
Suara kicauan burung yang saling bersahut-sahutan dengan sangat jelas terdengar dan seketika itu juga berhasil membangunkan tidur nyenyak Sunny.
Sunny melihat bahwa saat ini dirinya berada dalam pelukan Dareen, Sunny mendongakkan wajahnya memandang wajah tampan Dareen yang berbentuk kotak dengan garis rahang yang tegas, kedua matanya masih tertutup, Sunny tanpa sadar menyentuh pipi halus nan putih milik Dareen.
Dareen melenguh akibat sentuhan jari-jemari Sunny, "Kau tidak usah sekolah, temani aku di sini," pinta Dareen yang masih memejamkan kedua matanya.
Sunny diam tidak menjawab perkataan Dareen, hanya menelusupkan kepalanya pada dada bidang Dareen dan menghirup aroma mint pada tubuh Dareen.
Cukup lama posisi mereka seperti itu, Dareen masih memejamkan kedua matanya sedangkan Sunny sibuk memainkan rambutnya.
"Kenapa kau mau menikah denganku? Padahal usia kita terpaut sepuluh tahun?" Dareen memecah keheningan di antara keduanya.
"Entahlah... Mungkin terpaksa, demi orang tua dan kakakku yang masih koma di rumah sakit," lirih Sunny.
"Terpaksa... Jadi kau menikah denganku hanya karena terpaksa?" ada rasa kecewa dan kesedihan di dalam hatinya.
Sunny terdiam tidak menjawab, mungkin benar, karena terpaksa.
Tak ada jawaban, Dareen bertanya kembali, "Kenapa kau ingin bunuh diri di malam itu?"
"Aku bingung, harus bagaimana," jawab Sunny apa adanya.
Ya, Sunny benar-benar bingung menghadapi kehidupannya ke depan, setelah mendengar semua hal tentang Dareen yang ternyata setengah monster, Sunny tak sanggup menghadapi semuanya sendiri, jadi saat itu pikirannya hanya satu, yaitu 'mati'.
Dareen mengangkat wajah Sunny, memandang wajah oval dan bola mata cokelatnya, tersenyum, "Kau adalah istriku sekarang, kita hadapi semuanya bersama, oke,"
Sunny hanya tersenyum dan mengganggukkan kepalanya untuk mengiyakan.
*****
Dareen menemani Sunny saat sarapan, setelah sebelumnya mereka mandi, mandi masing-masing tentunya, karena Sunny mengancam Dareen bila mandi bersama, maka Sunny akan lompat dari atas rumah pohon ini, Dareen hanya menurut saja karena sepertinya istrinya itu masih malu.
Sunny memandangi wajah Dareen di hadapannya yang sedang berkutat dengan laptop mengelola bisnisnya tanpa harus datang ke kantor. Sedangkan kedua tangannya memegangi sandwich sambil pandangan matanya tetap tertuju pada wajah tampan suaminya itu.
Karena kutukan yang di terimanya maka Dareen tidak bisa leluasa keluar di siang hari, Dareen harus meminum sebuah pil setiap enam jam sekali agar kulitnya tidak mudah terbakar saat terkena sinar matahari.
Pil tersebut di dapat oleh Rudolf saat lima tahun yang lalu berkunjung ke sebuah kuil yang berada jauh di pinggir hutan, untuk memberikan bantuan berupa uang dan bahan-bahan yang di butuhkan di kuil tersebut. Saat berbincang dengan kepala biksu, secara tiba-tiba kepala biksu itu dapat membaca pikiran Rufolf tentang anaknya, Dareen. Semenjak itu kepala biksu selalu membuatkan pil untuk di konsumsi Dareen selama tiga bulan kedepan, setelah pil itu habis selama tiga bulan, maka Rudolf akan menugaskan anak buahnya untuk mengambil pil dari kuil tersebut.
__ADS_1
Pil tersebut di konsumsi Dareen supaya Dareen bisa bebas keluar dari mansionnya saat di siang hari dan kulitnya tidak terbakar lagi. Tetapi hanya dapat menahannya selama enam jam saja, selebihnya Dareen harus meminumnya lagi, begitu seterusnya.
Dareen tidak pernah menampakkan diri kepada khayalak ramai, saat pernikahannya saja itu Dareen muncul dan membuat kagum para tamu undangan dengan ketampanan dan tubuh tingginya itu. Jadi yang mengurus perusahaan pusat adalah orang kepercayaan keluarga Dimitri sebagai pengganti sementara Dareen.
Mario Fernandes adalah orang yang menjadi pengganti sementara Dareen. Mario yang melakukan semua kegiatan yang seharusnya di lakukan oleh Dareen sang pewaris kekayaan keluarga Dimitri.
Mario awalnya adalah seorang pengawal setia dari Rudolf, karena otaknya pintar dan selalu rapi dalam menjalankan tugas, maka Rudolf menunjuk Mario untuk menggantikan Dareen untuk sementara waktu, tetapi tetap saja dalam menjalankan tugas tetap meminta persetujuan dari Dareen.
Mario orang yang sangat patuh dan setia, maka dari itu Rudolf selalu mengabulkan apapun yang Mario inginkan, tetapi untunglah Mario bukan orang yang tamak dan serakah walaupun Mario berasal dari keluarga yang kurang mampu. Mario meminta di bangunkan rumah yang layak untuk tempat tinggal ibu dan kedua adiknya serta di beri uang bulanan untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolah kedua adiknya, sedangkan sang ayah sudah meninggal, jadi Mario sebagai tulang punggung keluarga.
