Kau Hanya Milikku

Kau Hanya Milikku
Chapter 17


__ADS_3

"Kau masih memikirkan ucapan kakakmu itu?"


Dareen bertanya kepada Sunny yang belum juga menyentuh makan siangnya, hanya memutar-mutarkan garpu pada spaghetti yang di pesannya.


Saat ini Dareen dan Sunny berada di kantin rumah sakit, sedangkan Bastian di temani oleh kedua orang tuanya.


Sunny hanya mengganggukkan kepalanya lesu. Sedangkan Dareen hanya menghela nafas saja.


"Mau ku suapi?" Dareen menawarkan diri serta menampilkan senyum manis yang dia miliki.


Sunny memicingkan kedua matanya menatap curiga kepada Dareen, tetapi sedetik kemudian Sunny mengernyitkan keningnya, karena melihat wajah, leher dan punggung tangan Dareen yang sedikit mengelupas.


Sunny menjulurkan sebelah tangannya menyentuh kulit yang terkelupas itu, mengambilnya dan menunjukkannya kepada Dareen.


"Apa ini?"


Dareen terkejut melihatnya dan langsung meraba-raba kantung celananya, tetapi tidak di temukannya.


"Kau mencari apa?" bingung Sunny.


"Pil itu, yang ada di dalam tabung," bisik Dareen agar tidak terdengar oleh pengunjung kantin yang berada di dekat mereka.


"Pil?" tanya Sunny.


Dareen menganggukkan kepalanya cepat dan masih sibuk meraba-raba serta memasukkan dan mengeluarkan tangan dari dalam kantung kemeja atau celananya.


Sunny mengingat kembali pil yang ada di dalam tabung bening yang tadi di ambilnya dari atas meja rias. Kemudian Sunny membuka tasnya dan mengambil tabung kecil itu lalu menunjukkannya kepada Dareen.


"Ini?" Sunny bertanya untuk memastikannya.


Dareen yang melihatnya langsung mengambil tabung itu dengan cepat dari tangan Sunny, lalu memasukkan satu butir pil ke dalam mulutnya dan langsung menelannya tanpa bantuan air.


Sesaat kemudian, wajah Dareen kembali normal tanpa ada kulit yang terkelupas lagi. Namun kulit yang terkelupas dan jatuh ke atas meja dan lantai, terbakar menjadi abu dan seketika itu juga hilang bagai di tiup angin.


Dareen mengedarkan pandangannya kesekeliling, takut ada pengunjung yang melihatnya dan akan ada kehebohan nantinya.


"Aman," ucap Dareen saat di lihatnya tidak ada satu orangpun pengunjung kantin yang melihat ke arah mejanya.


Sunny menahan nafasnya sambil membuka mulutnya tak percaya dengan apa yang terjadi pada Dareen, sang suami.


Dareen yang melihat itu langsung mengambil garpu, memutar-mutar spaghetti dan memasukkannya ke dalam mulut Sunny yang terbuka, Sunny tanpa sadar memakannya dan sedetik kemudian kesadarannya kembali, menampilkan wajah cemberutnya.


Dareen hanya terkekeh geli melihat tingkah Sunny.


"Kenapa kau tertawa?" Sunny masih menampilkan wajah cemberutnya dan tanpa sadar terus menerima suapan dari Dareen.


Dareen tidak menanggapi pertanyaan Sunny tetapi terus saja menyuapi Sunny, hingga akhirnya piring yang tadinya berisi seporsi spaghetti menjadi kosong.


"Akhirnya habis juga," ucap Dareen lalu menyodorkan minuman jus alpukat kepada Sunny, Sunny menerimanya dan langsung meminumnya hingga habis.


******


"Honey, sebentar lagi bulan purnama merah akan muncul, ini kesempatan Dareen untuk kembali," Rebeca gelisah memainkan jari-jari tangannya.


"Kau tenanglah, pasti semua akan baik-baik saja," Rudolf menenangkan sang istri yang sedang duduk di atas sofa ruang kerjanya.


