Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 58


__ADS_3

Di dalam kamar yang semua barang-barangnya bernuansa feminim. Terbaring seorang remaja perempuan di atas ranjang. Remaja itu adalah Sunny, ia hanya sendiri berada di dalam kamarnya.


Sudah beberapa hari Sunny tak sadarkan diri. Semenjak kejadian di hutan lumut merah beberapa hari yang lalu. Keluarga Rudolf membawa Sunny ke kediaman orang tuanya.


Rudolf berpikir bahwa Sunny akan lebih baik di jaga dan di rawat kedua orang tuanya. Rudolf sendiri sibuk merawat Dareen yang kala itu juga tak sadarkan diri. Rudolf berbohong mengenai perihal keadaan Dareen dan Sunny, ia berkata bila keduanya mengalami kecelakaan saat bulan madu.


Untungnya Frans dan Chintya percaya dan tidak menaruh curiga sedikit pun. Namun, tidak dengan Bastian, ia merasa ada yang aneh tentang kejadian yang menimpa adiknya itu. Bastian berpikir akan menanyai kebenarannya pada sang adik setelah sadarkan diri.


Terlihat Sunny tertidur sangat tenang dan damai. Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya memasuki kamar Sunny sambil membawa baki berisi makanan. Wanita paruh baya itu adalan Chintya, ibu dari Sunny.


Chintya kemudian membuka gorden agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam kamar putrinya. Kembali kehadapan Sunny dan duduk pada bangku yang ada disamping ranjang. Membelai lembut wajah sang putri yang masih memejamkan kedua matanya. "Bangun sayang, Ibu rindu canda tawamu, Ibu sudah buatkan sarapan roti panggang dengan selai cokelat dan stroberi,"

__ADS_1


Tak ada jawaban dari sang putri, Chintya pun menangis. "Bangun, sayang. Mintalah apa saja keinginanmu. Ibu pasti akan mengabulkannya." tangis Chintya pun pecah, ia tak sanggup membendungnya lagi.


Frans yang mendengar ucapan sang istri dari balik pintu kamar pun menangis. Ia berpikir telah menyia-nyiakan dan menelantarkan keluarganya serta tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik. Bertekad akan merubah semuanya demi kebahagiaan keluarga. Melangkahkan kakinya menuju mobil untuk pergi ke tempat kerja.


***


Di sebuah restauran terlihat Bastian sedang menunggu seseorang. Tiba-tiba seorang gadis memeluknya dari belakang. "Maafkan aku, aku terlambat, aku harus mengantar kedua orang tuaku ke bandara terlebih dahulu," ucap Revina sedikit manja pada sang kekasih.


Namun, Revina hanya akan mendapatkan ijasah lulus sekolah saja. Ia tidak berminat sama sekali melanjutkan hingga kuliah. Ia hanya ingin menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak di rumah.


Revina tidak berniat sama sekali untuk menjadi seorang wanita karier. Bastian sudah berusaha membujuk kekasihnya itu untuk melanjutkan kuliah bersama-sama saat sudah mendapatkan ijasah kelulusan. Namun, Revina tetap pada pendiriannya untuk menjadi seorang ibu rumah tangga.

__ADS_1


"Aku belajar dari keluargaku, kedua orang tuaku selalu sibuk dengan bisnisnya masing-masing, hingga melupakan anak-anaknya. Aku tidak ingin hal itu juga menimpa anak-anak kita, sayang," jelas Revina di sela-sela makan siangnya.


Bastian menggenggam kedua tangan Revina, "Baiklah bila itu keputusanmu,"


Mereka berdua pun melanjutkan makan siang dengan penuh senyum kebahagiaan. "Lalu apa yang akan kau lakukan saat aku sibuk kuliah dan mengelola bisnis ayahku?" tanya Bastian penasaran.


Revina menerawang sejenak lalu menatap sang kekasih dihadapannya itu sambil tersenyum, "Mungkin aku akan menjadi pengawal pribadimu, agar tidak ada wanita-wanita yang berani melihatmu,"


Terdiam sesaat lalu melanjutkan ucapannya, "Bila ada yang berani mendekati dan memandangimu, maka akan aku semprot matanya dengan air cabai."


Bastian bergidik ngeri mendengar ucapan sang kekasih. Sebenarnya pada hubungan mereka berdua, Revina lah yang sangat pencemburu dan over protective terhadap Bastian. Bastian tidak masalah akan hal itu karena ia sangat senang dengan perhatian berlebih yang selalu diberikan oleh Revina. Bastian hanya ingin menghabiskan hidupnya bersama sang kekasih selamanya.

__ADS_1


***


__ADS_2