Dareen menutup laptopnya, "Kau sibuk memandangiku, hingga sandwich di tanganmu itu kau abaikan," menatap kedua bola mata cokelat Sunny dan sandwich bergantian sambil tersenyum.
Sunny tersadar lalu dengan cepat menundukkan kepalanya sambil menggigit sandwich dan mengunyahnya dengan cepat.
"Cepat kau habiskan sarapanmu, aku akan mengajakmu ke suatu tempat, kau pasti akan menyukainya,"
Dareen berdiri dari duduknya, membawa laptop di tangannya, berjalan menuju meja kerjanya, membuka laci dan memasukkan laptop itu kedalamnya. Berbalik berjalan menuju lemari pendingin, membukanya, mengambil cairan berwarna merah dan meminumnya.
*****
Di Mansion Sekolah (sebutan dari Sunny, karena mansion ini dekat dengan sekolahnya).
Frans dan Chintya sedang menikmati sarapannya, sudah menunggu dari setengah jam yang lalu tetapi tidak ada tanda-tanda kedatangan Dareen dan Sunny ke ruang makan.
Marcus adalah kepala pelayan kepercayaan Rudolf. Di setiap mansion yang Rudolf bangun selalu tersedia kepala pelayan dan sedikitnya ada sepuluh pekerja yang membantu sang kepala pelayan, belum lagi para penjaga yang selalu berjaga di penjuru mansion dengan sangat ketat dan di bekali peralatan yang super canggih.
"Maaf Nyonya, semalam Tuan dan Nyonya Muda bermalam di rumah pohon, dan tadi pagi Tuan Muda Dareen kembali hanya untuk mengambil makanan dan pergi lagi," jelas Marcus.
"Rumah pohon?" tanya Frans penasaran.
"Iya, Tuan, rumah pohon itu tempat favorit Tuan Muda Darren,"
"Ah, sudahlah, biarkan mereka saling mengenal satu sama lain, kau bisa kembali Pak Marcus," ucap Chintya dan kembali menikmati sarapannya bersama sang suami.
"Permisi, Tuan dan Nyonya," pamit Marcus dan berlalu pergi dari hadapan Frans dan Chintya.
"Bila Dareen dan Sunny sudah kembali, kita juga harus kembali ke kediaman kita, kita sudah terlalu lama meninggalkannya dan urusan pabrik jadi terbengkalai," ucap Frans di sela-sela makannya.
__ADS_1
"Baiklah dan sebaiknya kita mengunjungi Bastian bersama," usul Chintya dan Frans mengangguk tanda setuju.
*****
"Indah sekali!" seru Sunny yang pandangan matanya tak lepas dari air terjun yang mengalir deras dari atas tebing yang di kelilingi bebatuan dan tumbuh-tumbuhan hijau.
Benar-benar pemandangan alam yang sangat indah, dan lagi Sunny sangat menyukai air, Sunny sangat pandai berenang, semua gaya renang dapat Sunny kuasai dengan sangat baik.
Tanpa pikir panjang lagi, Sunny langsung menceburkan diri ke dalam air yang berada di bawah air terjun itu. Hangat sangat hangat pikir Sunny.
"Hei, kenapa kau langsung masuk ke dalam air tanpa mengganti bajumu terlebih dahulu?!" seru Dareen memandang Sunny terkejut dan tak percaya.
Sunny tak menghiraukan ucapan Dareen, dirinya sibuk berenang kesana kemari dengan senang dan tertawa lebar. Dareen hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Dareen lama memperhatikan Sunny dari atas bebatuan yang di dudukinya, dirinya tak berniat sama sekali menceburkan diri ke dalam air terjun itu, karena saat Dareen belajar berenang pernah hampir tenggelam saat berusia delapan tahun. Sejak saat itu Dareen memutuskan tidak akan pernah lagi belajar berenang walaupun kedua orang tua dan orang-orang terdekatnya selalu membujuknya. Sepertinya Dareen trauma akan hal itu.
Sunny menghampiri Dareen sambil berenang ke arahnya.
"Kau tidak ikut berenang?" tanya Sunny yang sedari tadi hanya melihat Dareen duduk anteng di atas bebatuan.
"Tidak," jawab Dareen cepat.
Dareen memandang Sunny, "Kau tunggu di sini, aku akan mengambil pakaian untukmu,"
"Ingat! Jangan kemana-mana, aku akan segera kembali!" Sunny hanya mengganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Dareen langsung melesat pergi menggunakan jubah hitamnya.
*****
Dari atas tebing, terlihat seorang pria menggunakan pakaian ketat dan jubah berwarna hitam, serta memakai topeng berwarna emas di wajahnya.
Menatap dengan tatapan tajam dan penuh kebencian ke arah Sunny yang masih berada di dalam air.
Dengan salah satu jarinya menggerakkan batu yang cukup besar di sebelahnya, untuk di jatuhkan ke arah Sunny. Sunny tidak menyadari akan hal itu, dirinya masih asyik bermain air dan berenang ksana kemari.
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.
__ADS_1
"AWAAASSS!!! seru Dareen yang tiba-tiba muncul di hadapan Sunny.