"Apa Dareen sudah menceritakannya kepada Sunny, tentang bulan purnama merah itu?" tanya Rebeca penasaran.


"Entahlah, aku belum meneleponnya,"


"Sebaiknya kau menelepon Sunny, jelaskan padanya tentang Dareen dan bulan purnama merah itu," usul Rebeca dan di sambut anggukan sang suami.


"Baiklah, aku akan meneleponnya besok pagi, saat di sana malam hari dan Dareen pergi berburu,"


Rudolf menutup laporan terakhir yang sudah di periksanya, bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Rebeca dan duduk di samping istri tercintanya itu.


Rebeca masih memainkan jari-jari tangannya tak tenang, Rudolf menggenggamnya seraya membalikkan tubuh istrinya itu ke hadapannya, menatap serius ke arah mata sang istri.


"Daripada memikirkan itu, lebih baik kita membuat adik untuk Dareen," senyuman menggoda muncul dari bibir Rudolf.

__ADS_1


Rebeca membelalakkan kedua matanya terkejut tak percaya akan perkataan suaminya itu.


"Honey! Ingat umur! Umur kita akan memasuki kepala lima!"


Rebeca berseru seraya melepas genggaman tangannya dari tangan Rudolf dan memundurkan duduknya hingga ke pojok sofa.


"Bukankah umur tak jadi soal, buktinya ada wanita yang sudah berusia enam puluh tahun masih bisa hamil dan melahirkan seorang bayi," ucap Rudolf meyakinkan.


"Tapi tidak denganku! Aku tidak mau!" tolak Rebeca dan memalingkan wajahnya menghadap tembok.


"Ayolah, honey, aku ingin menggendong seorang bayi," mohon Rudolf dengan tampang memelas.


"Tidak!" Rebeca tetap dengan pendiriannya.


"Kau bilang pada Sunny agar cepat hamil, agar bisa memberikan cucu untuk kita," ceria Rebeca dengan usulannya.


"Dia masih sekolah, honey,"


"Bukankah homeschooling, tidak masalah kan?"


"Walaupun homeschooling, pada saat ujian, tetap harus ujian di sekolah kan," Rudolf menjelaskan kepada sang istri, siapa tahu sang istri lupa.


Bila sudah begini, Rebeca hanya bisa menghela nafas pasrah terhadap suaminya itu.


Rudolf tersenyum penuh kemenangan yang melihat Rebeca hanya terdiam dan tidak membalas perkataannya lagi.


******


Rebeca menuang air putih dari teko kaca bening ke dalam gelas, kemudian meneguk setengahnya, meletakkan kembali gelas itu ke atas meja.


Rebeca menghela nafas pelan, memikirkan kembali perkataan Rudolf.


'Memiliki bayi, di usia yang seperti ini?' Rebeca bertanya dalam hati, tak mengerti dengan jalan pikiran suaminya itu.


Bukankah sangat aneh bila memiliki seorang anak lagi, padahal Dareen sudah menikah, saat nanti dirinya memiliki seorang bayi dan kira-kira dua atau tiga tahun lagi Sunny memiliki seorang bayi juga, sangat berdekatan usianya dengan adiknya Dareen nantinya.


Rebeca menggelengkan cepat kepalanya, tak mau membayangkannya lagi.


Tanya salah satu seorang kepala pelayan, karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi sang nyonya rumah belum juga tidur.


"Ah... tidak apa-apa, aku hanya haus," jawab Rebeca berbohong seraya tersenyum.


"Kau sendiri, kenapa belum tidur?" tanya Rebeca balik.


"Saat saya sedang memeriksa ruangan, saya melihat lampu ruang dapur masih menyala, saya pikir mungkin saya lupa mematikannya, untuk itu saya kemari untuk memeriksa, ternyata ada nyonya sedang berada di dapur," jelas sang kepala pelayan.


Rebeca hanya tersenyum mendengarnya, "Kau pergilah, nanti aku yang akan mematikan lampunya,"


"Baik, nyonya, saya permisi," pamit sang kepala pelayan, berbalik dan melangkah pergi.


