di rumah. Dia tidak mau menjadi orang ketiga di acara kencan mereka. Kencan? Entahlah. Sebut saja itu kencan kedua mereka. Masih ingatkan saat mereka boncengan motor???
"Pake seatbelt-nya, atau kamu mau aku yang pasangkan?"
Cepat-cepat Aya memasang seatbelt-nya, dia merutuki dirinya yang lupa pasang seatbelt saking tegangnya.
"Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" Tanya Arga setelah melajukan mobilnya keluar meninggalkan rumah.
"Aku terserah mas aja."
"Di sini gak ada tempat yang namanya terserah." Arga melengkungkan senyumnya sambil mencuri pandang ke Aya.
__ADS_1
"Kan mas yang ajak, kirain mas udah tau tempatnya mau ajak saya ke mana." Ucap Aya sebal.
"Mas punya tempat yang pas buat kamu." Arga menambah kecepatan mobilnya.
Akhirnya mereka sampai di depan sebuah menara yang menjulang tinggi. Arga membawa Aya ke Menara Lotte World. Arga ingin menujukkan pemandangan malam kota seoul dari ketinggian. Dia membawanya naik ke Observatorium Langit Seoul. Aya beruntung, langit kota seoul begitu cerah malam ini sehingga nampak pemandangannya yang cerah tanpa terhalang kabut.
Aya terkagum-kagum melihatnya, ini pemandangan yang sangat indah yang pernah dilihatnya sepanjang ia hidup di dunia ini. Senyumnya tak pernah pudar dari wajahnya. Ingin rasanya dia berteriak, tapi tentu saja dia malu. Cukup teriaknya di dalam hati saja. Aya benar-benar bahagia.
"Terima kasih, mas." Ucap Aya tulus. Matanya tetap fokus memandangi pemandangan yang ada di hadapannya.
Arga yang sedari tadi setia berdiri di sampingnya dengan jarak 1 meter menoleh ke arahnya, ia hanya tersenyum. Cukup lama ia memandangi Aya, Aya yang sadar sedari tadi dipandangi oleh Arga kini menoleh ke Arga. Pandangan mereka bertemu, saling mengunci. Akhirnya Aya memutus pandangan mereka lalu berdehem.
"Khemmm.. udah puas liatnya? Aku tau aku cantik, tapi gak segitu juga kali liatnya." Aya tertawa kecil dengan guraunnya itu. Usahanya mencairkan suasana malah membuatnya tersipu sendiri.
Arga tersenyum, "mas senang lihat kamu bahagia."
"Terima kasih." Ucap Aya lagi.
Aya memang patut berterima kasih pada Arga untuk apa yang dilakukannya untuknya malam ini. Ini adalah malam terindah setelah 10 tahun terakhir seingatnya.
×××××
__ADS_1