Belum jauh sang kepala pelayan pergi, Rebeca memanggilnya, "Tunggu! Matilda kemarilah,"


Matilda, sang kepala pelayan mengerutkan keningnya, bingung.


"Kemarilah, duduk" Rebeca menunjuk kursi di hadapannya.


Matilda menuruti perintah sang nyonya, dan sekarang Matilda sudah duduk di hadapan sang nyonya rumah.


"Ada apa nyonya?" Matilda bertanya dengan sopan.


Rebeca terdiam sejenak, Rebeca berfikir, apakah tidak apa-apa menceritakan hal ini kepada Matilda, yang seorang kepala pelayan, apakah dia mempunyai pengalaman tentang hal ini. Tapi sepertinya dia cukup berpengalaman dalam segala hal, buktinya dia selalu beres dalam melakukan pekerjaan.


"Nyonya... anda baik-baik saja?" Matilda bertanya, karena melihat Rebeca yang hanya terdiam, padahal sepertinya akan membicarakan sesuatu hal, yang entah apa dirinya tidak tahu.


Rebeca tersadar dengan pertanyaan yang di dengarnya dari Matilda. Rebeca menatap serius ke arah Matilda, sedangkan seseorang yang sedang di tatapnya itu merasa sedikit takut, apakah dirinya mempunyai salah pada nyonyanya ini, pikir Matilda.


"Apakah menurutmu, seusia ku ini, bisa memiliki keturunan lagi?"


Matilda tersenyum dan menghela nafas lega, karena tadi sempat berpikir bahwa nyonyanya ini akan memarahinya, ternyata malah menanyakan pertanyaan yang seperti ini.

__ADS_1


"Apakah nyonya akan membuat adik untuk Tuan Muda Dareen?"


"Aku tidak mau, tapi tuanmu itu yang menginginkannya," kesal Rebeca saat mengingat perdebatannya dengan sang suami.


"Bila nyonya tidak ingin hamil, saya mempunyai pil herbal yang sangat ampuh untuk mencegah kehamilan," ucap Matilda bersemangat.


"Benarkah?" wajah Rebeca berbinar senang.


"Iya nyonya, saya selalu meminumnya sebelum berhubungan dengan suami saya," ucap Matilda malu-malu.


"Apa kau masih menyimpannya?" tanya Rebeca bersemangat.


"Saya masih menyimpan dua puluh pil lagi nyonya, saya akan memberikan sepuluh pil kepada nyonya,"


Rebeca tersenyum mendengarnya, "Lalu, darimana kau mendapatkannya?" tanya Rebeca penasaran.


"Di desa tempat saya tinggal, ada satu keluarga yang mempunyai keahlian dalam hal obat-obatan, keluarga itu sangat pintar dan ahli dalam membuat berbagai macam pil, ada pil kesuburan, pil kemandulan, pil kecantikan, pil awet muda, pil kesembuhan penyakit, bahkan bisa membuat sebuah pil untuk membangkitkan seseorang yang telah meninggal,"


"Benarkah, mereka sehebat itu?" Rebeca tak percaya mendengar perkataan Matilda.


"Benar nyonya, saya melihatnya sendiri saat ada salah satu warga desa yang meninggal saat di terkam harimau, keluarga itu bisa menghidupkannya kembali dan ajaibnya luka bekas cakaran harimau itu menghilang," jelas Matilda antusias.


"Sehebat itukah mereka?" Rebeca benar-benar di buat terkejut oleh penjelasan Matilda.


"Iya, nyonya, benar-benar hebat, keluarga itu bilang, mereka mendapatkan keahliannya itu secara turun temurun dari nenek moyang pihak sang istri, tetapi anehnya hanya keturunan perempuan saja yang memiliki keahlian itu, sedangkan keturunan laki-laki tidak memiliki keahlian apapun,"


"Kenapa bisa seperti itu?" Rebeca sangat penasaran akan hal itu.


"Menurut mereka, dahulu kala keturunan perempuan dan laki-laki mempunyai keahlian yang sama, tidak berbeda sedikitpun, tetapi ada salah satu keturunan laki-laki yang membangkang dan menjadikan keahliannya menjadi suatu kejahatan untuk menjadikannya seorang yang kaya raya, segala macam cara dilakukan termasuk membunuh dan menyingkirkan orang-orang yang dianggap menghalangi jalannya. Dan juga mematok harga sangat tinggi untuk satu butir pil. Lalu sang nenek sangat murka kepada keturunannya itu maka sang nenek berdoa kepada para dewa untuk tidak memberikan keahliannya kepada keturunan laki-laki, karena takut di kemudian hari akan terulang peristiwa serupa. Dan terbukti hingga saat ini tidak ada peristiwa itu lagi setelah hanya keturunan perempuan saja yang memiliki keahlian itu,"


Matilda merasakan tenggorokannya kering setelah bercerita panjang lebar lalu menegak air putih di hadapannya, yang memang selalu di siapkan di meja dapur.


Penjelasan panjang Matilda di dengarkan dengan serius oleh Rebeca, tanpa sedetikpun Rebeca mengalihkan pandangannya dari Matilda.


"Apakah suatu hari nanti, aku bisa menemui mereka?"


"Oh... sangat bisa nyonya, mereka tidak membatasi, siapapun bisa menemui mereka," ucap Matilda sambil tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, sekarang kau bisa kembali ke kamarmu,"


"Tunggu nyonya, aku akan mengambilkan pil kemandulan itu untuk nyonya,"


Rebeca mengernyitkan keningnya bingung.


"Nama pil itu, nyonya... hehehe..." kekeh Matilda.


Rebeca yang mendengarnya hanya tertawa, dan Matilda pun undur diri untuk mengambil pil kemandulan itu di kamarnya.


Beberapa menit kemudian, Matilda sudah kembali membawa sebuah guci keramik kecil yang berisi pil kemandulan.


Rebeca menerima guci keramik yang hanya sepanjang jari telunjuk orang dewasa dan memiliki diameter kira-kira hanya dua centimeter saja, Rebeca membuka tutupnya dan mengeluarkan isinya yang berbentuk bulat dan berwarna hitam.


"Apa ini tidak apa-apa untuk di konsumsi?" Rebeca bertanya kepada Matilda karena sedikit ragu untuk meminumnya setelah melihat bentuk dan warnanya.


"Tidak apa-apa nyonya, coba anda hirup aromanya, ada aroma herbal tercium,"


Rebeca mengikuti perkataan Matilda, dan benar saja tercium aroma herbal yang sangat menenangkan menurut Rebeca.


"Nyonya hanya cukup mengkonsumsi satu butir saja saat akan berhubungan dengan tuan, bila nyonya lupa, nyonya bisa mengkonsumsinya saat selesai berhubungan, saya sudah membuktikannya sendiri selama lima tahun... hehehe..." Matilda menjelaskan tentang tata cara mengkonsumsi pil kemandulan itu.


"Terima kasih atas pil dan penjelasannya, Matilda, sekarang kau bisa kembali ke kamarmu,"


"Baik, nyonya, saya permisi," pamit Matilda dan berlalu pergi dari hadapan sang nyonya.


Rebeca dengan cepat meminum pil kemandulan itu dan bergegas pergi menuju kamar.


Rebeca berfikir, sepertinya suatu hari nanti akan mengajak Dareen dan Sunny menemui keluarga itu, ya siapa tahu keluarga itu bisa menghilangkan kutukan yang ada pada diri Dareen.


Rebeca akan membicarakan hal ini pada suaminya, tetapi bukan hal tentang pil kemandulan ini, kalau tentang pil kemandulan harus di rahasiakan rapat-rapat dari sang suami.

__ADS_1


Ternyata dirinya sangat tepat menceritakan hal ini kepada Matilda, pikir Rebeca.


******


__ADS_2